
Jasmine berdiri di balik jendela kamar dan memandang langit malam yang penuh bintang. Kerlip-kerlip cahayanya menciptakan titik-titik kecil membentuk keindahan.
Semenjak ia kecil, Jasmine telah mengagumi
pesona malam. Baginya, alam adalah suatu kejadian alam yang banyak menyimpan rahasia. Kegelapan merupakan tempat teka-teki paling besar. Di mana banyak hal yang tetap rapi disembunyikan di dalamnya.
Bulan adalah sinar yang paling dicintai oleh Jasmine dari pada matahari. Bagi wanita malam yang telah banyak tersesat oleh lika-liku kehidupan, bulan merupakan sesuatu yang lebih realisitis dari pada mentari yang agung. Sinarnya yang lembut dan cahayanya yang samar dalam menerangi malam bagaikan filosofi hidupnya sendiri.
Kehidupan kelam yang ia jalani membuatnya jauh dari cahaya. Jika pun ada, cahaya yang menyapanya adalah cahaya lembut dan samar. Bukan cahaya yang kuat dan dominan. Sehingga untuk merasakan cahaya tersebut, dibutuhkan konsentrasi yang panjang dan lama.
Lika-liku kehidupan telah membuat Jasmine sadar akan arti banyak hal. Dia menyadari bahwa di dunia ini, ada beberapa hal yang sulit untuk ia jangkau. Bukan materill. Dia sudah mendapatkannya dengan mudah. Yang sulit untuknya adah cinta dan kepercayaan lawan jenis.
Cinta merupakan sebuah definisi terlarang bagi Jasmine. Seribu kali ia membaca kisah romansa, tak ada satu pun dari narasi tersebut yang bisa ia terapkan dalam dirinya sendiri.
Pernah Jasmine merenung. Mungkin sepanjang kehidupannya, ia tidak ditakdirkan menemui cinta dan bersanding dengannya. Dia harus puas dengan apa yang ia dapati saat ini.
Jasmine mendesah panjang dan mengusap wajahnya dengan lelah. Dia letih menjalani kehidupan. Ada kalanya Jasmine ingin beristirahat dan diam sejenak, menikmati waktu tanpa beban moral yang coba ia tepis setiap saat.
Jasmine mencoba menampilkam diri sebagai wanita amoral yang tidak memperhatikan etika. Akan tetapi sejatinya, jauh di lubuk nuraninya beban itu tetap ada. Menggerogoti dadanya perlahan-lahan dari dalam. Tidak ada yang menyaksikannya, hanya saja ia merasakan hal tersebut semakin kuat setiap waktu.
Jemari Jasmine bergerak di bibirnya dan berhenti lama. Dia kembali teringat ciuman spontannya dengan Daniel tadi sore. Sesuatu yang ia niatkan sebagai tantangan untuk dirinya sendiri berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ada getar-getar asing saat ciuman tersebut terjadi. Sebuah reaksi yang tak pernah disadari oleh Jasmine. Seperti arus listrik yang bergetar, membuat percikan, dan semakin menbesar membentuk gelombang istimewa.
Ciuman itu merupakan awal dari apa yang ingin ia lakukan lebih. Ketika bibir mereka saling bersentuhan, seolah dunia berhenti untuk berputar. Senja menjadi latar belakang yang tidak ia sadari. Hangatnya mentari berubah menjadi hal lain dan semuanya terfokus pada ciuman tersebut.
Ini aneh. Sesuatu yang tak pernah Jasmine rasakan. Sesuatu yang baru ia cecap kali ini. Sesuatu yang menimbulkan tanda tanya dan ketakutan baru.
Beruntung, di saat Daniel mulai merespon ciuman mereka, Jasmine memutus kegiatan tersebut dan kembali ke akal sehat. Dia mundur beberapa langkah ke belakang, menatap Daniel sebentar dengan pandangan linglung dan pergi begitu saja.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jasmine merasa perlu melarikan diri dari sesuatu. Dia takut jika ia tetap di sana, dia akan melakukan banyak hal-hal konyol dan tak masuk akal.
Jasmine tak tahu apa yang akan dipikirkan Daniel mengenainya. Dia hanya ingin menggoda lelaki itu saja pada awalnya. Tak disangka berubah menjadi sesuatu yang lain.
Daniel pasti akan menertawakannya. Menilai Jasmine semakin murahan dan rendahan.
Yah. Peduli setan dengan semua pendapat Daniel. Jasmine tidak peduli. Berusaha untuk tidak peduli tepatnya.
Sebuah dering ponsel membuyarkan lamunan Jasmine. Dia meraih benda tersebut dari meja yang tak jauh darinya dan menatap nomor asing.
"Halo?" tanya Jasmine membuka pertanyaan.
"Ini aku, Klayver. Jasmine, situasiku sedikit memburuk di sini. Aku ingin kau semakin insentif menjaga Alice. Jika keadaan tak mendukung, bawa Alice pada keluarga Liecester."
__ADS_1
Jasmine sedikit tersentak. Jika Klayver telah merencanakan untuk membawa Alice dalam perlindungan keluarga Liecester, itu artinya masalah pasti berkembang di luar kendali Klayver.
Keluarga Liecester merupakan satu-satunya kartu as yang masih dimiliki Klayver. Bisa menjadi senjata dan bisa menjadi jebakan juga.
Awalnya Klayver berpendapat dia tak akan menggunakan keluarga Liecester dan menyangkut pautkan Alice terhadap mereka. Mengakui secara terbuka Alice adalah bagian dari keluarga Liecester merupakan sesuatu yang sangat beresiko. Semua musuh-musuh Klayver bisa mengambil kesimpulan identitas sebenarnya dan berbalik menyerang Alice.
Tetapi jika keadaan terdesak, satu-satunya keluarga yang bisa memberikan perlindungan paling tinggi dibanding Jasmine adalah keluarga Liecester. Jadi, Klayver akan mengambil resiko ini. Jika keadaan tidak lagi memungkinkan dan musuh-musuhnya mulai mengetahui siapa sebenarnya eyes evil, akan lebih aman Alice berada di New York. Lebih baik Alice menjadi sasaran musuh Klayver selama bisa berada dalam lindungan keluarga besar Liecester dari pada menghadapi bahaya seorang diri.
"Kau yakin menyuruhku membawa Alice pada keluarga Liecester?" Jasmine mengulang kembali permintaan Klayver.
"Ya. Tapi sebelum itu, lindungi dulu Alice semampumu. Jika keadaan semakin tak terkendali, bawa ia pada ibuku."
"Baiklah. Kau tidak ingin berbicara pada istrimu secara langsung?" Jasimine mencoba menawarkan sesuatu yang pastinya sangat diinginkan Klayver.
Terdengar suara desahan berat di seberang sana. Klayver pasti merasa dilema saat ini.
"Sampaikan salamku padanya. Saat ini aku belum bisa berkomunikasi dengannya." Ada kepedihan yang bisa Jasmine dengar dari suara temannya.
Jasmine tak ingin terlalu memaksa Klayver. Lelaki itu pasti memiliki alasan sendiri kenapa ia memilih menahan komunikasi dari istrinya sendiri.
"Sampai jumpa, Jasmine."
"Tunggu, Klayver." Jasmine tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tidak. Aku ingin memberutahumu jika kau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."
Ada jeda sejenak. Jasmine tak tahu apa yang tengah dirasakan Klayver saat ini. Dia hanya bisa menebak-nebak apa yang ia ucapkan pastilah membawa efek besar.
"Alice hamil?"
"Ya. Mengandung anakmu. Mungkin sudah dua bulan."
Tidak setiap hari seorang lelaki menerima kabar jika dirinya akan menjadi seorang ayah. Wajar jika berita tersebut mengejutkan Klayver dengan cara yang belum pernah Klayver rasakan.
"Kau yakin?"
Jasmine menggeleng pelan, bertanya-tanya kenapa lelaki seperti Klayver bisa sebodoh ini.
"Sangat yakin. Sudahlah, Klayver. Sampai jumpa." Jasmine menekan tombol reject dan mengakhiri sambungan.
Biar saja Klayver tenggelam dalam keterkejutan baru. Sekali-kali lelaki itu pantas diberi kejutan seperti ini. Membayangkan Klayver yang biasanya berekspresi dingin tengah dilanda berita seistimewa ini membuat Jasmine tertawa sendiri.
Klayver, seperti lelaki pada umumnya, memiliki kerapuhan pada seseorang yang disebut wanita.
__ADS_1
…
Klayver duduk di sebuah gudang persembunyian yang terbengkalai di sudut kota. Dia baru saja menghabisi dua orang musuhnya sekitar dua kilometer dari tempatnya berada melalui sebuah bom otomatis yang ia tanamkam di dalam rumah mereka.
Dua orang tersebut merupakan anak buah utama dari kepala geng mafia yang telah lama mengincarnya. Klayver menatap sebuah layar kecil di hadapannya dan merasa puas melihat mayat mereka yang tergeletak hancur terbakar dalam ledakan. Dia menyambungkan salah satu perangkat CCTV ke dalam ponselnya sehingga bisa dengan mudah mengontrol perkembangan aksinya.
Klayver bertindak secara hati-hati. Dia menutupi semua jejak dan sidik jari yang sekiranya bisa membawanya pada masalah rumit. Tetapi rupanya musuhnya adalah orang yang cukup brilian. Dia menyambungkan rekaman CCTV miliknya pada sebuah alat canggih yang berada di server pusat sehingga data apa pun yang pernah masuk, akan diteruskan ke dalam server utama milik organisasi mafia yang lebih besar.
Jadi, walaupun Klayver telah berhasil menghapus rekaman terakhir tentang dirinya, tetap saja hal tersebut tak berguna. Bos besar Rico dan Pollo, lelaki yang baru saja ia habisi, sudah berhasil menerima informasi mengenai Klayver.
Klayver baru menyadari situasi ini sekitar sepuluh menit yang lalu. Rekaman yang ia hapus dari CCTV dua kali kembali ke semula lagi, gagal ia hapus setelah tadinya berhasil dikosongkan. Setelah diteliti lebih jauh, ternyata data itu tersambung ke server pusat. Sialan memang. Klayver tak bisa mempertaruhkan dirinya sendiri dengan mencoba membobol server pusat saat ini. Semuanya terlalu beresiko. Dia kekurangan teknologi pendukung sehingga jika tetap melakukannya, Klayver hanya akan mengekspos dirinya lebih cepat.
Hal yang paling baik saat ini adalah bersembunyi. Klayver berspekulasi seandainya dari rekaman tersebut organisasi Black Hell telah mengetahui identitasnya, dia hanya bisa bermain dengan mengandalkan kecepatan untuk menghabisi mereka semua.
Black Hell. Merupakan organisasi mafia yang pernah ia rugikan beberapa kali karena ia berani membunuh anggota utama kelompok mereka. Wajar jika organisasi tersebut menyimpan dendam yang cukup kuat. Terbukti dari tindakan Rico dan Pollo yang diutus oleh organisasi untuk membuntuti semua tindakan Klayver. Dari situlah bisa disimpulkan posisi Klayver mulai tak aman.
Klayver menyugar rambut cokelatnya dan mendesah panjang. Fokusnya mulai terguncang lagi setiap kali teringat kabar yang baru saja Jasmine berikan untuknya.
Alice hamil. Di tengah-tengah situasi yang rumit ini. Dia hamil. Ya Tuhan, istrinya tengah mengandung buah cintanya. Sosok mungil yang ia nanti-nantikan.
Membayangkan Alice membawa kehidupan baru di dalam perutnya dan akan membesar seiring waktu membawa kehangatan sendiri bagi Klayver.
Ibarat musafir, Klayver telah lama melalui perjalanan tanpa arah. Mencari tujuan yang kian lama kian kabur.
Alice, adalah sebuah tujuan yang ia temui dalam pengembaraan. Sesuatu yang sangat berharga baginya, di mana demi dirinya ia pertaruhkan semua hal.
Ibarat keyakinan, Alice telah menjadi agama bagi Klayver. Kiblat bagi setiap nafas yang ia miliki.
Kini, di dalam rahim wanita itu telah tumbuh janin miliknya. Bagian dari diri Klayver yang akan Alice jaga hingga sembilan bulan lamanya.
Sebuah senyum hangat mulai terukir di sudut bibir Klayver. Bayangan ia akan menjadi seorang ayah telah menari-nari dalam benaknya. Bagaimana ia tidak bahagia melihat anak mungil yang nantinya akan memanggil Daddy dan bergelayut manja di tangannya?
Sebuah nikmat terbesar bagi Klayver adalah menemukan Alice dan dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Alice merupakan nilai yang selama ini dicari oleh jiwanya yang gersang. Oase yang diinginkan oleh tubuhnya yang dahaga.
Persoalannya saat ini adalah kerumitan masalah yang dialami oleh Klayver. Masalah-masalah selalu mengintai Klayver layaknya ngengat yang mendekati api. Klayver tak yakin berapa lama ia akan bergelut dengan setiap konflik dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya.
Yang Klayver inginkan adalah dia harus membatasi semua kekacauan-kekacauan itu dari Alice. Wanita itu terlalu murni, rapuh, lemah, dan ringkih. Seolah-olah Alice bisa tumbang hanya karena hal sepele.
"Alice sayang, kau masih terlalu lemah untuk saat ini," bisik Klayver bermonolog seorang diri. Dia menatap cincin pernikahan yang ia pakai di jari manisnya dan mengecup benda kecil tersebut penuh sayang.
Demi apa pun juga, Klayver bersumpah akan melindungi Alice dan anak-anaknya. Akan ia ciptakan surga kepada mereka semampu yang ia bisa. Selama nafas masih berhembus, selama angin masih menerpa, segenap diri Klayver akan ia persembahkan untuk Alice.
…
__ADS_1