Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
159 - SEASON 2


__ADS_3

Klayver berhasil membawa Violin pulang saat jam menunjukkan dini hari. Alice saat itu belum tidur. Dia ditemani Jasmine, Rachel, dan Maxen.


Maxen saat ini bersikap cukup baik dengan Alice. Kelihatannya dia memiliki rasa simpati tersendiri untuk Alice sehingga bersedia membantu Alice melalui beberapa hal.


Karena sikap Maxen yang bersahabat, Alice juga ikut menanggapi dengan sikap yang sama. Dia tidak membuat masalah dengan memancing keributan atas hal-hal sepele dan sesekali tersenyum kepada lelaki itu.


Rachel yang melihat perkembangan Alice ikut tersenyum kecil. Semua ini merupakan perkembangan yang sangat signifikan bagi Rachel. Biasanya, jika Alice bertemu dengan Maxen, kedua orang tersebut seperti kucing dengan anjíng. Selalu saja bermusuhan.


Saat dini hari menjelang, ketika Alice baru saja mulai tidur, ia dikejutkan oleh Caterine yang membawa kabar jika suami dan mertuanya sudah kembali. Alice langsung bergegas keluar.


"Kau membawa Violin?" tanya Alice khawatir. Dia keluar dari kamar dan berpapasan dengan Klayver di ujung lorong menuju tangga.


"Ya. Tetapi saat ini Mom perlu sendiri. Dia membutuhkan privasi." Klayver tersenyum kecil, menyembunyikan banyak hal.


"Ada apa, klayver?"


"Tidak ada apa-apa."


"Mustahil. Jika tidak apa-apa, kau pasti tak melarangku untuk bertemu dengan Violin." Alice mengernyitkan dahi, mencoba menebak keadaan.


Klayver menatap Alice sedikit lama. Sepertinya lelaki itu tengah menimbang-nimbang sesuatu. Setelah beberapa saat berlalu, dia meraih lengan Alice dan membimbingnya ke kamar mereka.


"Klayver, saat ini keadaan cukup genting. Bisakah kita menunda apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alice tak mengerti.


Berbulan-bulan sudah Alice dan Klayver tak bertemu. Mereka pasti cukup merindukan satu sama lain. Kerinduan mereka hanya bisa dipendam dan tak bisa dilampiaskan dalam bentuk lain. Sebagai gantinya, mungkin saat ini Klayver menginginkan untuk menciptakan malam bersama yang romantis.


"Kau pikir, apa yang akan aku lakukan?" Klayver meringis kecil, menyentuh ujung hidung istrinya yang tampak polos. Wanita ini masih saja lugu untuk ukuran klayver.


"Apalagi? Pasti—"


"Kita perlu berbicara hal yang sangat penting. Sebelum kau datang menemui Violin, kupikir lebih baik kau perlu tahu ini dulu." Klayver menjelaskan maksud hatinya. Dia masih saja membimbing Alice ke kamar mereka. Ke ruangan paling ujung dalam lorong ini.


Klayver menutup pintu kamar secara otomatis. Dia mengecek keadaan sekitar kemudian duduk di sebuah kursi khusus tak jauh dari meja nakas. Sementara Alice duduk di ujung ranjang.


"Ada apa, Klayver?" tanya Alice kemudian. Wanita itu menunjukkan ekspresi serius. Dia menyiapkan diri melihat kabar apa pun yang akan Klayver sampaikan.


"Aku telah membunuh James. Aku membunuh Dad."


Sebuah pengakuan keluar dari bibir Klayver. Tatapan mata Klayver terlihat nyalang. Dia seperti tengah mengenang saat-saat terburuk dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kau …."


"Aku membunuh Dad."


Kembali Klayver mengulangi hal yang sama.


Saat Klayver menarik pelatuk untuk menghabisi ayahnya, dia menunjukkam mimik muka datar dan tak berekspresi. Tetapi sejatinya di hatinya ada perang besar. Nuraninya mengalami pemberontakan besar.


Tidak ada yang mudah dalam sikap yang Klayver ambil. Keputusan itu adalah hasil dari pertentangan batin yang lama. Penampilam luarnya memang datar. Tapi di balik itu semua, Klatver menanggung beban sangat besar.


Siapa anak yang bisa dengan mudah menghabisi orang tuanya? Tidak ada. Kecuali anak itu gila. Dalam kasus Klayver, membunuh James merupakan hal yang paling sulit baginya.


"Oh Ya Tuhan." Alice menutup mulutnya tak percaya. Dia berdiri mendadak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Kalyver.


"Aku adalah monster, Alice. Kau tidak takut padaku? Aku membunuh ayahku sendiri."


"Tidak. Tidak. Kau pasti memiliki alasan yang sangat kuat. Ceritakan semuanya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Alice berlutut di depan Klayver. Dia menatap wajah suaminya dengan penuh emosi.


Sepanjang pengetahuan Alice, Klayver adalah pribadi yang bertanggung jawab dan selalu memikirkan keluarga. Keluarga adalah hal terpenting dalam hidupnya. Mustahil Klayver melakukan sesuatu tanpa pertimbangan.


Klayver adalah pribadi yang kompleks. Meski begitu, dia adalah lelaki yang cukup bertanggung jawab. Dia selalu melakukan sesuatu yang menurut Klayver tak bertentangan dengan prinsipnya.


Dari dulu, Klayver sudah pernah menaruh rasa curiga kepada James. Sebagai seorang lelaki, dia cukup mengalah terhadap semua kehendak Violin. Padahal, Klayver tahu lelaki seperti itu memiliki ambisi lebih besar. Sebuah ambisi yang ia pendam dari dunia.


James adalah ahli steategi. Dia bertindak di setiap keadaan darurat. Tak ada yang pernah tahu bahwa di antara James dan Violin, James-lah tokoh utama dalam setiap keadaan. Hanya saja, nilainya memang tertutup oleh Violin.


Di mata banyak orang, Violin adalah bintang yang bersinar. Cahaya yang berpijar dalam kegelapan. Dengan wanita seperti itu, tentu James tak akan memiliki posisi yang cukup kuat.


"Aku tahu kau pasti memiliki alasan kuat!" Alice kembali mengulangi pendapatnya. Dia mengusap lembut lengan suaminya, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia harap bisa sampai pada Klayver.


"Aku adalah pembaca pribadi yang baik, Alice. Dari sejak aku muda, aku tahu ayahku memiliki ambisi lain yang sangat berbeda dari Mom. Bisa jadi ambisi itu akan mengalahkan prinsipnya suatu hari nanti dan membuatnya mengorbankan banyak orang yang berharga. Dia seperti bom waktu yang jika dibiarkan akan tetap membawa orang dalam tragedi. Di balik keramahannya, dia adalah pribadi yang licik."


"Kau tahu itu?" tanya Alice masih terkejut.


"Aku tahu. Aku bahkan melihat gejala-gejalanya.


Hanya saja aku diam selama ini karena kupikir tidak akan sampai ke tahap yang parah. Tetapi tampaknya aku salah."


"Gejala-gejala apa yang kau maksud, Sayang?" Kembali Alice menanyakan pertanyaan lain.

__ADS_1


Hening. Klayver menatap istrinya dengan pandangan sayang. Dia mengusap lembut puncak kepala Alice dan memejamkan mata untuk sesaat.


Bayangan demi bayangan saling terbentuk di otak Klayver. Mau tak mau menuntut Klayver mengingat masa lalu. Bayangan masa lalu miliknya itu seperti film rusak yang enggan ia putar. Tetapi mau tak mau memang harus Klayver ungkapkan juga.


"Dulu, sejak aku remaja, aku adalah orang yang suka mengamati karakter seseorang. Katakanlah, aku pembelajar watak orang lain."


Klayver memberi jeda sebentar. Dia menatap langit-langit ruangan dan merasa rapuh. Peristiwa yang ia ingat membuat Klayver seperti terlempar lagi ke masa lalu.


"Tidak ada karakter keluargaku yang seunik Dad. Setiap orang dalam kekuargaku memiliki karakter yang konsisten. Misal, Mom yang selalu keras kepala dan dominan. Angelica yang manja dan cerdik, tetapi lebih sering ke arah ekstrovert. Aku yang introvert dan tajam dalam memperhatikan suatu objek. Kakak dan adikku yang lain pun juga sama. Karakternya selalu sama. Kecuali Dad."


Klayver menghembuskan nafas berat. Dia semakin terjebak dalam kenangan-kenangan masa lalu. Satu demi satu kejadian saling tumpang tindih, membentuk cerita lengkap.


"Dad adalah orang yang ramah, sabar, penyayang, dan mudah menerima anak-anaknya. Tetapi di sisi lain, aku pernah melihat dia membunuh anjing-anjing kesayangan Angelica dengan keji. Dia berkata bahwa itu semua untuk perkembangan mental Angelica."


Jeda sejenak.


"Pernah juga, aku melihat Dad tersenyum melihat orang disiksa hingga sekarat di pinggir jalan. Dia berkata bahwa itu adalah tontonan gratis. Saat itu aku mulai sadar. Mom saja yang memiliki sikap keras tak akan pernah sepicik itu dalam melakukan tindakan. Bagaimana bisa Dad yang


notaben ramah bisa melakukan semua itu? Tidakkah itu aneh?"


Kepingan-kepingan kejadian itu seperti puzzle. Terbentuk dari hal-hal kecil kemudian menjadi satu kesatuan yang utuh. Penilaian-penilaian Klayver tentang James kian lengkap setiap saatnya. Sehingga ia bisa mengambil kesimpulan inti.


"Kau tahu yang lebih parah lagi? Saat itu Mom pernah demam. Dia diberi resep oleh dokter. Selama Mom demam, semua perusahaan dan urusan-urusan penting dihandel oleh Dad. Suatu sore aku berkunjung ke kamar Mom untuk melihat kondisinya. Saat itu Mom.sedang tidur. Ketika aku masuk, aku melihat Dad sedang menukar obat resep yang diberikan dokter. Aku tak tahu obat apa yang digunakan Dad. Tetapi yang jelas saat itu, demam Mom jadi makin parah dan dia terpaksa dirawat di rumah sakit hampir selama satu bulan penuh. Katanya Mom mengalami komplikasi tertentu."


Dari peristiwa yang terakhir itulah kemudian Kalyver membentuk pendapatnya tentang James. Di balik sikap baik ayahnya, ada sisi gelap yang tersembunyi. Klayver saat itu selalu menguntit James setiap waktu hampir selama lima bulan. Tetapi setelah itu tak ada kejadian hal-hal serupa bingga bertahun-tahun kemudian. Klayver berpikir mungkin pribadi James hanya salah satu hal yang mewarnai karakter sebenarnya. Klayver beranggapan semua aman karena hal-hal seperti itu tak lagi terjadi.


Siapa kira ternyata karakter James meledak di kemudian hari dan mengorbankan orang-orang di dekatnya. Klayver dulu membiarkan saja kejanggalan demi kejanggalan yang dilakukan ayahnya. Tetapi sekarang tidak lagi. Dia tak bisa melepaskan James kali ini karena ia takut jika hal itu terjadi, lain kali James akan membahayakan hidup orang lain lebih banyak lagi.


"Apakah Violin tahu kau melakukannya?" tanya Alice kemudian.


Klayver mengamgguk kecil, membenarkan.


"Apa dia marah padamu?"


"Tidak. Dia hanya merasa dipermainkan oleh takdir."


"Kalau begitu, kupikir alasanmu cukup kuat, Klayver!"


Hanya itulah yang bisa Alice ucapkan untuk suaminya.

__ADS_1



__ADS_2