Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
045 - SEASON 2


__ADS_3

Bagi sebagian orang, malam adalah waktu untuk terlelap. Mengais mimpi indah untuk mengobati lelahnya kehidupan siang. Merebahkan tubuh dan menyambung istirahat.


Bagi sebagian lainnya, malam adalah kehidupan baru. Saling mengenal dan menjelajahi banyak hal, menyentuh dan disentuh, memuja dan dipuja.


Malam mampu menjadi bahasa cinta. Mendeklarasikan banyak rasa. Memberikan jutaan keajaiban.


Di sini, di tempat ini, Klayver dan Alice menciptakan keindahan baru. Mereka saling menyatu, mengenal satu sama lain. Memadu kasih di balik keremangan lampu.


Sinar jingga yang menyinar samar menjadi saksi bagi ikatan baru yang mereka jalin. Kegelapan di luar sana menjadi latar yang sangat sempurna.


Sudah menjadi hukum alam tubuh akan menyambut pasangannya dengan segala tari keindahan. Sentuhan akan menuntut semua karsa. Rasa akan menuntut semua pengakuan.


Alice tak pernah menyangka penyatuannya besama Klayver menjadi hal yang paling berharga. Bersamanya, dunia seolah menunjukkan semua warna. Melingkupi mereka berdua dalam harmoni yang paling merdu.


Alice tersenyum, mendesah puas dalam pelukan suaminya. Dalam rengkuhan lelaki ini, semua beban hidup seolah lenyap tak lagi terasa. Segala duka menghilang tak tersisa. Semua hal seolah mengecil. Menjadi latar belakang yang tak berarti.


"Bagaimana bisa ikatan fisik terasa sesempurna ini saat aku melakukannya denganmu?" Klayver memeluk istrinya penuh rasa sayang. Dia menatap bahu Alice yang mengkilat penuh keringat karena aktifitas mereka.


Klayver menyeret selimut dengan sebelah kakinya yang bebas dan menutupi tubuh mereka berdua dalam selimut yang sama. Tatapan mata Klayver penuh kepuasan.


"Oh ya? Kupikir kau seorang Jon duan yang telah banyak menyanding ratusan wanita sehingga aku tak lagi memiliki arti sepenting itu." Alice tersenyum kecil, sinar matanya penuh kelembutan.


"Mereka hanya sekadar olahraga bagiku," ujar Klayver tak peduli. Tangannya mengelus lembut surai merah istrinya dan menjalin helain-helaiannya dalam jemari.


Sepanjang kehidupan Klayver, dia tak pernah merasa sesempurna ini dalam menjalin hubungan.


Klayver tak tahu keistimewaan apa yang telah Tuhan berikan pada Alice. Yang jelas, penyatuan mereka terlalu indah sehingga Klayver merasa selama ini telah melewati hidup panjangnya dalam kehampaan.


Setelah ia mengklaim Alice, Klayver memiliki semacam ikatan kuat yang mustahil untuk ia lepas begitu saja.


"Kau terlalu indah, Alice." Klayver berbisik persis di telinga Alice. Ia meng*lum senyum, menampakkan keramahan yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.


Tak pernah hati Klayver merasa seposesif ini terhadap seseorang. Perasaan ingin melindungi, memiliki, dan menjadi satu-satunya.


Bahkan Holy tak pernah memunculkan reaksi seperti yang kini ia rasakan. Apa yang ia miliki untuk Holy hanya sekadar kegilaan yang berlangsung sesaat. Klayver baru menyadari, mungkin apa yang ia rasakan untuk Holy hanyalah obsesi.


"Aku tidak yakin seorang pembunuh mampu menganggap indah sesuatu." Alice menatap netra keemasan milik suaminya. Ada ketulusan yang terlihat kuat di sana.


Klayver meraih dagu Alice dan menahannya agar mereka saling berhadapan.


"Aku tahu jiwaku telah rusak. Terlalu rusak. Tapi bukan berarti instingku lenyap. Di sini …." Klayver menunjuk dadanya. "aku masih bisa merasakan keindahan yang kau pancarkan."


Alice merasakan kecupan lembut di garis dahinya. Ciuman Klayver terasa semanis madu. Mata Alice berkaca-kaca menatap suaminya.

__ADS_1


"Kupikir aku tak akan pernah bisa menikmati perasaan ini lagi setelah Anson tiada. Tetapi kehadiranmu mampu menggebrak seluruh kesadaranku dan membuatku memberikan lebih dari yang kupikir." Air mata merembes keluar membasahi kedua pipi lembut Alice.


Klayver membeku menyaksikan hal ini. Dia memejamkan mata dan mencoba menolak sesuatu. Hatinya mulai dihinggapi kekacauan.


"Alice, jangan terlalu mengambil hati tentang keberadaanku. Aku tak ingin kau terluka karena menanggung harapan kosong." Klayver membuka matanya kembali dan memandang Alice tak yakin.


Klayver tahu mungkin kata-katanya terlalu kejam. Tetapi Klayver hanya mencoba untuk berpegang pada kenyataan. Dia hanyalah pembunuh bayaran. Akan sulit baginya membentuk emosi nyata kepada Alice.


Alice yang mendengar tanggapan Klayver merespon dengan dehaman rendah. Dia mengusap wajah Klayver dan berkata tulus.


"Seseorang yang tidak pernah berharap, tak akan pernah menemukan bintang keberuntungan. Kita hanya hidup sekali. Untuk apa takut menggapai harapan? Aku bukan wanita pengecut, meskipun kuakui aku terlalu lemah, Klayver," aku Alice apa adanya.


Ada keheningan yang panjang di antara mereka. Klayver terlihat tenang bagaikan kain tak beriak. Pandangannya datar, sinar matanya redup. Tetapi Alice tahu di balik sikap diamnya lelaki itu tengah berpikir sesuatu. Dia diliputi banyak kebimbangan.


Hidup berjalan dengan menyimpan tanda tanya besar. Seperti sebuah puzzle acak yang menunggu untuk dipasang.


Mungkin sekarang kebersamaan mereka terlihat tepat. Tetapi jauh ke depan, Klayver tak tahu apakah ini akan membawa dampak buruk ataupun tidak. Bagaimanapun juga, dunia Klayver terlalu kelam. Banyak bahaya yang menantang maut. Jujur, di dalam hati, Klayver tak akan pernah sanggup menyeret Alice sejauh itu.


Setiap orang memiliki kemampuan sendiri untuk berjalan dan menentukan langkah. Ada yang memiliki kekuatan besar untuk menentang arus, ada pula yang bahkan tak memiliki kekuatan sama sekali untuk tetap berdiri tegak. Dalam hal ini, Alice termasuk orang yang cukup lemah untuk tetap tinggal dalam dunia yang Klayver pilih.


Mereka saat ini ditakdirkan bersama, tetapi mereka sangatlah berbeda satu sama lain. Seperti iblis dan malaikat. Yang satu hidup dengan cahaya, yang satu hidup dengan kegelapan. Penyatuan hanya membuat keduanya melemah.


Sesuatu yang kontradiktif, hanya akan bisa saling mengimbangi dan bergantian hadir. Layaknya siang dan malam. Ketika cahaya matahari pergi, kegelapan hadir. Begitu pun sebaliknya. Tidak akan pernah bersatu dalam keadaan yang sama.


Dia tak ingin melukai Alice dan menjatuhkan harapan muluk wanita itu, tetapi Klayver juga tak ingin membohongi Alice dengan khayalan-khayalan tinggi. Kondisi mereka sudah rancu dari awal.


Alice menghela nafas berat. Dia semakin menyurukkan wajahnya ke dada bidang Klayver. Pikirannya ingin menyangkal kata-kata Klayver, tetapi logikanya terpaksa menerima.


Apa yang disampaikan Klayver adalah kebenaran. Hubungan mereka hanya akan semakin rumit jika Alice menuntut banyak hal dari hubungan ini. Ada banyak batas di antara mereka.


Kisah mereka bukan kisah dongeng romantis di mana cinta bisa dikejar begitu saja. Ada banyak faktor yang menghadang dan variabel-variabel lain yang menghambat mereka. Tidak selalu kata cinta dan sayang menjadi akhir dari setiap masalah. Mereka hidup dalam dunia nyata yang menuntut untuk selalu bersikap realistis.


Alice memahami ini. Klayver pun demikian. Akan lebih baik bagi mereka agar tidak mengumbar kata cinta dan tetap menjaga hubungan mereka tetap pada jalurnya. Inilah yang terbaik. Bukan karena mereka tak ingin, tetapi perbedaan adalah sesuatu yang sulit untuk mereka tembus.


Alice melarikan tangannya ke sepanjang tulang bahu Klayver yang lebar. Matanya menyiratkan rasa sayang. Dia tersenyum kecil dan tertawa lembut.


"Jangan khawatir, Klayver. Aku tidak akan menuntut hubungan kita ke arah yang mustahil. Setidaknya, selama beberapa tahun ke depan, berikanlah surga seperti yang kau janjikan kepadaku. Hanya itu keinginanku."


Klayver menangkap duka yang samar di kedua netra Alice. Hatinya terasa diremas, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya inilah yang bisa ia tawarkan pada wanitanya.


"Tentu saja, aku akan membuat hidupmu seperti di surga. Katakan padaku, apa yang kau inginkan?" tanya Klayver lembut.


Alice tertawa kecil, merasa bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan. Bahagia karena Klayver bersedia melakukan apa pun untuknya, sedih karena hubungan mereka hanya dibatasi waktu yang sangat singkat.

__ADS_1


"Hanya ingin kau tetap di sisiku selama waktu kengijinkan. Oh tunggu," Alice sedikit berpikir, "sebenarnya aku memiliki satu permintaan sederhana. Cobalah bermain dengan Axel. Aku ingin hubungan kalian lebih baik," pinta Alice lirih.


Klayver menarik bibirnya, membentuk senyum kecil. Kepribadiannya terlalu tertutup. Bersikap ramah adalah sesuatu yang sulit untuk Klayver lakukan. Tetapi demi wanita ini, akan ia lakukan apa pun untuknya. Tidak peduli ia harus melalui banyak onak dan duri.


"Baiklah, my queen. Anything for you." Klayver mengecup puncak kepala istrinya dan mengusapnya lembut.


Wanita ini telah mengenalkan Klayver pada kelembutan. Dia melihat banyak hal melalui diri Alice. Bagaimanapun caranya, ia akan berusaha membahagiakan Alice selama waktu mereka bersama. Setidaknya, ia ingin memberikan kenangan indah yang abadi.


"Besok, kau harus mulai menemani Axel sarapan." Alice berkata tegas.


Klayver yang mendengar permintaan Alice hanya bisa menggeleng pelan. "Bukankah selama aku berada di sini selalu menemani kalian sarapan?" tanyanya tak mengerti. Wanita memang sedikit rumit.


"Menemani dalam hal ini bukan hanya berarti secara harafiah. Selain menemani, kau harus membimbingnya, mengobrol dengannya, dan membuat pendekatan secara emosi. Kau bersedia?"


Alice ingat ruang makan akan terasa seperti kuburan setiap waktu sarapan. Klayver dan Axel akan sibuk dengan dunianya masing-masing. Hanya Alice-lah yang menjadi penengah bagi mereka.


Alice tak ingin Klayver dan putranya seperti dua orang asing yang hanya akan menyapa selamat pagi dan selamat malam secara formal.


Meskipun Klayver mengakui dia sebenarnya peduli terhadap kehidupan Axel, tetapi Alice ingin mereka membentuk sebuah ikatan secara nyata. Bukan hanya sibuk dalam diam. Hubungan seperti itu patut mereka perjuangkan.


"Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku sudah bilang padamu jauh di dalam hati, aku mempedulikan putramu lebih dari yang kau duga." Klayver mencium kening Alice, mengusap surai merahnya kembali dengan lembut. Gerakannya sangat ahli, membuat Alice mau tak mau jadi ingin tertidur.


"Aku tahu, tetapi aku butuh kalian untuk saling berinteraksi layaknya orang normal." Alice msngerjap beberapa kali, merasa kantuk mulai menyerang.


"Baiklah, Alice. Aku akan melakukan sesuai yang kau harapkan. Tidurlah, Alice. Kau terlihat sangat lelah," Kata Klayver pengertian. Dia semakin merengkuh Alice dan menepuknya lembut, membuat Alice menyerah dengan rasa kantuk. Mata Alice mulai terpejam dan terlelap dalam hitungan menit. Nafasnya terdengar teratur dan dadanya naik turun dengan konsisten.


Klayver masih terjaga, menatap istrinya yang tertidur selama satu jam lebih.


Tubuh Klayver terbiasa ditekan dalam keadaan sulit sehingga ia bisa menahan kantuk. Ia bisa tidur selama satu atau dua jam sehari. Kesadaran yang ia miliki juga telah ia bentuk sebegitu rupa sehingga bahkan dalam keadaan tidur, indera-indera lainnya masih sensitif dengan keadaan.


Klayver menatap tekstur lembut wajah istrinya yang cantik. Wanita ini anggun dan berkharisma. Sulit dipercaya ia mampu memilikinya secara utuh. Beberapa saat yang lalu, mereka telah melakukan berkali-kali penyatuan. Wanita ini membuat ia tertarik secara membabi buta. Sekali menyentuh, membuat hasratnya yang lain ikut bangkit dan mendorong Klayver untuk memiliki lagi.


Beruntung stamina Alice termasuk kuat untuk mengimbanginya. Jika saja wanita ini ringkih, Klayver yakin ia telah menghancurkan Alice habis-habisan. Sulit dipercaya di sampingnya, Klayver selalu mudah keluar dari kendali diri yang telah lama ia bentuk.


Alice adalah wanita yang lembut dan secantik peri. Karakternya tidak tercela sama sekali. Wajahnya sepolos malaikat. Tetapi sosoknya mampu membangkitkan semua keinginan Klayver yang terpendam. Dia laksana heroin paling memabukkan. Menyesapnya hanya akan memancing candu lain yang lebih besar.


Klayver memejamkan mata dan ikut terlelap seperti Alice. Rasa damai menyeruak lembut di sela-sela hatinya. Ini, adalah malam pertama ia merasakan kenyamanan setelah delapan tahun ia terombang-ambing dalam kehampaan.


Dalam hati Klayver, ia mulai bertanya, mungkinkah mereka bisa selamanya bersama?


Kapan ia bisa memiliki pernikahan hingga nafas terakhir?


__ADS_1


__ADS_2