
Alice dan Maxen saling berhadapan. Mereka masih duduk di sisi kolam dengan suara latar gemericik air yang mengalir. Angin mendesah dengan lembut, menerbangkan helai-helai rambut Alice yang mulai berantakan.
Satu menit yang lalu setelah Maxen menyampaikan permintaannya, Rachel memilih pergi menjauh dari mereka berdua. Memberi mereka kesempatan untuk berbicara secara pribadi. Wanita itu akan kembali lagi setelah mengecek masakan di dapur katanya. Suatu alasan yang sebenarnya terlalu klasik.
Tanpa kehadiran Rachel, situasi di antara mereka terasa canggung. Percayalah. Berhadapan dengan lelaki yang nyaris kau bunuh bukan sesuatu yang menyenangkan. Andai Alice tak mempercayai kata-kata Rachel yang menjamin dirinya tetap aman, dia sudah tergoda untuk pergi menjauh dari sosok di hadapannya ini.
Lucu memang. Bagaimana mungkin Rachel yang baik bisa bertemu dan saling jatuh cinta pada lelaki seperti Maxen. Mungkinkah semakin jahat seseorang, semakin memiliki pesona tersendiri sehingga mampu menarik hati wanita? Apakah mungkin ada teori seperti itu dalam psikologi?
Alice tak sekali pun membuka suara selama Maxen tidak membuka pembicaraan terlebih dahulu. Udara di antara mereka terasa semakin tegang. Saking tegangnya, seolah mampu dipotong oleh ujung pisau.
Matahari Manhattan masih bersinar seperti biasanya. Awan juga terlihat menggantung. Warna langit tetap terlihat biru dan putih, tak banyak perbedaan. Hanya saja, suasana hati Alice tak lagi sama. Berada dalam jarak begitu dekat dengan lelaki yang pernah menghabisi suaminya, membuat detak jantungnya memompa darah ke sekujur tubuh dengan kecepatan tak normal.
Alice tahu kehidupan sering kali membuat lelucon. Yang saling mencintai dipisahkan, yang saling membenci justru dipersatukan. Begitulah sandiwara alam. Membuat kita tersenyum tak berdaya.
"Kau pasti sudah tahu sebentar lagi aku akan menyerahkan diri pada lembaga yang berwenang." Maxen mulai membuka percakapan. Dia menatap Alice datar, tanpa emosi. Tatapan yang sama sekali berbeda dengan tatapan yang Maxen berikan terhadap Rachel.
Alice mengangguk kecil. Dia telah mendengar hal ini dari Klayver dan Alice. Bisa dipastikan apa yang ia dengar merupakan sebuah kebenaran.
"Selama aku di penjara, aku ingin kau menjaga Rachel. Kita lupakan permusuhan ini sejenak. Mari sedikit berdamai demi Rachel." Maxen mengungkapkan isi hatinya.
Yang terberat dari tindakannya menyerahkan diri adalah meninggalkan Rachel seorang diri. Membayangkan wanita tersebut kembali sendiri tanpa ada yang menopang setiap kesedihannya membuat Klayver dicekam kepedihan.
Memang sebelum ini pun Rachel telah terbiasa menjalani hari dalam kesendirian. Perjuangan wanita itu cukup hebat sehingga Maxen mau tak mau merasa kagum.
Tetapi semenjak mereka bersama, Rachel memiliki ketergantungan yang kuat terhadap Maxen. Sulit meninggalkan wanita tersebut dan membiarkannya melalui hari seorang diri. Anna juga sibuk kuliah. Adiknya lebih mudah untuk menginap di flatnya sendiri yang ia sewa tak jauh dari universitas dari pada pulang pergi ke mansion Maxen. Semenjak Rachel menikah dengan Maxen, jarak tempuh yang harus Anna lalui untuk berkunjung ke Rachel semakin jauh. Membuat Anna mau tak mau mengambil flat sederhana untuk ia sewa di dekat tempatnya belajar.
"Tanpa kau minta pun, aku akan menjaganya. Dia lebih dari sekadar teman bagiku. Kami melalui banyak hal bersama dalam hidup." Alice berkata apa adanya. Melihat sikap santai Maxen, Alice jadi terbawa dan ikut santai juga. Ketegangan yang ia rasakan sebelumnya mulai mengendur secara perlahan.
"Dia adalah wanita yang luar biasa. Aku mencintainya dengan sungguh-sungguh, andai kau tahu." Maxen mengakui perasaan yang ia pendam. Dia ingin mengungkapkan pada Alice bahwa segelap apa pun jalan yang ia lalui dan sebrengsék apa pun dirinya, rasa yang ia miliki untuk Rachel itu serius. Dia tak ingin karena kebencian Alice yang mendarah daging kepada Maxen, jadi berimbas pada sudut pandang Rachel juga. Secara garis besarnya, ia tak ingin kehilangan Rachel. Karena apa pun.
Alice terdiam cukup lama. Dia tak tahu harus menanggapi apa kalimat yang disampaikan oleh Maxen. Memang mata Maxen telah berbicara segalanya. Cinta yang ia akui untuk Rachel adalah sebuah kebenaran. Hanya saja, Alice masih menutup dirinya untuk menerima sosok ini. Dosa yang dilakukan Maxen cukup besar. Ia belum sepenuhnya memaafkan.
"Maxen, meskipun aku masih membencimu saat ini, tetapi aku bukan wanita yang picik. Aku tidak akan menyudutkanmu di hadapan Rachel atau pun membujuk Rachel untuk membencimu."
__ADS_1
Kebencian itu milik pribadi. Begitu pun juga dengan cinta yang merupakan urusan pribadi. Tidak ada seseorang yang bisa memutar balikkan hati kecuali orang tersebut cukup plin plan dan mudah dipengaruhi. Rachel bukanlah jenis orang yang mudah berbalik arah dengan cepat. Maxen salah jika ia menganggap Alice mampu mempengaruhi Rachel atas perasaan cinta yang Rachel miliki untuknya.
Dia dan Maxen adalah dua orang yang terlanjur berdiri berseberangan. Sulit bagi mereka berdamai dan menyatu. Hal paling mudah yang bisa mereka lakukan adalah menciptakan gencatan senjata dalam jangka waktu tertentu.
"Baguslah. Aku tahu kita adalah dua orang yang saling bertolak belakang. Sulit bagimu memaafkanku sebagaimana sulit bagiku untuk memaafkan Anson. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah membuat batas untuk menjaga sikap. Terutama di depan Rachel."
Apa yang disampaikam Maxen adalah sebuah kebenaran. Sulit bagi mereka berdua mencapai kata maaf. Hal yang paling adil adalah membuat kesepakatan damai bersama yang saling menguntungkan. Selama itu demi Rachel, Alice bersedia melakukan apa pun.
"Akhirnya kita punya satu kesepakatan yang sama adil. Perjanjian damai. Gencatan senjata." Alice mengangguk setuju.
Masalah lama biarlah perlahan-lahan mereka kubur. Jika tidak bisa berteman, setidaknya jangan saling menyerang. Prinsip yang Alice junjung mulai sekarang. Ada Rachel di antara mereka. Jika mereka saling menyerang, Rachel adalah korban utama.
"Baiklah. Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Selebihnya, aku yakin kau akan bertindak baik membantu Rachel nantinya." Maxen sudah akan berdiri tetapi ditahan oleh Alice.
Alice sedikit ragu sebelum akhirnya menanyakan sesuatu. "Kira-kira, berapa lama kau mendekam di balik penjara?"
Maxen menatap Alice secepat kilat. Untuk sesaat mereka terjebak dalam netra masing-masing. Ada pemahaman kuat satu sama lain. Mereka telah membentuk komunikasi yang cukup efektif, meskipun masih banyak dibumbui ketegangan.
"Aku tak tahu. Tetapi perlu kuingatkan, aku memiliki pengacara yang hebat. Jadi jika kau berharap aku mendekam terlalu lama di penjara, sepertinya itu tidak akan terjadi, Alice!" Maxen menjawab penuh keyakinan. Dia tahu seberapa besar sumber daya yang ia miliki. Mengatasi kasus ini pasti cukup enteng bagi pengacaranya. Toh, uang memang menjadi segalanya. Siapa pun yang memiliki uang, hidupnya pasti dimudahkan.
Alice tidak merasa perlu menjaga omongannya lagi. Maxen memang orang kaya yang mudah dilindungi dengan uang. Memang tidak adil. Tapi mau bagaimana lagi. Alice harus menerima hal tersebut.
"Sebagai wanita, kau terlalu sadis!"
"Sebagai wanita, aku cukup kuat untuk melindungi dan menuntut keadilan bagi orang terdekatku."
"Kau tidak mengerti makna dari keadilan itu sendiri. Nyatanya Anson yang kau carikan keadilannya juga bisa bersikap seperti iblis."
"Orang sepertimu tidak berhak menghakimi mendiang suamiku. Kau tak lebih baik darinya karena tanganmu sendiri berlumur darah."
"Aku tidak menghakimi, aku mencoba membuka matamu mengenai sosok Anson sebenarnya. Hanya saja kau terlalu picik untuk menilainya karena kau terlanjur mencintainya."
"Aku mencintainya atau tidak itu urusanku. Selama dia baik bagiku, dia tetap akan kuanggap malaikat tak peduli tangannya berlumur darah!"
__ADS_1
"Kau tidak se—"
"Bisakah kalian berhenti berdebat seperti anak kecil?" Suara tegas Rachel menyela keributan yang mulai memanas antara Maxen dan Alice. Keduanya menoleh terkejut, mendapati Rachel telah kembali di sisi mereka dengan seorang pelayan yang membawakan nampan penuh makanan.
Rachel menatap suami dam temannya secara bergantian. Dia berdecak kecil, merasa heran melihat pertengkaran mereka yang seperti anak-anak.
Selama mereka berbicara, Rachel mengawasi keduanya dari arah dapur. Dia khawatir kedua orang tersebut tak bisa menjaga emosi satu sama lain sehingga terjadi keributan.
Benar saja insting Rachel. Tak lama mereka ditinggalkan, mereka langsung perang mulut. Beruntung mereka berbeda jenis kelamin. Jika mereka sesama lelaki pasti sekarang halaman mansion ini sudah hancur karena perkelahian.
"Tindakan kalian seperti anak kecil, kalian sadar itu?" Rachel mengingatkan. Dia berjalan mendekati mereka dan meletakkan nampan berisi makanan ringan.
Aroma kue yang sangat familiar menusuk penciuman Alice. Alice tebak pasti pelayan yang membuatnya beradasarkan intruksi Rachel. Aroma ini sangat khas seperti buatan tangan sahabatnya. Dari dulu, Alice mengetahui setiap aroma khas masakan Rachel yang melegenda.
"Suamimu yang memancingku lebih dulu. Rachel, ada baiknya kau mengajari sopan santun sehingga tindakannya terkontrol." Alice berkata sengit, melirik Maxen penuh kebencian.
"Aku sudah cukup belajar sopan santun, Miss. Kau saja yang tak bisa mengendalikan etika sosialmu." Maxen berkata tajam, merasa tak terima karena disudutkan sedemikian rupa di hadapan istrinya sendiri.
"Aku bisa mengendalikan etika sosialku selama lawan bicaraku adalah lelaki yang berbudaya."
"Itu hanya sekadar alibi dan pembelaanmu saja. Nyatanya, kita sama-sama tahu bagaimana rendahnya kau dalam hal kesopanan."
"Perlukah kau mengingatkanku tentang kesopanan sementara tindakanmu sendiri didominasi oleh kebobrokan moral? Yang kau katakan hanya omong kosong!"
"Kau pun tak ada bedanya, Alice. Penilaianmu selalu subjektif pada setiap orang. Egomu terlalu besar untuk seukuran wanita sepertimu."
"Asal kau tahu, Maxen. Aku tak per—"
"STOP!" Rachel berteriak tegas. Dia menatap mereka secara seksama dan menggelengkan kepala tak mengerti oleh kekeraskepalaan masing-masing.
"Kalian tahu tindakan kalian seperti kucing dan anjíng? Bagus! Teruskan pertengkaran kalian yang kekanakan dan aku akan memberikan penghargaan orang paling idiot sedunia pada kalian!" Alice berdecak kesal, membalikkan badan pelan-pelan dan memilih pergi meninggalkan mereka. Nampan yang tadinya akan ia tawarkan untuk mereka kembali ia bawa ke dapur lagi.
Baik Alice dan Maxen, mereka semua menjadi kekanakan. Batin Rachel kesal.
__ADS_1
…