Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
137 - SEASON 2


__ADS_3

Akan kubayar di muka.


Kata-kata itu terngiang-ngiang jelas dan tercipta seperti gema berulang kali. Menyerang kesadaran Jasmine dan menggerogoti nuraninya.


Sebuah senyum sinis terbentuk di bibir Jasmine yang ranum. Ya Tuhan. Nilainya di depan Daniel hanya sekadar barang yang diperjualbelikan, sesuatu yang bisa ia tawar layaknya transaksi dangkal.


Jasmine ingin berteriak histeris. Tetapi ia tak yakin sanggup melakukannya. Daniel hanya sekadar menawar dirinya dengan suatu trabsaksi yang memang Jasmine tawarkan pada orang lain secara umum. Dia adalah wanita bayaran di mana dirinya sendiri yang menentukan setiap klien dan menjamin tindakannya sendiri. Kenapa juga ia harus marah ketika ada orang lain yang menawarnya? Memang dia memberikan penawaran itu, bukan?


Ini memang tak masuk akal. Untuk pertama kalinya Jasmine merasa direndahkan oleh


seorang lelaki hanya karena telah menawar dirinya dengan menanyakan nominal. Memang apa salahnya Daniel? Toh dia hanya melakukan hal-hal normal yang lelaki lain lakukan juga sebelumnya.


Namun, tak bisa dipungkiri ada rasa sakit dan rasa tersinggung yang Jasmine rasakan. Seolah-olah hatinya ikut tersayat, terasa direndahkan hingga ke titik paling ujung. Seperti hatinya sengaja dilempar dari ketinggian tertentu dan dibiarkan hancur tak bersisa.


Apakah ini yang namanya sakit hati? Apakah ini yang namanya harga diri? Sesuatu yang mudah tergores dan membuahkan lara hanya karena disinggung oleh hal-hal kecil tak masuk akal.


Jari-jemari Jasmine saling tertaut dengan kuat. Dia mencoba menetralkan diri dan mengatur ekspresinya sedatar mungkin. Ini hanyalah hal biasa. Demikianlah Jasmine mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri.


"Aku … saat ini sedang kurang sehat. Maaf. Tapi aku tak tertarik dengan tawaranmu!" tolak Jasmine dengan lidah yang kelu. Dia berharap Daniel tak menangkap reaksi dirinya yang saat ini sangatlah kacau.


"Oh? Kau masih demam?" Daniel melangkah mendekat, dan sekali lagi Jasmine mundur teratur. Seolah-olah tubuhnya memberi sinyal sendiri ada bahaya yang mendekat ketika Daniel berada dalam jarak jangakuannya.


Daniel semakin mengerutkan dahinya tak mengerti. Ada apa dengan wanita itu? Dia seperti mudah sekali menghindari Daniel secara otomatis. Memangnya Daniel perwujudan dari bahaya? Saat ini Daniel cukup bersikap ramah, tidak melontarkan kata-kata pedas atau pun sindirin kasar. Kenapa juga Jasmine menjaga jarak seperti ini?


"Tidak. Hanya masih tidak enak badan. Sudahlah, Daniel. Aku tak tertarik!" Jasmine menggelengkan kepala, menolak tawaran Daniel.


Saat ini, entah kenapa materi terasa tak penting bagi Jasmine. Uang itu tak lagi menariknya seperti magnet. Sesuatu yang biasanya selalu terjadi setiap kali ia ditawari tentang uang. Mungkinkah jangan-jangan hidup bersama Alice telah memunculkan nurani miliknya yang lama terpendam? Jika benar, maka ini benar-benar di luar perkiraan.


"Bagaimana jika kau yang menentukan waktunya? Kali ini, aku akan memberimu cek kosong. Terserah kau akan menuliskan nominal berapa pun. Selama itu berada dalam kemampuanku, aku tak akan menolak." Daniel masih berusaha memberinya iming-iming besar.


Cek kosong adalah sebuah penawaran paling tinggi dalam transaksi. Siapa pun yang menerimanya, memiliki kuasa penuh untuk mengambil berapa pun nominal yang ia inginkan. Seharusnya Jasmine menerimanya. Satu malam hanyalah sesuatu yang biasa ia lakukan pada banyak lelaki lain dan akan cepat berakhir begitu saja. Penolakan darinya merupakan hal yang sangat tak masuk akal.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Daniel sekali lagi. Dia ingin tahu apakah tawarannya ditolak atau tidak.


Daniel sedikit banyak merasa khawatir ketika melihat kebimbangan dan ketidakyakinan yang tersirat dari wajah Jasmine. Apa sebenarnya yang tengah wanita ini pikirkan? Mungkinkah ia memiliki alasan kuat yang tak Jasmine jabarkan padanya? Alasan tertentu yang membuatnya yakin untuk menolak Daniel.


Malam semakin larut. Suara angin malam semakin dominan. Seperti sebuah harmoni yang saling melengkapi keindahan malam. Semua ini laksana musik yang sempurna.


Di sini, di depan halaman rumah, dua insan saling mengunci tatapan masing-masing. Netra biru bertemu dengan netra cokelat gelap milik Daniel. Membahasakan sesuatu yang coba mereka tekan dalam-dalam di dasar sanubari.


Jasmine ingin mengatakan keengganannya, tetapi hasratnya menyala dengan sangat hebat setiap kali menatap sosok Daniel. Sebuah hasrat yang tak ia mengerti asal muasalnya. Hasrat yang tak pernah muncul ke permukaan ketika setiap kali melihat sosok lelaki lain.


Jasmine bukanlah orang yang polos. Dia mendapat banyak kesempatan untuk mengenal dan menjajaki berbagai macam jenis kaum adam. Tetapi tak ada yang menyita minatnya sebesar Daniel. Dia bukan hanya menyita minat Jasmine, tetapi juga memberikan pengaruh besar yang tak bisa Jasmine definisikan.


Jasmine mengalami kontradiksi. Dia ingin mendekat pada Daniel, tetapi di sisi lain dia juga takut untuk mendekat. Dia ingin menyelami semua reaksi ganjil miliknya, tetapi di sisi lain ia juga takut untuk mengambil resiko. Semua hal yang berhubungan dengan Daniel merupakan suatu pertentangan yang sangat kompleks.


Jasmine selalu mencoba untuk berlindung di balik setiap ketakutan yang ia miliki. Dunia ini sangat kejam. Jika ia tidak pintar untuk bisa melindungi dirinya sendiri dengan semua cara, maka bisa dipastikan Jasmine hanya akan menjadi orang yang kalah dalam kehidupan ini. Emosi merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif dan ringkih. Jasmine harus bisa mengendalikan emosi demi hidupnya sendiri. Dia harus pintar memilih-milih untuk mengendalikan dan mengontrol setiap hal yang ia miliki dalam dengan jeli.


Untuk sekarang ini, fokus utama Jasmine adalah mengendalikan setiap reaksi yang ia miliki untuk Daniel. Lelaki itu merupakan sebuah tanda tanya besar untuknya. Dia tidak tahu akan sejauh mana tubuh dan hatinya sendiri akan bereaksi terhadap lelaki itu. Karena itu, Jasmine memilih untuk menganalisa kembali setiap reaksinya dan mencoba untuk mundur dari setiap kemungkinan yang bisa menjadikan dia terluka di kemudian hari nanti.


"Entahlah, Daniel. Untuk saat ini aku tidak bisa memastikan!" Jasmine menjawab lirih. Dia menatap setiap pohon yang menjadi latar belakang pemandangan dan mengeluarkan nafas panjang penuh beban.


"Kau menolak tawaranku? Bukankah cek kosong adalah harga paling bagus yang bisa kutawarkan untukmu?" Daniel tak habis pikir.


Daniel semakin tak mengerti dengan reaksi Jasmine. Wanita itu semakin sulit dipahami. Dia seperti teka-teki yang kadang menolak untuk dipecahkan. Suatu misteri yang sengaja disisakan alam untuk Daniel pelajari.


"Kau adalah bisnisman sejati dan memiliki banyak fasilitas. Kenapa harus mengejar-ngejar wanita murahan sepertiku alih-alih menciptakan hubungan sehat dengan wanita lain? Kupikir jika hanya hubungan fisik saja, ada wanita lain yang bisa memenuhi kebutuhanmu. Jadi, berpikirlah rasional dan ambil wanita lain yang sesuai dengan kelasmu. Dari pada bertanya-tanya mengenaiku, bukankah lebih baik kau memburu wanita lain? Puaskan hasratmu dengan cara yang lebih elegan dari pada sekadar menyewa wanita rendahan sepertiku!"


"Kau—"


"Kau semakin ke sini semakin tak masuk akal, Daniel. Aku jadi curiga jangan-jangan kau mengalami kelainan tertentu sehingga fokusmu hanya tertuju kepada sesuatu yang nilainya rendah. Kelasmu bukanlah kelasku. Pahami saja itu dan renungkan kata-kataku!" Jasmine berbalik dan memilih meninggalkan Daniel yang terdiam kaku.


Angin malam membuat piyama yang Jasmine kenakan sedikit bergelombang dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. Daniel hanya sanggup menatap kepergian wanita itu dalam diam. Dia memejamkan mata untuk sesaat lamanya, mencerna kata demi kata yang Jasmine lontarkan dengan seksama.

__ADS_1


Wanita itu benar. Daniel mungkin memang mengalami kelainan psikis. Alih-alih mencari wanita baik-baik yang bisa diajak membina rumah tangga dan membagi masa depan bersama, dia malah memberikan penawaran baru untuk memiliki Jasmine satu malam dengan iming-iming cek kosong.


Lama-lama tindakan Daniel memang tak masuk akal. Dia seharusnya bisa mengontrol hasratnya dan mengendalikan diri. Kelas sosialnya tinggi. Bukan hal yang sulit untuk menggaet wanita lain dalam kelasnya untuk ia ajak menjalani hubungan serius. Bukankah di usianya yang sudah mapan, seharusnya Daniel mulai berpikir tentang menikah?


Setelah merenung cukup lama, Daniel pergi ke ruang dalam yang sudah sepi dan hanya menyisakan penerangan yang minim. Dia perlu duduk sebentar di dapur menjerang air dan membuat kopi baru untuk mengembalikan stamina. Dia perlu pulang dan tidur di rumahnya sendiri. Memikirkan ini membuat Daniel merasa semakin tak bersemangat.


Rumah hanyalah bangunan hampa yang menyambutnya pulang. Tak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada yang ia nantikan ketika pulang. Hanya bangunan besar dengan fasilitas memadai yang ia desain dengan sempurna. Tetapi maknanya kosong. Tak ada arti lebih dari rumah yang ia miliki.


Terkadang, pulang membuat Daniel merasa kesepian. Bangunan sebesar itu hanya ditempati Daniel dàn beberapa pelayan partimenya. Setelah larut, hanya ada beberapa orang saja yang bertahan di kediamamnya. Setiap tembok rumah seperti meneriakkan protes dan mengungkungnya dalam kesepian tanpa batas. Sunguh sebuah olok-olok yang cukup menyebalkan dari bangunan mati tak bernyawa.


"Daniel."


Daniel terkejut mendengar panggilan dari Alice. Dia membalikkan badan dan mendapati wanita ini sudah berdiri beberapa meter darinya. Kapan Alice datang ke dapur? Mungkinkah Daniel terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga lupa akan keadaan sekeliling? Instingnya menjadi tumpul hanya gara-gara ia memikirkan tentang Jasmine. Wanita itu sudah menjadi heroin yang sangat kuat. Membuat Daniel mau tak mau terikat dengan cara yang sama sekali asing.


"Ya? Kau belum tidur?" tanya Daniel masih menunjukkan reaksi terkejut.


"Belum. Aku melihat dari jendela kamar atas kau berbincang sebentar dengan Jasmine. Apakah kalian baik-baik saja? Ada masalah?" tanya Alice terdengar khawatir.


Daniel menggeleng cepat dan membantah kekhawatiran Alice. Dia lupa jendela kamar Alice mampu melihat banyak bagian-bagian tempat lain dari sudut yang strategis. Pantas saja Alice langsung turun ke sini untuk memastikan.


"Tidak. Tidak ada apa-apa. Kami hanya membicarakan hal-hal tak penting."


"Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan, tetapi itu pasti sesuatu yang tak menyenangkan karena aku sempat berpapasan dengan Jasmine di tangga dan dia tampak tak nyaman." Alice menaikkan kedua alisnya, menghakimi Daniel secara tersirat.


"Tidak. Aku tidak membicarakan hal-hal yang buruk. Kami baik-baik saja." Hanya jawaban inilah yang bisa Daniel berikan saat ini. Dia menatap Alice lama dan tersenyum kecil, berusaha meyakinkan Alice bahwa semuanya baik-baik saja.


Alice membalikkan badan dan berlalu pergi. Dia sudah mengambil beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik lagi dan menatap Daniel dengan bimbang. Tanpa pernah duga, tiba-tiba Alice mengungkapkan sebuah fakta yang sangat mengejutkan.


"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini. Tetapi sepertinya kau akan terus memojokkan Jasmine jika dibiarkan saja. Jangan lakukan apa pun yang bisa melukai Jasmine, Daniel. Dia saat ini sedang hamil anakmu!"


__ADS_1


__ADS_2