
Tapi aneh,
Saat memperhatikannya lebih detail, Salsa seperti pernah melihat wajah pria ngeselin itu sebelum bertemu hari ini.
"Itu siapa?" Salsa bertanya pada Tasya sembari menunjuk pada pria berkaus putih itu.
"Itu pelatih baru tim basket sekolah kita" jawab Tasya.
"What? Serius? Sejak kapan?" Tanya Salsa bertubi-tubi. Tasya hanya mengernyit heran.
"Kenapa memang? Kok kaget gitu?" Tasya balik bertanya heran.
"Om-om resek begitu seorang pelatih?" Ujar Salsa tak percaya.
Sontak tawa Tasya langsung meledak.
"Tunggu, tunggu. Jangan bilang kalo dia yang udah nabrak kamu di toilet" tebak Tasya sambil masih terus tertawa.
Salsa hanya memutar bola matanya.
Masih tak percaya dengan fakta mengejutkan ini.
"Tapi kok gue kayak gak asing ya sama wajahnya. Kayak pernah ketemu di mana gitu" kata Salsa lagi.
"Inget pria yang berdiri di pintu masuk sekolah waktu itu gak? Yang bikin Silvi dan Vina heboh" Tasya seakan paham jadi ia memberi penjelasan pada Salsa
"Nah iya itu. Wajahnya sama. Berarti memang yang itu ya. Gak nyangka orangnya ngeselin ternyata" gerutu Salsa masih tak percaya.
"Kayaknya emang udah hobi dia bikin kesel orang. Gue juga pernah dibuat kesel." Timpal Tasya sedikit geram. Dirinya kembali mengingat saat pelatih resek itu bertanya hal-hal konyol padanya.
Tak selang berapa lama, pelatih resek itu memberi briefing pada tim Dion untuk menyusun strategi sebelum permainan dimulai.
Hal itu semakin memperjelas kalo om resek itu memang adalah seorang pelatih.
__ADS_1
*****
Pertandingan sudah usai.
Tim dari sekolah Tasya berhasil menang dengan skor tipis.
Penonton lain sudah mulai bubar dan meninggalkan gedung olahraga tersebut.
Tasya dan Salsa masih duduk di kursi penonton.
"Balik, Sya?" Tanya Salsa akhirnya. Ia bingung kenapa Tasya masih betah saja duduk di tempat ini.
Sebagian pemain sudah masuk ke ruang ganti padahal.
Tasya melihat ponselnya sebentar, lalu berkata sedikit enggan pada Salsa.
"Kamu balik sendiri gak apa-apa, Sal? Dion ngajakin aku balik bareng" Tasya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Yaelah, santai aja, Sya. Udah biasa gue balik sendiri." Jawab Salsa sedikit terkekeh.
"Atau kamu mau ikut aku dulu ke ruang ganti? Kali aja pelatih ada disana kan bisa sekalian kenalan" tawar Tasya sambil cengengesan.
"Sialan loe, Sya. Niat banget nyomblangin gue sama pelatih resek" Salsa mengomeli sahabatnya tersebut.
Tasya hanya tertawa dan tak merasa bersalah.
"Yaudah, gue anter yuk sampe pintu keluar" Tasya beranjak berdiri dan Salsa pun ikut beranjak dari tempat duduknya.
Dua sahabat itupun berjalan beriringan menuju pintu keluar sambil masih terus bersenda gurau.
Sampai di pintu keluar,
"Gue duluan ya" Salsa bercipika-cipiki dengan Tasya.
__ADS_1
"Hati-hati" pesan Tasya.
Salsa hanya mengangguk dan segera berjalan menuju tempat parkir.
Tasya berbalik dan hendak menuju ke ruang ganti pemain untuk menemui Dion.
Namun langkah Tasya terhenti saat seorang pria mendekatinya.
"Jadi gadis aneh itu teman kamu?" Entah darimana datangnya, pelatih Ronny sudah berada di dekat Tasya sekarang.
"Maksudnya?" Tasya tak mengerti siapa yang dimaksud gadis aneh oleh pria di depannya ini.
Pelatih Ronny tertawa sumbamg dengan nada mengejek.
"Memang kalian berdua sama-sama aneh" ujar Pelatih Ronny sembari berlalu meninggalkan Tasya yang melongo.
Tasya berusaha mencerna kata-kata pelatih Ronny barusan.
"Anda pikir anda tidak aneh?" Tasya sedikit berteriak.
Dan pelatih itupun menghentikan langkahnya sebelum menengok ke arah Tasya
Tasya melotot tajam ke arahnya. Namun bukannya marah atau tersinggung, pelatih Ronny malah tersenyum mengejek kepada Tasya.
Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan.
Setelah tersenyum pada Tasya, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar gedung tersebut.
Tasya sungguh tak paham apa maksud senyuman aneh pelatih resek tersebut.
Namun Tasya juga tak mau ambil pusing.
Ia segera berjalan menuju ruang ganti untuk menemui Dion.
__ADS_1