Natasya

Natasya
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Tasya dan Dion sudah sampai di sebuah cafe di sudut kota tersebut.


Meskipun ragu, Tasya akhirnya mau bertemu dengan papa kandungnya.


Benar kata Dion, Tasya tidak boleh egois. Dia harus bertanya dengan detail alasan kedua orang tuanya tidak mau merawatnya dan malah meninggalkan dirinya di panti asuhan.


Papa Anton sudah menunggu keduanya di salah satu meja yang ada di dalam cafe tersebut.


Pria paruh baya itu begitu bersemangat, saat mama Sarla menelpon dan memberitahu bahwa Tasya ingin bicara kepadanya.


Ya, meskipun Tasya enggan datang kerumahnya dan memilih untuk bertemu di cafe ini,


Namun hal ini tidak menjadi masalah besar baginya.


Yang paling penting sekarang, putri kandungnya sudah mau bicara dan bertemu dirinya.


Tasya dan Dion sudah sampai dan menghampiri papa Anton.


"Siang, Om" sapa Dion dengan ramah. Dion segera mencium punggung tangan papa Anton.


Tasya hanya diam tak bersuara. Namun gadis itu mengikuti Dion dan mencium punggung tangan papa Anton demi sebuah kesopanan.


"Kamu?" Papa Anton bertanya pada Dion


"Saya Dion, om. Pacarnya Natasya" jawab Dion sambil masih sambil tersenyum ramah.


Papa Anton ikut tersenyum ramah.


"Ayo duduk" papa Anton mempersilahkan.


Dion dan Tasya segera duduk di kursi yang ada di depan papa Anton.


Tasya memilih duduk di samping Dion. Papa Anton duduk sendiri di sisi lain meja tersebut. Posisi mereka kini saling berhadapan.


Sejenak suasana hening,


Seorang pelayan cafe datang membawa minuman untuk ketiga orang tersebut.


Setelah menyesap sedikit minumannya, Tasya teelihat menarik nafas panjang.


Sepertinya gadis itu akan mulai berbicara.


"Anda ingin menjelaskan sesuatu?" Tasya menatap tajam ke arah papa Anton.


Gadis itu masih enggan menyebut kata "papa" pada pria tersebut


"Papa minta maaf, Natasya. Karena sudah menelantarkan dirimu" ucap papa Anton dengan mimik sedih.


"Tasya. Panggil saja Tasya seperti yang lain" ujar Tasya sedikit ketus.


Ia hanya merasa tidak nyaman karena ada pria asing yang memanggilnya dengan nama lengkapnya.


Selama ini hanya Dion yang memanggilnya dengan sebutan "Nat".


"Nat..." Dion menegur halus sikap Tasya yang mendadak ketus pada papa kandungnya tersebut.


Tasya memejamkan mata dan kembali menarik nafas panjang demi mengendalikan emosinya.


"Kata mama Sarla anda terpaksa meninggalkan saya di panti karena harus mempertanggungjawabkan sesuatu. Bisa anda ceritakan?" tidak ada lagi nada ketus dari Tasya. Namun masih ada kekakuan disana.


Dan Tasya tetap enggan memanggil papa kepada pria paruh baya tersebut.


Papa Anton sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Tasya.

__ADS_1


Bisa saja dirinya mengarang cerita saat ini. Tapi apakah hal itu benar?


Menutupi sebuah kenyataan hanya agar sang putri bisa menerimanya, papa Anton rasa itu bukan sikap yang tepat.


Bagaimana jika nantinya Tasya malah tahu dari orang lain tentang kejadian masalalu?


Bukankah hal itu malah hanya akan membuat Tasya menjadi murka di kemudian hari?


Papa Anton menarik nafas panjang, ia harus jujur.


Sekalipun hal itu sungguh menyakitkan, tapi papa Anton tidak mau menutupi apapun dari putri kandungnya.


Ia yakin Tasya akan mengerti dan memahami semuanya.


"Papa benar-benar minta maaf, Sya..." papa Anton menjeda kata-katanya.


Kembali menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Papa benar-benar tak sengaja melakukan itu semua. Papa tak pernah bermaksud untuk menghilangkan nyawa mama kamu" mimik sedih kembali tampak di raut wajah papa Anton.


Lelaki paruh baya tersebut seperti menahan pedih yang teramat mendalam.


Sesaat, Tasya terdiam.


Gadis itu masih mencoba mencerna kata kata dari papa kandungnya tersebut.


Hingga kemudian, sebutir kristal bening jatuh tanpa permisi di kedua papanya.


"Papa membunuh mama?" Ucap Tasya emosi. Gadis itu bahkan sudah berdiri dari duduknya.


"Papa benar-benar tak sengaja melakukannya, Sya. Papa bisa jelaskan semuanya" ucap papa Anton bersungguh-sungguh.


Mata pria paruh baya itu tampak berkaca-kaca.


Airmatanya sudah jatuh bercucuran sekarang.


"Nat," Dion merangkul Tasya mencoba untuk menenangkan gadis tersebut.


Namun Tasya tampak berontak,


"Seharusnya Tasya gak perlu bertemu dengan papa" ucap Tasya akhirnya.


Gadis itu memaksa untuk melepaskan dirinya dari Dion dan segera berlari meninggalkan kedua pria tersebut.


Papa Anton langsung tertunduk lesu. Pria paruh baya tersebut berusaha menyembunyikan tangisannya.


Tentu saja, ia merasa sedih putri kandungnya, yang bahkan belum sepenuhnya menerima kehadirannya, kini semakin membencinya.


Hilang sudah harapannya kini untuk bisa menjalin hubungan baik dengan Tasya.


Dion menatap prihatin pada papa Anton.


"Om, maaf atas sikap Tasya tadi." Ucap Dion prihatin.


Papa Anton masih diam.


"Dion akan coba membujuk Tasya agar mau mendengarkan penjelasan dari Om Anton" lanjut Dion lagi.


Kali ini papa Anton menggeleng. Dirinya sudah pesimis. Tasya pasti tidak akan mau melihat wajahnya lagi.


"Kamu tidak perlu memaksanya, Dion. Jika memang Tasya tidak mau lagi bertemu denganku. Tolong jaga Tasya baik-baik. Dia putri kandungku satu-satunya" hanya itu yang mampu papa Anton ucapkan.


Dion menarik nafas panjang.

__ADS_1


Dion sangat yakin papa Anton bukanlah seorang penjahat atau pembunuh.


Pasti ada penjelasan atas semua kejadian itu.


"Dion akan selalu menjaga Tasya, om. Dion pamit dulu" Dion akhirnya berpamitan.


Setelah mencium punggung tangan papa Anton, bergegas Dion keluar dari cafe tersebut dan menyusul Tasya.


*****


Tasya menangis sesenggukan di dalam mobil milik Dion.


Kenapa takdir hidupnya harus selalu seperti ini.


Kenapa dia harus mempunyai papa seorang penjahat?


Kenapa?


Kenapa?


Kenapa?


Seharusnya Tasya tidak perlu menemui papa Anton ataupun mencari tahu semuanya.


Kini Tasya sungguh menyesal.


Dion sudah masuk ke dalam mobil menyusul Tasya.


Dion langsung merengkuh Tasya ke dalam pelukannya.


Dion tahu, Tasya pasti sedang merasa kacau sekarang.


Jadi Dion tak mau menghakimi.


Dion akan menunggu hingga emosi Tasya benar-benar stabil sebelum kembali membujuknya untuk bertemu dengan papa Anton.


Dion yakin ada penjelasan atas semua yang terjadi di masalalu kedua orangtua Tasya.


Bahkan Tasya tadi tidak mau mendengarkan penjelasan dari papa Anton dan langsung mengambil kesimpulan secara sepihak.


Tasya sudah tenang sekarang.


Dion mengusap lembut kepala Tasya, sedikit memerapikan rambut Tasya yang berantakan menutupi wajahnya.


"Seharusnya aku tidak menemuinya" ucap Tasya masih sesenggukan.


Dion memilih untuk tidak menjawab atau mengemukakan pendapatnya.


Dion takut pendapatnya hanya akan membuat emosi Tasya kembali membuncah.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Dion lembut.


Tasya mengangguk.


Dion segera membantu Tasya memasang sabuk pengaman.


Setelah semuanya siap, Dion segera melajukan mobil dan meninggalkan cafe tersebut.


Papa Anton hanya bisa memandang dari dalam cafe hingga mobil yang membawa Dion dan Tasya tak terlihat lagi.


Papa Anton tak tahu lagi harus bagaimana sekarang.


Tasya tidak akan pernah memaafkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2