
Pagi ini, Alice memandang kepergian Axel di pintu check in bandara dengan syok. Dia masih sulit menerima fakta putranya memilih pergi mengambil liburan musim gugur lebih awal ke New York bersama Violin dan James.
Karena suatu alasan yang tidak dimengerti oleh Alice, mereka memilih menggunakan jasa penerbangan komersil dari pada menggunakan pesawat pribadi.
Tadi malam, setelah melalui banyak bujukan dan rayuan, Alice merasa tak berdaya. Dia mengijinkan Axel dengan setengah hati untuk mengunjungi kediaman Violin. Berharap di detik-detik terakhir, putranya tersebut mengurungkan niat dan memilih tetap di sisi Alice. Nyatanya harapan tinggal harapan. Axel tetap saja pergi dengan wajah riang seolah tak peduli ibunya sendiri keberatan.
Alice berdiri mematung cukup lama. Klayver bahkan harus menepuk bahunya untuk menyadarkan istrinya dan membawanya kembali ke rumah.
"Jangan bereaksi seperti itu, Alice. Seolah dunia akan berakhir hari ini. Axel hanya pergi ke rumah orang tuaku selama setengah bulan. Dia pasti akan kembali pulang bersama kita. Lagi pula, Mom cukup menyayanginya dan pasti akan menjaga dengan baik. Bukankah Helena juga ikut bersama mereka? Kau tak perlu khawatir begitu." Kalyver membimbing Alice agar kembali ke mobil mereka yang diparkir tak terlalu jauh.
Alice bersikap diam dalam perjalanan pulang. Ia hanya sesekali mengangguk dan merespon beberapa pertanyaan saja. Sesampainya di rumah, wanita itu langsung menuju ke ruang kerja dan mengecek beberapa laporan penting yang dikirim bawahannya beberapa hari ini. Akhir-akhir ini Alice jarang mengamati grafik perkembangan keuntungan perusahaan. Dia harus kembali produktif meskipun melakukan hal ini dari rumah. Biasanya, Alice hanya akan ke kantor jika ada hal-hal penting atau darurat.
Saat Alice tengah tenggelam meneliti akun-akun keuangan, Klayver memasuki ruang kerja dengan setelan armi. Dia tersenyum kecil dan memberikan kecupan hangat di pagi hari.
Jam masih menunjukkan pukul delapan waktu Manhattan. Alice menatap Klayver sedikit ragu dan bertanya pelan. "Kau mau ke mana?" tanyanya heran.
"Aku akan mengurus beberapa hal. Oh ngomong-ngomong, aku perlu merenovasi ruang kosong di dekat gudang. Tolong jangan masuk ke sana dulu karena terdapat banyak hal yang perlu keperbaiki!" pinta Klayver serius.
Beberapa hari yang lalu mereka memang telah membicarakan hal ini. Klayver butuh ruang pribadi untuk aktifitas 'rahasianya'. Ruang pribadi yang lumayan luas dan jarang orang untuk berlalu lalang. Akhirnya, Alice menyarankan agar Klayver memakai ruang kosong terbengkalai di sisi gudang. Tadinya ruang itu difungsikan untuk gudang juga. Hanya saja karena gudang pertama sudah mencukupi, akhirnya ruang ke dua menjadi tak terurus.
Klayver menerima tawaran Alice dan cukup puas melihat ruangan besar tersebut. Hanya butuh perbaikan di beberapa titik untuk Klayver sempurnakan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, oke?" Alice tersenyum kecil dengan sebuah bolpoin yang ia selipkan di sisi telinga. Penampilannya saat ini cukup menggoda di mata Klayver. Lelaki itu mendekati istrinya, mendorongnya sedikit tubuh Alice di sandaran kursi dan menguasainya dengan ciuman dalam.
"Kau benar-benar menawan. Sayangnya, aku harus pergi saat ini. Nanti malam, Sayang. Kita akan bekerja keras menciptakan bayi."
Klayver berlalu pergi dan meninggalkan Alice dengan tatapan menggelap. Alice menyentuh bibirnya yang masih bergetar dan mengusapnya lembut. Entah kenapa, lelaki itu selalu mampu membuatnya terpesona. Dia laksana heroin paling mahal sedunia.
Alice kembali memusatkan perhatiannya pada sederet angka-angka. Dia harus membaca beberapa kali untuk memahami secara penuh laporan tersebut karena pikirannya sempat melayang lama setelah ciuman Klayver.
Alice mengetuk-ngetukkan ujung bolpoin dan menggerutu pelan. Menyumpahi Klayver yang terlalu sering mengalihkan fokus utamanya.
Laporan yang Alice baca ternyata menunjukkan progres yang lumayan. Bulan ini tiga perusahaan properti yang Alice miliki mengantongi keuntungan hampir dua kali lipat dari bulan kemarin.
Pasaran perumahan elite yang Alice gagas berhasil mendapatkan hasil yang luar biasa. Dengan sistem kebijakan baru yang kini ia terapkan pada perusahaan, Alice yakin perusahannya akan berjalan dengan stabil di kancah internasional.
Alice masih berkutat dengan laporan keuangan terbaru dan meneliti perubahan modal saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Alce mengerutkan dahi, menebak siapa sosok yang menghubunginya. Mungkinkah dari Violin? Apakah Axel membuat masalah?
Kerutan di dahi Alice semakin dalam saat ia melihat nomor asing yang muncul di layar utama. Alice menimbang-nimbang ragu beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan tersebut. Semoga saja bukan panggilan teror yang menakutkan.
"Halo?" tanyanya penasaran.
"Hai, Alice. Ini aku, Daniel."
Alice berteriak terkejut mendengar sebuah suara yang telah lama tak ia dengar. Berapa bulan mereka telah terputus komunikasi? Hingga Alice menyangka Daniel sekarang hidup di dunia antah berantah yang tak memiliki saluran komunikasi.
"Ke mana saja kau, Daniel? Berapa lama kau hilang dari peredaran. Beruntung kau masih ingat kontak terakhir yang aku pakai. Jika tidak, kau tak akan pernah bisa menghubungiku lagi." Alice berkata serius. Sebelumnya ia pernah berpikir untuk mengganti kontak pribadi miliknya. Tetapi ia urungkan karena beberapa alasan.
"Aku menghindari Klayver dengan berlibur ke negara tropis di Indonesia. Tepatnya di Bali. Aku menghubungimu dengan saluran aman. Apakah sekarang Klayver berada dekat denganmu? Apakah obrolan kita bisa memancing bahaya?" tanya Daniel mulai tak tenang. Semua hal yang berurusan dengan Klayver membuatnya paranoid .
"Tidak apa-apa. Kau aman sekarang. Maksudku bukan hanya sekarang. Tetapi selamanya." Alice bingung sendiri menjelaskan situasi tersebut kepada Daniel.
__ADS_1
Daniel yang tidak mengerti arah pembicaraan Alice, hanya bisa terdiam tanpa suara. Dia mencoba mengolah informasi tersebut.
"Maksudku, aku telah membujuk Klayver agar melepaskanmu dan tidak lagi memburumu. Jadi, sekarang kau aman, Daniel. Pulanglah ke Manhattan. Kau akan baik-baik saja, aku janji!" Alice mencoba membujuk temannya.
Dia bisa membayangkan pasti bulan-bulan terakhir ini Daniel menghabiskan waktu dengan ketakutan yang beranak pinak. Siapa yang tidak paranoid jika dikejar oleh pembunuh sekelas Klayver.
"Tidak bisa, Alice. Aku tahu bagaimana watak eyes evil. Dia tak akan pernah memaafkan orang yang memburunya atau pun orang yang mencoba mengorek identitasnya. Aku hanya akan bunuh diri jika kembali ke Manhattan."
Daniel masih tidak mempercayai kata-kata Alice. Ada getar ketakutan dari nada suaranya. Mendengar semua ini membuat Alice merasa simpati. Daniel yang biasanya tegar, kini seperti buronan yang kehilangan kehormatannya.
"Percayalah padaku, Daniel. Aku bersumpah kau akan baik-baik saja. Aku dan Klayver, mmmh … katakanlah … telah lebih dekat dari pada sebelumnya. Aku bisa menjamin kali ini atas nyawaku bahwa kau akan aman, Daniel. Percayalah padaku!"
Untuk menjamin keselamatan Daniel, Alice menjanjikan hubungan suami istri yang sebenarnya saat itu terhadap Klayver. Hanya saja, hubungan mereka sekarang telah berkembang ke arah yang lebih baik. Tidak lagi platonis seperti awalnya. Dengan kondisinya yang sekarang, Alice memiliki keyakinan pernikahan mereka akan berjalan dengan baik.
Klayver telah banyak berubah. Senyumnya lebih tulus dari pada sebelumnya. Apa yang Alice inginkan, bahkan hal-hal kecil sering kali dipenuhi olehnya secara diam-diam. Bagaimana Alice tidak merasa bahagia dengan perubahan yang baik ini?
"Kau benar-benar yakin aku tidak akan apa-apa jika kembali ke Manhattan?"Daniel kembali bertanya meyakinkan diri.
Lebih dari apa pum juga, Daniel tahu ia terlanjur berurusan dengan orang yang salah. Sulit untuk memperbaiki semuanya. Sayangnya, dari semua hal yang ada, orang yang salah itu adalah suami dari temannya sendiri. Teman yang masih ia cintai hingga detik ini. Semuanya jadi semakin rumit baginya.
"Percayalah padaku, Daniel. Kembalilah! Aku akan mentraktirmu makan siang untuk merayakan kedatangan kembalimu. Aku janji!" Alice berkata antusias. Membayangkan temannya bisa kembali lagi merupakan hal yang ia impikan. Telah lama komunikasi mereka terputus. Sudah saatnya hubungan pertemanan mereka terjalin kembali dengan baik.
"Baiklah, Alice. Aku akan berkemas. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan tiba di Manhattan. Terimakasih untuk semuanya!" Daniel berkata tulus. Ia tersenyum kecil, merasa bahagia setidaknya Alice masih memiliki kepedulian padanya.
Cinta, jika itu mustahil untuk ia gapai. Selama bisa saling peduli, itu sudah cukup baginya. Daniel tidak akan muluk-muluk dalam berkhayal lagi. Dunia adalah tempat realita terjadi. Mimpi selalu memiliki porsi yang paling kecil untuk bisa bertahan dalam dunia nyata.
…
Alice sudah tenggelem dalam tidurnya cukup lama saat tiba-tiba sebuah suara merasuki alam bawah sadarnya. Terdengar lagu selamat ulang tahun dinyanyikan oleh seseorang. Lagu tersebut semakin jelas setiap saatnya dan akhirnya membentuk bayangan utuh suara itu adalah milik suaminya.
Perlahan, kelopak mata Alice bergetar beberapa kali dan akhirnya terbuka lebar. Dia mengeejap bingung, mendapati Klayver berdiri tak jauh darinya dengan membawa kue ulang tahun bertabur penuh cokelat dan lilin berbentuk angka 31 di atasnya. Cream yang ada dalam kue tersebut sangatlah menggoda. Potongannya yang indah dengan hiasan pola rumit terlihat menawan luar biasa.
Happy birth day to you
Happy birth day to you
Happy birth day Happy birth day
Happy birth day My Wife
Klayver menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara dalamnya yang khas. Alice mengerjap terpesona dan menutup mulutnya karena merasa syok.
Apakah hari ini hari ulang tahunnya?
Tunggu, tunggu ….
Oh benar. 30 April. Bagaimana bisa Alice sendiri lupa pada hari kelahirannya. Mungkin akhir-akhir ini ia terlalu sibuk, dibebani banyak urusan lain, sehingga pikirannya tak pernah terfokus kepada hari ulang tahunnya sendiri.
Klayver berlutut di sisi Alice, mendekatkan kue tart yang ia pegang dan menyodorkan Alice untuk meniup lilinnya.
Tangan Alice gemetar hebat. Dia memajukan tubuhnya dan meniup nyala api pada lilin di atas
__ADS_1
kue. Mata Alice mulai berkaca-kaca. Kepedulian yang dilakukan Klayver benar-benar di luar dugaan. Bagaimana cara Alice berterimakasih?
"Make a wish, Sweet Heart!" pinta Klayver lembut, bak pangeran dari negeri dongeng.
Mereka berdua saling bertatapan cukup lama sebelum akhirnya Alice memejamkan mata dan memohon sesuatu dalam hening. Beberapa saat kemudian ia membukanya kembali dan tersenyum cerah.
"Apa yang kau harapkan?" tanya Klayver penasaran.
"Bukankah itu rahasia?" Alice mencoba mengelak.
"Tidak apa-apa jika kau membocorkannya padaku!" Klayver berkata serius. Rasa penasaran merasukinya dengan kuat. Apa keinginan terpendam istrinya? Jika diungkapkan, sanggupkah ia membantunya agar terwujud?
Alice diam sesaat, kemudian menyampaikan sesuatu. Suaranya lirih dan penuh harap.
"Aku memginginkan pernikahan kita berjalan untuk selamanya. Aku tidak lagi menginginkan kesepakatan bodoh seperti yang kita janjikan pada awal pertemuan. Aku menginginkan hubungan yang sebenarnya, Klayer. Hubungan nyata dan kuat. Aku juga tak menginginkan perceraian!"
Alice memandang suaminya dengan mata bening yang berkaca-kaca. Netra emasnya semakin terlihat menonjol dengan sinar khusus.
Klayver menatap wanita yang telah tiga bulan ini ia nikahi. Garis wajahnya yang sempurna. Rahangnya yang tinggi bak wanita arsiktokrat. Bentuk tulangnya yang sempurna, dan rambutnya yang berwarna merah melambai seolah menggodanya.
Usianya yang berada di awal tiga puluhan bukannya menyusutkan kecantikannya, tetapi justru menonjolkan sisi kedewasaan yang matang. Membuat Klayver merasa wanita tersebut adalah harta karun tiada tara.
Klayver meletakkan roti ulang tahun di lantai. Ia menatap ke arah istrinya dengan tatapan intens, dan menyusuri wajahnya dengan ujung jemari. Sentuhannya lembut, menyerupai bulu. Tetapi efeknya membawa desiran kuat bagi Violin.
Semua yang ada pada diri Klayver bak kesempurnaan yang penuh keajaiban. Sentuhan yang ia bawa mampu melambungkan dan menerbangkan Alice jauh meninggi. Tatapannya mampu mengunci Alice dengan semua fokus yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.
Berkali-kali mereka bersama dalam malam-malam indah, tetapi reaksi Alice tak pernah berubah sejak pertemuan pertama. Degup jantung itu masih saja melonjak kuat, menggedor rongga dadanya dengan hentakan-hentakan hebat.
"Aku akan berusaha memberikan apa yang kau harapkan. Pernikahan ini akan kita buat sesempurna mungkin." Klayver berdiri, menarik lengan Alice untuk ikut bersamanya. Mata Klayver kali ini penuh emosi. Sinar matanya menyiratkan banyak hal yang bahkan Alice sendiri ragu untuk mengatakannya. Cintakah itu?
"Aku memiliki hadiah kecil untukmu," kata Klayver dengan senyum khasnya. Dia membimbing Alice ke luar kamar dalam keadaan masih memakai piyama tidur.
"Hadiah?" Alice membeo.
Bahkan dengan hari ulang tahunnya sendiri Alice lupa. Bagaimana bisa Kalyver mengingatnya bahkan mempersiapkan hadiah tersebut? Lelaki ini terlalu kompleks sehingga Alice hanya bisa menebak-nebak.
Mereka menyusuri lorong kecil, kemudian turun melewati tangga utama. Sesampainya di lantai bawah, Klayver berjalan dengan menggenggam tangan Alice menuju ruangan belakang di dekat gudang.
Ini, bukankah ruangan yang ia janjikan untuk diberikan Alice kepada Klayver? Ruangan yang katanya akan lelaki itu renovasi sesuai dengan keperluannya.
Saat Alice dilanda kebingungan, Klayver memeluk pinggang Alice dari arah belakang, mengusapnya mesra, dan membuka pintu penghubung ruangan kosong yang tak terpakai.
Alice terbelalak lebar. Di sana terdapat dua set kursi taman yang biasanya terletak di halaman belakang. Kursi tersebut di desain khusus dengan tambahan lilitan bunga imitasi di setiap sandarannya. Di tengahnya, terdapat meja mini dengan dua lilin menyala dalam keremangan cahaya. Lampu diruangan ini diatur memiliki intensitas yang sangat rendah, sehingga beberapa benda hanya terlihat samar dan menghasilkan siluet spektakuler.
Ada makanan utama sebagai dinner. Dua gelas kristal tampak megah dengan cairan keemasan yang Alice tebak merupakan wine. Di lantai ruangan ini, tersebar ribuan kelopak mawar merah yang terasa masih lembut dan segar.
Alice berdiri gemetar. Dia syok dan tak menyangka Klayver melakukan semya ini. Kapan ia melakukannya? Bukankah selama ini ia Alice sering di rumah, kenapa ia bisa tak menyadarinya?
Alice menatap Klayver, menyerah dengan keadaan dan mengalirkan air mata bahagia.
"Aku mencintaimu, Alice. Semakin besar setiap detiknya hingga aku sendiri kagum bagaimana hati ini menampungnya. Sebuah cinta yang aku aku kenali setelah menemukanmu. Sebuah cinta yang di mana dengannya aku menjadikan dirimu sebagai tempat berkiblat. Sebuah cinta yang akan menggerogotiku hingga nafas terakhir dan hanya berlabuh padamu untuk sisa waktu hidup yang tak lagi terhitung."
__ADS_1
…