Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
032 - SEASON 2


__ADS_3

Alice terbengong. Peralihan pembicaraan ini membuat pemahamannya sedikit melambat. Dia menatap Xander lumayan lama sembari mengumpulkan kesadarannya.


"Aku tidak melihat hubungan pertanyaan itu untuk kasus ini sekarang. Siapa pun dia, dia adalah orang yang sudah lama berada di sisiku dan peduli padaku. Aku tak bisa membiarkan ia dibantai begitu saja olehmu. Tolong, pahami kenyataan ini, Klayver."


Salah satu sifat yang sulit hilang dari Alice adalah keras kepala. Dia bisa benar-benar teguh jika telah menginginkan sesuatu. Terkadang karena sifat inilah Alice sering kali terbentur kondisi pada lingkungan sekitar.


"Ini bukan masalah seberapa besar dia memiliki arti untukmu atau tidak. Dalam dunia, ada rumus di mana benar dan salah. Kuat dan lemah. Membunuh dan dibunuh. Semuanya memiliki keterkaitan. Karena dia telah melakukan hal yang salah padaku, maka aku akan mencarinya dengan seluruh kekuatan untuk memburu dan membungkamnya.


"Tidak ada kamus siapa orang itu atau sedekat apa orang itu. Bahkan jika kau melakukan hal serupa, tidak peduli kau menduduki posisi sebagai istri, aku tetap akan membantaimu. Percayalah, aku bisa membunuhmu dengan mudah. Jadi mulai sekarang, pahami posisimu dan ambil batas untuk bersikap padaku."


Kali ini, ada kemaraham dalam mata Klayver. Setelah sekian lama Alice melihat lelaki tersebut selalu dingin dan tak pernah terbaca, sekarang semua tubuhnya menguarkan aura kemarahan.


Alice tidak bisa memperkirakan seberapa besar kemarahannya. Tetapi melihat udara yang semakin tertekan dengan aura Klayver, pasti emosi lelaki itu cukup besar.


Tengkuk Alice merinding. Tangannya secara otomatis terkulai kaku di sisi tubuh. Tanpa sadar, dia mengambil langkah mundur melihat aura berbahaya yang Klayver miliki.


Sangat menakutkan. Alice ingin berbalik pergi dan bersembunyi. Jiwa kanak-kanaknya benar-benar menguasainya saat ini.


Tetapi ada sebuah kekuatan yang menahan Alice. Nyawa Daniel. Jika ia mundur dan berbalik pergi, kehidupan Daniel akan terancam. Hilang diambil oleh tangan dingin Klayver. Dia adalah eksekutor yang kejam.


"Klayver," Suara Alice mencicit. Tenggelam dalam dominasi Klayver yang sangat kuat.


Sialan. Kemana keberanian yang Alice agung-agungkan selama ini jika digertak Klayver saja seluruh tubuhnya berubah seperti jeli?


"Apa yang bisa aku lakukan agar kau berhenti memburu Daniel?" Kedua netra Alice mengerjap perlahan. Manik matanya menyimpan harapan tipis yang masih coba ia genggam.


Klayver mengamati Alice dan menyadari sesuatu. Selain gegabah dan tak bisa menyembunyikan emosi, wanita itu juga sangat keras kepala. Ketika ia menginginkan sesuatu, matanya memiliki tekad kuat yang mendorongnya maju, meskipun kondisi dan situasi menentangnya.


Wanita rapuh yang keras kepala. Tidakkah ia sadar dengan kekeraskepalaan itu hidupnya bisa hancur sewaktu-waktu? Klayver tidak tahu apakah harus merasa kasihan atau kagum. Alice, seperti kupu-kupu yang melawan angin. Akan mudah terhempas dan tak memiliki sayap.


Pantas Anson menikahinya. Klayver mendengar lelaki itu dulu sangat memuja Alice. Siapa yang tidak akan tergoda dengan wanita yang cantik dan unik seperti Alice? Semua yang ada pada diri Alice seperti dua kontradiksi yang saling berbaur. Rapuh, tetapi kuat. Tak berdaya, tetapi keras kepala. Lugu, tetapi gegabah. Bagaimana mungkin orang seperti itu menghadapi dunia? Watak yang ia bawa membuat jiwa lelaki mendekat dan melindunginya. Menyelamatkan keindahan yang ia tawarkan.


"Kau yakin ingin menawarkan sesuatu pada iblis sepertiku?" tanya Klayver memancing ketakutan baru dalam nada suaranya.


Alice menelan ludah. Dia menggerutu dalam hati. Kenapa sangat sulit berurusan dengan Klayver? Lelaki itu terlalu arogan dan tidak ada merendahnya sama sekali. Egomania sejati.


"Bukankah kau memang suka bertransaksi? Kau bukan orang tulus yang mudah meluluskan permintaan orang tanpa imbalan." Keberanian Alice kembali muncul, meninggalkan ketakutannya untuk sejenak.


"Aku mungkin tertarik menukarnya dengan sesuatu, tetapi itu pasti akan berat bagimu." Klayver menimbang-nimbang sebuah pilihan yang ada. Dia memikirkan sesuatu dengan serius. Sinar matanya kembali hampa, tak lagi terbaca.


"Tidak masalah. Selama kau menjamin kehidupan Daniel. Jangan buru dia lagi." Alice berkata meyakinkan.


Jika ini adalah sebuah cara untuk membuat hidup Daniel kembali utuh, akan ia lakukan. Ikatannya dengan Daniel memang sedikit rumit. Tetapi yang jelas mereka saling terikat kesetiakawanan satu sama lain.


"Aku akan membicarakan ini setelah kunjungan kita ke rumah Mom seminggu yang akan datang." Kalyver memutuskan dengan tegas. Dia sudah memikirkan hal ini cukup lama sehingga menundanya sebentar tak akan apa-apa.


"Jadi kita benar-benar akan mengunjunginya?" Avery terlihat syok. Mengunjungi orang yang pernah menodong kepalanya dengan pistol bukan sesuatu yang menyenangkan.


"Ya. Kita akan mengunjungi keluarga besarku." Klayver berkata santai. Dia seolah-olah tak peduli keberatan yang terpancar dari mata Alice.


"Keluarga besar? Kau masih memiliki keluarga besar?" Mata Alice semakin membulat sempurna. Wajahnya terlihat memucat sedikit. Bibirnya bergetar.


"Ya. Mom, Dad, dan saudara-saudariku. Apa kau pikir aku lahir dari batu dan tidak memiliki silsilah keluarga?" Kalyver berkata ringan.


Kedua lengan Klayver ia silangkan di depan dada. Lelaki itu menikmati reaksi ketakutan yang terpancar jelas dari sorot mata Alice. Wanita ini seperti buku yang terbuka lebar. Setiap emosi dan perasaan yang ia miliki sangat jelas terlihat.


Padahal Klayver sudah mengatakan untuk mulai menyembunyikan emosi. Rupanya wanita itu masih juga tak melakukan sarannya.


"Oh, benar-benar keluarga besar." Seru Alice tergagap.


Keluarga besar. Ya Tuhan. Keluarga besar dari seorang pembunuh tingkat tinggi. Ibunya saja sekeras itu. Bagaimana ia bisa menghadapi ayah dan semua saudara-saudaranya? Alice merasa gamang. Dia ingin menghilang dari muka bumi sekarang juga.


Terjebak dengan Klayver saja sudah menjadi kerumitan besar. Apalagi jika terjebak pada sekumpulan keluarga yang memiliki gen sama sengan Klayver? Apakah mental Alice bisa menerima semua ini?


"Kupikir, Axel akan lebih baik tidak ikut kita."

__ADS_1


Pikiran pertama yang bisa Alice ingat adalah menyelamatkan anaknya sejauh mungkin dari sekelompok keluarga yang menakutkan. Masa depan anak itu masih cerah. Tak layak ia mendapat perlakuan buruk dari orang lain. Alice harus berjaga-jaga dari sekarang, agar anak itu tak bertemu keluarga Kalyver.


Kelihatannya, dia akan merepotkan Rachel lagi untuk menjaga putranya. Alice merasa tak nyaman jika meninggalkan Axel di rumah hanya bersama Helena. Dia masih ingat Klayver dan Anson memiliki musuh yang tersembunyi.


Tak ada yang tahu kapan mereka akan menargetkan rumah ini dan membantai orang-orang di dalamnya. Alice harus waspada agar jangan sampai meninggalkan Axel tanpa pengawasan.


"Terserah kau akan membawanya atau tidak. Tak apa jika kau membawanya. Saudaraku mungkin bisa membantu menjaganya."


"Tidak. Tidak. Tidak perlu. Aku tak terbiasa membawa Axel pergi jauh."


Alice meradang. Jika saudara Klayver menjaga Axel, itu artinya dunia benar-benar kiamat bagi Alice. Tak ada yang tahu kegilaan seperti apa yang akan mereka tularkan pada putranya.


"Baiklah." Sudut Klayver sedikit bergetar, menahan senyum. Wanita ini benar-benar polos. Ketakutan dan kekhawatiran terlihat jelas di raut wajahnya. Tak sulit menebak apa yang tengah dipikirkan Alice saat ini.


"Ibuku juga bisa menjaga anak-anak, jika kau tak keberatan--"


"Tidak! Tidak, Klayver! Aku tak akan membawa Axel pergi! Tak akan pernah!" Alice berjalan menjauh dengan wajah pucat pasi.


Gila. Benar-benar gila. Klayver menyuruh Axel dijaga oleh Violin. Wanita berdarah dingin sepertinya sangat mustahil bisa berbaur dengan anak-anak. Menyerahkan Axel padanya sama saja menyerahkan Axel pada tangan iblis untuk dipermainkan.


Setelah kepergian Alice, sebuah tawa kecil keluar dari bibir Klayver. Lelaki itu mengawasi kepergian Alice dengan binar mata yang hangat.


Sejenak, Klayver terdiam lama dan kembali tersadar. Kapan terakhir kali ia memiliki tawa sehangat ini untuk seseorang? Kapan terakhir kali hatinya merasa sejuk melihat seseorang?


Delapan tahun ia hidup dalam kegelapan. Tak tersentuh oleh apa pun. Sekarang, wajah asing itu muncul, menyeruak dalam, dan membuat ia memiliki senyum kembali.


Jujur, reaksi ini sedikit menakutkan.



Mr. Souvery Kinston duduk di salah satu kursi tinggi di sisi meja bundar. Dia menatap dua orang di sisinya. Andre, lelaki tua berusia enam puluhan dan Adam, lelaki berusia awal empat puluhan.


Adam adalah pebisnis anggur dan kopi yang sukses. Dia memiliki berhektar-hektar ladang di daerah Sao Paulo, Brazil. Tubuhnya yang gempal dengan rambut ikal, membuatnya terlihat ramah. Ditambah lagi sinar matanya selalu menampakkan kejenakaan. Orang akan selalu tersenyum di dekatnya, merasa mudah terhibur.


Souvery, secara tidak langsung adalah bos mereka bertiga. Dia pebisnis property, bankir, dan juga aktif di balik layar dalam politik. Sebagian besar kata-katanya didengarkan oleh para senator. Dia mendukung banyak calon senator dan memberi jalan melalui kampanye. Karena itulah dia memiliki kekuatan untuk bisa menyusup dan mengatur mereka secara sembunyi-sembunyi.


"Kudengar janda mendiang Anson menikah dengan seseorang bernama Klayver Vaquez." Souveri membuka percakapan.


Tak jauh dari sisinya, Andre mengangguk membenarkan. Dia sendiri yang telah menawari kamar hotel istimewa untuk malam pengantin mereka.


"Apakah ada masalah dengan hal ini?" Andre balik bertanya.


"Aku hanya penasaran, siapa Klayver sebenarnya. Apakah dia orang yang akan melawan kita?" Souvery berdecak tak senang. Dia tak pernah nyaman memikirkan ada orang lain yang memburu mereka.


"Entahlah. Riwayatnya sulit untuk kucari tahu. Tetapi dari sumber-sumberku, mereka tidak memberikan informasi yang cukup sensitif. Sepertinya lelaki itu bersih. Mungkin Alice memang sudah melupakan kematian Anson dan memutuskan menjalani hari baru. Dia bangkit dan menutup cerita lama," Adam menimpali.


Dua hari lalu dia menyuruh bawahannya untuk mencari tahu siapa Klayver sebenarnya. Sejauh ini, tak ada hal yang cukup mencurigakan.


"Meskipun begitu, kita perlu terus mengawasi mereka. Jika beberapa bulan ini Alice maupun suami barunya tidak membuat ulah, ada baiknya kita membiarkan mereka untuk melanjutkan hidup. Sepertinya wanita itu cukup realistis. Dia tak lagi mengorek-orek informasi mengenai kematian mendiang suaminya." Souveri memutuskan. Alice tidak lagi mengancam mereka sekuat sebelumnya.


"Kita memiliki banyak urusan mendesak. Mari kita awasi mereka selama sebulan atau dua bulan ini. Jika mereka tak melakukan sesuatu yang merugikan kita, ada baiknya kita menarik sumber daya kita mundur. Lebih baik menggunakan organisasi untuk melakukan hal-hal lainnya." Andre setuju. Dia menoleh ke arah Adam, meminta suara.


"Aku setuju." Adam tersenyum kecil. Wajah ramahnya terlihat semakin memuakkan.


Mereka bertiga tidak tahu bahwa di balik semua ini, Klayver adalah orang yang seharusnya mereka waspadai dari awal.



Rachel duduk di kursi ruang tengah. Dia telah menghabiskan waktu satu jam lebih untuk menatap layar TV LED berukuran raksasa. Matanya terlihat nanar, jauh dari acara yang ia saksikan.


Waktu sudah memasuki tengah malam ketika sebuah langkah-langkah yang sangat dikenal menuju ke arahnya.


Maxen menatap heran pada sosok Rachel yang masih duduk di ruangan dengan TY menyala. Wanita itu menatap ke arahnya dan kembali menatap layar datar itu kembali. Pandangannya sedikit kosong. Sepertinya program tayang tersebut hanya sekadar pengalih pikirannya.


"Kau pulang malam lagi," kata Rachel ringan.

__ADS_1


Maxen berjalan mendekat, duduk di sisi Rachel dan menatap istrinya dengan pandangan penuh tanya.


Dia sering pulang larut. Tetapi baru kali ini Rachel memiliki perhatian yang cukup serius padanya. Mungkinkah mulai ada riak perubahan yang terjadi?


"Ya. Kau keberatan?" tanya Maxen lembut. Sinar matanya selalu menghangat setiap kali menatap wajah teduh istrinya.


"Tidak. Kau memiliki hak untuk melakukan apa pun yang kau mau." Rachel menjawab datar.


Ada sebuah aroma asing yang menguar dari kemeja Maxen. Aroma parfum wanita. Hidung Rachel yang sensitif sanggup mengendusnya daru jarak sedekat ini. Kening Rachel mengernyit, membentuk sebuah kesimpulan baru.


Tidak butuh orang pintar untuk menebak apa yang baru saja Maxen lakukan. Dia baru kembali dari wanita lain. Wanita yang pastinya telah ia sentuh.


Memikirkan semua ini memunculkan reaksi kemarahan dari Rachel yang tak terduga.


"Kau menonton TV dari tadi?" Maxen mencoba membuka percakapan.


"Ya. Kegiatanku memang tak semenarik kegiatanmu. Kau cukup beruntung bisa bermain dengan wanita lain di luar sana." Nada Rachel mulai meninggi. Tatapan matanya menghakimi.


Maxen yang mendengar tanggapan sinis istrinya semakin dalam mengernyitkan kening. Dia menangkap reaksi kemarahan baru.


"Apa maksudmu?" Maxen mencoba menguak reaksi Rachel lebih jauh lagi.


"Kau baru saja mengunjungi wanitamu, bukan?" Rachel tak bisa menahan diri.


Setiap malam Maxen sering kali pulang larut. Terkadang, bahkan pulang pagi. Rachel selalu mencium parfum wanita pada kemeja yang dikenakan Maxen. Tidak selalu parfum yang sama. Tetapi jelas jenis parfum wanita. Rachel memperkirakan Maxen mengunjungi wanita yang berbeda setiap malamnya.


"Ya. Aku mengunjungi wanita jal*ng. Sebut saja *******'." Maxen mengangkat kedua bahunya, mengatakan apa adanya.


Kesepian yang Maxen lalui membuat ia melarikan diri. Hanya jenis wanita seperti merekalah yang bisa sedikit mengurangi hasratnya, meskipun akhir-akhir ini Maxen merasakan semua wanita mulai kehilangan daya tariknya.


"Tidak heran. Kau memang memiliki uang yang cukup untuk dihambur-hamburkan sedemikian rupa," Rachel menanggapi Maxen dengan lirikan sinis. Sikapnya jelas merendahkan Maxen habis-habisan.


"Tentu saja. Untuk apa aku menahan diri jika aku mampu membeli kesenangan duniawi?" Nada Maxen ikut sinis, mengimbambangi kemarahan Rachel yang mulai terbaca jelas.


"Orang kaya memang selalu bebas melakukan apa pun yang mereka mau. Lama-lama aku merasa jenuh jika terjebak terus di dalam rumah setiap malam. Sepertinya aku akan mulai menggunakan uang yang kau berikan untuk mencari kesenangan juga mulai besok malam.


"Maxen, kau sudah pengalaman dalam dunia malam. Bisakah kau merekomendasikan di mana tempat hiburan yang menyediakan lelaki tampan dan siap melayani wanita sepertiku? Carikan satu untukku!"


Rachel menatap Maxen dengan serius. Tatapannya penuh tekad. Lengkungan bibirnya ia tarik membentuk sebuah senyum kecil. Ada sedikit cekungan manis di sudut bibir, lesung pipit indah miliknya.


"Apa maksudmu, Rachel?" Mata Maxen menyipit membentuk satu garis lurus. Rahangnya terlihat kaku. Ada kemarahan kuat yang menyeruak karena terpancing oleh kata-kata Rachel.


"Aku hanya ingin menyewa seorang lelaki untuk satu malam. Selama ini aku terlalu monoton menjalani hari-hariku. Aku butuh pelampiasan lain. Aku bersedia membayarnya, tentu saja. Carikan satu yang menurutmu ahli memuaskan wanita. Biarkan aku--" Kata-kata Rachel terputus oleh jawaban kasar dari Maxen. Mata lelaki tersebut berkilat-kilat menyeramkan.


"Bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk menemani malammu? Aku pintar untuk menggunakan keahlian yang kumiliki. Percayalah, Rachel. Kau tak akan menyesal!"


"Kau--" Racel menjauh secepat kilat, kedua bola matanya menampakkan ketakutan baru.


"Untuk apa kau membeli lelaki lain jika aku bersedia melengkapi malammu? Bukankah ini transaksi yang saling menguntungkan. Aku tak perlu pergi keluar lagi dan kau tak perlu memboroskan banyak uangmu."


"Maxen,"


"Kau benar-benar memancing amarahku."


Tanpa kata, Maxen meraih Rachel dan menggendongnya dengan paksa menyusuri tangga. Wanita itu berusaha memberontak dan menjerit terkejut


Maxen yang sudah terlanjur marah tidak menggubris protes istrinya. Dia mengubah posisi gendongan Rachel menjadi gendongan di atas bahu, membiarkan kepala Rachel berada di posisi bawah sementara kedua kakinya ia tahan sepenuh tenaga. Rachel layaknya karung beras yang dibawa oleh Maxen.


"Kurang ajar' kau Maxen, apa yang akan kau lakukan padaku?" jeritnya tak terima.


"Mencintaimu dengan caraku!"



Man teman, jaga kesehatan ya. Semoga wabah ini segera diangkat oleh Tuhan YME. Doaku selalu untuk kalian.

__ADS_1


__ADS_2