Natasya

Natasya
Teman Tak Dianggap


__ADS_3

"Sya," suara dari Vina membuyarkan lamunan Tasya beserta segala pemikiran anehnya.


"Eh iya, Vin." Jawab Tasya tergagap.


Merasa ada yang aneh, Vina ikut ikutan melongok ke bawah balkon.


Kosong.


Hanya ada kolam renang.


Dion sudah pergi rupanya.


Tasya menarik nafas lega.


Setidaknya Vina tak memergoki apa yang tadi dirinya lihat di bawah sana.


"Siapa yang nelpon?" Tanya Vina merasa kepo.


"Mama. Nanyain kenapa aku belum pulang" jawab Tasya berusaha santai.


Tasya kembali masuk ke dalam kamar Kevin.


"Sya, gak mau ngucapin sesuatu gitu pada kak Kevin sebelum kita pulang?" Silvi menggoda Tasya.


Membuat gadis itu menunduk.


"Semoga cepat sembuh, kak." Ucap Tasya lirih sambil menyalami tangan Kevin.


Kevin langsung tersenyum lebar.


"Makasih ya, Sya udah repot repot jengukin aku" jawab Kevin tulus sembari mengelus lembut tangan Tasya.


Buru buru Tasya melepaskan jabat tangannya dan segera menarik tangannya dari Kevin.


"Ciyee ada yang malu" Vina tertawa puas melihat Tasya yang salah tingkah.


Tasya hanya menunduk malu. Silvi dan Vina terkekeh. Sedangkan Salsa berdecak sedikit kesal.


"Yaudah, kakak istirahat aja. Kita mau balik" pamit Silvi mewakili teman temannya.


"Makasih ya udah pada datang" balas Kevin sambil tersenyum bahagia.


Keempat gadis itupun segera keluar dari kamar Kevin.


Sampai di lantai bawah, mereka ketemu lagi sama mama Wina yang sudah rapi. Sepertinya mama Wina mau pergi ke suatu acara.


"Loh, sudah mau pulang?" Tanya mama Wina


"Iya, tan. Tante mau kemana?" jawab Silvi berbasa basi.


"Tante mau arisan" jawab tante Wina.

__ADS_1


"Tasya mau pulang juga? Gak nemuin Dion dulu. Dion di halaman belakang tu. Oh ya Sil, pacar Dion yang tante maksud waktu itu ya Tasya ini. Ternyata kalian temenan ya " kata mama Wina lagi, kali ini sambil sedikit terkekeh.


Dan...


Tasya langsung terdiam dan seketika berdiri mematung.


Berbeda dengan Tasya, Silvi dan Vina terkejut mendengar kata kata mama Wina.


Kedua gadis itu menatap tajam ke arah Tasya seakan meminta penjelasan.


Bim bim,


terdengar suara klakson dari halaman.


"Eh, jemputan sudah datang. Tante pergi duluan ya, anak anak" pamit mama Wina sambil berlalu meninggalkan empat gadis tersebut.


Suasana hening sesaat. Tasya masih menunduk, tak tahu harus berbuat apa.


"Balik yuk" Salsa mencoba memecah keheningan diantara teman temannya.


"Loe pacaran sama Dion?" Tanya Silvi tak percaya. Ia menatap tajam pada Tasya yang masih menunduk.


"Sejak kapan, Sya? Kok bisa sih elo sama Dion?" Vina ikut menimpali. Masih tak percaya dengan fakta baru tersebut.


"Maaf aku gak ngasih tahu kalian berdua. Aku udah lama dekat sama Dion" jawab Tasya lirih.


Silvi dan Vina menggeleng tak percaya.


"Dion gak kayak gitu, Sil. Kamu kenapa sih benci banget sama Dion. Dia kan sepupu kamu" Tasya merasa tak terima dengan kata kata Silvi yang menjelek jelekkan Dion.


"Oh, sekarang udah belain. Justru karena gue sepupunya makanya gue lebih tahu dia itu gimana" Silvi ikut ikutan berkata dengan galak.


"Loe kenapa sih, Sil?. Tasya yang jalanin kok jadi elo yang ribet" Salsa ikut ikutan membela Tasya.


"Jadi loe juga udah tahu, Sal. Kalo Tasya pacaran sama Dion?


Kok elo gak ngasih tahu kita. Loe anggep kita berdua ini apa?" Vina ikut ikutan emosi dan malah menyalahkan Salsa.


Salsa mendengus.


"Gue sama Tasya masih nyari waktu yang pas buat ngasih tahu kalian. Lagian masalahnya apa kalo Tasya pacaran sama Dion? Yang jalanin kan mereka" ucap Salsa berapi api.


Ia pun dulu juga kaget saat tahu Tasya pacaran sama Dion. Tapi saat itu Salsa gak ribet menghakimi ataupun jelek jelekin Dion di depan Tasya.


Lagipula kalopun Dion memang sejahat yang Silvi tuduhkan, gak mungkin kan Tasya akan bertahan hingga sejauh ini.


"Masalahnya, kenapa harus ngumpet ngumpet dan gak ngasih tahu ke kita berdua? Sebenarnya kalian berdua itu nganggep kita ini teman kalian apa bukan sih?" Ujar Silvi galak.


"Sil, gue bisa jelasin" Tasya mencoba membujuk Silvi.


Namun Salsa menahannya.

__ADS_1


"Udah, Sya. Biarin aja" kata Salsa sedikit berbisik.


Dion yang sebenarnya sudah sedari tadi menyimak perdebatan sengit itu dari arah dapur, menghampiri keempat gadis tersebut.


"Sil, loe kalau ada masalah sama gue gak usah bentak bentak Tasya kayak gitu.


Gue emang pacaran sama Tasya trus masalah loe apa?" Ucap Dion panjang lebar.


Dion mendekat ke arah Tasya dan merangkul gadis tersebut. Mencoba menenangkannya karena Tasya sudah terlihat akan menangis.


Silvi berdecak,


"Gak ada masalah apa apa. Gue cuma kasian aja sama Tasya. Punya cowok tapi pengecut dan ngajak pacarannya diam diam" ucap Silvi menyindir.


Sontak Dion langsung terpancing emosi dan hendak membalas kata kata pedas dari Silvi. Namun Tasya mencegahnya.


"Udah, Dion" ucap Tasya sambil menahan lengan Dion.


"Baiklah, kalian gak anggep kita teman? Berarti gak ada tumpangan gratis. Bye" ucap Silvi sambil berlalu meninggalkan Tasya, Salsa, dan Dion.


Vina mengekor mengikuti Silvi yang kini sudah keluar menuju halaman rumah.


Tak berselang lama, suara mesin mobil Silvi sudah terdengar dan semakin menjauh meninggalkan rumah Dion.


Salsa berdecak kesal.


"Lebay amat sih tu bocah" ucap Salsa kesal.


"Maaf ya, Sal. Gara gara gue, Silvi jadi marah ke elo" kata Tasya merasa bersalah.


"Udahlah, Sya. Gak usah dipikirin. Silvi dan Vina emang gitu anaknya. Nanti gak lama pasti kita berempat udah baikan. Loe tenang aja ya" Salsa berkata dengan santai sambil menepuk punggung Tasya mencoba untuk menenangkannya.


"Mau aku antar pulang?" Tanya Dion menawarkan.


"Hahaha mau banget kalo gue" jawab Salsa sambil terkekeh.


Tasya dan Dion ikut tertawa dan Tasya mengangguk pada Dion.


"Yuk" ajak Dion pada kedua gadis tersebut.


Tasya dan Salsa mengikuti langkah Dion menuju ke halaman depan.


Sementara Kevin hanya menatap nanar pada Tasya yang kini sudah tak terlihat lagi.


Hatinya mendadak terasa sesak.


Kevin sedari tadi juga ikut menyimak perdebatan antara Silvi dan Tasya. Antara percaya dan tidak saat Dion datang dan langsung mengaku kalau dia dan Tasya berpacaran.


Ada sedikit sakit di hatinya. Baru saja ia tadi berbunga bunga saat Tasya mendoakan kesembuhan untuk dirinya, tapi sekarang semua itu seperti menguap begitu saja.


Kevin berjalan lesu dan kembali masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Mungkin dia harus mulai melupakan Tasya dan menghapus semua perasaannya pada Tasya.


__ADS_2