Natasya

Natasya
SEASON KEDUA:Pergi Untuk Selamanya


__ADS_3

Hari kesepuluh Zhia di rawat di ruang ICU,


Tidak ada kemajuan berarti. Kondisi gadis kecil itu masih sama seperti saat pertama kali masuk ke ruangan tersebut.


Tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang sudah di tumpahkan oleh Tasya.


Meskipun sejak awal Tasya sudah tahu dan paham dengan semua resiko ini, tetap saja saat harus menjalaninya semuanya terasa begitu berat.


Tasya menggenggam erat tangan mungil itu. Tak ada kata terucap.


Dokter yang menangani Zhia sudah menyerah, tak ada lagi harapan bagi gadis kecil itu.


Jika saat ini Zhia masih bertahan tak lain hal itu karena alat medis yang masih menempel di tubuhnya.


Dion benar, inilah saatnya Tasya harus merelakan Zhia pergi.


Mungkin gadis kecil ini juga sudah lelah dengan semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini


Dion merangkul pundak Tasya mencoba memberikan kekuatan kepada istrinya tersebut.


Meskipun dalam hatinya sendiri, Dion juga merasa hancur. Namun inilah yang terbaik untuk Zhia.


Gadis kecil ini tak perlu lagi merasakan sakit.


Biarlah Zhia pergi dalam damai.


Tasya mengecup kening Zhia dan memandang sekali lagi wajah pucat itu.


Tasya dan Dion sudah menandatangani surat yang menyatakan bahwa mereka bersedia jika alat-alat yang menopang kehidupan Zhia dilepaskan.


Tasya harus rela dan ikhlas. Ini semua yang terbaik untuk Zhia.


"Pergilah dengan tenang Zhia. Kau tidak perlu lagi merasakan semua kesakitan ini, sayang" Tasya sekali lagi mencium kening Zhia.


Airmata tak berhenti mengalir di kedua pipinya.


Tak akan ada lagi tawa dan rengekan dari Zhia.


Dion ganti mencium kening gadis kecil itu. Gadis kecil yang benar-benar bisa membuat Dion merasakan bagaimana menjadi orang tua.


Gadis kecil yang mengajarkan banyak hal pada Dion.


Kini Dion harus melepaskan kepergian Zhia. Dadanya terasa sesak. Zhia bukanlah putri kandungnya, namun ikatan batin itu terasa begitu kuat. Delapan bulan bersama Zhia benar-benar merupakan waktu terbaik dalam hidup Dion.


Gadis kecil itu kini sudah pergi.


Pergi untuk selamanya.


Tak akan ada lagi rasa sakit.


Tak akan ada lagi rengekan atau celoteh manja dari Zhia.


Pergilah Zhia.


Mama Tasya dan Papa Dion akan selalu mengenangmu di sudut hati kami yang terdalam.


Pergilah dalam kedamaian.


******


Pemakaman Zhia...


Tasya dan Dion sengaja membawa Zhia kembali ke kota kecil itu.


Sesuai permintaan Salsa yang ingin agar Zhia di makamkan dekat dengan panti asuhan.


Salsa dan Flo ingin tetap bisa mengunjungi Zhia kapan pun mereka merindukan gadis kecil itu.


Tasya sungguh tak bisa menolak permintaan Salsa.


Lagi pula, Tasya dan Dion juga tetap bisa berkunjung ke sini setiap saat.


Acara pemakaman sudah selesai.


Para pelayat yang hadir, satu persatu sudah mulai meninggalkan area pemakaman tersebut.


Menyisakan Tasya yang kini duduk bersimpuh di samping gundukan tanah bertabur bunga tersebut.

__ADS_1


Dion ikut bersimpuh di samping Tasya, merangkul istrinya tersebut dan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Zhia.


Tak ada lagi air mata yang di tumpahkan oleh Tasya, hanya saja wajah sembab itu tak bisa Tasya sembunyikan.


Tasya sudah terlalu lelah untuk menangis, meskipun sampai sekarang dadanya masih terasa sesak.


Tasya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk merelakan Zhia dan tegar menghadapi semua ini.


Zhia sudah pergi dengan tenang dan bahagia di sana.


Jadi apalagi yang harus di khawatirkan oleh Tasya.


"Ayo, Nat. Kita pulang!" Dion membimbing Tasya agar bangkit berdiri.


Tasya memandang sekali lagi gundukan tanah itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan area pemakaman tersebut.


Mendung terlihat menggantung di langit yang tadi cerah. Seakan alam pun ikut bersedih dengan kepergian Zhia.


Tak butuh waktu lama hingga mendung itu pun jatuh ke bumi menjadi rintik hujan yang membasahi tanah pemakaman.


Zhia sudah beristirahat dalam damai.


*****


Di rumah keluarga Dion,


Tasya duduk termenung di sofa yang ada di kamar Dion. Pandangannya menatap rintik hujan yang jatuh menimpa kaca jendela besar yang ada di kamar tersebut, membuatnya menjadi buram.


Tasya harus melanjutkan hidupnya yang sekarang, memulai lagi semuanya tanpa Zhia.


Bukankah sebelumnya juga begitu?


Saat sebelum Tasya bertemu Zhia,


Saat kehidupan Tasya hanyalah sebuah rangkaian kegiatan yang terasa membosankan.


Dan kini, Tasya akan kembali ke masa-masa itu lagi.


Tanpa Zhia di apartemennya.


Hanya ini kunyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Bahkan suara merdu Zhia saat menyanyikan penggalan lagu indah itu untuk Tasya kembali terngiang dan berputar-putar di kepala Tasya.


"Sya," suara mama Wina yang entah sejak kapan sudah berada di kamarnya membuat Tasya tersentak dan membuyarkan semua lamunan Tasya tentang Zhia.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya mama Wina khawatir.


"Iya, Tasya baik, Ma. Apa mama melihat Dion?" Tanya Tasya pada mama Wina.


Sejak pulang dari pemakaman tadi, Tasya langsung masuk ke kamar dan tak melihat Dion.


"Dion sedang di ruang kerja papa Rian, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu" jelas mama Wina.


Tasya hanya mengangguk.


"Sya, mama tahu bagaimana perasaanmu sekarang, tapi jangan terlalu lama bersedih. Kamu harus bangkit. Zhia sudah bahagia di sana" nasehat mama Wina panjang lebar.


Kesedihan di wajah Tasya memang terpampang nyata.


Tasya mengangguk,


"Iya, Ma. Tasya hanya butuh sedikit waktu untuk bangkit dari ini semua. Tapi Tasya janji tidak akan sedih berlarut-larut" tukas Tasya mengiyakan nasehat dari sang mama mertua.


Mama Wina menepuk punggung Tasya,


"Mama yakin kamu bisa" ucap mama Wina optimis.


"Hai, Ma. Sedang ngobrol dengan Tasya?" Dion yang baru datang dan masuk ke kamar menyapa sang mama.


Raut kesedihan di wajah Dion tak lagi terlihat.

__ADS_1


Mungkin pria itu lebih pandai menyembunyikan perasaannya ketimbang Tasya.


"Sudah selesai, Di. Yang ngobrol sama papa kamu?" Mama Wina balik bertanya.


Dion mengangguk.


Dion ikut duduk di sofa di samping Tasya.


"Masih bersedih?" Tanya Dion pada istrinya tersebut.


Tasya menggeleng dan memaksakan untuk tersenyum simpul.


"Kapan kalian akan kembali?" Tanya mama Wina.


Dion mengendikkan bahu,


"Terserah Tasya saja, Ma. Aku akan tetap di sini jika Tasya masih ingin disini." Jawab Dion santai.


"Di, kamu harus kerja" sergah Tasya cepat.


Dion menarik nafas panjang.


"Kamu benar. Jadi kapan kamu ingin pulang?" Dion bertanya pada Tasya.


"Mungkin besok sore. Aku masih harus membersihkan kamar Zhia. Apa sebaiknya kita menyumbangkan semua barang-barang Zhia?" Tasya bertanya pada Dion dengab nada datar.


Tak ada jawaban.


"Kamu bisa menyimpannya untuk adiknya Zhia nanti, Sya" mama Wina yang menjawab pertanyaan Tasya barusan.


Tasya menatap ke arah mama mertuanya tersebut,


"Sya, tidak ada yang tidak mungkin. Mama yakin kamu pasti bisa hamil dan melahirkan suatu hari nanti" mama Wina mengusap lembut kepala Tasya.


"Mama tahu kamu mungkin jenuh dan lelah dengan semua usaha yang sudah kamu lakukan selama ini. Tapi tolong jangan pernah berputus asa atau berhenti berharap." Pinta mama Wina penuh harap.


Tasya mengangguk,


"Iya, Ma" jawab Tasya singkat.


Dion merangkul pundak Tasya.


"Mama benar, Nat. Terlalu dini bagi kita untuk menyerah dan pasrah" Dion menambahkan.


"Baiklah, sebaiknya mama memasak dan menyiapkan makan malam." Mama Wina sudah bangkit dari duduknya.


Tasya ikut beranjak,


"Tasya bantu, Ma" ujar Tasya cepat.


"Tidak, Sya. Mama tahu kamu pasti lelah setelah acara tadi. Istirahat saja di kamar dan nanti kalian bisa turun saat makan malam" tolak mama Wina sehalus mungkin.


Tasya hanya menghela nafas.


"Baiklah kalau begitu" ucao Tasya pasrah.


Mama Wina sudah berlalu meninggalkan kamar Tasya dan Dion.


Kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan tersebut.


Hujan sudah reda bersamaan dengan langit yang kini sudah berubah menjadi gelap.


"Sebaiknya kamu mandi agar lebih segar. Aku akan ke rooftop sebentar untuk meregangkan otot" Dion berbisik pada Tasya yang kini duduk di tepi ranjang tempat tidur.


Tasya menatap ke netra milik Dion, masih ada kesedihan di sana.


Mungkin sekilas tak terlihat, tapi saat Tasya menatapya lebih dalam, kesedihan itu terlihat sangat nyata.


Dion cepat-cepat mengalihkan wajahnya dari tatapan netra milik Tasya.


"Aku akan segera kembali" Dion mengecup singkat bibir Tasya sebelum menghilang kelur dari kamar.


Entah Dion benar-benar ingin berolhraga di atas atau pria itu hanya ingin melampiaskan kesedihannya tanpa ada yang tahu?


Entahlah, Tasya enggan memikirkannya.


Dion benar, sebaiknya Tasya mandi sekarang. Tasya butuh berendam untuk sekedar menghilangkan rasa sesak yang kini memenuhi dadanya.

__ADS_1


__ADS_2