Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
013 - SEASON 2


__ADS_3

Alice duduk di ruang makan sembari menyesap arabica coffee. Rambut merah bergelombangnya ia biarkan terurai. Semenjak kematian Anson, Alice berhenti mewarnai rambutnya. Ia biarkan rambutnya terlihat merah kembali.


Hari masih pagi. Susan sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Axel juga belum nampak batang hidungnya. Mungkin sebentar lagi putranya akan bangun dan heboh sendiri untuk melakukan persiapan ke sekolah.


Sudah dua bulan ini, Axel mulai dimasukkan ke sebuah sekolah taman anak-anak swasta milik yayasan temanya. Alice merasa Axel sudah cukup umur untuk bersosialisasi bersama teman-temanya. Dia tak ingin terlalu ketat membatasi Axel di rumah saja.


Biasanya Alice sendiri yang mengantarkan Axel ke sekolah, anak berusia lima tahun itu cukup semangat setiap kali diantar olehnya. Akan terapi, jika pekerjaan Alice mulai menumpuk dan harus melakukan kunjungan ke luar kota, Axel terpaksa diantar oleh supir pribadi keluarga, Pablo.


Pagi ini sepertinya Axel harus diantar oleh Pablo. Alice perlu mengunjungi makam Anson untuk menenangkan suasana hatinya. Dia menympan banyak cerita yang ingin ia bagi. Terutama masalah tentang Eyes Evil.


Alice sudah memikirkan tawaran Eyes Evil semalam. Dia menimbang-nimbang semuanya dari berbagai sisi. Dia tak ingin melakukan kesalahan.


Eyes Evil menawarinya kesepakatan untuk menikah. Hanya untuk mendapatkan organisasi yang Anson wariskan untuk William. Jujur, Alice merasa enggan menyepakatinya.


Pertama, Alice sudah sangat trauma dengan yang namanya pernikahan. Setelah kepergian Anson, Alice sudah bertekad akan menutup hatinya dan menutup semua kemungkinan untuk menikah.


Alice sudah menjalani tiga kali pernikahan. Dia tak ingin dicap sebagai wanita j*lang yang mempermainkan lembaga perkawinan. Alice benar-benar tak ingin mengikat diri secara legal pada suatu ikatan yang disebut perkawinan.


Mungkin, Alice harus memikirkan cara meminta bantuan Eyes Evil tanpa harus menikah. Saat ini yang ia pikirkan adalah berbicara pada William. Jika ia bisa mmbujuk William menyerahkan organisasinya pada Eyes Evil, Alice tak perlu harus menyetujui kesepakatan dari lelaki pembunuh tersebut.


Alice berdiri dan mencari Pablo untuk memintanya mengantarkan Axel. Dia kemudian berjalan memasuki ruang dalam tempat William berada. Dia harus membahas ini dengan kepala pelayan setianya.


Lelaki yang dicari Alice itu tengah duduk santai sembari mengecek pengeluaran rumah tangga bulanan. Alice tersenyum kecil. Dari semenjak ia menikah dengan Anson, William memang telah mengemban tugas memegang semua laporan keuangan kebutuhan rumah tangga.


Seharusnya tugas itu menjadi tanggung jawab Alice, tetapi Alice cukup sibuk mengurusi bisnisnya sehingga ia sangat terbantu oleh kecakapan William.


"Nyonya," sapa William mengangguk dalam ketika ia menyadari kehadiran dirinya.


"William, aku ingin berbicara." Alice mengambil tempat duduk dengan menarik kursi lembut yang berada di sisi William.


William merapikan kertas-kertas di meja, meletakkanya ke samping, dan memfokuskan diri mendengar apa yang akan Alice sampaikan.


"Apakah Anson mewarisi sebuah organisasi kepadamu? Organisasi yang memiliki puluhan orang dengan kesetiaan yang tinggi?"


Alice melihat ada sedikit keterkejutan dari kedua mata tua milik William. Dia menarik nafas perlahan dan akhirnya mengangguk membenarkan. Tadinya William beniat menyembunyikan semua ini, karena takut pengetahuan ini akan membahayakan Alice.


Organisasi yang William kelola sangat rahasia dan tertutup. Ia sebisa mungkin menutupi apa yang Anson wariskan untuknya. Jika musuh-musuh Anson mengetahui William masih memiliki organisasi kuat, dia takut mereka semua akan menyerang Alice dan menghancurkan semua keluarga yang Anson tinggalkan.


"Ya. Dari mana Nyonya mengetahuinya?" Willam bertanya dengan raut penasaran. Orang yang memberi informasi pada Alice pastilah orang yang cukup jeli menebak keadaan.


"Eyes Evil," sahut Alice datar. Dia membenarkan beberapa helai rambutnya dan menatap William dengan serius.


"Aku ingin meminta sesuatu, Will. Demi menghabisi para pembunuh Anson, bisakah kau menyerahkan organisasi tersebut pada Eyes Evil?" Alice bertanya penuh harap. Dia membutuhkan kepastian saat ini juga.


"Itukah yang ia inginkan sebagai bayaranya?" William bertanya ringan. Ia seperti memahami jalan pikiran majikanya.


Alice mengangguk ragu-ragu. Pandangan matanya mulai menampakkan ketidakyakinan. Dia mengusap-usap telapak tanganya untuk menenangkan diri.


"Organisasi itu terikat padaku, Nyonya. Baik aku maupun mereka tak akan pernah bersedia dipisahkan." William menerangkan. Alice harus mengetahui keadaan ini dari sekarang.


Orang-orang yang William bentuk dalam organisasinya adalah orang-orang yang ia temukan sendiri secara langsung. Mereka terikat kuat secara emosi dan kesetiaan. Mereka bahkan rela mati untuknya. Siapa pun pasti akan menyadari organisasi itu tak akan bernilai apa-apa jika dipisahkan dari William.


"Jika begitu, maukah kau berjanji setia pada Eyes Evil dan mengijinkan ia mengelola organisasimu?" tanya Alice kemudian.


William terdiam lama. Dia menatap wanita yang telah menjadi majikanya selama dua setengah tahun ini. Di matanya, Alice sudah seperti putrinya sendiri. Apa pun akan ia lakukan untuknya. Tetapi organisasi itu sesuatu yang tidak bisa William serahkan begitu saja. Organisasi itu memiliki ikatan dalam yang sulit untuk dipahami orang lain.

__ADS_1


"Aku hanya bersumpah setia pada Tuan Anson dan keluarganya. Setelah ia pergi, sumpah itu kutujukan hanya untuk Anda dan Axel, Nyonya. Tidak ada orang lain. Kecuali jika nanti kau berkeluarga, aku akan melayani keluargamu nanti sebagaimana aku melayanimu. Organisasi itu mengikuti kesetiaanku. Saat ini, Eyes Evil bukan dalam kategori orang yang bisa kuberikan kesetiaan. Aku menolaknya, maaf. Ini semua adalah sumpahku, Nyonya.''


Alice tertunduk dalam, merasa kalah. Apa yang dikatakan oleh William sama persis dengan apa yang telah Eyes Evil sampaikan padanya kemarin.


Untuk mendapatkan organisasi tersebut, terlebih dulu harus mendapatkan William. Untuk mendapatkan William, terlebih dulu harus menjadi bagian dari keluarga Alice. Keluarga dalam hal ini adalah ikatan perkawinan secara sah.


Mungkin, memang tak ada lagi cara bagi Alice untuk melakukan semua ini tanpa pernikahan. Alice kembali menimbang-nimbang semuanya secara hati-hati. Dia tak boleh salah langkah.


"Apakah kau benar-benar tak bisa memberikan organisasi tersebut walaupun untuk mencari keadilan bagi kematian Anson?"


William menggeleng lemah. Dia sudah terlanjur bersumpah dengan organisasi dan dengan Anson. Kesetiaan William hanya untuk Alice dan siapa pun yang menjadi keluarganya. Entah siapa pun itu nantinya.


"Kalau begitu, kau terpaksa harus setia apada Eyes Evil. Kurasa, sebentar lagi, aku akan menikah denganya."



Alice duduk di sisi pemakaman Anson. Kedua matanya terlihat sembab karena baru saja menangis selama setengah jam lebih. Dia mengusap dengan lembut ujung nisan mendiang suaminya.


Terkadang, Alice pernah meragukan apakah surga itu ada. Melihat Anson terpendam dalam tanah, hancur secara perlahan membuatnya semakin miris.


Tetapi kata orang surga itu memang ada. Dia adalah tempat kembali paling baik untuk orang-orang hebat di sisi Tuhan. Tempat yang menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Tempat kembali terakhir bagi orang-orang terpilih.


Jika memang begitu, Alice berharap Anson menjadi salah satu orang yang terpilih. Orang yang memiliki kehidupan yang baik di sisi Sang Kuasa.


Alice kembali mengusap ujung nisan tersebut dan berkata lirih. Berharap Anson akan mendengarnya.


"Aku harus memutuskan mengambil langkah ini untuk membalaskan kematianmu, Anson. Apakah kau marah karena aku menikah dengan Eyes Evil? Apakah kau membenci cara yang kulakukan ini, Anson?" Alice terisak pilu.


Dia tahu, pasti dari jauh Anson berharap Alice menjalani hidup yang tenang. Hidup yang tidak bersinggungan dengan bahaya. Hidup yang menawarkan kedamaian.


Alice juga tahu, Anson pasti berharap ia bisa menemukan kebahagiaan baru. Lelaki itu pasti menginginkan Alice bangkit lagi dan menemukan cintanya. Cinta yang sesungguhnya. Cinta yang membawa akhir yang indah.


Namun, apalagi yang bisa Alice lakukan saat ini. Semua cara yang ia lalui hanya berakhir buntu. Ia bagaikan burung tanpa sayap yang mencoba terbang ke mana-mana. Percuma dan sia-sia.


Alice mengusap kasar air matanya dan berdiri tegak. Ia menatap matahari yang bersinar terik. Cahanya seolah tak pernah habis untuk menyinari dunia pada setiap detiknya. Betapa dermawanya dia. Pantas jika matahari menjadi simbol kekuatan bagi beberapa kepercayaan di banyak negara.


Alice berjalan pelan keluar dari area pemakaman. Ia terkejut melihat tak jauh dari halaman parkir, ada seorang wanita tua gipsi yang tengah dikerumuni beberapa orang. Dia mengekuarkan banyak kartu dan beberapa peralatan seperti semacam batu-batuan yang tersebar di hadapanya.


Orang-orang saling berebut mendekatinya. Kerumunan kecil itu mungkin terdiri dari sepuluh hingga dua belas orang dewasa.


Karena rasa penasaran, Alice ikut mendekat. Dia terperangah ketika ia melihat banyak kartu tarot di situ. Sepertinya wanita ini sedang berusaha untuk meramal. Alice mundur beberapa langkah dan hendak berbalik. Dia tak terlalu percaya dengan hal-hal mistis. Hidupnya selalu ia jalani dengan banyak realitas.


"Nyonya cantik, kemarilah." Seorang wanita gipsi yang memakai bandana merah memanggil Alice. Sontak saja semua orang menoleh ke arahnya.


"Aku?" Alice berbalik tak yakin.


"Ya. Kau, kemarilah. Aku melihat banyak hal dari dirimu," sahut sang wanita gipsi melambaikan tanganya, menyuruh Alice mendekat.


Wanita itu merapikan kembali semua kartu tarot dan mengarahkanya pada Alice. Akan tetapi, Alice menggelengkan kepalanya dan menolak halus.


"Maaf, aku tak terbiasa diramal dengan kartu tarot atau semacamnya."


Wanita gipsi itu tersenyum penuh pengertian dan kembali meletakkan semua kartu di tanganya. Ia menunjuk tanah di sisinya yang beralaskan kain lapuk agar Alice duduk di sana.


"Aku juga bisa meramal tanpa kartu tarot. Ulurkan saja tangan kirimu dan biarkan aku menebak alur hidupmu dari garis tangan,"usulnya dengan wajah yang ramah.

__ADS_1


"Maaf, Madam, sepertinya aku--"


"Hanya sebentar saja, Nyonya. Kau tak tahu kadang sebuah petunjuk kehidupan bisa datang melalui ramalan kecil."


Alice menyerah dan duduk di sisi sang wanita. Dia tak terlalu enak untuk terus menolak tawaran wanita gipsi ini. Apalagi semua orang sudah melirik penasaran ke arahnya. Dia tak ingin dinilai sebagai wanita yang sadis.


"Baiklah."


Alice mengulurkan tangan kirinya. Sang wanita gipsi segera menerima uluran tanganya dan memejamkan mata. Dia meraba pelan permukaan telapak tangan milik Alice.


Satu menit lebih berlalu. Saat wanita itu kembali membuka mata, dia terlihat tak nyaman mengutarakanya.


"Ingatlah, Nak. Tidak semua yang kau duga baik adalah orang yang baik. Hidup akan membawamu pada kerumitan orang-orang terdekat. Ikatanmu dengan mereka akan diuji. Tetapi ingatlah, setelah kau mengenali musuhmu, tidak selamanya dia akan tetap menjadi musuhmu. Milikilah maaf yang besar. Jika tidak, hidupmu hanya akan merana."


Kata-kata wanita ini penuh teka-teki. Alice tersenyum kecil menanggapinya. Alice pikir wanita itu telah selesai. Tetapi kemudian dia melanjutkan lagi kalimatnya.


"Kau adalah wanita yang dianugerahi aura dewi. Kecantikan jasadmu adalah kecantikan dewi dan nasibmu ditulis oleh langit. Mungkin dalam kehidupan sebelumnya, kau memang wanita hebat dari kaum suci. Kau membawa nasib yang luar biasa berat, karena kemampuanmu melebihi yang lain.


"Kau akan melalui empat perkawinan. Setelah genap empat kali, keputusan itu ada padamu. Jika kau putuskan untuk gagal, kau selamanya tak akan pernah bisa menemui pernikahan lagi. Jika kau cukup cerdas, kau akan membuat yang ke empat menjadi surga dalam hidupmu."


Semua orang melongo mendengar perkataan sang peramal. Hello, jaman sekarang masih ada yang melakukan pernikahan sebanyak empat kali? Wow. Sangat luar biasa.


Alice tersenyum canggung dan segera memberikan tips yang lumayan besar kepada sang peramal. Dia tersenyum kecil dan berlalu ke tempat parkir.


Yah, setidaknya peramal itu benar terhadap satu hal. Dia akan melalui empat pernikahan. Alex, Kendrick, Anson dan mungkin … Eyes Evil. Selain itu, ramalanya tak ada yang tepat. Dia tak akan pernah mempertahankan pernikahanya yang ke empat. Pernikahan itu hanya akan bertahan beberapa tahun menunggu Eyes Evil menyiapkan organisasi yang lelaki itu bentuk.


Alice tak peduli jika ia mengakhiri pernikahanya yang ke empat, artinya ia akan melajang seumur hidupnya dan merana. Persetan dengan semua itu. Dia tak akan pernah bisa membentuk pernikahan normal lagi setelah kepergian Anson.


Selain itu, wanita gipsi itu mengatakan dia adalah reinkarnasi dewi? Hei, yang benar saja. Alice tak mempercayai semua legenda dewa dewi. Satu-satunya yang ia tahu adalah mitologi yunani kuno. Itu saja ia terpaksa membacanya untuk tugas sekolah menengah dulu.


Alice berjalan tergesa menuju mobil hitam metalik miliknya. Ia membuka pintu mobil dan duduk di depan kemudi. Dia sudah bersiap-siap memasukkan kunci mobil saat tiba-tiba sebuah suara berat yang ia kenal menyapanya dari belakang.


"Kau sudah mengambil keputusan terhadap tawaranku?"


Eyes Evil duduk tenang di jok belakang. Dia memiliki keahlian membaur dalam setiap situasi dengan luar biasa. Alice terkejut karena tak menyadari keberadaan lelaki tersebut lebih awal. Sepertinya, kewaspadaan Alice semakin msngendur akhir-akhir ini. Atau, mungkinkah kemampuan Eyes Evil yang luar biasa dalam menyamar?


"Kau membuatku kaget." Alice mengusap ujung hidungnya, merasa canggung. Dia menatap tak nyaman wajah Eyes Evil dari kaca spion mobil.


"Aku butuh jawaban," ujarnya dingin.


"Jika aku menolak, apakah aku masih bisa hidup setelah kau membiarkanku melihat wajahmu sebenarnya?" Alice mencoba memancing rasa ingin tahunya. Dia masih tak mengerti kenapa Eyes Evil memilih membuka wajahnya pada Alice. Apakah ada maksud terselubung dari lelaki tersebut?


"Aku tak terbiasa menyisakan saksi mata yang mengetahui wajahku."


Lelaki itu menjawab jujur, membuat dada Alice berdetak tak beraturan. Jadi Eyes Evil memang berniat membungkamnya jika Alice tak lagi berguna? Lantas bagaimana nasibnya nanti setelah ia menikah dan mengakhiri pernikahan mereka? Apakah ia juga akan di bantai?


"Jika aku menyetujui pernikahan kita, apakah kau akan tetap membunuhku setelah pernikahan ini berakhir dan kita saling mendapatkan tujuan kita masing-masing?"


Eyes Evil terdiam sejenak. Kemudian menjawab datar, "Tergantung apakah kau akan membocorkan identitasku atau tidak."


"Tidak akan. Berapa lama pernikahan palsu ini harus kita lakukan?"


"Mungkin tiga tahun, setelah aku bisa menbentuk organisasi sendiri dan tidak membutuhkan organisasi William lagi."


"Baiklah. Mari kita menikah." Alice memejamkan matanya, merasa kacau luar dalam.

__ADS_1


"Ide yang bagus. Ngomong-ngomong, namaku adalah Klayver Vaquez."



__ADS_2