Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Belenggu Masa Lalu


__ADS_3

Setiap orang punya masa lalu


Namun setiap orang juga bisa memilih


Apakah ia ingin tetap bersama masa lalunya


Ataukah ia ingin meninggalkan masa lalu itu demi memulai lembaran baru.


Egi masuk ke dalam kamar.


Elena sudah berbaring dan memunggungi pintu masuk.


Samar-samar masih bisa Egi isak tangis dari Elena.


Egi merengkuh tubuh wanita yang sudah lebih dari dua tahun ini menjadi istri dan teman hidupnya.


Egi merasa bersalah karena sudah berbicara kasar pada Elena di ruang kerjanya tadi.


Egi memeluk Elena dari belakang.


"Maafkan aku, El" ucap Egi lirih.


Elena masih menangis sesenggukan. Meskipun mata Elena terpejam, namun sepertinya wanita itu tidak benar-benar tertidur.


Elena bisa merasakan kehadiran Egi yang kini tengah memeluknya.


"Adrian adalah tunanganku saat itu..." ucap El terbata-bata di antara nafasnya yang masih sesenggukan.


Egi sedikit tersentak mendengar pengakuan El barusan.


Namun Egi tetap pada posisinya semula. Egi tetap merengkuh dan mendekap tubuh itu.


Egi akan membiarkan El untuk menceritakan semuanya.


Egi akan mendengarkan.


"Kami sedang merencanakan pesta pernikahan saat itu. Saat tiba-tiba Ian harus pergi karena ada panggilan mendadak dari atasannya di kantor..." Elena kembali menjeda kalimatnya.


Bisa Egi rasakan Elena yang tengah mengambil nafas panjang.


"Dan sore itu aku mendapat kabar kalau Ian mengalami kecelakaan..." air mata Elena kembali jatuh tanpa permisi. Namun El akan membiarkannya.


El akan menyelesaikan ceritanya.


"Ian meninggal saat itu juga. Ian meninggal dua hari sebelum pesta pernikahan kami berdua." Tangis El langsung pecah.


Egi mengeratkan pelukannya berusaha memberi kekuatan pada Elena.


Mata Egi bahkan sudah ikut berkaca-kaca sekarang.


"Duniaku terasa runtuh saat itu. Aku bahkan berkali-kali pingsan saat acara pemakaman Ian. Aku benar-benar putus asa dan kehilangan harapan. Aku depresi" lanjut El lagi. Derai air mata sudah memenuhi wajahnya.


"Mama mengirimku ke rumah paman di luar kota agar aku bisa ikut terapi dan sedikit melupakan Ian. Terlalu banyak kenanganku bersama Ian di kota ini." Elena kembali menerawang.


"Butuh waktu berbulan-bulan hingga akhirnya aku berhasil bangkit dari keterpurukan..." El menjeda kalimatnya.


Dadanya sudah terasa sesak sekarang.


Tapi El tetap harus menyelesaikan cerita ini.


"Mama, Abang Devan, Abang Vian,merekalah yang selalu memberiku semangat untuk kembali melanjutkan hidup" Elena kembali mengingat masa-masa berat itu.


Masa-masa saat dirinya hampir mengakhiri hidupnya karena putus asa.


"Aku tidak pernah bisa melupakan Ian sepenuhnya, tapi aku berusaha untuk terus melanjutkan hidupku, meskipun semuanya jadi terasa berbeda tanpa kehadiran Ian..."


"...Abang Devan terus memintaku untuk kembali membuka hatiku. Kata Abang Devan, aku harus bahagia" El berbalik dan menatap wajah Egi yang masih setia mendengarkan ceritanya sedari tadi.


"Lalu aku mengenalmu. Awalnya aku sedikit ragu. Namun saat melihat sikapmu yang lemah lembut dan penuh perhatian, perlahan aku mulai menemukan keyakinan itu" Elena menatap dalam ke manik mata milik Egi.


"Aku mencintaimu, Gi. Aku selalu berusaha untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Adrian hanyalah bagian dari masa lalu ku. Aku sudah mengubur dalam semua tentang Adrian dan semua kenangan bersamanya" ucap El bersungguh-sungguh.


Egi bisa menangkap kesungguhan itu dari netra milik Elena.


"Maafkan aku karena meragukan perasanmu kepadaku" ujar Egi merasa bersalah.


Elena menggeleng,


"Aku juga minta maaf karena tidak jujur padamu sedari awal dan sudah menyakiti hatimu" ucap Elena menarik nafas panjang.


"Kemarilah!" Egi meraup raga Elena ke dalam pelukannya.


Egi dan Elena tak berbicara lagi dan hanya saling diam.


Mungkin Egi sudah terlelap, namun tidak dengan El.


Kedua mata El bahkan tak terasa mengantuk sekarang.

__ADS_1


El mendengarkan detak jantung Egi dan irama nafasnya yang mulai teratur.


Pikiran El menerawang...


*****


Adrian, satu nama yang selalu membuat hati Elena berbunga-bunga.


Elena dan Adrian adalah teman sejak SMA. Dan mereka juga berpacaran sejak duduk di bangku SMA.


Saat Elena masuk semester akhir dari kuliah kedokterannya, Adrian melamar Elena secara resmi.


Satu bulan kemudian, keduanya bertunangan.


Adrian dan Elena sudah merencanakan sebuah pernikahan indah.


Mereka akan menikah saat El sudah selesai di wisuda dan mendapatkan gelar dokter nya.


"Manusia berencana, namun Tuhan yang menentukan"


Itulah yang akhirnya terjadi pada hubungan Elena dan Adrian.


Tepat dua hari sebelum pesta pernikahan keduanya di gelar, Adrian mengalami kecelakaan.


Satu peristiwa yang membuat mimpi indah El hancur berantakan.


Laki-laki yang El cintai sepenuh hati harus kehilangan nyawanya saat itu juga, menyisakan kepedihan dan luka mendalam di hati Elena.


Elena bahkan enggan menjalin hubungan dengan pria lain setelah kepergian Adrian.


Elena takut...


Elena takut untuk mencintai lagi.


Elena takut, jika nanti orang yang ia cintai akan kembali meninggalkannya untuk selamanya.


Elena benar-benar belum siap untuk itu semua.


*****


Tangisan Rhea yang terbangun karena haus, membuyarkan semua lamunan Elena tentang Adrian.


Bergegas Elena bangun dan menghampiri bayinya tersebut.


Elena mengangkat tubuh mungil itu dari dalam box bayi dan menimangnya sebentar.


Dulu Elena tak menyangka, jika dirinya dan Egi akan cepat mendapat momongan.


Saat El mendapatkan dua garis merah, usia pernikahannya dengan Egi baru berjalan satu bulan.


Mungkin inilah cara Tuhan mengeratkan dan menguatkan perasaan di antara Elena dan Egi.


Tak bisa di pungkiri, kehadiran Rhea benar-benar memberikan warna baru di kehidupan Elena.


Elena bahkan sudah mulai melupakan Adrian dan semua masa lalunya.


Hingga kejadian tak terduga satu minggu yang lalu...


# Flashback satu minggu yang lalu,


Elena yang sedang tidak ada jadwal praktek, mengajak Rhea berjalan-jalan di mall yang ada di kota itu.


Elena berpikir untuk sekalian berbelanja keperluan bulanan.


Kapan lagi Elena menikmati momen berdua saja dengan Rhea seperti sekarang ini.


Saat Elena sedang mendorong stroller Rhea dengan santai, ada suara yang terdengar tak asing menyapa Elena.


"El..." suara itu,


El masih ingat betul dengan suara lembut itu.


Pemilik suara yang selalu memberikan pelukan hangat setiap El berkunjung ke rumahnya.


Sepasang suami istri yang saat itu sangat dekat dengan El, dan bahkan sudah El anggap sebagai orang tua kedua untuknya.


"Elena?" Sapa suara itu lagi, mungkin dia sedang memastikan kalau yang di sapanya benar-benar Elena dan dia tidak sedang salah orang.


"Tante, om, apa kabar?" Elena akhirnya membalas sapaan pasangan suami istri yang tak lagi muda tersebut.


Wanita paruh baya tadi langsung memeluk Elena dengan erat. Menumpahkan segala kerinduan karena sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan Elena.


"Bunda merindukan kamu, El" ujar wanita paruh baya tersebut.


Sesaat ada nyeri di hati Elena.


Dulu Elena memang memanggil keduanya dengan sebutan ayah dan bunda.

__ADS_1


Bahkan Elena sudah mereka anggap sebagai putri mereka.


"El juga merindukan..." lidah El terasa kelu.


Haruskah ia tetap memanggil keduanya ayah dan bunda, meskipun El tahu Ian sudah lama pergi dari dunia ini.


El tak lagi mempunyai alasan untuk tetap menggunakan panggilan itu.


"El juga rindu pada om dan tante" pada akhirnya kata-kata itulah yang meluncur dari lidah El.


Nampak sangat kekecewaan di wajah dua orang tua tersebut.


Gadis yang mereka anggap sebagai putri mereka, kini telah banyak berubah seiring dengan perginya Ian, anak kandung mereka satu-satunya.


"Mamamamama" Suara Rhea yang memanggil-manggil El karena merasa diabaikan, segera memecah kekakuan di antara mereka bertiga.


Bunda Mira dan ayah Sandi bersamaan melihat ke arah sumber suara tersebut.


Seorang bayi perempuan mungil dengan dua pipi gembul yang sangat menggemaskan.


"Apa ini putrimu, El?" Tanya Bunda Mira sedikit tak percaya.


"Iya, tante. Namanya Rhea" ujar El menjelaskan.


Bunda Mira mengambil Rhea dari dalam stroller dan langsung menggendongnya.


"Kamu bahkan tidak mengirim undangan pernikahanmu kepada kami" ucap Bunda Mira sambil menatap wajah bayi Rhea.


El bisa menangkap ada nada kesedihan disana.


El benar-benar merasa bersalah.


"Bunda tidak pernah memberikan alamat kita pada El. Jadi bagaimana El bisa mengirim undangan?" Ayah Sandy berkata sambil tertawa renyah.


Bunda Mira ikut tertawa.


"Bunda lupa, Yah" ucap Bunda Mira.


"Tapi kami senang kamu akhirnya menemukan jodoh kamu dan mempunyai keluarga yang bahagia, El" ucap Bunda Mira lagi.


"Ian pasti juga sudah bahagia di sana" tambah Bunda Mira. Kali ini suaranya terdengar lirih.


Dan dada El menjadi sesak sekarang.


El bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada kedua orang tua Adrian ini.


"Apa om dan tante pindah lagi ke kota ini?" Tanya Elena berbasa-basi.


"Tidak, El. Kami hanya mengunjungi makam Ian dan berjalan-jalan sebentar menikmati hari tua" jawab Ayah Sandy sambil tersenyum hangat.


Lelaki paruh baya itu memang murah senyum sejak dulu. Sama dengan Adrian.


"Kami harus segera pergi, El. Lain kali kalau kami mampir lagi ke kota ini apa kamu tidak keberatan makan malam bersama kami? Kami sungguh ingin bertemu dan berkenalan dengan suamimu" Bunda Mira memberikan Rhea pada El.


"Tentu saja, El akan datang" jawab Elena sambil memasang senyuman hangat.


"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa" pasangan paruh baya itu pun melambaikan tangan pada El, sebelum menghilang ke pintu keluar mall.


El menarik nafas dalam-dalam dan meletakkan Rhea kembali ke dalam stroller.


Dada El terasa sesak dan matanya terasa panas.


Sungguh sebuah pertemuan yang tak terduga.


Empat tahun berlalu dan El masih belum bisa melupakan Ian sepenuhnya.


# Flashback off


Dan beberapa hari setelah pertemuan tak terduganya dengan kedua orang tua Adrian, Elena memutuskan untuk mengunjungi makam Adrian sekedar membawakan sebuket bunga lily putih untuk Adrian.


Tadinya El benar-benar hanya ingin berkunjung, namun seperti sebelum-sebelumnya El menangis di makam Adrian.


El kembali ingat semua hal tentang Adrian. Sekuat apapun El berusaha melupakan Adrian, El tidak pernah bisa melakukannya.


Adrian sudah menempati satu tempat di sudut hati El yang terdalam.


El tahu ini salah, tapi El juga tak bisa menyangkalnya.


Bahwa tak ada siapapun yang bisa menggantikan posisi Adrian di hati El.


Adrian tetap akan menjadi cinta pertama bagi Elena.


*****


Udah cukup yang jualan bawang...


Next ketemu Dion sama Tasya lagi 🤭

__ADS_1


__ADS_2