
Luiz tersenyum kecil. Dia mendengar informasi dari anak buahnya jika mertua Alice, Violin, mulai membuat langkah yang drastis. Wanita dan suaminya itu, memutuskan untuk membunuhnya saat ia berada di balik jeruji penjara.
Sudut bibir Luiz mulai mencebik. Violin terlalu meremehkan dirinya. Meskipun saat ini status Luiz masih sebagai tahanan dengan ruang gerak yang terbatas, tak berarti dia kehilangan kemampuan. Mata dan telinganya tersebar di mana-mana. Dia bisa menjangkau informasi sensitif, bahkan informasi yang Violin sembunyikan.
Luiz adalah orang yang sangat pintar mengumpulkan informasi. Terutama informasi tentang sasarannya. Dia tak setengah-setengah ketika mulai bertindak sesuatu. Jika ia memutuskan mengambil langkah, maka setiap halnya haruslah jelas.
Terciduk saat mencoba menahan Alice adalah suatu pengecualian. Dia tak menyangka sebelumnya jika Alice memiliki pertahanan kuat. Dari pengawal, dan teknologi kemananan rumah. Ini merupakan sebuah pembelajaran untuknya. Luiz tak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama. Dia meneliti ulang setiap langkahnya, menambal beberapa rencana yang kurang matang, dan memutar otak untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya ia abaikan.
Saat ini, Luiz sudah mengantongi setiap infornasi sensitif yang Alice miliki. Dari mertua, pengawal, dan teman-temannya. Dia hanya perlu duduk santai di balik jeruji penjara untuk melihat rencananya nanti dilakukan oleh anak buahnya.
Rupanya Luiz telah mendapatkan kejutan lebih dulu. Dia justru akan dijadikan sebagai sasaran pembunuhan oleh Violin. Wanita tua itu terkadang lucu. Luiz adalah orang yang sudah lama melakukan tindak kejahatan sehingga ia hafal trik-trik apa saja yang digunakan seseorang dalam menyerang pihak lawan.
Karena itu, Luiz tahu betul siapa kira-kira yang akan disusupkan untuk melakukan pembunuhan padanya. Kemungkinan dari sesama narapidana, tahanan, bahkan jika Violin memiliki kekuatan yang besar, dia bisa menyewa salah satu sipir korup untuk menghabisinya dengan cara yang rapi. Biasanya yang sering digunakan, serangan diam-diam di organ vital, racun pada makanan, perkelahian masal yang sudah dimanipulasi, dan cara-cara rendah lainnya.
Luiz akan mengatasi semua ini. Dia tidak akan kalah dengan mudah. Jika ada orang yang bisa membunuhnya, maka itu mungkin adakah Eyes Evil. Tidak ada lawan yang sekuat dia. Tapi saat ini Klayver sedang sibuk menyelesaikan urusannya sehingga Luiz memiliki ruang untuk bertindak sesuka hati. Nanti, ada saat di mana ia akan lebih waspada. Tetapi yang jelas, bukan saat ini.
Luiz memanggil seorang sipir penjara. Lelaki berpakaain hitam dengan alat pemukul di tangan dan alat kejut listrik itu segera mendekat ke arah Luiz. Wajahnya yang datar terlihat tanpa ekspresi sama sekali.
"Ya, Shenor?" tanyanya datar.
"Mungkin akan ada seseorang yang berniat untuk membunuhku. Cari tahu orang-orang yang terlihat mencurigakan, baik dari kepolisian, para tahanan, dan pengunjung!" titah Luiz serius.
__ADS_1
Sipir yang bernama Jackson itu mengangguk, mematuhi apa pun yang Luiz katakan. Dia adalah salah satu orang Luiz yang bisa dibeli loyalitasnya. Dengan uang, apa pun mudah untuk didapat. Bahkan hukum pun bisa dipermainkan.
Pemain utama dan aktor terbaik di dunia ini adalah uang. Dia yang mrmilikinya, bisa melakukan apa pun. Menentang moral, menembus hukum, melawan sosial, dan banyak hal lainnya. .Mungkin, jika ada sistem puja pujian pada makhluk, maka uang termasuk dalam daftar utama. Dia dicari, dipuja, dijaga, dan diagung-agungkan.
Luiz tersenyum lebar. Selama empat puluh tahun dalam hidupnya, ia telah digembleng dengan sangat keras. Didikannya telah melarang Luiz merasakan emosi-emosi lain yang melemahkan. Karena itulah hingga detik ini Luiz memilih tak menikah dan memiliki anak. Untuk apa menikah jika istri dan anaknya kelak akan menjadi kelemahan? Musuhnya tak boleh menjatuhkan dirinya. Luiz tetap harus berdiri tegak dan menerjang setiap badai yang ada.
Luiz, hidup bagaikan robot. Hidupnya tanpa hati, perasaan, dan tanpa air mata. Semua kontrol dan kendali sepenuhnya berada di tangannya. Dia adalah raja bagi sekelilingnya.
Mari kita lihat seberapa kuat Alice mempertahankan diri. Tanpa Klayver, wanita itu sama lemahnya dengan burung puyuh. Terekspos dan tak terlindungi. Siapa yang akan menyangka Luiz memanfaatkan situasi wanita itu di saat-saat kritis?
Seorang pemenang akan berdiri di akhir. Dia lebih memilih mengalah dalam setiap proses dan berdiri tak terkalahkan di detik-detik terakhir. Luiz akan buktikan siapa yang akan berdiri tersenyum di akhir. Dia saat ini bisa sedikit mengalah berada di balik jeruji penjara, tetapi ini semua tak akan lama. Dia memiliki orang-orang hebat yang bersedia memelintirkan hukum semaunya.
Siapa suruh Klayver dulu memburu anak buahnya dan menghabisi orang-orang pentingnya? Saatnya lelaki itu tunduk dan mengemis maaf padanya. Sebentar lagi dunia Klayver akan berbalik.
…
Tadinya Jasmine tak percaya. Dari semenjak awal kehamilan, Jasmine tak mengalami mual sama sekali. Reaksi tubuhnya juga normal dan tak sekali pun menolak makanan. Bahkan, untuk beraktifitas fisik pun tubuhnya tak protes.
Kenapa sekarang, mual-mual itu datang?
Jasmine sedang bersiap-siap untuk turun dan makan malam bersama. Tiba-tiba perutnya bergejolak hebat dan memuntahkan semua isinya. Jasmine hanya bisa terpaku bingung. Dia mengelus lembut perutnya, takut jika terjadi sesuatu yang tak ia harapkan.
__ADS_1
"Jasmine, kau baik-baik saja?" suara Alice yang familier tiba-tiba berada di sisi Jasmine. Wanita itu menatap kondisi Jasmine dengan pandangan khawatir.
"Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" Bukannya menjawab, Jasmine justru melempar pertanyaan baru kepada Alice. Dia menatap ke pintu kamar yang terlihat samar dari tempatnya berdiri, dan melihat pintu itu telah terbuka lebar. Apakah Alice sudah lama berada di sini? Kenapa dia bisa tak tahu?
"Aku sudah mengetuk pintu kamarmu berulang kali tapi tak ada jawaban. Jadi kuputuskan untuk masuk. Pintu kamarmu tak terkunci." Alice menjelaskan secara singkat. Dia tadinya berniat untuk mengingatkan Jasmine turun ulmakan malam. Tak tahunya justru mendapat pemandangan yang membuatnya simpati.
"Kau mual-mual ya?" tanya Alice menatap perut Jasmine yang masih rata. Alice melihat perutnya sendiri dan mendengkus kecil. Perut Alice terlihat jelas membuncit saat ini. Usia kandungannya sudah menginjak lima setengah bulan, berbeda dengan Jasmine yang hanya berkisar di tiga bulan.
"Iya. Ini sedikit lucu. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya." Jasmine mengangkat bahunya, merasa heran. Tubuhnya mulai meneriakkan protes. Meminta Jasmine untuk berbaring di kamar saja.
"Oh, apakah kau baik-baik saja?" Alice mengusap dahi Jasmine, memastikan suhu badan wanita itu. Terasa agak sedikit panas. Jasmine terlihat kurang sehat.
"Sepertinya kau sedikit tak sehat. Bagaimana jika aku suruh salah satu pelayan untuk membawakanmu makanan di kamar saja? Lebih baik saat ini kau istirahat saja." Alice mencoba menyarankan.
Jasmine terdiam lama, menimbang-nimbang usul Alice. Dia kemudian mengangguk dan berjalan lemah ke atas ranjang. Sepertinya Jasmine perlu untuk beristirahat lebih awal. Dia malas membayangkan jika harus turun ke bawah hanya untuk makan malam.
"Terimakasih, Alice." Jasmine tersenyum kecil sebelum akhirnya menarik selimut dan menutup tubuhnya dengan gerakan pelan.
"Bagaimana jika kuambilkan obat penurun panas milikku? Kau sedang hamil. Kau tak bisa sembarangan meminum obat." Alice mengingatkan.
Jasmine hanya membalas tawaran Alice dengan anggukan kecil. Dia sudah memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya yang entah kenapa terasa penat.
__ADS_1
…