
"Sya!" Tasya yang sedang menyesap minumannya langsung tersedak gara-gara Kiki menepuk punggungnya secara tiba-tiba.
"Uhuk uhuk uhuk. Kenapa sih, Ki?" Tasya sedikit kesal sekarang.
Sahabatnya yang satu ini, selalu saja bertingkah kekank-kanakan.
"Kamu jahat" Kiki duduk di bangku yang ada di depan Tasya sambil mencebik.
Tentu saja Tasya bingung, kenapa mendadak Kiki menganggapnya jahat.
Tasya mengernyit.
"Ternyata kamu udah tunangan sama Dion. Kenapa sih, kamu gak cerita ke aku" Kiki masih mencebik. Tangannya bersedekap menandakan kalau dirinya benar-benar sedang merajuk sekarang.
"Maaf" hanya itu yang bisa Tasya katakan.
Pasti Kiki sudah membaca berita di media sosial tentang pernyataan Dion kemarin lusa di pesta nya Mr Lim.
"Ki, jangan ngambek ya" Tasya mencoba membujuk gadis di depannya tersebut.
Kiki masih mencebik.
"Baiklah, aku maafkan. Tapi kamu harus cerita ke aku. Kok bisa sih kamu pacaran sampe tunangan sama Dion tapi diem-diem aja selama ini" Kiki mengajukan persyaratan.
Tasya menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Kiki.
"Ya, emang aku harus bagaimana? Bikin pengumuman gitu kalau aku pacarnya Dion. Itu kekanak-kanakan, Ki" Tasya mencoba berpikir dewasa.
"Lagipula sebenarnya kami baru setahun terakhir ini jalan bareng lagi," lanjut Tasya lagi.
Tasya menyandarkan punggungnya di kursi.
"Maksud kamu, kalian pernah putus gitu?" Tanya Kiki semakin antusias. Tak ada lagi raut kemarahan di wajah gadis muda itu.
"Entah apa namanya, tapi saat itu kami sibuk dengan kuliah masing masing jadi kami memutuskan untuk sendiri-sendiri dulu" cerita Tasya sambil menerawang.
Bukan karena kesibukan kuliah, namun karena memang kesalah pahaman yang membuat hubungannya dengan Dion jadi rumit saat itu. Namun sepertinya Tasya tak perlu menceritakannya pada Kiki.
"Tapi waktu kemarin Dion di gosipin sama Laura, kenapa kamu diam aja? Kamu gak cemburu gitu?" Tanya Kiki menyelidik.
"Tentu saja aku cemburu" jawab Tasya cepat.
"Tapi aku lebih percaya pada Dion. Lagi pula sekarang Dion sudah menjelaskan ke publik tentang hubungan kami. Jadi aku berharap semoga tidak ada lagi berita-berita bohong tentang Dion," lanjut Tasya panjang lebar.
Kiki hanya mengangguk tanda paham.
"Gak nyangka ya. Kamu pacaran sama Dion. Hahaha." Ucap Kiki sambil tertawa, sepertinya gadis itu masih belum percaya.
__ADS_1
"Oh ya aku dengar kak Egi bertunangan dengan dokter Elena?" Tasya mengalihkan topik pembicaraan.
Seketika Kiki menghentikan tawanya.
Kiki mengendikkan bahu,
"Ya, baru beberapa minggu yang lalu. Rencana mereka mau menikah setelah aku wisuda nanti" jawab Kiki sedikit malas.
"Kenapa? Apa kamu ada masalah?" Tasya yang menangkap raut tidak senang di wajah Kiki mendadak jadi penasaran.
"Enggak sih, hanya saja aku tidak tahu kalau kak Elena itu ngeselin" cerita Kiki sedikit mencebik.
Tasya mengernyit bingung.
Dokter Elena yang Tasya kenal adalah wanita baik hati.
Tasya tahu semua itu karena pernah koas bersamanya selama beberapa bulan.
"Bukankah dokter Elena baik?" Tanya Tasya bingung.
"Iya dia memang baik. Tapi aku rasa aku kurang cocok dengannya. Dia itu suka ngatur-ngatur. Padahal kan dia belum resmi jadi kakak ipar aku. Tapi dia udah ngatur ini itu seenaknya. Aku gak boleh dekat sama cowok inilah, cowok itulah. Ngapain coba dia ngurusin kehidupan pribadi aku" Kiki menumpahkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya.
Tasya hanya menghela nafas,
"Itu semua kan buat kebaikan kamu, Ki. Dokter Elena hanya ingin menjagamu" Tasya mencoba bijak.
"Tetap saja, aku gak suka di atur-atur begitu." Kiki masih bersikeras.
"Aku juga takut kalau kak Egi akan semakin mengabaikanku saat nanti mereka sudah menikah" mimik kesal di wajah Kiki mendadak berubah menjadi mimik sedih.
Tasya mengusap lembut tangan Kiki,
"Kak Egi sayang sama kamu, Ki. Jadi dia gak mungkin melakukan itu." Ucap Tasya mencoba menenangkan sahabatnya tersebut.
"Aku pikir, kamu hanya belum terbiasa saja dengan kehadiran dokter Elena. Mungkin karena selama ini kamu sama kak Egi selalu berbagi semuanya berdua saja. Nanti kamu akan terbiasa, Ki. Jangan berpikiran buruk terus" nasehat Tasya panjang lebar.
Tak mudah memang menerima kehadiran orang baru dalam kehidupan yang menurut kita sudah sempurna.
Tasya pun pernah mengalaminya saat Vira tiba-tiba hadir dan akhirnya Tasya harus rela membagi kasih sayang mama Sarla bersama Vira.
"Baiklah, aku akan melakukan seperti yang kamu katakan. Mungkin kamu benar. Aku hanya belum terbiasa" kini Kiki mulai mengerti.
Tasya pun merasa lega.
*****
Tasya baru saja tiba di rumah mama Sarla.
__ADS_1
Pernikahan Vira dan Kevin masih sekitar satu pekan lagi, namun Tasya memutuskan untuk pulang lebih cepat.
Lagipula, Tasya hanya tinggal menyelesaikan skripsinya. Tasya bisa mengerjakannya dari sini sembari membantu mama Sarla menyiapkan pernikahan Vira.
Tasya baru saja menyeret kopernya masuk ke teras rumah.
Tiba-tiba, Vira dan Kevin sudah muncul dari dalam rumah.
"Sya, kamu udah pulang?" Vira yang terlebih dahulu menyapa Tasya. Kedua gadis itupun berpelukan.
"Iya, aku pulang lebih cepat, biar bisa bantuin persiapan pernikahan kalian" Tasya menjawab sapaan dari Vira sambil berbasa-basi.
"Kenapa gak telpon sih, kan kita bisa jemput kamu di bandara" Vira ikut berbasa basi.
"Aku tidak mau merepotkan kalian. Lagipula aku masih bisa naik taksi" jawab Tasya sambil terkekeh.
"Oh, ya. Kalian mau kemana?" Tanya Tasya pada pasangan di depannya tersebut.
"Kami akan ke butik sebentar lalu lanjut membeli beberapa keperluan" kali ini Kevin yang menjawab.
"Kamu mau ikut, Sya?" Vira menawarkan.
Tasya langsung menggeleng cepat.
"Aku akan istirahat saja dirumah. Aku lelah" jawab Tasya menolak halus.
"Baiklah, kami pergi dulu, Sya" pamit Vira dan Kevin akhirnya.
Tasya hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.
Mama Sarla tidak terlihat, seperrinya sedang di dapur.
"Ma..." Tasya memanggil sang mama.
Tak berselang lama, mama Sarla tergopoh-gopoh keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang.
"Tasya!" Ucap mama Sarla senang.
Mama Sarla segera memeluk putri angkatnya tersebut meluapkan segala kerinduannya.
"Mama senang kamu bisa pulang lebih awal" ucap mama Sarla berbinar-binar. Raut bahagia tampak jelas di wajah mama Sarla.
"Tasya juga kangen sama mama" ucap Tasya tak kalah senang.
"Kamu istirahat saja dulu. Mama siapin makan buat kamu, nanti kita ngobrol banyak. Mama mau bicara beverapa hal sama kamu" mama Sarla mengusap lembut pungung Tasya.
"Baik, ma. Tasya ke kamar dulu" jawab Tasya sebelum akhirnya berjalan menuju ke kamar yang biasa ia tempati jika menginap di rumah itu.
__ADS_1
Mama Sarla kembali ke dapur dan melanjutkan lagi aktivitasnya yang tadi sempat tertunda.