Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
099 - SEASON 2


__ADS_3

Alice terduduk lemah di luar pintu kamar mandi. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar hebat. Tadi pagi setelah berolah raga, dia merasa lemas tiba-tiba dan mengalami flek. Seharusnya morning sicknessnya tidak separah ini. Tetapi baru saja ia mengeluarkan banyak cairan dari perutnya di wastafel kamar mandi. Setiap kali dia muntah, dia merasa fleknya semakin parah. Dia meneliti pakaian dalamnya dan menyadari fleknya semakin bertambah. Beruntungnya, flek itu masih tergolong ringan karena hanya berupa bercak dengan warna pudar.


Namun bagaimana pun juga, Alice tetap saja merasa khawatir. Dia memaksakan bangkit dan berjalan tertatih mencari William. Biasanya lelaki itu cukup cekatan jika mendapatkan sedikit saja keluhan dari Alice.


Alice merasa pening. Perjalanan keluar dari kamar mandi terasa lama sekali. Setiap langkahnya terasa berat dan menuntut Alice untuk menyerah setiap saat. Keringat dingin mulai membanjir di tengkuknya, menyebar ke punggung belakangnya dan membuat piyama katun yang ia kenakan terasa lembab.


Saat Alice telah sampai di lorong kamar, dia berhenti untuk sejenak. Nafasnya terputus-putus berusaha mengambil setiap oksigen yang tersedia. Paru-parunya bekerja dengan sangat keras. Dia terpaksa mendongakkan kepala ke atas dengan harapan agar lebih mudah dalam bernafas. Saat itulah Alice baru ingat, William masih sibuk menjaga Sila di rumah sakit sehingga kepala pelayan tersebut tidak ada di rumah. Bagaimana bisa Alice lupa pada hal penting seperti itu?


"Ya Tuhan, Alice. Ada apa denganmu?" Suara Jasmine terdengar samar-samar dari arah ujung lorong. Alice sempat melihat wanita itu berlari ke arahnya dan menopang tubuhnya ketika Alice merasa tak sanggup lagi untuk berdiri tegak.


Kesadaran Alice hanya tersiaa separuh saat ia dibawa ke lantai bawah dan dimasukkan mobil. Jasmine segera bergerak cepat saat ia melihat kondisi Alice kurang baik. Instingnya yang kuat mengatakan bahwa ada yang tak beres dengan kesehatan Alice. Dia mengatur sopir keluarga agar segera menbawa mereka ke rumah sakit terdekat.


Waktu terasa lama bagi Jasmine. Dia menunggu di luar ruang UGD untuk menanti kabar apa yang tengah terjadi pada temannya. Kelihatannya Alice baik-baik saja tadi malam. Tidak ada sesuatu yang mengindikasikan dia sakit atau sejenisnya.


Selama beberapa waktu Jasmine menunggu di kursi dingin rumah sakit. Dia mengambil ponsel dan memutuskan untuk menghubungi Rachel. Wanita itu merupakan teman dekat Alice. Dia pasti bisa menghibur Alice lebih baik saat nanti Alice tersadar.


Jasmine segera berdiri saat seorang dokter keluar dari ruangan Alice dengan stetoskop yang ia kalungkan di leher.


"Dok, bagaimana keadaan Alice?" tanya Jasmine merasa cemas. Dia menatap dokter yang telah berusia lima puluh tahunan dengan rambut kaĺaaa1epala setengah botak.


"Apakah anda keluarganya?" tanya sang dokter.


"Saya teman dekatnya." Jasmine mengangguk mantap. Dia melirik ke dalam ruangan Alice dengan pandangan was-was.


"Apakah kondisi Alice cukup serius?" tanya Jasmine kembali mengulangi pertanyaan sebelumnya.


Dokter tersebut mengulúm senyum kecil, berusaha untuk menenangkan Jasmine. Dia menepuk bahu Jasmine dengan sikap kebapakan.


"Jangan khawatir, Miss. Mrs. Vaquez hanya anemia dan kelelahan fisik sehingga dia mengalami flek ringan terkait dengan kandungannya. Nanti aku akan meresepkan beberapa obat dan multifitamin. Sementara ini cobalah awasi temanmu agar ia tak melakukan aktifitas yang menguras tenaga dan perbanyak istirahat di atas ranjang."

__ADS_1


Jasmine tersenyum lega. Setidaknya kondisi Alice tak separah apa yang ia takutkan. Alice hanya perlu beristirahat dan mengurangi akrifitasnya.


"Mungkinkah selama ini Mrs.Vaquez terlalu memforsir tenaga?" tanya sang dokter.


Jasmine meringis kecil. Bagaimana bisa dia menjelaskan pada dokter itu bahwa setiap pagi dan sore Jasmine selalu melatih Alice dengan olah fisik yang cukup keras? Jasmine pasti akan dikutuk oleh dokter itu jika ia berterus terang.


"Mungkin. Dia seorang wanita yang terlalu aktif." Jasmine memilih untuk sedikit berbohong. Dalam hati, ia merasa bersalah karena telah mendorong Alice hingga ke titik ini sehingga ia lupa wanita itu pada dasarnya sedang hamil. Wanita hamil memiliki banyak keterbatasan dalam berbagai bidang, terutama dalam menggunakan tenaganya.


Jasmine merasa telah bertindak bodoh. Dia perlu meminta maaf pada Alice nanti. Dia menjadikan wanita itu melakukan banyak hal yang ia tuntutkan hanya agar menjadi lebih kuat. Lihat saja hasilnya. Tubuh Alice berteriak protes dan meminta hak untuk beristirahat.


Setelah dokter memindahkan Alice ke ruang rawat umum dan mengijinkan menerima kunjungan, Jasmine segera saja memasuki ruangan Alice. Temannya itu telah bangun dan menyambutnya dengan senyum kecil. Sebuah jarum tampak di tangan kirinya, terhubung langsung dengan selang infus. Wajah Alice terlihat sedikit pucat. Dia melambaikan tangan pada Jasmine dan menunjuk kursi di samping dipan untuk memberi isyarat agar wanita itu duduk di sana.


Jasmine membalas senyum Alice dengan sama hangatnya. Dia duduk di sebelah temannya dan memandang air muka Alice yang redup.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jasmine khawatir.


"Baik. Hanya sedikit kelelahan." Alice masih tersenyum kecil. Wajahnya jadi terlihat semakin tirus saat wanita itu sedang sakit. Jasmine menatap lantai beberapa saat sebelum akhirnya memandang wajah Alice kembali.


Wanita itu baru saja mengalami flek. Beruntung hanya flek ringan. Jika sampai terjadi pendarahan atau bahkan keguguran, Jasmine pasti akan menjadi target pembunuhan Klayver selanjutnya.


Mungkin bukan target Klayver. Sebelum lelaki itu memburunya, Jasmine lebih suka dia mengakhiri hidupnya sendiri. Jasmine tak pernah seteledor ini sebelumnya. Tindakannya benar-benar tak bisa ditoleransi.


"Oh Ya Tuhan, Jasmine. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Bukan engkau yang salah, kondisiku saja yang tidak memungkinkan. Memang aku yang terlalu menyepelekan kesehatan. Kupikir kehamilan ini akan sama dengan kehamilan sebelumnya, ternyata reaksi tubuhku berbeda dalam menerima banyak aktifitas." Alice berkata lembut, dia duduk bersandar di kepala ranjang yang telah diatur otomatis dengan tambahan bantal lembut sehingga posisinya nyaman.


"Jika mau diakui, memang akulah orang yang telah mendorongmu sampai ke batas paling keras dari yang bisa diterima fisikmu. Aku benar-benar menyesal, Alice." Jasmine menggenggam tangan Alice dan menatap wanita itu dengan penuh sesal.


Alice mengamati penampilan Jasmine. Dia hanya memakai kaos kasual dengan jins selutut sederhana, jauh dari gayanya selama ini. Wajahnya tanpa riasan sama sekali. Tetapi dengan penampilan seperti ini, Jasmine justru terlihat menguarkan aura kelembutan yang baru. Alice lebih menyukai penampilan wanita itu sekarang.


"Berhentilah bertingkah seperti itu, Jasmine. Sekarang yang terpenting adalah aku baik-baik sak. Hanya butuh istirahat ekstra dan dituntut bertingkah layaknya pemalas." Alice sedikit cemberut. Dokter telah menyarankan selama satu atau dua bulan ini dia harus lebih banyak istirahat. Tidur adalah aktifitas yang dianjurkan oleh dokter. Pikiranya juga tak boleh stress. Sebisa mungkin harus santai tanpa memikirkan beban berlebihan. Terutama beban pekerjaan.

__ADS_1


"Baiklah. Setelah ini, aku berjanji akan menjagamu lebih baik lagi." Jasmine bertekad dalam hati ia akan lebih serius dalam menjaga Alice. Selain ia telah dibayar banyak oleh Klayver, ia juga memiliki ikatan secara emosional kepada Alice. Bagi wanita yang jarang menemukan apa artinya teman, Alice telah menjadi orang yang mampu ia anggap istimewa.


"Alice!" Rachel membuka pintu ruang rawat Alice dengan tiba-tiba. Dia terlihat khawatir dan berjalan mendekat kepada temannya dengan tergesa-gesa.


"Rachel, bagaimana kau bisa berada di sini?" Alice terlihat terkejut mendapat kunjungan temannya yang mendadak.


"Jasmine yang telah mengabariku. Dia mengatakan kau tidak sehat dan dirawat ke rumah sakit. Aku langsung menuju ke sini secepat yang aku mampu. Aku juga sudah menghubungi Daniel. Sebentar lagi dia pasti akan tiba di sini." Rachel duduk di sisi ranjang Alice dan menatap selang infus dengan pandangan khawatir.


Dia menatap Jasmine, mencari jawaban tanpa kata.


"Dia kelelahan dan anemia. Tadi sempat mengalami flek ringan. Sementara ini harus banyak beristirahat." Jasmine menjelaskan secara singkat. Dia tak ingin membuat Rachel semakin cemas.


"Kau memang terlalu memforsir tenagamu akhir-akhir ini. Mungkin kau memang harus melalui ini dulu sebelum akhirnya mengurangi semua aktifitasmu. Sementara ini, biar Daniel dan Jasmine saja yang menghandel pekerjaanmu. Bukankah mereka berdua cukup ahli dan cekatan dalam bisnis?" Rachel mengusulkan. Dia menatap Alice bangga seolah-olah ia berhasil mempersembahkan jalan keluar yang paling baik.


"Tidak perlu begitu. Aku memiliki banyak asisten yang bisa kuandalkan. Jasmine dan Daniel pasti sudah sibuk dengan perusahaan mereka sendiri." Alice tersenyum menenangkan ke arah Jasmine.


Secara tidak langsung, Jasmine berterimakasih kepada Alice. Demi apa pun juga, dia tidak akan pernah bisa bekerja sama dengan Daniel. Termasuk menghandel usaha milik Alice. Bukannya Jasmine keberatan, tapi antara dia dan Daniel terlalu banyak pertentangan.


"Jasmine, Axel belum tahu tentang kondisiku. Bisakah kau menyampaikan pada Axel dan Helena dan menenangkan mereka? Aku takut mereka terlalu histeris." Alice memandang penuh permohonan pada Jasmine. Helena adalah orang yang mudah khawatir. Alice takut wanita baik itu akan histeris mendengar ia dirawat di rumah sakit.


"Baiklah. Jika begitu, lebih baik aku segera pulang sekarang. Akan lebih efektif aku mengabari mereka secara langsung dari pada melalui ponsel." Jasmine berdiri, merapikan kaosnya yang sederhana dan melambikan tangan sekilas kepada Rachel untuk berpamitan.


"Nanti sore aku akan ke sini lagi," janji Jasmine keluar ruang rawat.


Dalam hati, Jasmine bersyukur dia bisa segera pulang saat ini juga. Membayangkan sebentar lagi Daniel akan tiba di sini dan harus berada satu ruangan dengan lelaki itu membuat Jasmine merasa tak nyaman.


Setelah kepergian Jasmine, Rachel memandang Alice dengan tatapan penuh tanya. Keningnya sedikit berkerut karena rasa penasaran.


"Jasmine bisa berpakaian kasual juga ternyata. Kupikir seluruh isi lemarinya hanya ada lingerie dan gaun seksi saja," komentar Rachel berterus terang.

__ADS_1


"Hahaha, aku juga sedikit terkejut tadi. Sepertinya dia terburu-buru membawaku ke rumah sakit dan mengurusi administasiku, sehingga tak sempat memperhatikan penampilannya. Tetapi jika mau diakui, aku lebih suka Jasmine yang seperti ini." Alice menanggapi komentar Rachel dengan senyum kecil. Dia merasa mulai menemukan pribadi Jasmine yang sebenarnya



__ADS_2