
Daniel duduk di sebuah ruangan kantor yang merupakan kantor media cetak terbesar di kota ini. Dia sama sekali tak menyangka akan diarahkan menuju tempat ini saat ia menyanggupi pertemuan dengan Black Hell.
Sepertinya selain menguasai bisnis illegal, Black Hell melebarkan sayapnya ke bisnis besar yang diakui secara hukum. Pemilik media cetak ini adalah seseorang yang bernama Jenkinz Marino. Entah Jankinz Marino adalah bagian dari Black Hell, atau hanya sekadar atas nama saja agar bisnis ini dianggap legal. Daniel tak akan terkejut andai ia mencari tahu informasi tentang Marino dan hal itu tak ia dapatkan secara konkrit.
Biasanya, para pebisnis gelap memiliki lebih dari satu atau dua nama yang mereka gunakan demi kepentingan-kepentingan tertentu. Jika ditelusuri lebih jauh, salah satu identitas yang mereka pakai hanya identitas random yang profilnya diambil dari orang lain. Alias fiktif.
Melalui teknologi dan perkembangannya, Daniel sudah tidak terkejut lagi dengan semua itu. Pernah sekali ia diminta memalsukan identitas seseorang. Sebenarnya Daniel bisa, tetapi karena itu bukan spesialiasasinya, dia memilih menolak. Sudah cukup dia bermain bisnis gelap dengan menyediakan informasi terlarang tanpa ia harus menambah lagi daftar kriminalitasnya. Daniel tak ingin menambah resiko yang tak perlu.
Daniel menunggu lumayan lama di sebuah ruangan pribadi direktur utama. Dia mengecek jam dan menyadari hampir dua puluh menit lebih Daniel dibiarkan seorang diri. Entah ini sebuah kesengajaan, atau memang intrik baru yang mereka mainkan.
Beberapa pelaku kejahatan yang terorganisir memiliki cara tersendiri untuk mengenal orang yang mereka undang. Salah satunya adalah mengidentifikasi objek selama beberapa waktu dengan sebuah alat yang mendeteksi denyut jantung, reaksi pupil, emosi, dan beberapa hal yang bisa menunjukkan apakah orang tersebut cukup bisa dipercaya atau tidak menjalin kontak dengan mereka.
Ada sebuah alat yang benar-benar bisa mendeteksi hal tersebut. Daniel pernah mendengarnya meskipun ia sendiri belum pernah mengalaminya secara langsung. Daniel memutar matanya dan mencermati setiap sudut ruangan. Mungkinkah organisasi Black Hell memasang alat semacam itu untuknya sekarang?
"Aku tak memasang perangkat apa pun seperti yang tengah kau pikirkan sekarang, Daniel." Seorang lelaki berusia empat puluhan menyapa Daniel dari pintu masuk ruangan yang dibuka secara tiba-tiba. Lelaki itu seperti cenayang yang mengetahui apa saja pikiran Daniel.
Daniel memutar tubuhnya dan menatap lelaki tersebut. Dia bertubuh kekar, berdarah amerika latin dengan aksen yang cukup kuat dan wajah tampan yang pastinya akan dilirik dua kali oleh kaum wanita mana pun.
"Maaf," tanya Daniel menaikkan sebelah alis.
"Aku Jenkinz Marino." Lelaki itu mengulurkan tangan dan segera disambut oleh Daniel.
Dengan tenang, Jenkinz duduk di atas kursi kebesaran dan menyingkan salah satu kakinya ke atas kaki yang lain. Dia mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya dengan ahli. Setiap sesapan yang ia lakukan seolah-olah merupakan nikmat paling besar.
"Kau mau?" tawar Jenkinz dengan senyum iblis.
Daniel mencermati lelaki berusia empat puluh tahun ini dengan penuh selidik. Setiap tindak-tanduknya menunjukkan dia pebisnis hebat sekaligus pelaku trik yang kejam. Mungkinkah dia seorang ketua Black Hell yang selama ini banyak orang pertanyakan? Atau anggota senior dari organisasi tersebut?
Entahlah mana dari tebakan itu yang benar. Daniel merasa terganggu membayangkan ia tengah berbicara dengan seorang pemilik media cetak yang ia curigai sebagai anggota mafia kelas kakap.
"Tidak, terimakasih."
Jenkinz menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan penolakan Daniel. Benar-benar khas orang awam. Selalu menolak sesuatu dari orang yang mencurigakan. Tak ada keberanian sama sekali dalam melakukan pertaruhan. Selalu di titik aman.
"Bisakah aku tahu siapa anda, Mr. Marino? Apakah anda adalah orang di balik pengirim emailku terkait Black Hell?" tanya Daniel blak-blakan. Dia mulai enggan berlama-lama dengan lelaki ini. Berada di sampingnya membuat Daniel merasa waspada.
"Katakanlah aku memang orang yang menghubungimu. Aku bisnisman sekaligus anggoya Black Hell. Tapi kau tak perlu tahu apa jabatanku dalam organisasi tersebut."
__ADS_1
"Aku sangat tersanjung bisa bertemu denganmu," kata Daniel dengan nada hati-hati. Dia mulai menebak jika Jenkinz pastilah memiliki posisi yang tidak sembarangan di Black Hell. Kemungkinan dia pasti orang senior.
"Huh. Jangan terlalu sungkan, Daniel. Panggil saja aku Jenkinz. Aku mewalili organisasiku untuk menawarkan sebuah kesempatan menarik untukmu. Kesempatan yang jika kau mengambilnya, kau akan mendapatkan uang yang sangat besar dari kami." Jenkinz membuang abu rokok yang ia sesap di sembarangan tempat. Abu itu saling berterbangan dan mendarat di lantai dengan mengenaskan. Membuat keramik putih tersebut ternoda warna gelap.
"Tergantung apakah kesempatan itu mampu kutangani atau tidak. Aku terlalu pemilih dengan jenis pekerjaan, Jenkinz." Daniel masih menjawab Jenlinz dengan nada hati-hati. Dia tak ingin menanggung resiko besar jika tanpa sengaja menyinggung perasaan lelaki tersebut.
Sering kali, orang yang hidup di jalanan dengan bergantung kekuatan murni seperti Jenkinz adalah orang yang sensitif mengenai harga diri. Sedikit saja tersinggung, ia mudah untuk menghabisi nyawa orang tanpa pikir panjang.
Daniel mulai bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah apa yang ditawarkan Jenkinz berhubungan dengan kemampuannya dalam bidang teknologi? Mungkin membobol sistem terlarang? Atau dokumen negara yang sensitif? Atau jangan-jangan pencucian uang. Jika benar, Daniel akan menolak mentah-mentah hal itu. Dia tak terlalu bodoh untuk menerima pekerjaan memainkan rekening keuangan seseorang, meskipun mampu. Selain tak aman juga berpotensi negatif bagi dirinya. Daniel belum sebodoh itu.
"Pebisnis yang cukup pintar! Aku kagum." Jenkinz bertepuk tangan seorang diri, memuji Daniel yang duduk canggung di hadapannya.
Daniel mulai cemas. Sepertinya ada yang salah dengan ekspresi Jenkinz. Nada bicaranya memang normal, tetapi sinar matanya berubah-ubah setiap beberapa detik sekali. Terkadang ada kekejaman di matanya, terkadang ada kebanggan besar. Terkadang seperti merasa senang, terkadang merasa waspada tanpa alasan.
Mungkin Jenkinz memiliki kelainan secara psikis. Daniel harus semakin hati-hati menghadapinya. Dia perlu cara yang lembut dan tidak menyinggung Jenkinz andai kata ia terpaksa menolak keinginan lelaki tersebut.
"Terimakasih atas pujiannya." Daniel mengangguk kecil, mencoba bersikap santai dan biasa.
"Aku memiliki sesuatu yang bisa kau lakukan dengan cepat. Paling lama, dua minggu dari sekarang." Jenkinz mulai berbicara lebih serius dari pada sebelumnya. Dia membuang rokok yang masih tersisa banyak dan menggerusnya di lantai keramik. Abu rokok tersebut semakin mengotori lantai ruangan Jenkinz yang sebelumnya sudah kotor.
"Kuharap hal itu cukup mudah untukku lakukan." Daniel mencoba meluruskan kakinya dan menyandarkannya di atas besi yang melintang di kaki meja.
"Kudengar kau pebisnis yang ahli. Aku akan menawarkanmu sesuatu. Jika kau menerima, kau akan mendapatkan uang dariku. Jika kujabarkan keinginanku tetapi kau tetap menolak, maka …. " Jenkinz menatap Daniel dengan penuh maksud.
Seseorang yang cukup cerdas ketika menolak tawaran Jenkinz, tak ada cara yang lebih baik baginya selain untuk dibungkam. Kecuali orang tersebut bisa menjamin pembicaraan mereka tak disebarkan.
Bagi Jenkinz yang terbiasa menjalani transaksi illegal, dia menganut rumus rahasia hanya akan aman setelah dibungkam oleh kematian. Tidak ada yang bisa dipercaya selain maut.
"Kau akan melenyapkanku, bukan? Jika begitu, akan lebih aman bagiku untuk menolak permintaanmu sebelum kau mengungkapkan niatmu. Sehingga aku masih aman untuk dibiarkan pergi tanpa mengetahui apa tujuan rahasiamu memanggilku." Daniel berkata terus terang.
Dia mendapat firasat dia tak akan menyukai apa yang Jenkinz tawarkan, sebesar apa pun nominal yang lelaki itu tawarkan padanya.
Jika memang Jenkinz memiliki maksud terselubung, lebih baik dia mundur dari awal sebelum dia dianggap sebagai oang yang membahayakan.
"Kau yakin tak ingin mendengar tawaranku? Kau akan kubayar dua juta dollar jika menerima transaksi ini. Separuh dibayar di muka, separuh di belakang. Jadi, entah misi ini berhasil atau tidak, selama kau telah melakukan apa yang kumau, kau tetap mendapat bayaran satu juta dollar. Bagaimana menurutmu?" Jenkinz kembali duduk di atas kursi dengan sikap otoriter.
Dibandingkan uang, prinsip adalah sesuatu yang sangat ringkih. Bisa rapuh kapan saja disogok oleh uang yang cukup banyak. Jenkinz telah belajar tentang banyak hal. Dia memgetahui bahwa pada titik tertentu, orang mampu dibayar dengan nominal. Asal nominalnya saja yang mencukupi.
__ADS_1
Daniel yang mendengar tawaran ini hanya bisa mengernyit kecil. Dua juta adalah jumlah yang terlalu fantastis. Jika seseorang mampu menawarkan jumlah tersebut, dia curiga pekerjaan yang akan diembankan untuknya pastilah berat dan menguras moral.
Tidak. Daniel lebih baik menolak itu semua. Dia masih cukup waras untuk tidak mengambil banyak resiko di hidupnya.
"Semakin tawaran itu tinggi, semakin aku takut untuk terlibat dan menerimanya. Maaf, Jenkinz, sepertinya aku tak tertarik."
"Kenapa? Apakah tawaranku kurang banyak? Bagaimana jika dua setengah juta. Kutransfer awal pembayaran saat ini juga jika kau mau menerimanya. Pekerjaannya cukup sederhana, asalkan kau berkomitmen dengan kesepakatan ini."
Jenkinz terlihat mulai tak suka. Dia menatap Daniel dengan sedikit tuntutan. Jenkinz terbiasa dirayu dan dicengarkan. Dia tak terlalu suka harus merayu seseorang sampai sedemikian rupa. Agaknya Daniel merupakan lelaki dengan ego besar yang perlu ditaklukkan.
"Beri aku petunjuk tentang pekerjaan tersebut." Daniel semakin tak mengerti dengan cara berpikir Jenkinz. Jika tawaran tersebut dinaikkan sebesar itu, tentunya bukan kesepakatan abal-abal. Daniel hanya ingin meraba ke mana sebenarnya tujuan pertemuan ini.
"Simpel. Jika kubeberkan, kau harus menerimanya. Jika kau tak ingin menerimanya tetapi ingin mengetahui tawaranku, maka hidupmu yang akan aku tutup. Pilih salah satu, Daniel. Jangan menjadi egois. Kau tak bisa mengetahui maksud tujuanku hanya untuk ditolak secara sia-sia. Bukan begitu permainanku. Yang terlanjur mengetahui mauku, dia harus menurutiku. Jika tidak, harus kuselesaikan hidupnya."
Begitulah aturan yang dimiliki Jenkinz. Dia tak pernah setengah-setengah dalam merencanakan sesuatu. Orang luar yang terlanjur mengetahui rencananya, jika tak bisa ditundukkan, maka harus dimusnahkan. Jenkinz tak bisa mengambil resiko Daniel hanya akan menanfaatkan tujuannya untuk disebarkan ke orang lain, terutama pihak yang berkaitan.
Daniel merenung sejenak. Dia semakin yakin berurusan dengan Jenkinz terlalu lama hanya akan menbuat hidupnya kacau. Orang seperti itu adalah jenis orang yang akan dia hindari dalam semua situasi.
"Jenkinz. Sepertinya aku bukan orang yang tepat yang bisa kau ajak bekerja sama. Maaf. Aku tak tertarik. Aku lebih suka bermain aman."
Jenkinz seperti tak terima dengan penolakan Daniel. Tetapi ia tak bisa berbuat banyak. Daniel adalah orang yang cukup disorot, meskipun tak sebesar sorotan yang diterima Jenkinz. Membunuhnya tanpa alasan merupakan hal yang cukup merepotkan.
Lagi pula, Daniel belum mengerahui rencana yang sedang dipikirkan Jenkinz. Belum terlambat untuk melepaskannya sekarang. Hanya itulah langkah yang berani Jenkinz ambil untuk saat ini.
"Pikirkanlah kembali. Aku menawarkan uang yang sangat besar. Kuberi kau waktu tiga hari. Jika tertarik, aku akan menyampaikan padamu apa mauku dan segera kukirim separuh uang tersebut di rekening mana pun yang kau mau." Jenkinz tersenyum kecil, menampakkan gigi putihnya yang terawat. Meskipun wajahnya menampakkan senyuman, tetapi jauh di lubuk hatinya dia memendam kekesalan yang sangat besar.
Jenkinz belum pernah ditolak. Sikap Daniel membuatnya meradang. Tetapi ia tak bisa berbuat banyak. Benar-benar mengesalkan. Andai Daniel adalah anak buahnya atau orang yang tak memiliki nama sama sekali, Jenkinz pasti telah membuat Daniel menerima konsekuensi karena merendahkan dirinya. Tetapi semua itu terpaksa harus ia tahan saat ini.
"Baiklah, Jenkinz. Akan kugunakan waktu tiga hari tersebut untuk memikirkan kembali keputusanku." Daniel tersenyum kecil dan sebelum ia berpamitan dengan Jenkinz, dia sempatkan dulu untuk mengobrol sebentar dengannya.
Siapa pun bisa melihat Jenkinz adalah orang yang memiliki ego besar. Daniel masih tak tahu posisi Jenkinz dalam organisasi Black Hell. Yang ia tahu adalah menolak Jenkinz secara kasar pasti akan berefek buruk baginya. Karena itu Daniel mencoba bersikap hati-hati.
Setelah sepuluh menit berbasa-basi, Daniel keluar dari ruangan Jenkinz dengan raut muka tertekan. Sialan. Berurusan dengan orang seperti itu membuat Daniel merasa suasana hatinya berubah suram. Andai tahu begini, dia pasti lebih memilih menolak tawaran tersebut melalui email.
Setibanya di lantai bawah, Daniel menatap gedung besar kantor media cetak dengan seksama. Senyum kecil sedikit tersungging di bibirnya. Dia membuka ponsel kecilnya dan mengaktifkan beberapa program.
Siapa sangka sebelum Daniel keluar dari ruang kantor Jenkinz, dia menempatkan sebuah alat perekam di sisi bawah kursinya dengan hati-hati. Alat itu merupakan alat perekam canggih yang disertai fitur penghancuran otomatis. Setelah lima jam, dia akan mengeluarkan cairan kimia tersendiri yang akan melelehkan bentuknya dan lenyap tanpa bekas.
__ADS_1
Lima jam. Waktu itu sudah lebih dari cukup untuk Daniel mendengar apa yang coba Jenkinz rencanakan sebenarnya.
…