
Malam ini Angel duduk di atas ranjang pengantin. Kelopak mawar bertebaran dengan indah di atas penutup tempat tidur. Lilin-lilin khusus beraroma therapy diletakkan di seluruh sudut-sudut ruangan.
Angel berjalan mengitari kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin bagi dirinya dan Harry. Tetapi kamar ini telah memiliki penghuni lain selain lelaki yang ia kenal. Sekarang, lelaki yang bersua denganya sebagai suami adalah Maxen, kakak tiri dari kekasihnya sendiri.
Kehidupan sedang membuat lelucon. Yang ingin ia sanding, justru pergi. Yang ingin ia dekati, justru jauh. Yang ingin ia ikat, justru tak terpikat.
Kuas takdir telah menulis ketentuan. Apa yang direncanakan oleh manusia tak selamanya terealisasi. Ada sebuah jalan yang digariskan Tuhan dan manusia digiring untuk menjalaninya.
Rachel menyentuh dinding kamar dengan pandangan hampa. Kamar ini menawarkan kenewahan, namun setiap dindingnya seperti berubah menjadi penjara baginya. Ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan.
Perkawinan yang ia dambakan kini telah terwujud. Akan tetapi, pengantin yang ia inginkan telah lenyap tanpa jejak. Hanya ada sosok asing yang menggantikanya. Sosok yang Rachel tak yakin mampu mengimbanginya. Sosok yang terlihat tak memiliki hati dan jauh dari yang ia harapkan.
Rachel kembali terduduk di ujung tempat tidur dan kembali merenung. Dia masih menggunakan baju pengantin. Make up yang ia gunakan juga masih belum ia hapus. Tetapi wajah Rachel menampakkan kekecewaan yang dalam. Jauh dari kesan seorang pengantin baru.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, menimbulkan suara kriet yang nyaring. Rachel tersentak kaget menatap sosok yang berada di balik pintu.
Maxen berjalan anggun bak seekor predator di depan mangsanya. Mata hitamnya semakin menyorot tajam dan menakutkan. Rachel mengerut di atas ranjang. Ia merasa tersudut dan terintimidasi. Ya Tuhan, bagaimana bisa lelaki ini berpembawaan dingin dan kejam. Sangat jauh dari Harry. Mereka berdua bagai minyak dan air. Berbeda zat meskipun sama-sama cair.
"Kau belum tidur?" Maxen bertanya santai.
Rachel menggeleng lemah. Ia berdiri dan bejalan menuju lemari pakaian. Dia harus mengganti baju pengantinya dengan piyama yang lebih nyaman. Piyama sederhana yang tidak mengundang makna negatif di depan Maxen.
Rachel mengaduk-aduk lemari tersebut dengan sabar. Pagi tadi, para pelayan telah membantu meletakkan beberapa baju miliknya yang ia bawa dari rumah. Seharusnya baju itu ada di sini.
Namun, apa yang ia cari tidak ada. Hanya ada empat lingerie baru di lemari ini. Lingerie yang jika ia pakai, akan terkesan seperti wanita penggoda.
Rachel merasa lelah dan tak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus mencari baju-bajunya di setiap sudut rumah besar ini? Mengingat semua pelayan pasti repot sendiri dengan tugas-tugasnya pasca acara pernikahan, Rachel merasa enggan menanyai mereka.
"Apa yang kau cari?" tanya Maxen curiga.
Rachel menoleh dan menyipitkan mata. Apakah lelaki ini curiga Rachel mencari benda-benda berharga untuk ia curi dari kediaman ini? Itukah yang ada dalam pikiran Maxen?
"Yang jelas bukan barang berharga ataupun perhiasan milik keluarga ini." Rachel menjawab dengan nada sedikit tinggi.
"Lantas?" Maxen kembali bertanya.
"Baju-bajuku. Aku membawa beberapa set pakaian pagi tadi untuk persiapan beberapa hari tinggal di sini." Rachel menjelaskan dengan tak yakin. Di mana benda-benda yang menjadi miliknya?
"Mungkin pelayan ada yang lupa meletakkanya di mana. Apakah ada baju lain di sana yang bisa kau pakai malam ini? Besok pagi baru kau tanyakan pada mereka."
Rachel tampak bimbang dan kembali menatap isi lemari. Dia berkomat-kamit membentuk sumpah serapah dan kembali menutup pintu lemari dengan sedikit kesal.
Maxen menarik salah satu alisnya ke atas, bertanya tanpa suara.
"Bajunya tidak cocok untukku," jelas Rachel kalem. Hei, apa jadinya jika ia memakai lingerie transparan seperti itu di hadapan Maxen? Yang ada dia pasti dicap sebagai penggoda.
Rachel menebak mungkin lingerie tersebut adalah sesuatu yang dikhususkan oleh keluarga ini sebagai hadiah pernikahanya dengan Harry. Tetapi mengingat sekarang lelaki yang di depanya bukan Harry, Rachel jelas tak akan memakainya.
"Jadi kau akan tidur dengan gaun pernikahan?" Maxen menatap penampilan glamor Rachel dari ujung atas hingga bawah. Pandanganya semakin menyipit, penuh arti. Rachel membuang muka tak ingin berspekulasi lebih pada reaksi Maxen barusan.
"Bukan urusanmu." Rachel berkata sinis. Dia berjalan bingung menuju kursi di sebelah meja nakas.
Maxen mendekat menuju lemari dan membukanya. Dia tersenyum kecil melihat jenis lingerie seksi yang tergantung di hanger. Ada sekitar enam atau lima potong lingerie berbeda warna dan semuanya berbahan transparan. Semua modelnya memiliki potongan yang sangat minim. Dalam sekali lihat, Maxen bisa membayangkan bagaimana nenda itu jika nanti dipakai oleh Rachel.
"Kupikir, ukuran ini sesuai denganmu." Maxen mengambil salah satu lingerie berwarna merah marun dan menunjukkanya pada Rachel.
__ADS_1
Kedua mata Rachel terbelalak lebar. Dia berdehem tak nyaman dan menggeleng kuat-kuat.
"Tidak!"
"Kenapa? Sangat tidak masuk akal jika kau tidur dengan gaun pernikahan yang rumit. Kau bisa sesak nafas nanti." Maxen melempar gaun tersebut dan terpaksa ditangkap oleh Rachel.
Dia mencengkeram benda di tangan dengan sekuat tenaga. Memang tidak masuk akal mengenakan gaun pernikahan sepanjang malam, tetapi juga bukan pilihan bijaksana mengenakan kain setransparan ini.
"Aku berhak memutuskan apa yang kupakai dan tidak kupakai." Rachel keras kepala.
Maxen berjalan mendekat ke arah Rachel. Dia bersiul kecil dan menyentuh ujung gaun yang Rachel kenakan.
"Kau takut padaku, bukan? Kau terlalu pengecut untuk memakai gaun tersebut di depanku." Suara Maxen lirih, namun pas sasaran.
Rachel merinding mendengarnya. Dia berbalik dan menatap wajah Maxen yang menampilkan gurat-gurat keseriusan.
"Aku tidak takut."
Rachel merasa sorot mata Maxen meremehkan dirinya. Dia terlalu sensitif untuk diremehkan. Bukankah dari awal ia menjalin hubungan dengan Harry, Maxen selalu meremehkanya? Dia sudah terlalu sering mendapatkan reaksi seperti itu sehingga ia jenuh untuk tetap bersikap diam dan menerima.
"Oh ya? Akui saja kalau kau memang terlalu pengecut, Rachel. Dari dulu kau memang memiliki sifat itu sehingga kau dan Harry sebenarnya merupakan pasangan yang sempurna. Sepasang pengecut." Maxen terkekeh kecil, mengejeknya. Dia berjalan pelan menuju lemari dan mulai melolosi jas hitam yang ia kenakan. Meninggalkan kemeja putih pas badan yang membalut tubuh kekarnya. Kemeja itu sangat kontras dengan kulit tembaganya.
"Baiklah. Aku akan memakainya." Rachel berjalan ke kamar mandi dengam membawa lingerie di tangan kiri.
Dia bukan wanita kemarin sore yang baru mencecap pubertas. Rachel juga bukan wanita lugu yang tak bisa mengendalikan hormon. Dia ingin membuktikan bahwa ia berani memakai apa pun yang ia mau.
Rachel memasuki kamar mandi di sudut kamar. Dia tak tahu bahwa setelah pintu kamar mandi tertutup, Maxen tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu mudah sekali diprovokasi. Sangat menarik.
Setelah Rachel selesai, dia keluar dari kamar mandi dengan sedikit canggung. Terlihat kulitnya lebih segar dan beraroma wangi, menandakan ia baru saja membasuh badan. Maxen tak berkomentar apa-apa sembari gantian memasuki kamar mandi. Dia juga butuh mandi saat ini. Mungkin, air dingin akan sedikit menenangkan otaknya
Rachel duduk di sisi kiri tempat tidur berukuran king size. Pikiranya mulai mengembara pada Harry. Dia kembali mengamati setiap sudut kamar ini dan bertanya-tanya mungkinkah kamar ini milik Harry? Bukankah dari awal ia memang berencana menikah dengan lelaki tersebut? Tetapi jika demikian, kenapa tak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa ruangan ini milik kekasihnya. Tak ada photo atau apa pun yang menunjukkan eksistensinya.
Rachel menutup kepalanya penuh kebingungan. Dia kemudian mendesah pelan dan memutuskan untuk tidak memikirkan tentang semua ini.
Apa pun yang terjadi, semua itu tak berpengaruh baginya karena kenyataanya adalah ia sudah terlanjur ditinggalkan Harry tanpa suatu alasan jelas.
Ada apa dengan lelaki itu sebenarnya? Apakah selama enam tahun lebih hubungan mereka, Rachel tanpa sengaja membuat suatu kesalahan? Atau mungkinkah sebelumnya ia tanpa sengaja menyinggung Harry? Atau mungkinkah sebenarnya ada pihak ketiga yang datang dalam hubungan mereka? Wanita yang cantik, anggun, cerdas, kaya dan lebih sempurna dari Rachel.
Jika memang begitu adanya, pantas saja selama ini Harry selalu bersikap menyepelekan dirinya. Dia hanya dianggap sebagai tokoh figuran yang Harry gunakan saat lelaki itu merasa lelah.
Rachel merasakan air matanya mengalir secara perlahan. Kenangan kebersamaan mereka terhadap satu sama lain terasa menyakitkan untuk dikenang.
Rachel ingat saat itu ia mengenal Harry ketika lelaki itu duduk di sudut meja restoran tempatnya bekerja. Ia duduk dalam kesendirian menopang dagu. Saat itu Rachel bertugas mendatanginya dan menawarkan menu terbaru. Harry hanya mengangguk kecil mengikuti saran darinya.
Saat Rachel mengantarkan menu tersebut, Harry memintanya untuk duduk menemaninya. Tentu saja Rachel menolak. Tetapi lelaki itu terlalu cerdas. Ia bersedia mengganti satu hari kerja Rachel hanya untuk menemaninya mengobrol.
Dari situlah mereka saling mengenal dan berlanjut pada hubungan yang lebih serius. Harry adalah orang yang menyenangkan dan pintar menghadapi emosi Rachel. Hubungan mereka berjalan selayaknya pemuda-pemudi lain yang dimabuk asmara.
Hanya berselang dua bulan, lelaki itu melamarnya. Rachel tentu saja merasa terkejut dan tak menyangka sama sekali. Baru kali ini ia menemukan lelaki yang bersedia serius denganya dalam waktu yang singkat.
Tetapi keanehan-keanehan mulai terjadi. Rachel tak pernah diakui secara terang-terangan oleh Harry. Dia juga menyadari ternyata keluarga Harry kurang ramah menerimanya.
Setiap kali Harry membutuhkan dirinya, Rachel yang mendatangi apartemenya seorang diri. Hubungan timpang itu berjalam selama bertahun-tahun.
Saat Rachel merasa ragu dan tak yakin dengan perkembangan hubungan mereka, tiba-tiba Harry meminta mereka untuk segera menikah. Tentu saja Rachel kembali bertekuk lutut dan kembali membuka harapan baru yang lebih indah.
__ADS_1
Namun, harapan itu hanya sekedar menjadi harapan. Harry pergi entah ke mana menghindari pernikahan ini dan meninggalkan Rachel menyelesaikan kekacauan ini seorang diri.
Dia terjebak dalam perkawinan palsu bersama Maxen, orang yang tak pernah ia tahu latar belakangnya seperti apa. Satu-satunya yang ia ketahui dari Harry, Maxen adalah pemain bisnis andal yang memiliki sikap otoriter tinggi. Dia pemegang keputusan keluarga dan dijadikan kiblat dalam keluarga. Termasuk Harry.
Selisih mereka sekitar enam tahun, itu artinya Maxen berusia tiga puluh tujuh tahun. Tetapi dilihat segi kemampuan dan kecakapan, mereka jelas berbeda jauh.
Rachel menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan lingerie transparan. Ia terduduk dan bersandar di kepala tempat tidur dengan pikiran kalut.
Kesedihanya terasa sangat menyesakkan. Dia merasa dikhianati dan ditinggalkan dengan kejam. Duka dan amarah bercampur baur menjadi satu.
Andai Harry berada di sini saat ini, ia sangat ingin mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dia ingin tahu di mana letak kesalahanya, di mana letak kekuranganya, di mana cacatnya sehingga Harry memilih pergi meninggalkanya.
Rachel tersentak saat tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamar mandi berderak. Dia menoleh dan mendapati Maxen baru saja mandi dan berganti baju dengan pakaian kasual. Kaos berwarna biru gelap dan celana kain yang pas badan.
"Kau memikirkan Harry?" tanya Maxen, menebak pas sasaran.
Rachel terdiam dan semakin mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya seperti kepompong.
"Terimalah kenyataan, Rachel. Tunanganmu terlalu pengecut dan tidak menginginkan pernikahan ini." Maxen berkata ringan. Ia berjalan mendekatinya dengan langkah-langkah lebar.
"Kau secara tidak langsung mengatakan bahwa aku adalah wanita yang terbuang, bukan?" Rachel bertanya tajam. Dia menelan ludah dengan susah payah. Ya Tuhan, membayangkan semua ini membuat harga dirinya terluka dalam.
"Lupakan saja kejadian hari ini dan tidurlah." Maxen mengambil tempat di sisi ranjang yang lain dan membenarkan posisinya untuk mencari kenyamanan.
Rachel memandang lelaki ini dengan kebingungan. Dia bertanya heran, "Kau tidur di sini? Tidak bisakah kau mencari tempat lain?"
Maxen menatap Rachel dengan acuh tak acuh. Dia menbuka selimut yang menutupi tubuh Rachel dan menariknya untuk membagi kain hangat tersebut denganya.
"Ini adalah kamarku."
Rachel membelalak tak percaya. "Tapi ini di desain seperti kamar pengantin."
Maxen menatap Rachel dengan pandangan serius. Dia menggerakkan telunjuknya menyentuh ujung dagu wanita tersebut.
"Kita adalah sepasang pengantin."
Rachel merasa merinding dengan jawaban Maxen. Dia menghindari sentuhan Maxen yang terasa sepanas bara api. Jenis sentuhan yang tak pernah Rachel sadari keberadaanya di dunia ini.
"Kita adalah orang yang terjebak pernikahan." Rachel berkata dengan wajah yang mulai memerah.
"Tapi secara hukum kita tetap seorang pasangan pengantin. Kau mulai memakai nama belakangku dan menjadi bagian dariku." Maxen menyentuh sisi wajah Rachel yang sangat lembut. Dia tersenyum penuh arti.
"Maxen, sesuai perjanjian, pernikahan ini hanya berlaku setahun." Rachel merasa terjebak dengan sentuhan Maxen. Tanpa sadar dia mulai memejamkan mata dan menikmatinya.
Ya Tuhan, sentuhan ini adalah sentuhan yang baru ia rasakan sepanjang kehidupanya. Sentuhan yang membuat segalanya seolah lenyap dalam latar belakang. Sentuhan yang sanggup mengangkat kepedihanya dari rasa kehilangan.
"Oh ya? Mari kita jadikan satu tahun ini menjadi satu tahun yang luar biasa dan tak terlupakan." Maxen merengkuh tengkuk Rachel dan mulai memberikan ciuman mesra.
Rachel menepis tangan Maxen dan menatapnya tajam. "Kau pikir aku wanita murahan yang bisa berganti pasangan hanya dalam waktu semalam di ranjang?"
Lelaki itu hanya terkekeh kecil. Dia sama sekali tak terganggu dengan penolakan Rachel.
"Mulutmu bisa berkata begitu, tapi tubuhmu mengatakan sebaliknya, Rachel. Mari kita bertaruh. Dalam satu tahun ini, kau pasti sudah mengandung anak dariku."
"Jangan harap!" tolak Rachel.
__ADS_1
"Akan kupastikan kau sendiri yang akan memohon padaku untuk menyentuh dan memilikimu."
…