Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
016 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel tengah menikmati sarapan di ruang makan. Di hadapanya, terdapat Maxen yang duduk dalam diam. Aura wajah lelaki itu seperti menggelap setiap saat. Rachel tak yakin untuk terus menatapnya.


Sudah empat hari semenjak pernikahan mereka dilaksanakan. Selama dua hari pertama Rachel selalu mengikuti tatanan keluarga Millian. Dari makan, kegiatan bersama hingga kumpul bersama di ruang keluarga setiap malam. Alena dan dua sepupu Maxen cukup baik menerimanya. Tak ada lagi penolakan tersirat dari mereka.


Dua hari yang lalu, Maxen memboyong Rachel ke mansion probadinya di kawasan elit. Mau tak mau Rachel mengikuti juga kemauan lelaki tersebut. Toh di rumah ini dia lebih bebas. Mereka tak harus berpura-pura baik satu sama lain di hadapan keluarga besar. Terutama di hadapan mertuanya, Alena.


Alena terlalu peka membaca situasi. Setiap kali Rachel merasa terintimidasi dengan Maxen, wanita itu selalu mengernyit bingung dan mencoba meyakinkanya bahwa Maxen adalah pribadi yang baik.


Pribadi yang baik? Bah! Jika Maxen adalah pribadi yang baik, maka semua orang di dunia ini memiliki 'pribadi yang lebih baik'.


Rachel bersyukur mereka telah tinggal terpisah dengan keluarga Millian. Dia tak yakin sanggup menjaga sikap setiap kali harus berhadapan dengan mereka dan Maxen bersikap sebagai pendamping yang hebat untuknya.


"Aku akan memonitoring beberapa proyek hari ini. Kau baik-baik saja jika kutinggal?" tanya Maxen lembut, sangat kontradiktif dengan tatapan tajamnya. Netra hitamnya dipenuhi arogansi.


Rachel mengangguk. Inilah yang ia harapkan. Maxen pergi dari sisinya. Jika bisa, dia ditinggal berbulan-bulan juga tak masalah. Rachel bersorak dalam hati.


Maxen mengeluarkan credit card dan menyerahkanya pada Rachel. Dia menganggap seolah-olah benda itu adalah sampah yang tak berharga.


"Pakai itu jika kau membutuhkan sesuatu."


Mata Rachel memerah karena menahan amarah. Dia kembali melemparkan kartu tersebut dan berdecih pelan.


"Jangan harap!" tolaknya mentah-mentah.


Maxen mengernyit sedikit dan menaikkan kedua bahu, tampak tak peduli.


"Kau tak mau? Kartu ini memiliki limit yang besar. Apa kau ingin aku memberimu dua kartu? Atau tiga?" tanyanya sembari merogoh sakunya yang lain. Maxen mengeluarkan dompet dan mengambil credit card lain. Dia menyerahkanya kepada Rachel untuk kedua kalinya.


Merasa terhina, wanita itu mendorong piring saji dan berdiri menahan amarah. Maxen. Lelaki ini menilai sesuatu hanya berdasarkan uang. Semuanya hanya tentang uang. Rachel muak dengan pola pikir yang seperti ini.


"Aku tak butuh uang sialanmu. Aku masih bisa bekerja dan menghidupi diriku. Buang saja kartu kreditmu pada wanita lain yang dengan suka reka menjilatmu!" Rachel menghentakkan kaki dan berlalu dari ruang makan.


Maxen menatap punggung Rachel dengan suatu pandangan ganjil. Senyum kecil terbentuk di sudut mulutnya, penuh arti. Dia kemudian berdiri dan berlalu juga dari ruang makan.


"Wanita itu semakin menarik minatku. Lambat laun, dia akan bertekuk lutut di bawah kakiku," bisiknya dengan suara rendah. Kedua matanya memancarkan sorot tajam penuh tekad.


Saat Maxen tiba di halaman depan, dia melihat Alice memasuki gerbang utama. Seorang satpam kepercayaan Maxen melambaikan tangan dan memberi isyarat dia adalah teman Rachel.


Maxen mengangguk kecil sembari berjalan mendekat ke arah wanita tersebut. Dia merasa familiar dengan wanita ini. Rambut merahnya yang bergelombang, netra emasnya yang mempesona dan aura kecantikan yang murni.


"Sir, maaf saya Alice, teman Rachel. Aku mendapat informasi bahwa temanku berada di sini," kata Alice dengan raut muka kebingungan.


Alice mendengar dari satpam bahwa kediaman ini milik Maxen Millian. Wanita ini masih bimbang. Setau dia, Rachel menikah dengan seseorang yang bernama Harry Millian. Mungkinkah mereka dua lelaki dalam rumah yang sama?


"Ya, istriku berada di dalam. Silahkan masuk, Miss. Maaf, aku tak bisa menemanimu. Biarkan Tom yang mengantarkanmu." Maxen tersenyum kecil dan berlalu pergi seolah tak peduli dengan kebingungan Alice.


Istri? Mereka suami istri? Bagaimana ceritanya Rachel menikah dengan Maxen?


Alice menahan semua rasa ingin tahunya dan mengikuti Tom, sang security menuju mansion bagian dalam. Dia hanya mendesah beberapa kali untuk meyakinkan dirinya sendiri. Alice berharap semoga tak ada yang salah dari pernikahan Rachel.


Alice menyusuri mansion besar yang penuh dengan perabotan berkelas. Sekilas, perabotan mansion ini memiliki standar yang sama dengan pondok peristirahatan Klayver. Mereka berdua seperti dua orang yang saling bersaing dalam kelas yang sama.


Alice mengernyitkan dahi. Dia teringat dengan setiap reaksi yang Maxen berikan. Tatapan mata lelaku itu ... sedikit mirip dengan Anson dulu. Mereka dua orang yang memiliki keangkuhan dan dominasi dalam banyak hal.

__ADS_1


Maxen memiliki standar hidup yang tinggi. Mungkin karena dia memiliki kepribadian kuat dan tidak mudah goyah. Alice bisa menyadari sifat tersebut dari sejak pertama bertemu. Anson menyebut sifat tersebut sebagai dominasi pria. Kepribadian itu akan membawa seseorang menuju puncak kejayaan.


Setelah melewati lorong, Tom mengarahkan Alice menaiki tangga dengan teralis yang berdesain modern. Di sebuah ruangan santai lantai atas, Alice mendapati Rachel tengah duduk di hadapan televisi besar dengan pandangan hampa.


Furniture ruangan ini tak berbeda dengan yang ia lihat di lantai bawah. Lukisan-lukisan ternama menghiasi dindingnya. Beberapa guci antik berdesain china terletak indah di sudut-sudut ruangan.


"Rachel," panggil Alice mengagetkan temanya.


Rachel menoleh terkejut, tak menyangka bahwa Alice akan mengunjungi dirinya secepat ini.


"Hei, Al … apa kabarmu?" tanya Rachel berjalan menyambut temanya. Mereka saling cipika cipiki dan tertawa kecil bersama-sama.


"Baik, duduklah, Alice. Kau ingin minum apa?" tawar Rachel melambaikan tangan pada salah seorang pelayan yang lewat dan meminta kopi untuk mereka berdua.


"Rachel, aku sedikit bingung. Bukankah kau menikah dengan lelaki bernama Harry? Tapi kenapa kau tinggal di kediaman Maxen? Tunggu, tunggu … aku mendengar ia menyebutmu sebagai istrinya. Ada apa sebenarnya?" Alice menatap tak percaya. Dia sedikit linglung mencoba menyatukan teka-teki ini.


Rachel duduk dengan sedikit canggung. Bagaimana ia menjelaskan bahwa dirinya telah berganti pasangan dalam waktu singkat menjelang pernikahan?


"Rachel, bisakah kau jelaskan?" cerca Alice merasa penasaran. Dia menyenggol bahu temanya dengan sedikit keras.


"Oh, baiklah, akan kujelaskan semuanya." Rachel menyerah kalah dan mulai memberitahu semua kejadian yang menimpanya selama empat hari terakhir ini.


Alice menjadi pendengar yang baik. Dia mencoba tidak menyela penjelasan Rachel. Dia biarkan temanya mengungkapkan semua uneg-uneg yang ia pendam.


Tidak ada raut menghakimi di wajah Alice. Dia mengangguk beberapa kali setiap ada jeda dan mengusap lembut bahu temanya.


Alice menyadari situasi yang Rachel alami. Dia berusaha menjadi teman yang siap menopang Rachel apapun yang terjadi. Sebagaimana dulu Rachel melakukan hal tersebut padanya.


Alice masih ingat. Saat ia terpuruk karena Anson dan jatuh dalam keputus asaan kehilangan Kendrick, wanita inilah yang selalu menopangnya. Tetap setia menemaninya dalam duka.


"Tidak apa-apa, Rachel. Tidak apa-apa. Kau harus bangkit dari keterpurukan yang Harry tinggalkan. Lelaki itu tak pantas mendapatkan dirimu. Dia terlalu pengecut untukmu."


Alice ikut merasakan kecewa. Bagaimana mungkin lelaki yang sudah lama menemani sahabatnya itu pergi pada saat-saat genting menjelang pernikahan. Meninggalkan pengantin perempuan tanpa kepastian hanya karena alasan klise yang dibuat-buat. Sekalian saja dia mati dan masuk neraka. Alice mulai menyumpah serapah.


"Apakah Maxen adalah lelaki yang baik? Maksudku, aku tak yakin mendengar kenyataan bahwa kau terjebak pernikahan dengan lelaki sepertinya."


Alice teringat bagaimana lelaki tersebut memiliki aura kuat dan dominan. Aura seperti yang dimiliki oleh Anson dulu. Alice tahu tak mudah mengimbangi orang seperti itu.


"Kita memiliki batasan pada satu sama lain. Kupikir, aku akan baik-baik saja hidup bersama denganya untuk sementara ini. Pada akhirnya nanti, kami bisa memutuskan untuk bercerai setelah waktunya tiba." Rachel menenangkan Alice. Dia tak ingin membuat temanya khawatir secara berlebihan.


"Sialan Harry. Dia benar-benar menjadi sumber masalah bagimu." Alice menggelengkan kepala. Dia semakin membenci lelaki tersebut.


"Sudahlah, Alice. Lupakan masalah ini. Ngomong-ngomong, bagaimana perkembanganmu mengenai kasus Anson?" tanya Rachel simpati. Dia mencoba menyingkirkan masalah pribadinya dan memancing Alice untuk membahas topik lain.


"Minumanya, Nyonya." Salah seorang pelayan menengahi pembicaraan mereka. Dia membawa baki berisi kopi dan beberapa makanan ringan. Alice mengangguk kecil dan mengucapkan terimakasih.


"Ya. Masih mengalami kebuntuan."


Alice menunduk dalam. Dia telah berjanji pada Klayver untuk menutupi masalah ini rapat-rapat. Semua hal yang terkait tentang Anson maupun langkah-langkah untuk menyelesaikanya adalah sebuah rahasia yang tak bisa ia bagi pada siapa pun.


"Oh, lantas apa tindakan yang ingin kau ambil selanjutnya?" Rachel mengusap lembut lengan temanya. Dia menepuk-nepuknya pelan untuk memberi dukungan kecil pada sahabatnya.


Inilah tujuan Alice datang menemui Rachel. Dia telah mempersiapkan diri untuk memberitahu Rachel tentang pernikahan kilatnya dengan Klayver. Sekarang masalahnya, bagaimana ia mengungkapkan hal ini sealami mungkin sehingga Rachel tidak merasa curiga pada keputusan yang telah ia ambil?

__ADS_1


"Rachel, percayakah kau pada cinta saat pandangan pertama?" tanya Alice mulai ragu.


Selama hidupnya, Alice tidak terlalu mempercayai romantisme karena cinta kilat di awal pertemuan. Bagaimana mungkin sekarang ia menjelaskan teori ini pada temanya sendiri? Dengan dirinya sebagai tokoh utama. Wow. Benar-benar gila.


Rachel menggeleng kuat. "Tidak, mungkinkah ada cinta pada pandangan pertama?"


Alice mengerjap kebingungan. Rachel tak memercayainya. Memangnya apa lagi yang Alice harapkan?


Alice tengah sibuk memutar otak agar temanya mempercayai apa yang ingin ia sampaikan. Dia menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya, ini adalah sesuatu yang cukup sulit untuk ia lakukan. Seumur hidup, dia tak pernah melakukan sandiwara di depan sahabatnya sendiri.


"Ada, tentu saja ada, Rachel. Kau saja yang tidak tahu."


"Alice, cinta seperti itu hanya ada di dongeng-dongeng. Tak ada hal yang bisa mewakili situasi tersebut dalam realita." Alice mengambil secangkir kopi dan menyerahkanya pada temanya. Sepertinya pikiran Alice saat ini sedikit tak beres. Dia mendatangi dirinya hanya untuk membahas tentang cinta.


Bukan hanya cinta. Tapi cinta pada pertama kali jumpa. Ya Tuhan, sepertinya Alice terjebak dengan cerita romance sehingga ingin merealisasikan dalam alam nyata.


"Bagaimana jika kukatakan aku telah jatuh cinta secara membabi buta pada pertemuan pertama?"


Uhuk uhuk


Rachel terbatuk hebat beberapa kali. Dia memegangi perutnya untuk menenangkan diri dan menatap khawatir pada Alice. Mata Rachel berkaca-kaca. Wajahnya syok seketika.


"Oh, apakah aku membuat kesalahan?" Alice bertanya tanpa daya. Ya Tuhan, apa yang salah dari dirinya?


"Drama apa yang kau mainkan padaku, Alice? Aku tahu seberapa dalam kau mencintai Anson. Meskipun aku berharap suatu hari nanti akan ada cinta lagi untukmu, tetapi aku yakin pasti butuh proses lama untuk sampai di titik tersebut."


Boom.


Kata-kata Rachel bagaikan bom yang meledak di kepala Alice. Wanita itu terlalu peka menyadari setiap hal yang mengganjal dari temanya. Memang mustahil sebenarnya mendengar Alice jatuh cinta pada lelaki lain dalam waktu singkat. Memangnya, siapa yang cukup gila menpercayai ini semua?


"Rachel, aku serius, aku jatuh cinta pada orang lain lagi."


Rachel menatap Alice, seolah-olah Alice adalah makhluk astral dari planet lain.


"Jangan membuat lelucon, Alice. Hidupku akhir-akhir ini sudah penuh dengan drama," ujar Rachel melemparkan bantal ke arah temanya.


Bagaimana ini? Tak mudah untuk meyakinkan Rachel. Bagaimanapun juga, mereka telah berteman lama. Rachel terlalu paham bagaimana suasana hati dan sifat Alice sebenarnya.


"Aku serius, Rachel. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan kami memutuskan untuk menikah tiga belas hari lagi dari sekarang.."


Akhirnya Alice bisa menyampaikan kabar ini juga. Peduli setan Rachel akan menganggap gila ucapanya.


"Alice, kenapa tidak sekalian saja kau katakan bahwa bumi itu kotak? Kau pikir aku cukup bodoh untuk dibohongi seperti ini, Alice?"


Rachel berdiri dan menendang ujung kursi karena kesal dengan kebohongan temanya. Dia benar-benar sudah hilang kesabaran. Rachel tak lagi tertarik meladeni ucapan temanya.


"Alice, kau--"


"Rachel, aku bersumpah demi makam orang tuaku. Tanggal dua bulan depan adalah hari pernikahanku. Aku akan menikah dengan Klayver Vaquez, lelaki yang seminggu lalu kutemui."



Nb : Mengenai maraknya virus corona, semoga kita selalu dijaga oleh Tuhan YME dan semoga kalian selalu sehat selalu, menjalani hari seperti biasa.

__ADS_1


Big Love


Zulfya


__ADS_2