Natasya

Natasya
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Salsa duduk gelisah di bangkunya.


Ia ingin segera bertanya pada Tasya perihal hubungannya dengan Dion. Tapi sedari pagi Salsa belum menemukan moment yang tepat.


Ia juga tidak mau langsung menuduh dan menghakimi Tasya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri kedekatan Dion dengan Tasya.


Salsa yakin akan segera mengetahui sebuah kebenaran.


"Kantin, yuk! Lapar gue" ajak Silvi seperti biasa.


"Yuk!" jawab Vina sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar kelas.


Salsa masih menunggu reaksi dari Tasya.


"Kalian duluan aja ya. Aku mau ke toilet sebentar" ucap Tasya berbohong.


Dia akan kembali menemui Dion di ruang loker.


Dion menelponnya tadi pagi dan meminta Tasya meminjamkan buku catatan dari beberapa pelajaran yang tak sempat Dion ikuti karena terlalu fokus pada pertandingan kemarin.


"Yaudah, kita duluan Sya" Salsa menepuk bahu Tasya dan segera menyusul Vina dan Silvi.


Tasya sedikit bernafas lega. Buru buru ia mengambil buku yang


akan dia serahkan pada Dion.


Tasya berjalan sedikit cepat menuju ruang loker. Ia tak sadar ada sepasang mata yang mengawasinya dan terus membuntutinya.


*****


"Aduh, perut gue mules." Salsa memegang perutnya sambil menunjukkan mimik wajah kesakitan.


"Ah, elo. Ada ada aja sih, Sal" Vina menanggapi dengan kesal.


"Gue ke toilet dulu. Kalian duluan aja" jawab Salsa sambil berlalu meninggalkan dua sahabatnya tersebut.


Tak lupa ia masih memegang perutnya yang sebenarnya tidak sakit.


Salsa tidak menuju toilet. Ia membuntuti Tasya yang entah pergi kemana.


Salsa terus membuntuti Tasya hingga gadis itu berbelok ke lorong yang menuju gudang sekolah.

__ADS_1


"Tasya ngapain kesana?" Gumam Salsa lirih. Ia mengendap endap dan mengintip Tasya.


Ada Dion yang sedang berdiri di ujung lorong yang bersebelahan dengan gudang.


Salsa bersembunyi diantara meja dan kursi yang tak terpakai yang ada di sisi sisi lorong.


"Hai, udah lama?" Tasya menyapa Dion yang sedang memainkan ponselnya.


"Baru saja." Jawab Dion sambil mengacak rambut Tasya membuat gadis itu mencebik karena rambutnya jadi berantakan.


"Ini bukunya. Udah aku rangkumin semuanya" Tasya menyodorkan sebuah buku pada Dion.


Dion menerimanya lalu memeriksanya sekilas.


"Makasih ya, tuan putri" Dion mencubit gemas pipi Tasya.


"Sakit tahu" Tasya mencebik. Dion hanya terkekeh.


Tak berselang lama, Denny dan Rizky keluar dari ruangan di samping gudang.


"Ayo, Di. Jangan pacaran mulu" Rizky menoyor kepala Dion.


Ia hendak membalas perbuatan Rizky, namun terlambat.


Cowok jangkung itu sudah lari menjauh sambil tertawa puas.


Tasya terkekeh melihat wajah kesal Dion.


"Mau ke kantin?" Tanya Dion pada Tasya.


"Ya." Jawab Tasya singkat.


"Jalan di depan" ujar Dion.


Tasya menurut, ia berjalan mendahului Dion dan Denny.


Sengaja mereka menjaga jarak saat sudah keluar lorong agar tak ada siswa yang curiga


Dan semua pemandangan itu tak luput dari perhatian Salsa yang bersembunyi sejak tadi demi memata-matai Tasya.


Di luar dugaan, Salsa bahkan tak pernah berpikir kalau Tasya bisa sedekat itu sama Dion dan tim nya.

__ADS_1


Gadis itu sungguh pandai menyimpan rahasia selama ini.


Salsa berjalan sedikit cepat untuk menyusul Tasya yang sudah hampir dekat menuju kantin.


Dion dan Denny sudah tidak kelihatan, sepertinya mereka berdua sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kantin.


"Sya!" Panggil Salsa lumayan keras.


Tasya segera menoleh. Sedikit terkejut mendapati Salsa yang sudah berdiri di belakangnya.


"Salsa, kamu dari mana?" Tanya Tasya bingung. Tadi bukankah Salsa ke kantin bersama Silvi dan Vina.


"Gue mau bicara. Ikut gue!" bukannya menjawab pertanyaan dari Tasya, Salsa malah menarik tangan Tasya menuju taman sekolah.


Salsa membawa Tasya duduk di bangku taman yang ada di pojok dan terlihat sepi.


"Sal, ada apa?" Tanya Tasya semakin kebingungan.


"Loe ada hubungan apa sama Dion?" Tanya Salsa to the point.


Sontak Tasya langsung terkejut mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut.


"Gak ada" ucap Tasya sambil memalingkan wajahnya. Berharap Salsa tidak akan melihat raut kebohongan di wajahnya sekarang.


"Gak usah bohong. Gue kemarin ketemu mama loe di swalayan dan kata mama Sarla loe pergi sama Dion" ucap Salsa geregetan berusaha menahan emosi yang membuncah di dadanya.


"Dan baru saja, gue liat loe ketemuan sama Dion di samping gudang. Dion ngelus elus kepala loe. Masih mau bilang gak ada hubungan apa-apa?" Salsa berkata sambil menekankan setiap kata dalam kalimatnya.


Entah mengapa dirinya merasa marah sekarang karena selama ini Tasya yang sudah ia anggap sebagai sahabat baik, malah membohongi dan menyembunyikan hal besar darinya.


Tasya hanya tertunduk dan merasa sangat bersalah.


"Sal, plis jangan ceritain ini sama Silvi dan Vina. Gue takut mereka berdua bakalan ngamuk kalo tahu tentang hubungan gue dan Dion" Tasya memohon pada Salsa.


Raut wajahnya memelas, membuat Salsa menarik nafas panjang dan mencoba mengusir jauh jauh emosinya yang membara sedari tadi.


"Baiklah, gue gak bakal ceritain sama dua cewek itu. Asal loe jujur sama gue dan ceritain semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi" ancam Salsa sambil menatap tajam pada Tasya.


Tasya hanya mengangguk dan menyanggupi.


Ia yakin, Salsa bisa di percaya.

__ADS_1


__ADS_2