Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
089 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine duduk di halaman belakang rumah Daniel dan memandang lelaki itu cuek. Dia tak membantu apa pun sama sekali. Orang seangkuh Daniel tidak perlu dibantu. Biarkan saja lelaki itu kerepotan sendiri.


Jasmine memandang bagian dalam rumah Daniel dan ingin mengutuk Alice. Lebih dari apa pun juga, Jasmine tahu Alice meninggalkannya di sini untuk sebuah tujuan pendekatan bersama Daniel. Jasmine cukup peka menyadari hal itu. Dia bukan wanita lugu yang melihat sesuatu hanya dari alasan klise seseorang.


"Mereka berpikir kita memiliki hubungan spesial. Sehingga mereka mencoba memberi kesempatan dan privasi kepada kita." Daniel menatap Jasmine dan mengungkapkan apa yang tengah wanita itu pikirkan juga.


Alice adalah orang yang cukup romantis. Dia mendapatkan cinta secara luar biasa dari orang yang luar biasa juga. Karena itulah, semenjak Alice mengetahui tentang ciuman mereka di ruang tengah, dia pasti membentuk banyak rencana untuk menyatukan Daniel dan Jasmine.


Jiwa-jiwa romantis seperti Alice yang mempercayai akan adanya cinta sejati, kadang justru merepotkan orang lain dan menjebak orang lain dalam situasi yang salah.


Daniel tak ingin menyalahkan Alice. Bagaimana pun juga, dia sendirilah yang telah memancing pendapat Alice sehingga pikiran seperti itu terbentuk.


"Aku tahu. Kau pikir aku wanita bodoh?" Jasmine menjawab tak senang. Dia menatap kemeja kotak-kotak yang dipakai Daniel dan menelan ludah dengan sedikit sulit.


Tubuh Daniel dibalut dengan sempurna oleh kemeja itu, menbuat otot-otot lengannya terlihat dari balik kain secara jelas.


"Kau memang wanita bodoh." Daniel berkata ringan, sama sekali tak merasa bersalah setelah mengolok Jasmine.


Dia mengangkat sepotong daging dari panggangan, mengoleskan beberapa bumbu dan memanggangnya lagi sementara waktu. Setelah aromanya semakin menggoda dan dagingnya cukup empuk, Daniel menyajikannya di atas piring keramik besar.


Ada meja besar yang Daniel letakkan di halaman belakang untuk acara ini. Kini, ruang dari meja itu banyak yang tak terpakai karena dua orang lainnya memilih masuk ke dalam rumah tanpa alasan jelas.


"Jika aku wanita bodoh, maka tak ada lagi yang pantas disebut sebagai wanita pintar." Jasmine menimpali.


Diukur dari mana pun, Jasmine termasuk orang yang cukup cerdas. IQ, EQ, dan emosi semuanya bagus. Daniel saja yang buta jika ia mengatakan Jasmine bodoh. Lelaki itu lama-lama tak bisa menilai sesuatu secara objektif.


"Berhentilah memuji dirimu sendiri." Daniel berkata sinis. Dia mengambil sendok dan pisau untuk membantu menghabiskan daging panggangnya sendiri.


Jasmine yang melihat tingkah lelaki itu melotot tak terima. Memang lelaki egois. Bahkan daging saja ia kuasai.


"Pantas kau tak memiliki pasangan. Karaktermu yang pelit ini tak akan ada wanita waras yang akan menyukaimu." Jasmine menunjuk ke arah daging sapi panggang di depan Daniel.


"Aku tak pelit pada wanita normal. Kau adalah pengecualian."


"Lelaki yang tak memiliki jiwa lady's first," sindir Jasmine tajam. Dia menuang wine di gelas kristal dan menenggak minuman pekat tersebut. Tenggorokan Jasmine terasa hangat. Dia memejamkan mata menimati cairan itu dan mendesah pelan.


Daniel yang melihat pemandangan ini hanya bisa menatap lama. Pikirannya mulai berjalan tak karuan. Berada di dekat Jasmine memang menjadi sebuah kesialan tersendiri.


Daniel semakin geram saat melihat baju yang dikenakan wanita tersebut. Dress yang cukup ketat dengan punggung terbuka dan belahan dada berbentu V. Sebuah kalung dari tiara tampak menggoda di leher Jasmine, berdekatan dengan tato kalajengking miliknya.


"Ada apa, Daniel? Matamu melihatku seolah siap untuk keluar dari kelopakmu." Jasmine tersenyum kecil, merasa menang. Dia mengambil satu gelas wine lagi dan menghabiskannya secara perlahan.


"Kepercayaan dirimu terlalu tinggi, Jasmine. Profesimu membuat karaktermu jadi angkuh." Daniel mengomentari, mengambil botol wine yang baru saja dituang oleh Jasmine dan menyesap minuman itu lansung dari botolnya


Jasmine hanya terdiam saat mengamati tindakan Daniel. Dia mengedipkan mata beberapa kali, melihat jakun Daniel yang naik turun saat meminum cairan tersebut.


Jika diamati lebih jauh lagi, Daniel lumayan tampan sebenarnya. Tetapi karakter lelaki ini cukup buruk. Membuat Jasmine malas untuk tetap berada di sisinya dalam waktu lama.


"Kudengar dari Rachel kau dulu mantan kekasih Alice."


Daniel nyaris tersedak mendengar pertanyaan tiba-tiba ini dan menghentikan tindakannya yang tengah meminum wine. Benar-benar tidak lucu jika Daniel harus tersedak di depan Jasmine. Wanita itu pasti tak akan berhenti tertawa.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengangkat topik ini?" tanya Daniel curiga.

__ADS_1


Jasmine mengangkat bahu, tersenyum kecil. Rupanya hal tersebut benar adanya.


"Senyummu seolah-olah mengolokku." Daniel merasa terganggu.


Sekali lagi Jasmine tersenyum dan meletakkan gelas kristal yang berisi wine miliknya di atas meja besar.


"Setiap orang punya masa lalu. Kau malu mengakui dirimu jika kau dulu mantan kekasih Alice?" Jasmine bertanya dengan menaikkan satu alisnya.


Daniel tak tahu apa tujuan Jasmine mengungkit hal ini. Yang jelas, dia tak merasa nyaman sama sekali. Apa yang ingin ia tutupi, malah dibongkar dan diangkat ke permukaan oleh Jasmine.


Alice adalah masa lalu. Daniel tak ingin membahasnya. Sebuah masa lalu hanya pantas untuk dikenang, tak lebih.


"Aku dan dia hanya masa lalu. Apakah ada yang salah dengan hal itu?" Daniel bertanya menantang.


Jasmine menggeleng kecil, mencoba berdiri dan bermaksud untuk masuk ke ruang dalam, menyusul Rachel dan Alice. Sudah cukup mereka berdua mengerjainya malam ini.


"Mau ke mana?" tanya Daniel, merasa berat melepas kepergian wanita itu. Ini aneh. Daniel merasa responnya menjadi terlalu berlebihan sepanjang menyangkut tentang Jasmine.


"Ke dalam." Jasmine menjawab tanpa menoleh.


"Jasmine!" panggil Daniel, kali ini nadanya terdengar tegas.


Jasmine berbalik, menatap bingung pada Daniel. Salah satu alisnya ia naikkan sebagai bentuk tanya tanpa kata.


"Bagaimana jika …." Daniel menghentikan perkataannya untuk senenak.


"Apa?" Suara Jasmine tidak sabar.


"Jika aku ingin memilikimu satu malam, berapa tarif yang kau mau?"


Tatapan Daniel terlihat tajam, menginginkan jawaban dari wanita itu. Sementara Jasmine terlihat linglung untuk sejenak. Setelah beberapa lama, Jasmine mengangkat suaranya.


"Carilah wanita lain. Aku memiliki banyak anak buah yang lebih cantik dariku. Sementara untukku, aku menolak tawaranmu. Maaf, Daniel."



Klayver duduk di sebuah ruangan seperti aula gudang yang yang tak terpakai. Di depannya,Violin duduk di sebuah kursi usang. Mereka berada di pinggiran kota New York, jauh dari pemukiman penduduk.


Violin menatap putra keduanya dengan pandangan prihatin. Ada kepedihan yang terpendam jauh di lubuk hatinya.


"Keadaanku sedang genting. Saat ini, Alice aku percayakan pada Jasmine. Jika keadaan semakin memanas, tolong bawa Alice dan Axel di bawah perlindunganmu," pinta Klayver.


Mata Klayver terlihat mengembara. Dia membayangkan keadaan Alice dan Axel saat ini. Fokusnya yang paling penting sekarang adalah anak dan istrinya aman. Cukup dirinya saja yang terjun ke dalam bahaya. Jangan sampai mereka terseret.


"Kau …."


"Kumohon, Mom."


Violin mematung lama. Ada kepedihan yang terlihat jelas di kedua matanya. Sebuah duka yang sangat kuat, melihat putranya sendiri menerjunkan diri dalam bahaya.


Violin merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang ibu. Dia ingin membantu, tetapi putranya menolak. Dia ingin mengulurkan tangan dan menghadapi bahaya bersama sang putra, tapi Klayver memilih sendiri


Apa fungsinya kekuatan dan nama besar jika kita tak bisa melindungi orang yang kita sayang?

__ADS_1


Percuma. Semua itu tak memiliki nilai. Violin memandang hampa putranya dan tersenyum miris.


Klayver adalah putra yang ia lahirkan. Putra yang kini telah melebarkan sayapnya sendiri dengan kuat dan memilih terbang seorang diri meninggalkan sarang


Burung yang tadinya rapuh dan makan dari paruh ibunya, kini terjun menghadapi dunia seorang diri. Menantang angin dan alam. Menghadapi keras dan kejamnya kehidupan.


Dulu, Violin menginginkan anak-anaknya berkembang menjadi sosok yang kuat. Tetapi ia tak pernah berharap kekuatan itu akan menarik bahaya untuk anak-anaknya.


Kini, dia baru merasa semua itu berbalik pada putranya. Harapan yang ia pupuk, menjadi apa yang membahayakan sang putra.


Andai tahu begini, Violin akan ia memutar balik waktu dan memilih mendidik anaknya dalam kelembutan. Biar saja anaknya tak mengenal kekuatan. Selama itu akan menyelamatkan nyawa mereka semua.


Ibarat pohon, semakin tinggi, semakin menarik banyak angin. Semua itu merupakan filosofi yang terbukti menjadi kenyataan.


"Aku akan menjaga Alice dan Axel. Jika mereka terdesak, aku akan menjadi orang pertama yang melindungi mereka dan memberinya rumah. Berjanjilah padaku, Klayver. Kau akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat." Violin tersenyum kecil, menggantungkan harapan terakhirnya.


Pertemuan ini adalah pertemuan yang digagas oleh Klayver sendiri. Dia butuh menitipkan Alice pada ibunya secara langsung. Dia tak tahu akan separah apa kondisinya nanti. Selama Tuhan masih memberikan waktu luang, dia ingin menemui ibunya secara langsung. Bisa jadi ini adalah pertemuan terakhir sebelum masalah yang menimpa Klayver bisa diselesaikan secara sempurna.


"Aku pasti akan selamat, Mom. Percayalah. Kau membesarkan seorang putra yang kuat. Kau tak akan kecewa olehku." Klayver menenangkan ibunya, memahami Violin pasti merasa khawatir dengan keadaannya sekarang.


"Aku tahu. Aku hanya tak bisa menghadapi keadaan jika tiba-tiba mendengar kabar buruk tentangmu. Klayver, kenapa kau tak terima saja bantuanku dan menggunakan sumber dayaku?" Violin menatap Klayver dengan air mata yabg mengalir deras. Luluh sudah sikap dingin yang selama ini ia pelihara. Pada dasarnya, Violin tak ubahnya seperti ibu-ibu lain yang bisa hancur melihat anaknya berada dalam situasi sulit.


"Mungkin nanti. Sekarang aku masih bisa menyelesaikan semua ini sendiri." Klayver tersenyum menenangkan.


Violin pasti merasa terbebani saat ini. Klayver tak bisa menenangkan ibunya kecuali memberikan kata-kata secara klise. Itu pasti tak berguna dalam keadaan seperti ini, tetapi setidaknya lebih baik dari pada tidak sama sekali.


"Mom, aku telah tumbuh menjadi sosok yang kuat. Aku mampu mendeteksi bahaya dan menghadapi banyak intrik. Ada kalanya, kau harus percaya pada putramu secara penuh. Jika semua ini telah selesai, aku akan kembali padamu dan merencanakan liburan bersama. Bagaimana jika di Bali? Venesia? Mesir? Ke mana pun yang kau inginkan." Klayver menyentuh lengan ibunya yang masih terjaga dengan baik dan menepuknya penuh rasa sayang.


"Selama kau pulang dengan selamat, aku tak tertarik sekali pun kau menawarkan dunia padaku."


Itulah arti seorang putra. Selama keberadaannya terjaga, seorang ibu tidak akan tertarik menukarnya dengan apa pun juga. Eksistensi sebuah keluarga merupakan hal yang ingin dipertahankan oleh setiap orang.


Violin berdiri dan merengkuh putranya. Dia memeluk Klayver penuh rasa sayang. Tubuh Violin bergetar hebat, menumpahkan semua emosi. Dia ingin Klayver selamat. Tak peduli Violin harus menukarnya dengan apa pun juga. Selama hal itu terjadi, bayaran setinggi apa pun akan ia sanggupi.


"Mom, jangan terlalu sedih. Aku hanya pergi untuk sementara. Ngomong-ngoming, aku ingin menberi kabar bahagia padamu. Alice sedang hamil. Dia mengandung anakku. Kau sebentar lagi akan memiliki cucu baru." Klayver menepuk punggung Violin lembut.


Wanita yang telah menjadi ibunya ini dulu terlihat kuat dan penuh wibawa. Kini, seiring berjalannya waktu, tinggi Violin hanya mencapai bahu Klayver.


Waktu telah berjalan dengan cepat. Meninggalkan banyak hal di belakang. Menggilas banyak kenangan.


Mendengar dirinya akan memiliki cucu, tangis Violin semakin menjadi. Emosinya sangat rumit kali ini. Ada kebahagiaan, kepedihan, ketakutan, dan kebanggaan. Semuanya bercampur baur menjadi satu.


"Oh Ya Tuhan, aku akan memiliki cucu. Kau harus bersumpah saat anakmu lahir, kau harus sudah kembali dan meninggalkan semua masalah di belakang." Violin menatap putranya dengan mata yang masih berlinang air mata.


"Tentu saja. Aku tak akan membiarkan anakku lahir tanpa diriku."


"Klayver, tidakkah lebih baik kau mengirim Alice padaku sekarang? Aku tak ingin mengambil resiko. Lebih baik aku melindunginya dari awal. Dia sedang hamil. Pikirkan itu!" Violin mencoba mendesak Klayver. Dia menginginkan yang terbaik untuk Klayver dan Alice. Jangan sampai terjadi hal-hal buruk pada mereka.


Klayver yang memahami kegusaran hati ibunya mencoba tersenyum dan memberi pengertian pada Violin.


"Jika aku terlalu awal mengirimkannya padamu, aku takut itu akan mengekspos diriku dan siapa Alice bagiku. Aku belum siap, Mom. Biarkan itu semua berjalan secara alami. Jika keadaan semakin genting, barulah kau ambil Alice. Atau jika tidak, biar Jasmine yang mengantarkannya padamu."


Violin mendesah pasrah. Apa yang dikatakan Klayver memang benar. Mengirimkannya kepada Violin lebih awal hanya akan mengekspos identitas mereka lebih cepat.

__ADS_1


"Baiklah. Aku mengandalkanmu, Klayver. Lakukan yang terbaik."



__ADS_2