
Jasmine duduk di atas ranjang. Mentari telah lama menyapa di ufuk timur. Terapi Jasmine masih enggan turun ke bawah. Dia berkutat dengan laptopnya dan ponsel canggih untuk mengecek setiap transaksi dari beberapa orang yang telah menjanjikan bayaran mahal padanya.
Jasmine tersenyum kecil. Dia melihat daftar nama Peter di salah satu keterangan transfer masuk kemarin dan sebuah senyum puas menghiasi bibir Jasmine.
Wow. Peter dan uang selalu bersandingan mesra bak perangko dan amplop. Setiap kali mengingat tentang Peter, yang pertama kali terpikir oleh Jasmine adalah uang yang banyak.
"Halo, Rose." Jasmine menghubungi salah satu "anaknya".
"Jasmine, jangan bilang kau memiliki orderan tidak waras lagi kali ini." Rose masih terdengar mengantuk. Dia pasti baru bangun tidur setelah menghabiskan malam panjang bersama salah satu pelanggannya.
"Aku hanya memberitahumu jika bayaran dari Peter telah turun lagi."
"Bukankah kemarin dia sudah membayarku? Dia selalu membayar di muka, bukan?" Rose terdengar linglung. Suara seraknya menegaskan bahwa dia belum sepenuhnya beristirahat secara sempurna.
"Dia memberi kita tambahan tips karena pelayananmu memuaskan. Peter memang selalu begitu. Jika dia cocok dengan wanita yang kukirimkan, dia akan mentransfer uang lagi padaku sebagai bentuk terimakasih. Orang itu meskipun fisiknya seperti sapi, tapi dompetnya cukup menggiurkan."
"Oh, betapa baiknya dia. Padahal dia juga sudah memberiku tips secara langsung!" Rose mulai sadar sepenuhnya. Dia berdaham beberapa kali untuk menjernihkan suaranya dan menanggapi antusias kabar dari Jasmine.
Jasmine selalu membentuk interaksi yang santai kepada setiap wanita yang ia pekerjakan. Hubungan mereka lebih mirip dibilang teman, dari pada bos dan bawahan.
"Begitulah Peter. Sudah kubilang kau tak akan menyesal menerima orderan darinya. Orientasinya memang aneh dan tak biasa, tetapi bayarannya juga cukup fantastis. Aku akan mentransfer sebagian uang ini ke rekeningmu, Rose." Jasmine tertawa kecil. Dia sudah terbiasa menghadapi pelanggan seperti Peter. Kebanyakan dari lelaki yang merasa puas dan terkesan, mereka akan memberi tambahan bayaran kepada Jasmine secara pribadi.
Hidup dengan dunia kelam seperti ini cukup menggiurkan. Berkali-kali Jasmine mendapat hadiah yang luar biasa dari banyak pelanggan setianya. Pernah sekali waktu dia mendapat porsce berpita merah di depan pintu halaman rumahnya. Pernah juga ia mendapat bingkisan berupa tiara yang harganya selangit.
Semua kemewahan telah ia dapatkan. Semua kemudahan telah orang tawarkan. Hanya dengan menjual moral, dunia Jasmine terbuka lebar menyingkap hal-hal yang selama ini ia impikan.
"Kau baik sekali, Jasmine. Tidak salah aku bekerja padamu." Rose mengirim senyum kecil dari jauh sebagai bentuk rasa terimakasih.
Memang, profesi Jasmine tidaklah terpuji. Tetapi bagi Rose, wanita itu sudah lama menyandang sebagai penyelamatnya. Melalui pekerjaan ini, Rose bisa menyambung hidup adiknya yang sekarat dan menaikkan kehidupan finansial keluarganya.
Bagi seseorang yang pernah terpuruk dan hancur, apa yang ditawarkan Jasmine merupakan sebuah solusi paling menggiurkan. Siapa yang tidak akan mengambilnya jika seseorang pernah hidup dalam keadaan mengenaskan dan terdampar dari dunia?
"Aku memang selalu baik, Rose. Kau saja yang baru menyadarinya. Ngomong-ngomong, jika besok Peter menginginkan hal yang sedikit tak normal lagi, maukah kau menerimanya?" Jasmine memberikan penawaran. Dia merasa kelihatannya Peter dan Rose cukup cocok satu sama lain. Akan lebih baik jika mulai sekarang Jasmine memasangkan mereka.
"Baiklah. Apa pun itu selama uangnya mengalir deras. Atur saja agar istrinya tidak mengetahuinya, oke? Aku tak ingin dilabrak wanita lain tanpa persiapan." Rose terdengar memohon.
Rose bukanlah Jasmine. Dia belum tentu kuat jika tiba-tiba ada wanita asing yang melabraknya sewaktu-waktu. Dia menginginkan permainan aman yang menguntungkan. Bukan permainan adrenalin yang menegangkan.
"Semua itu bisa diatur." Jasmine berkata santai.
Pintu kamar Jasmine terbuka secara perlahan. Di baliknya, terdapat Alice yang muncul dengan pakaian kasual. Dia melambaikan tangan sedikit, memberi tanda untuk mengajaknya sarapan tanpa kata.
Jasmine mengangguk kecil dan memberi respon dengan bahasa isyarat sebentar lagi akan segera menyusulnya ke ruang makan. Alice kembali menutup pintu dan membiarkan Jasmine menyelesaikan obrolon melalui teleponnya.
"Baiklah. Nanti akan aku kabari lagi, Rose. Biarkan aku sarapan dulu sekarang," pamit Jasmine menyudahi obrolan mereka. Dia segera berdiri, berganti baju secara kilat dan merapikan penampilannya sebelum turun ke lantai bawah.
Pagi ini Jasmine memilih baju kasual yang santai. Kaos polos tanpa lengan berwarna putih gading dengan jins pendek setinggi lutut. Rambutnya yang pirang ia sisir rapi ke belakang, dengan sebuah jepit berwarna tembaga.
Karena Jasmine terbiasa memoles wajahnya, dia membalurkan bedak sedikit dan lipstik cair berwarna pink. Jasmine adalah wanita yang memuja kecantikan. Dia selalu bersahabat dengan kosmetik.
__ADS_1
Di bawah, Alice telah duduk bersama Axel menunggunya dengan sabar. Sila menyambut mereka dengan senyum kecil. Hidangan mulai disajikan secara hati-hati.
"Aunty Jasmine. Kau selalu tampak luar biasa. Sekali-kali, ajari mom untuk bisa secantik dirimu." Axel mengacung-acungkan tangan mungilnya pada bibir pink Jasmine yang merona. Dia membandingkannya dengan bibir polos ibunya sendiri.
Jasmine hanya tertawa lebar. Anak kecil terkadang cukup polos dalam mengomentari sesuatu.
"Ibumu sudah cantik dengan caranya sendiri." Jasmine menjawab secara diplomatis. Dia duduk berhadapan dengan Alice dan mulai mengambil sebuah gelas berisi air putih.
"Lain kali, jangan berkomentar tentang hal-hal seperti itu lagi, Sayang!" tegur Alice lembut kepada putranya. Alice tak ingin Axel terlalu mencampuri hal-hal dewasa yang bukan menjadi urusannya.
"Kau terlalu kaku, Mom!" Axel menimpali. Dia terlihat tak senang karena merasa dibatasi oleh ibunya sendiri.
"Kau hanya perlu didispinkan!"
"Aku sudah disiplin. Aku anak baik. Aku tidak nakal lagi." Axel tak terima. Dia menggeleng kecil, menampakkan wajah polosnya yang mudah mengambil hati banyak orang.
Jasmine kembali tertawa. Interaksi-interaksi sederhana seperti itulah yang ia sukai di rumah ini. Jauh dari perkirannya, rumah ini membawa kehangatan sendiri. Sesuatu yang tak pernah Jasmine dapatkan dari dulu.
Jasmine tumbuh dari keluarga yang kacau. Setiap hari yang ia lalui di rumah hanyalah kekacauan demi kekacauan kecil. Semua itu membuatnya kesal.
Alice yang melihat perubahan suasana Jasmine menatap wanita itu dan bertanya pelan. "Kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku hanya sedikit teringat pada kenangan lama," jawab Jasmine ringan. Dia melambaikan tangannya, meminta agar tak membahas topik ini.
"Oh, baiklah." Alice tidak ingin terlalu memaksa. Dia mulai mengambilkan beberapa menu makanan dan memberikannya pada Axel. Anak itu cukup ribut dari tadi. Dia harus ditenangkan sesegera mungkin.
"Alice." Jasmine terlihat serius. Dia menatap Alice lama, ingin menyampaikan sesuatu.
Akhir-akhir ini, Alice merasa cukup paranoid. Setiap kali melihat Jasmine bersikap serius, hati Alice jadi tak tenang. Takut jika tiba-tiba terjadi hal buruk pada suaminya.
"Apakah Klayver baik-baik saja?" tanya Alice tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Baik. Aku hanya perlu berbicara sedikit padamu setelah sarapan. Bagaimana jika di ruang kerjamu?" Jasmine menawarkan.
Mereka butuh tempat yang lebih aman untuk membahas hal-hal yang sensitif. Setelah dua malam lalu Jasmine mendapat kabar jika Klayver kondisinya cukup sulit, dia mulai merencanakan sesuatu. Alice harus dipersiapkan dari sekarang.
"Baiklah. Aku harap tak ada hal buruk yang terjadi." Suara Alice tersendat
Klayver adalah mataharinya. Sinar utama kehidupan. Tanpanya, Alice pasti akan kacau.
Setiap malam setelah kepergian Klayver, Alice selalu menatap kegelapan dengan ketakutan baru. Membayangkan posisi suaminya yang entah di mana, sedang menghadapi bahaya yang entah apa, dan seorang diri dalam melewati malam.
Semua itu terasa menyakitkan. Alice adalah orang yang kuat. Akan tetapi, ditinggalkan oleh sebagian jiwanya merupakan sebuah proses y g cukup sulit bagi hatinya. Dia hanya mencoba tampak kuat di permukaaan. Sejatinya, hatinya ringkih dan rapuh.
Sandaran Alice tak ada di sisinya. Tengah sibuk menantang bahaya tanpa ia ketahui kedaan dan kondisinya. Istri mana yang tak tertekan?
"Jangan terlalu cemas, Alice. Percayalah pada Klayver. Dia lelaki yang cukup kuat menghadapi banyak hal. Jika dia lemah, dia tak mungkin bisa bertahan hingga detik ini. Lelaki itu adalah penantang bahaya sejati. Kau harus mulai menerimanya mulai detik ini, Alice." Jasmine mencoba menasehati.
Dia sebenarnya tahu bagaimana sulitnya Alice menerima semua ini. Hati wanita mana yang tak rapuh ditinggal suaminya tanpa kabar sama sekali.
__ADS_1
"Klayver baru pergi sekitar seminggu, dan aku sudah cukup kacau. Aku tak bisa membayangkan jika dia pergi enam bulan lamanya. Bagaimana jadinya aku nanti?" Alice tersenyum miris, merasa terluka.
Jasmine tak bisa berkata apa-apa. Dia belum pernah memiliki perasaan sekuat itu pada seorang laki-laki. Jadi Jasmine hanya bisa mengira-ngira saja jenis perasaan yang dimiliki Alice. Sepertinya cinta memang kadang menjadi rumit dan sulit dimengerti.
Setelah mereka semua menghabiskan setengah jam untuk sarapan, Alice membimbing Jasmine ke ruang kerja. Axel dititipkan pada Helena. Anak itu mulai sekolah lagi. Helena biasanya cukup telaten dalam menghadapi kerusuhan Axel setiap kali bersiap-siap ke sekolah. Ada saja tingkahnya. Sering kali Helena harus menenangkan diri dulu untuk mengurus bocah seaktif Axel.
"Jadi, ada apa, Jasmine?" tanya Alice saat keduanya telah sampai di ruang kantor yang berdesain minimalis.
Sinar matahari mulai menyusup di sela-sela fentilasi ruangan. Cahayanya menyebar, membentuk sinar indah yang menawan.
Musim gugur masih panjang. Di luar sana, daun-daun mulai jatuh berserakan. Alam mengalami perubahan suasana. Setiap hewan menyambut kedatangan pergantian musim dengan cara beraneka ragam.
Jasmine menjatuhkan diri di sebuah sofa kulit yang berada di tengah-tengah ruangan. Dia melipat kakinya dan menopangkan kedua tangan ke belakang.
"Dua malam yang lalu Klayver menghubungiku."
"Apa? Dia menghubungimu? Kenapa dia tak menghubungiku juga?" Nada Alice mulai naik, merasa terganggu dengan kenyataan ini.
"Tunggu dulu penjelasanku, Alice. Kau perlu mendengarkan hal ini." Jasmine memotong keterkejutan Alice. Dia menggeleng pelan, mulai mengutuki keposesifan Alice yang berlebihan.
Baik Alice dan Klayver, keduanya seperti orang gila yang posesif pada yang lain. Cinta benar-benar tak masuk akal. Bagaimana bisa orang dewasa bisa bertingkah kekanakan hanya karena hal itu?
"Keadaan Klayver sepertinya sedang kurang baik. Dia bisa saja terdesak sewaktu-waktu. Jadi akan terlalu beresiko jika menghubungimu. Sedangkan aku adalah orang yang bisa menghadapi bahaya, sekali pun nantinya ada orang yang menyangkut pautkan hubunganku denagn Klayver, aku bisa menghadapi mereka. Berbeda denganmu. Klayver masih tak ingin mengekspos dirimu." Jasmine menjelaskan panjang lebar. Dia mencari posisi yang lebih nyaman dan mengangkat kedua kakinya ke atas sofa untuk duduk bersila tanpa alas kaki.
"Jadi, dia mencoba melindungku dengan tidak menghubungiku secara langsung?" Alice ingin memastikan.
"Ya. Itulah tepatnya yang dilakukan Klayver. Karena situasi bisa berubah tiba-tiba, dia memberi pesan padaku agar aku semakin intensif menjagamu. Jika keadaan berada di luar kendali, kau akan aku kirim ke Violin."
Jasmine menatap Alice cukup lama, mengira-ngira reaksi apa yang akan wanita itu berikan kali ini.
Alice memegangi kepalanya dan ikut duduk di sebelah Jasmine. Dia melakukan hal serupa dengan menaikkan kedua kakinya dan duduk bersila dengan nyaman.
"Apakah keadaannya memang sesulit itu?" Wajah Alice tampak tertekan. Dia menatap Jasmine penuh permohonan, seolah-olah wanita itu bisa menyulap keadaan menjadi baik secara tiba-tiba.
"Jangan pandang aku seperti itu. Aku bukan dewa yang bisa mengubah keadaan semau yang kau inginkan." Jasmine sedikit mundur ditatap seperti ini.
Alice mendesah lemah, menutup wajahnya yang dipenuhi banyak tekanan. Keadaan bisa saja sulit? Ya Tuhan. Apalagi kali ini yang dihadapi Klayver.
"Bagaimana bisa seperti ini, Jasmine? Bukankah kau sendiri yang bilang Klayver pasti bisa menghadapi semuanya?" Alice merasa gamang. Dia meraih tangan Jasmine, mengguncangkannya secara pelan.
"Klayver memang bisa menghadapi semuanya. Tetapi semua hal punya proses, Alice. Di dalam proses itu ada kesulitan-kesulitan yang perlu dihadapi Klayver secara suka rela. Tidakkah kau menyadari hal itu? Klayver adalah orang yang bersinggungan dengan bahaya. Kau pikir dia bisa terbebas dari kesulitan begitu saja? Kuatkan mentalmu dan yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya harus semakin waspada pada segala sesuatu mulai sekarang!" Jasmine menggengam jari-jemari Alice yang dingjn, merasa bersimpai tanpa kata.
Klayver telah mengirimkanya pada wanita sepolos Alice. Melihatnya seperti ini lama-lama membuat hati Jasmine tergerak dan mau tak mau merasa simpati juga.
"Aku tahu semuanya membutuhkan proses. Hanya saja membayangkan dia seorang diri melawan entah siapa di luar sana menbuat pikiranku semakin rumit setiap kali teringat padanya." Alice tersenyum lemah, merasa tak berdaya.
Jasmine mengedipkan mata beberapa kali. Dia menatap Alice secara menyeluruh dan tiba-tiba memiliki ide cemerlang.
"Aku memiliki usul. Bagaimana jika mulai seakrang aku akan membuatmu menjadi sedikit lebih kuat?
__ADS_1
…