
Alice menatap Klayver dari seberang meja sarapan dengan senyum geli. Suaminya tengah melakukan pendekatan dengan Axel. Sementara anak kecil itu terlihat tertekan setiap kali didekati Klayver. Mereka berdua benar-benar canggung satu sama lain.
"Kau ingin aku menambahkan sayuran di telur orak-arikmu?" tawar Klayver ketiga kalinya.
"Tidak perlu, Dad. Aku akan mengambilnya sendiri nanti!" tolak Axel untuk ketiga kalinya juga.
Klayver mengangkat bahu tanda menyerah dan mengambilkan air putih, mendekatkannya ke arah jangkauan Axel.
"Jangan lupa meminum air putih. Itu baik untuk tubuhmu."
Axel menatap heran pada ayah tirinya dengan mata sedikit memincing. Baiklah, anak itu memang masih berusia lima tahun. Tetapi cara bersikapnya sudah melampaui anak delapan tahun. William menyebutnya kecerdasan keluarga Mallory. Semua keluarga Mallory selalu memiliki kecerdasan di atas rata-rata dari semenjak mereka berusia balita.
"Terimakasih, Dad. Aku tidak tahu ada apa denganmu hari ini sehingga sikapmu sedikit tak biasa. Tetapi jika boleh memilih, aku lebih suka sikapmu yang biasanya dari pada sikapmu sekarang."
Axel menatap Alice penuh makna, seolah ibunya adalah orang yang patut dicurigai.
Dalam hati, Alice mulai meradang. Bagaimana bisa ia melahirkan anak secerdas ini? Lama-lama Alice jadi curiga usia Axel sebenarnya bukanlah lima tahun.
"Kenapa kau menatap Mom seperti itu?" tanya Alice tak terima.
Axel tersenyum kecil dan berkata pelan. "Karena dia suami Mom, ke mana lagi aku harus mengadukan tentang sikapnya yang aneh ini?"
Baik Klayver maupun Alice, keduanya terbelalak lebar. Mereka saling melempar pandang dan memberikan isyarat menyerah tanpa kata-kata.
Tatapan Klayver terhadap Alice seolah mengatakan 'Apa aku bilang, hubungan kita memang lebih baik seperti semula. Perhatian secara tiba-tiba hanya akan membuat keadaan semakin rumit.'
Dengan lelah, Alice mengamati putranya dan menyampaikan sesuatu.
"Axel, Mom hanya ingin kau dan Dad saling mengenal lebih dekat." Alice mencoba berargumentasi. Dia menatap putranya secara seksama, mencoba menarik pemahaman Axel.
Sudah menjadi rahasia umum Axel mampu menangkap maksud Alice dengan kecerdasan yang ia punya. Seringkali pembicaraan mereka lebih terasa seperti orang dewasa daripada anak-anak.
"Aku sudah cukup mengenal Dad Klayver kok Mom," jawabnya sembari menyuapkan sesendok telur orak-arik favoritnya. Terkadang, Axel memanggil Klayver dengan embel-embel namanya di belakang. Seperti yang dilakukannya saat ini.
"Oh ya?" Alice bertanya tak percaya. Dia mengetuk-ngetukkan ujung sendok di atas piring. Matanya semakin menyorot tajam pada putranya, merasa tak puas.
Axel mengangguk polos layaknya anak kecil. Mata bulatnya mengerjap dengan kesungguhan. Dia menarik nafas panjang dan mulai mengungkapkan satu per satu apa yang ia ketahui tentang Klayver.
"Aku tahu kesukaan Dad Klayver. Dia suka menu semua jenis daging panggang sebagai sajian utama. Contohnya sekarang dia menikmati iga sapi panggang. Kemarin kalkun panggang, lusa lobster panggang. Minumnya selalu air putih. Kalau duduk suka menopangkan satu kaki kanannya ke atas kaki kiri, sesuatu yang Mom larang untuk aku lakukan. Kalau berjalan tegak dan cepat, seperti guru olahragaku yang katanya mantan marinir. Berbicaranya singkat, tetapi aku tahu dia sering memperhatikanku. Dia juga jarang tersenyum kecuali dengan Mom saja. Tetapi pagi ini ia tersenyum padaku lebih dari empat kali. Jadi, itu sedikit tak wajar." Axel melirik Klayver sedikit ragu.
Di sampingnya, Klayver tertawa renyah mendengar semua kata-kata putra tirinya.Dia menggeleng kecil, merasa kalah.
"Dia memang putramu, Alice. Tetapi sikapnya sangat mirip denganku. Kami terhubung melalui ikatan kuat yang tak kasat mata Sesuatu yang tidak bisa dinilai begitu saja secara fiksik. Jadi, lupakan permintaanmu agar aku lebih mendekatinya. Kami telah saling dekat dengan cara kami sendiri. Percayalah, Alice. Aku dan Axel telah membentuk ikatan kuat tanpa kau sadari." Klayver mendorong kursinya mundur ke belakang dan berdiri dari duduknya untuk berlalu pergi dari ruang makan.
Tawanya masih bergema di sudut-sudut ruangan. Alice masih sanggup merasakan kehangatan yang tersisa dari sosok Klayver.
"Mom, untuk pertama kalinya dia tertawa di hadapanku. Apa kau yakin semuanya tak ada yang salah?" Axel bertanya curiga.
__ADS_1
Alice yang mendengar pertanyaan lugu dari putranya hanya bisa menggeleng kecil.
Klayver benar. Mereka telah membentuk hubungan kuat tak kasat mata. Di balik sikap diam mereka, ternyata baik Klayver maupun Axel cukup peka untuk memperhatikan semua hal tentang pribadi satu sama lain. Alice saja yang selama ini tidak peka menangkap itu semua.
Susan yang melihat adegan tersebut dari dapur, ikut melempar senyum ke arah Alice. Dia berjalan dengan tubuh gempalnya dan berkata riang.
"Kau cukup beruntung, Alice. Kau mendapat suami yang cukup perhatian meskipun kepribadiannya bagaikan es di kutup utara." Susan menepuk bahu Alice hangat dan tertawa lebar. Tawanya sangat menenangkan Alice. Dia merasa musim semi sebentar lagi akan datang setiap kali mendengar tawa dari juru masaknya ini.
"Yah, kukira memang begitu," balas Alice tersenyum kecil.
"Baguslah, Alice. Tadinya aku sempat mengira kau akan terjebak terus dalam duka tanpa bisa membuka hatimu kembali setelah kepergian Anson." Susan berkata simpati. Dia mulai mengambil peralatan sisa makanan di atas meja dan membereskan dengan gerakan cepat. Meskipun Susan sudah tua, tetapi dia cukup ceakatan. Itulah yang membuat Alice enggan menggantinya dengan orang lain.
"Kehidupan akan terus berjalan, Susan. Aku harus tetap kuat dan menjalaninya dengan benar." Alice menatap putranya, mengira-ngira apakah Axel cukup peka menangkap pembicaraan mereka tentang ayah kandungnya.
"Kau telah melakukan hal yang benar, Alice. Hidup akan terus berjalan, tak peduli apa yang terjadi di masa lalu. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah terus melangkah dan menjadi kuat." Susan berkata tulus, memberi semangat pada majikannya.
Alice menatap Susan penuh rasa terimakasih. Wanita ini adalah salah satu orang yang selalu menjaganya dalam keadaan apa pun. Terutama saat detik-detik setelah ia kehilangan Anson dulu.
"Aku benar-benar tidak tahu harus berterimakasih padamu dengan cara bagaimana, Susan. Kau selalu setia berada di sisiku."
Susan memeluk Alice penuh rasa sayang dan menepuk bahunya dengan lembut.
"Hiduplah dengan baik, Alice. Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri." ucapnya tulus.
Alice menyentuh sisi wajah Susan yang bulat dan membalasnya dengan senyum lebar. Dia mengangguk kecil, membenarkan kata-kata juru masaknya.
"Tentu, Susan. Ngomong-ngomong, hari ini aku akan berkunjung ke rumah Rachel. Kau tak perlu menungguku untuk menyiapkan makan siang." Alice memberitahu. Dia sudah mengabari Rachel tadi pagi untuk berkunjung padanya di mansion Maxen Millian.
Susan yang berdiri di ruang makan, menatap kepergian Alice dengan tatapan penuh makna. Dia mengeluarkan ponsel kecil miliknya dan menghubungi seseorang.
"Tuan, Alice sudah melupakan keberadaan Anson. Biarkan dia melanjutkan hidup karena posisinya tidak lagi membahayakan kita. Dia tak mungkin melakukan tindakan balas dendam seperti yang anda takutkan. Aku menilai dia cukup bahagia dengan pernikahan ini dan tak mungkin mengotori tangannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu."
Susan memutuskan sambungan pribadinya dan menyentuh dadanya dengan tangan gemetar. Jauh di lubuk hati, Alice sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Sulit baginya membayangkan ia harus membunuh Alice secara langsung. Tangannya ini sudah kotor. Sebisa mungkin ia tak akan mengotori lagi dengan hal-hal kecil yang tak diinginkan.
Rasa sayangnya kepada Alice dan Axel tumbuh di luar dugaan. Mereka berdua bagaikan permata yang Susan temukan di gurun yang gersang. Sangat sulit baginya jika harus membungkam mereka.
…
Rachel menatap sebuah benda kecil yang memiliki dua garis merah jelas. Matanya berkaca-kaca menatap benda tersebut dan menggenggamnya dengan erat. Rasa bahagia membuncah kuat di dalam hatinya.
Rachel menatap jam yang telah menunjukkan pukul sembilan waktu Manhattan. Maxen telah berangkat kerja satu jam yang lalu. Rachel harus menyimpan rahasia ini hingga sore nanti.
Ya Tuhan. Demi apa hidupnya telah berubah seperti surga. Alam telah mengirimnya sosok suami yang sangat sempurna. Kini, ia dikarunai janin yang menjadi buah cinta mereka berdua. Tak ada lagi yang ia inginkan selain berteriak keras dan mengucap rasa syukur.
Rachel masih diliputi rasa syok saat seorang pelayan memberitahukan kedatangan Alice di ruang depan. Dia mengangguk kecil, memberikan beberapa perintah dan berjalan dengan cepat mendatangi temannya.
Rachel menatap Alice yang kini memakai dress kuning pucat setinggi lutut dengan beberapa payet kecil di pinggangnya. Kulitnya tampak cerah, membuat sosoknya bak malaikat yang menebarkan kebahagiaan.
__ADS_1
"Alice," panggil Rachel penuh kerinduan.
"Hai Rachel, kau terlihat luar biasa." Alice memeluk sahabatnya erat. Mereka saling tertawa dan melempar canda.
Rachel membawa Alice memasuki ruang tengah yang menawarkan privasi lebih. Dia menyuguhkan americano coffee dan cake cokelat buatan tangannya sendiri.
"Bagaimana kabarmu, Rachel? Aku melihat kau semakin bersinar saja." Alice mengomentari penampilan temannya sembari mengambil sepotong cake yang disuguhkan Rachel. Semua makanan yang dibuat temannya selalu memiliki cita rasa tinggi. Alice merasa wanita itu adalah master dalam urusan dapur.
"Aku bahagia, Alice. Pernikanku dengan Maxen berjalan dengan baik. Kami tak menyangka akhirnya bisa sampai pada titik ini mengingat awal pernikahan kami adalah sebuah tragedi yang sangat memalukan." Rachel berterus terang kepada Alice. Wajahnya berseri-seri menampilkan banyak emosi terpendam.
Mendengar pengakuan Rachel, Alice mau tak mau merasa ikut bahagia juga. Dari awal dia sudah tidak senang dengan sosok Harry. Sebuah keberuntungan bagi Rachel bisa terlepas dari lelaki itu dan mendapatkan lelaki lain yang jauh lebih baik.
"Aku terkejut mendengarnya. Tetapi aku senang kau mengambil langkah ini, Rachel. Setidaknya, Maxen lebih baik daripada Harry. Mantan tunanganmu itu sangatlah pengecut, kau tahu?" kata-kata Alice dipenuhi kebencian. Dia mengambil cangkir bergambar elang terbang dan menyesap cairan hitam yang ada di dalamnya.
Lelaki mana pun yang cukup normal, tidak akan pernah sanggup meninggalkan pasangannya sendiri di hari pernikahan mereka. Tindakan Harry telah membuat Alice kesal.
"Kau benar. Beberapa waktu lalu Harry ke sini dan aku menjeaskan padanya bahwa hatiku telah memilih Maxen. Aku bukan lagi wanitanya. Dia bisa mempermainkan wanita lain jika mau tetapi yang jelas aku tak akan pernah sudi dipermainkan lagi olehnya. Sudah cukup banyak pengorbanan dariku yang ia sia-siakan. Jika ia cukup dewasa, seharusnya ia bisa berintropeksi diri." Rachel kembali teringat tentang kejadian itu. Dia masih geram setiap kali melihat tindakan Harry yang mencoba mengancam dirinya alih-alih melakukan pembenahan diri.
Pagi ini udara sedikit panas. Rachel berdiri, mengambil remote AC dan mengatur suhunya sesuai dengan yang ia harapkan. Ruangan langsung berubah sejuk dalam waktu sesaat. Alice mendesah lega menikmati kesejukan yang hadir. Dia meluruskan kedua kakinya dan mencari posisi duduk lebih nyaman.
"Tebak apa yang aku dapati pagi ini." Rachel menatap Alice ceria. Sinar matanya menari-nari penuh kebahagiaan.
Kening Alice sedikit mengernyit. Dia menggigit bibir dalamnya dan mencoba berpikir kilat.
"Kau dipromosikan sebagai manager operasional di restoran?" Alice ingat itu adalah impian yang selalu diinginkan oleh Rachel selama bertahun-tahun.
"Tidak. Lupakan pekerjaan. Aku sudah mengajukan permintaan resign dua hari yang lalu."
Setelah hubungan Rachel dan Maxen mulai mengalami titik terang, Rachel merasa tak ada ruginya mengalah dan mengikuti kehendak suaminya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dan seorang istri yang siap sedia mengabdi pada sang suami.
Maxen tentu saja sangat bahagia dengan keputusan Rachel. Salah satu harapannya mulai terwujud. Memiliki istri di rumah sebagai ibu rumah tangga telah menjadi impiannya dari dulu. Maxen tak bermaksud menentang teori persamaan hak perempuan, tetapi secara pribadi, ia lebih suka mengayomi istrinya secara penuh jiwa dan raga. Dia tak ingin istrinya mengais dollar di tempat lain sementara ia sendiri lebih dari mampu menanggung kebutuhannya.
Tetapi jika Rachel sendiri tak suka dengan prinsipnya, Maxen tetap menerima Rachel apa adanya. Tak disangka akhirnya wanita itu memilih melakukan sesuatu yang menjadi harapannya. Jujur, tindakan Rachel membuat Maxen terkesan.
"Oh, aku tak menyangka kau akhirnya memilih untuk berhenti kerja. Jadi, apakah kau tiba-tiba mendapat warisan jutaan dollar dari Maxen atau sesuatu semacamnya?" tebak Alice mulai menerka-nerka.
"Sesuatu yang lebih dari itu." Pandangan Rachel mulai tak fokus, membayangkan sesuatu dengan senyum merekah. Wajahnya semakin menunjukkan sinar kebahagiaan. Rambutnya yang pirang berayun lembut menambah kecantikan yang ia miliki.
"Baiklah, Rachel. Aku menyerah. Apa yang baru saja kau dapatkan?" Alice mulai penasaran. Dia berjalan mendekati Rachel dan menuntut jawaban melalui tatapan tajamnya.
"Kau beruntung, Alice, karena aku bersedia memberitahumu sebelum Maxen." Rachel tersenyum kecil, melambaikan tes pack di tangan kanannya yang menunjukkan hasil positif.
Alice terbelalak lebar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Rachel tak percaya.
"Kau hamil? Berapa bulan?" Alice sangat terkejut. Dia mengambil tes pack dari tangan Rachel dan memastikan kedua garis merah yang ia lihat.
"Ya. Entahlah, aku belum memeriksanya ke dokter. Tapi jika dihitung kasar dari haid terakhirku, mungkin usianya sekitar lima atau enam minggu." Rachel mengusap perutnya yang masih rata. Tadinya dia pikir siklusnya mengalami gangguan, tak pernah ia sangka semua itu ternyata menjadi gejala awal tentang kehidupan baru yang ia kandung.
__ADS_1
"Rachel, aku benar-benar ikut bahagia mendengar kabar ini. Kuharap, aku akan segera memiliki keponakan yang lucu darimu." Alice berkata ceria. Dia tak pernah mengira kehamilan Rachel akan memperumit segalanya.
…