Natasya

Natasya
Pelatih Baru


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi.


Para murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Wajah lelah setelah belajar seharian, nampak jelas di wajah mereka.


Mungkin mereka ingin cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing demi segera mengistirahatkan otak dan tubuh lelah mereka.


"Sya, pulang bareng kita kan?" Tanya Silvi yang sudah beranjak dari kursinya dan bersiap untuk pulang. Sementara Tasya masih asyik mengemas buku bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Enggak Sil, aku mau pergi sama mama" Tasya menolak ajakan Silvi. Sesungguhnya ia ingin menemui Dion. Sudah beberapa hari Tasya belum ngobrol sama Dion.


Hanya berbalas chat saja yang mereka lakukan.


"Yaudah kita duluan Sya hati -hati ya" pesan Salsa sambil memeluk sahabatnya tersebut.


"Kalian juga hati-hati. Bye" Tasya melambaikan tangan pada teman-temannya.


Setelah menunggu beberapa saat, Tasya keluar dari kelas. Suasana sudah sepi.


Tasya berjalan cepat menuju loker ruang basket.


Sesekali Tasya akan menengok ke belakang atau ke kiri kanan untuk sekedar memastikan tidak ada yang mengekorinya.


Sampai di depan ruangan yang ia tuju, Tasya berpapasan dengan Rizky dan Bagas yang sepertinya sudah siap untuk berlatih.


"Hai, Sya. Nyari Dion?" Tebak Rizky


"Iya. Apa dia ada di dalam?" Jawab Tasya sedikit ragu.


"Ada. Masuk aja" Rizky menunjuk ke arah ruangan loker. Tasya hanya mengangguk dan bergegas masuk ke dalam.


"Loe gak kenal Di, sama pelatih baru kita" suara Denny menggema di dalam ruangan. Sepertinya dia tengah mengobrol dengan Dion membicarakan seseorang.


"Gak tahu gue. Cuma kayaknya gue pernah beberapa kali liat dia main di klub profesional" Dion mencoba mengingat-ingat. Tapi tetap saja ia tak terlalu mengingatnya.


"Ngapain juga sih Pak Hari ribet nyariin kita pelatih. Biasanya kan kita juga menang tanpa pake pelatih" Denny sedikit mengeluh.


"Sombong banget loe" Dion terkekeh.


Denny yang melihat Tasya diruangan itu terlebih dahulu, langsung memberi kode pada Dion.


"Dicariin tu. Gue duluan" Denny menepuk bahu sahabatnya tersebut dan segera berlalu keluar dari ruangan tersebut menyusul teman temannya yang lain yang sudah terlebih dahulu ke lapangan basket.


"Nat, tumben kesini?" Dion sedikit kaget dengan kehadiran Tasya.

__ADS_1


"Ada yang mau aku omongin, Di" Tasya sedikit ragu.


Sepertinya Dion tengah sibuk. Apakah ini waktu yang tepat?


"Ada masalah?" Dion mendadak merasa khawatir. Ia membimbing Tasya agar duduk di bangku panjang yang ada di ruangan tersebut.


"Enggak Di, aku baik-baik saja. Apa weekend ini kamu ada acara?" Tasya sedikit ragu.


Dion terlihat berpikir sejenak.


"Hari Sabtu sepertinya aku gak ada jadwal latihan" jawab Dion selanjutnya.


"Mau menemaniku ke panti?" Tanya Tasya lagi. Suaranya terdengar lirih di akhir seakan ragu untuk mengucapkannya.


Dion mengernyitkan dahi. Sedikit tidak mengerti maksud ucapan Tasya.


"Panti?" Tanya Dion tak paham.


"Panti tempat aku di besarkan. Itu ada di kota ini" Tasya mencoba menjelaskan.


Kali ini Dion langsung mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah. Aku temani" ucap Dion yang membuat Tasya langsung menarik nafas lega.


Dion hanya tersenyum.


"Di, loe ngapain sih. Buruan ke lapangan" suara Julian yang memanggil Dion membuat Tasya dan Dion menoleh ke arah pintu keluar.


"Ya" jawab Dion singkat.


"Eh kamu pulang sama siapa?" Tanya Dion pada Tasya.


Dion berjalan keluar dari ruangan itu.


"Mungkin naik angkutan umum. Silvi udah pulang duluan" jawab Tasya yang mengikuti Dion keluar dari ruangan tadi.


"Yaudah, ikut aku dulu ayo. Nanti kita pulang bareng" Dion menarik tangan Tasya agar berjalan lebih cepat menuju lapangan.


Tasya menurut saja. Biasanya Dion tidak akan lama berlatihnya. Jadi tidak masalah kalau dia harus menunggu.


Sampai di lapangan, teman-teman Dion sudah berbaris rapi.


Pelatih baru yang tadi pagi di kenalkan oleh Pak Hari juga sudah ada di lapangan.

__ADS_1


Dion bergegas hendak bergabung bersama teman temannya, namun pelatih itu menghadangnya dan menatap Dion dengan tajam.


"Jadi kamu kapten timnya?" Tanya pelatih itu galak.


Dion balas menatapnya dengan tajam.


"Iya, Pak" jawab Dion tegas.


Pelatih Ronny berdecak.


"Lalu gadis itu, anggota tim mu juga" pelatih Ronny menunjuk Tasya yang kini sudah berdiri di pinggir lapangan.


"Dia teman saya, pak. Apa ada masalah?" Nada bicara Dion entah mengapa malah seperti menantang pelatihnya tersebut.


Sontak hal tersebut membuat pelatih Ronny semakin kesal.


"Lari berkeliling lapangan seratus kali putaran" ucap pelatih Ronny selanjutnya.


Sontak Dion dan teman-temannya langsung menganga.


Yang benar saja.


Apa pelatih itu ingin membuat Dion pingsan?


"Tunggu apa lagi? Cepat lakukan kapten tim" bentak pelatih Ronny sambil menekankan tiga kata terakhir dalam kalimatnya.


Dion hanya mendengus dan terpaksa melaksanakan perintah dari pelatih barunya tersebut.


Teman teman Dion yang lain melanjutkan latihan.


Tasya yang duduk di pinggir lapangan sedikit heran melihat Dion yang berlari sendirian padahal teman-temannya yang lain sedang berlatih.


"Apa Dion sedang di hukum?" Gumam Tasya khawatir.


Kalau benar Dion dihukum karena terlambat datang ke lapangan, Tasya akan benar-benar merasa bersalah. Seharusnya tadi dirinya tidak mengajak Dion mengobrol di ruang loker.


Tasya mengalihkan pandangannya ke pelatih yang saat ini sedang fokus melatih teman teman Dion.


"Tunggu, bukankah itu pria asing yang tadi pagi berdiri di depan pintu masuk yang membuat heboh para siswa perempuan?


Jadi dia, pelatih baru tim basket?" Gumam Tasya tak percaya.


"Tapi wajah itu? Kenapa seperti tak asing bagiku? Aku seperti pernah bertemu sebelumnya." Tasya bergumam sekali lagi dan mencoba mengingat-ingat.

__ADS_1


__ADS_2