Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
140 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine berdiri di ruang keluarga Alice dengan wajah yang sangat kacau. Rambut pirangnya tergerai tak beraturan. Jepit mutiara yang ia kenakan di sisi kirinya telah lama terlepas entah ke mana. Wajahnya menunjukkan kekalutan. Tidak ada lagi sikap tenang dan datar yang biasanya ia miliki. Setelan panjang yang ia kenakan terlihat kusut di sana sini. Dia kini tengah berjalan mengitari ruang tengah dengan langkah tak menentu.


Tak jauh darinya, Daniel duduk dengan sikap yang sama kacaunya. Dia berusaha menenangkan diri untuk mengendalikan situasi, tetapi gagal. Suasana di antara mereka memanas dengan cepat.


"Bisakah kau duduk dan kita bicara layaknya orang dewasa?" Daniel berkata untuk keempat kalinya dengan nada meninggi.


Wanita itu menatap Daniel dengan kedua mata menyipit tak senang. Sebelah tangannya menyentuh leher berulang kali, mencoba menahan diri sebisa mungkin. Dengan keadaannya yang seperti ini, sukses membuat penampilan Jasmine semakin terkesan kacau.


"Kehamilan ini bukan urusanmu, Daniel. Tidak peduli apakah aku hamil atau tidak, semua itu tak ada hubungannya denganmu." Jasmine memutar tubuh, menekankan setiap kata-katanya.


"Tentu saja itu berhubungan denganku jika benih yang kau kandung adalah milikku!" Daniel menggemeretakkan giginya, merasa tak mengerti dengan kekeraskepalaan Jasmine.


"Dari mana kau mendengar kabar tak masuk akal ini?" Jasmine mengalihkan topik.


Hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui tentang kenyataan bahwa Jasmine hamil. Alice dan William adalah salah satunya. Pasti ada dari mereka yang menyampaikan kenyataan itu pada Daniel.


Jasmine tak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia sangat mempercayai Alice dan William. Mereka adalah salah satu dari orang-orang yang sangat mempedulikannya dan memperhatikan setiap urusan yang Jasmine memiliki. Tidak mungkin mereka akan berbuat sesuatu hal yang akan membuat Jasmine mengalami kesulitan. Karena itu, jika mungkin mereka membeberkan kenyataan ini kepada Daniel, mungkin mereka memiliki alasan kuat tersendiri.


Hanya saja, Jasmine masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia sangat ingin menjaga rahasia bahwa dirinya hamil. Dia juga tak ingin mengambil risiko-risiko yang tidak perlu tentang anaknya nanti. Karena itu, seharusnya baik Alice maupun William tidak membocorkan kenyataan ini kepada Daniel tanpa sepengetahuan Jasmine. Bagaimanapun juga, ini merupakan rahasia besar yang coba ia rahasiakan dan ia tutupi dari semua orang.


Nanti, jika keadaan lebih baik, Jasmine berniat akan menanyakan tentang semua ini kepada Alice. Jasmine curiga wanita itulah yang telah meneruskan informasi tentang kehamilan dirinya terhadap Daniel. Mungkin Alice memiliki sebuah alasan tersendiri, tetapi bagaimanapun juga, Jasmine perlu membicarakan masalah ini Lebih detail lagi. Ada sebuah batas garis di mana seseorang tidak bisa melakukan apa-apa di luar batas-batas yang ada. Karena itu, semua ini menjadi semakin rumit bagi Jasmine sekarang. Alice telah menyalahi kepercayaan Jasmine.


"Pasti Alice, bukan? Dia yang telah memberimu informasi ini?" tanya Jasmine menahan emosi.


Jasmine adalah wanita yang lebih sering memiliki ekspresi tenang dan tidak emosional. Memang, terkadang Jasmine juga bisa bertindak sesuatu di luar kontrol. Tetapi jika dibandingkan persentase yang ada, Dia jarang sekali melakukan hal-hal seperti itu. Saat ini adalah salah satu momen di mana dia benar-benar kehilangan kontrol dan terlihat kacau secara luar dalam. Jasmine bisa membayangkan pasti penampilannya sangat tak karuan. Dia dipenuhi amarah, kekecewaan, ketakutan, ketidakyakinan, dan banyak emosi-emosi lainnya yang saling bercampur aduk. Di mata tajam Daniel, mungkin ekspresinya pasti mudah terbaca. Jasmine sudah tidak lagi peduli. Keadaan ini berada di luar kendalinya. Dia hanya berharap semoga pembicaraan kali ini dengan Daniel, tidak berefek buruk pada hidupnya dan masa depan Jasmine kelak bersama anaknya.


"Ya, memang Alice yang melakukannya. Tetapi kau tidak perlu marah terhadapnya. Bagaimanapun juga, Alice hanya mencoba melakukan hal yang benar. Masalah sensitif seperti ini memang harus dibicarakan dengan cara baik-baik. Tidak selamanya sebuah rahasia bisa dipendam begitu saja seperti keinginanmu semula, Jasmine."

__ADS_1


Daniel mencoba menjelaskan posisi Alice kepada Jasmine. Dia tak ingin nanti Alice disalahkan karena telah memberitahu Daniel tentang masalah kehamilan Jasmine. Bagaimanapun juga, Alice merupakan temannya yang berusaha menyampaikan sebuah kebenaran terhadap Daniel. Alice pasti bermaksud baik dengan menyampaikan ini agar Daniel bisa mengambil tindakan yang baik dan benar ke depannya. Dia tak ingin hanya gara-gara Alice membeberkan masalah ini, persahabatan dan pertemanan Jasmine dan Alice yang sudah terjalin baik akan hancur dan rusak. Semoga saja Jasmine bisa mengetahui titik permasalahan ini.


"Masalah ini merupakan masalahku sepenuhnya, Daniel. William, Alice atau siapa pun itu di luar sana, mereka semua tidak berhak untuk mendikte apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh kulakukan. Ini tentang kehidupanku, ini tentang diriku, ini tentang wilayahku. Aku adalah wanita yang mandiri. Masalahku adalah masalahku, tidak akan pernah menjadi masalahmu, masalah orang lain, atau pun siapapun yang bersangkutan dengan ini. Jadi, aku tekankan lagi, kehamilan ini tidak menjadi masalahmu sama sekali. Jangan mengambil posisi untuk suatu urusan yang bukan merupakan urusanmu, Daniel! Jangan ikut campur!"


Jasmine menekan-nekan udara dengan ujung telunjuknya. Wajahnya memerah menunjukkan amarah. Keningnya berkerut-kerut tak menentu, bukti bahwa ia semakin tegang dan tak terkontrol. Jasmine menghentak-hentakkan ujung alas kaki tipis yang ia kenakan, seolah-olah dengan begitu kemarahannya bisa tersampaikan secara penuh pada lelaki yang duduk di hadapannya.


Reaksi Jasmine hanya membuat Daniel meyakini dugaannya semula. Jasmine benar-benar hamil, dan kemungkinan besar itu adalah anaknya. Jika tidak, reaksi Jasmine tidak akan sekuat ini dalam menyangkal dirinya.


Alice memang telah memberikan informasi yang benar. Temannya itu tidak mungkin bermain-main dengan kata-kata kosong dalam masalah penting seperti ini. Satu-satunya keinginan Daniel saat ini adalah berbicara baik-baik pada Jasmine layaknya orang dewasa dan membuat kesepakatan-kesepakatan tertentu. Agaknya apa yang ia inginkan akan mengalami banyak kesulitan. Jasmine sulit untuk bersikap netral dan tak kunjung menahan amarahnya yang tak jelas. Baru kali ini ia melihat wanita hamil dan berusaha tidak mengakui calon ayah anaknya. Di luar sana, yang terjadi justru sebaliknya. Para wanita yang mengandung benih pasangannya, akan menuntut tanggung jawab yang lebih. Bahkan ada yang demi mengikat pasangan, mereka pura-pura hamil.


Terkadang, Daniel tak mengerti dengan cara pikir Jasmine. Wanita itu seperti robot ajaib yang banyak melakukan hal-hal di luar normal. Tindakan dan sikapnya sangat bertolak dengan mayoritas wanita lain.


"Dari reaksimu, kusimpulkan kau memang hamil anakku!"


"Kau tidak bisa sembarangan berbicara!"


"Dan kau juga tak bisa sembarangan membohongiku!"


"Itu akan menjadi urusanku jika bayi yang kau kandung adalah milikku!"


"Kau tidak berhak memiliki apa pun dari sesuatu yang menjadi bagian dari diriku!"


"Bagian itu akan ikut menjadi milikku juga jika memang aku berkontribusi dalam prosesnya!"


"Kita hanya melakukannya satu malam. Kau membayar padaku, dan aku menerima bayaranmu. Itu sudah menjadi persetujuan tak tertulis bahwa apa pun yang terjadi di luar malam itu, sepenuhnya menjadi resiko dan konsekuensiku. Kau pikir untuk apa lelaki hidung belang membayar wanita dengan harga mahal? Karena mereka ingin bersenang-senang tanpa ingin menanggung resiko yang ada. Dengan kata lain, uang yang mereka bayarkan sebagai asuransi dari ketidakterlibatan mereka terhadap semua konsekuensi normal!"


Jasmine mencoba duduk dan mengungkapkan pendapat miliknya. Arti dari wanita bayaran adalah seseorang yang dijadikan objek dalam transaksi kesenangan sesaat dengan bayaran tertentu. Bayaran itu sebagai kesepakatan kesenangan yang tidak menarik tuntutan-tuntutan lain. Itulah kenapa seorang wanita lacúr menanggung resiko yang sangat besar. Dari penyakit kelamin, kehamilan, dan nama baik. Tak ada sejarahnya seorang wanita bayaran menuntut tanggung jawab dari lelaki yang memakainya beberapa malam. Memang itulah pekerjaan pelacúr yang sesungguhnya. Bekerja menanggung resiko besar. Dengan bayaran uang yang juga besar, tentunya.

__ADS_1


"Aku bisa melakukan apa pun sepanjang bayi itu adalah milikku."


"Sudah kukatakan kau tak berhak mengklaim sesuatu yang menjadi bagian diriku. Jika pun aku hamil anakmu—"


"Bukan jika, tapi kau memang hamil anakku. Itu adalah fakta saat ini."


Tadinya Daniel berpikir untuk melakukan tindakan-tindakan untuk meyakinkan seputar anak yang dikandung Jasmine. Tes DNA atau semacamya. Daniel pernah mendengar jika tindakan itu bisa diambil saat janin masih berada di dalam janin.


Tetapi melihat reaksi-reaksi penolakan dari Jasmine, semakin kuat Jasmine menyangkal, semakin kuat Daniel yakin terhadap kenyataan itu. Jasmine sepertinya memang hamil anaknya.


"Oh, Tuan Stranger yang terhormat. Kau tak bisa menuduh wanita bayaran mengandung anakmu begitu saja. Tolong gunakan logikamu. Kalau pun aku hamil, bisa saja benih yang kukandung milik lelaki lain. jadi, sudahi saja debatmu yang tak berguna itu!"


"Jika memang begitu, lakukan saja tes DNA dan buktikan bahwa anak itu tak ada hubungannya denganku sama sekali. Aku tidak akan lagi mendesakmu jika kau berhasil munjukkan padaku hasil tes DNA itu sebagai pembuktian diri!" Daniel berkata lantang. Dia menunjukkan wajah tegasnya kali ini.


"Tetapi jika bukti itu menunjukkan sebaliknya, maka kupastikan aku akan tetap mendesakmu!"


Jasmine tertawa sinis dengan mendongakkan kepalanya. Daniel berkata-kata seolah ia adalah atasan yang tak bisa dibantah. Mengatur semua hal sesuai keinginannya, tanpa peduli bagaimana perasaan Jasmine sebenarnya.


Ini lucu. Benar-benar lelucon yang kejam. Jasmine adalah wanita yang tak suka berada di bawah perintah orang lain. Dia tak suka setiap tindakannya dibatasi atau pun dikekang. Daniel benar-benar bermimpi jika ia beranggapan bisa mengendalikan Jasmine secara penuh.


"Kau ingin mendesakku? Dengan cara apa, Daniel? Memintaku menggugurkan kandungan ini hanya agar supaya tak memiliki anak dari wanita rendahan sepertiku?" Jasmine menatap sosok di depannya dengan sorot mata meremehkan.


Lelaki kaya dengan latar belakang tak bercela seperti Daniel adalah lelaki yang sangat mudah untuk ditebak. Lelaki yang pastinya sikap dan kelakuannya tak berbeda seperti Jack, lelaki yang pernah menjadi suaminya dulu. Lelaki seperti itu adalah lelaki yang mengedepankan nama besar dan kedudukan. Lelaki yang pastinya tak akan pernah mau memiliki anak dengan wanita murah seperti Jasmine. Dengan semua cara, lelaki itu pasti akan menekan Jasmine untuk melenyapkan buah hatinya sendiri. Hanya untuk menjamin Daniel tak memiliki jejak kotor dan tak pantas bersama wanita lacúr.


"Menggugurkan? Tentu saja tidak!" Daniel mengernyitkan kening tak terima, menatap Jasmine dengan pandangan yang sangat tajam. Gestur tubuhnya kaku, menunjukkan ketegangan yang saat ini Daniel alami. Jasmine tidak memperhatikan itu, dia sibuk dengan pikirannya sendiri yang saat ini sudah sangat kacau.


"Lantas apa? Menunggu anak ini lahir kemudian membunuhnya agar nama baikmu tak tercoreng?!"

__ADS_1


"Tidak! Aku akan menekanmu untuk menikah demi memberikan lingkungan yang baik untuk anak ini. Jika tak mau menikah, maka anak ini akan kuproses secara hukum untuk kuasuh di bawah tanganku sepenuhnya!"


...


__ADS_2