
Daniel duduk di atas kursi ruang kerja. Hari telah sore. Ia sudah kembali ke rumah satu jam lalu dan menekuri laptop di depannya yang ia sambungkan melalui ear phone.
Waktu sudah berjalan empat jam lebih sejak Daniel meninggalkan alat perekam otomatis yang ia pasang di bawah kursi di ruangan Jenkinz. Empat jam itu ia habiskan hanya untuk mengikuti perkembangan pembicaraan Jenkinz yang nyatanya hanya sekilas saja.
Hampir dua jam lebih ruangan tersebut kosong. Tak ada pembicaraan apa pun yang Jenkinz lakukan dalam ruangan tersebut yang bisa jadikan Daniel sebagai petunjuk tentang kesepatakan mereka.
Jenkinz bertindak seolah tak terjadi apa-apa setelah kepergian Daniel. Hanya suara wanita yang Daniel tebak sebagai sekretarisnya yang mampu ia dengar. Pembicaraan mereka merupakan pembicaraan sepele tentang publikasi beberapa berita artis tak penting. Beberapa pembicaraan mengangkat tentang topik sponsor pernikahan aktor terkenal.
Daniel sudah mulai putus asa. Mungkin tak ada hasilnya alat yang ia pasangkan Daniel. Sebentar lagi alat itu akan hancur sementara Daniel tak memiliki petunjuk apa pun dari Jenkinz. Lelaki tersebut bersikap misterius bagaikan hantu. Memiliki sisi lain yang tertutup rapat.
Daniel mengambil kopi di meja di hadapannya dan mulai menyesap cairan hitam pekat tersebut tanpa minat. Sepertinya memang akan sia-sia. Tuhan masih belum membongkar niat Jenkinz sebenarnya. Mungkin ada baiknya Daniel melupakan saja niatnya itu.
Setelah seperempat jam lebih menunggu tanpa hasil, Daniel merasa mungkin Jenkinz sudah tak lagi berada di ruangan tersebut. Tak ada suara apa pun yang mengindikasikan bahwa lelaki tersebut masih setia dalam ruang kerjanya.
Daniel mendengus kecil. Dia sempat menyesal kenapa hanya meninggalkan alat perekam kecil. Harusnya ia meninggalkan alat lain yang berfungsi menangkap kehadiaran Jenkinz secara visual juga.
Daniel menggeleng lemah. Ruangan Jenkinz bisa saja lebih steril dari dugaannya. Meninggalkan alat perekam saja sudah menjadi keberuntungan baginya. Alat itu adalah alat yang sederhana, hanya menangkap sensor suara, tetapi cukup efektif untuk tidak teridentifikasi. Hasil dari eksperimen Daniel dua bulan yang lalu.
Saat Daniel sudah bersiap melepas ear phone dari telinga, dia dikejutkan oleh suara Jenkinz yang hadir tiba-tiba.
"Halo,"
Suara lelaki tersebut sedikit samar, tetapi masih mampu Daniel tangkap. Sepertinya Jenkinz tengah memanggil seseorang melalui ponselnya.
"Aku sudah mencoba menawari Daniel tentang kesepatan tersebut. Tetapi sepertinya dia enggan menerima. Lelaki itu terlalu angkuh untuk mendengarkan apa mauku. Dia memilih untuk tidak mencari tahu dan tetap menolak. Jika sampai tiga hari ke depan dia tak juga berubah pikiran, cari orang lain yang sanggup menjalankan misi ini. Kita perlu kepastian secepatnya." Suara Jenkinz sedikit meninggi. Siapa pun bawahan yang dihubunginya sekarang pastilah cukup kuat untuk menghadapi suasana hati Jenkinz yang berubah-ubah.
Daniel menbenarkan posisi ear phone yang ia kenakan dan memastikan pembicaraan tersebut telah terekam di perangkat laptopnya dengan kualitas yang memadai. Dia perlu mempelajarinya lagi mengenai siapa sebenarnya Jenkinz.
Suara Jenkinz terdiam selama beberapa saat. Sepertinya ia tengah mendengarkan dengan seksama tanggapan bawahannya melalui ponsel.
Daniel kembali meradang. Alat yang ia tempelkan adalah alat yang penuh dengan keterbatasan. Dia hanya bisa mendengarkan suara Jenkinz saja saat ini, tanpa bisa menangkap suara lawan bicaranya di ponsel yang lelaki itu gunakan.
"Tidak. Aku belum menyebutkan keinginanku. Dia belum mendengar kesepakatan ini."
__ADS_1
Jeda lagi sejenak.
"Sudah kubilang dia belum tahu tawaran yang ingin kuajukan. Dia sudah menolaknya. Kupikir andai ia tahu aku ingin dia menyerahkan Alice untukku dan kujadikan tawanan dalam dua minggu ke depan, dia pasti akan lebih kuat menolak tawaran ini. Lelaki itu sepertinya cukup setia kawan. Ada baiknya juga aku belum mengatakannya secara langsung. Jika sudah kukatakan dan dia menolak, terpaksa aku menghabisinya. Aku tak bisa membuka resiko dia meneruskannya pada Alice. Merepotkan."
Daniel tercenung lama. Kalimat Jenkinz setelahnya tak lagi terdengar penting. Dia seperti berhenti pada pernyataan itu dan otaknya mengulang-ulang kembali informasi tersebut ke dalam otaknya.
Jenkinz menginginkan Daniel menyerahkan Alice untuk menjadi tawanannya. Daniel memutuskan ear phone yang ia kenakan dan kembali memutar ulang rekaman tersebut.
Benar. Jenkinz memang menginginkan Daniel membentuk kesepakatan dengannya untuk menyerahkan Alice.
Ada apa ini sebenarnya? Jenkinz adalah musuh Alice yang menciptakan rencana terselubung untuk melukainya. Daniel adalah alat yang Jenkinz coba untuk ia gunakan. Sayangnya, Daniel menolak kesepakatann itu bahkan sebelum ia tahu kesepakatan tersebut tentang apa.
Pikiran Daniel mulai berputar. Dia mengambil selembar kertas kosong dan mencoba membuat peta konsep tanpa arah. Dia memikirkan banyak motif yang sekiranya menjadi alasan bagi Jenkinz mengincar Alice.
Mungkinkah Jenkinz adalah musuh bisnis Alice? Bisnis terkadang bisa sangat kejam. Yang mengancam perkembangan perusahaan seseorang bisa menjadi target pembunuhan kejam. Tetapi jika hanya pesaing bisnis, kenapa Black Hell ikut campur? Mafia seharusnya tidak tertarik pada bisnis legal milik Alice. Bagaimana pun juga, usaha gelap mereka lebih dari mampu menopang keuangan organisasi.
Mungkinkah Jenkinz adalah salah satu dalang dari orang yang membunuh Anson? Jika iya, dia adalah orang yang memiliki kemungkinan paling besar untuk menghabisi Alice secara langsung. Tetapi jika dipikir-pikir lebih jeli lagi, untuk apa Jenkinz mengincar Alice sekarang saat keadaan sudah mulai tenang. Bukankah seharusnya dari dulu ia mengincar Alice? Lagi pula, pembunuh Anson bukannya Maxen? Skenario ini terlalu tak masuk akal.
Daniel berdiri dan berjalan memutari ruang kerjanya yang cukup luas. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kening untuk mencari skenario yang sekiranya menjadi motif Jenkinz memburu Alice.
Daniel tak ingin terburu-buru. Saat ini yang paling penting adalah menyewa beberapa orang yang cukup kuat untuk melindungi Alice secara diam-diam. Mungkin, jika keadaan mengijinkan, Daniel juga bisa sering-sering melihat keadaan Alice dan mencari tahu sendiri kira-kira riwayat apa yang pernah Alice miliki terhadap Jenkinz. Dengan cara yang lembut tentunya. Daniel jelas tak ingin menimbulkan kecemasan dengan memberi tahu Alice secara langsung sebelum ia cukup yakin dengan fakta ini.
Setelah ia menghuaqbungi seseorang untuk mengawasi kediaman Alice secara diam-diam, Daniel merebahkan badannya di atas sofa lembut favoritnya. Pikirannya saat ini lebih tenang. Setidaknya orang yang ia suruh mengawasi Alice cukup bisa dipercaya sehingga apa pun yang akan terjadi nantinya lebih bisa dikendalikan.
Setelah ia merasa tenang, Daniel baru menyadari sesuatu. Dia belum mengembalikan uang yang seharusnya ia berikan pada Jasmine tempo hari kemarin.
Mungkin besok. Daniel berencana mengunjungi kediaman Alice dan juga Jasmine.
…
Sore ini cukup indah. Langit berwarna cerah dengan angin musim gugur yang tak terlalu kencang.
Klayver duduk di salah satu kursi ruang tunggu setelah sebelumnya melakukan check in di bandara. Dia menatap tiket kecil di tangannya yang ia pegang. Tiket penerbangan menuju London, Inggris.
__ADS_1
Masalah di negara ini sebagian besar sudah Klayver selesaikan. Musuh-musuh yang mengincar dirinya sudah berhasil ia habisi satu per satu. Sekarang tinggal ia mengurus musuh-musuhnya di negara lain. Lambat-laun, klayver percaya masalahnya akan bisa ia atasi satu per satu.
Masalahnya semakin rumit. Musuh yang akan Klayver hadapi semakin sulit setiap waktu. Sebelumya ia hanya menghabisi musuh lokal. Musuh yang masih berada dalam kebijakan negara yang sama.
Sekarang ia mulai menjangkau dunia luar. Berurusan dengan orang-orang di luar negaranya membuat Klayver terekspos dan tak terlindungi. Ibarat bak macan memasuki hutan terlarang. Sekuat apa pun, toh wilayah yang bukan wilayahnya tetap saja laksana ranjau. Langkah yang diambil adalah perjudian. Belum lagi jika ia terjerat hukum negara lain andai tertangkap. Prosedurnya akan lebih sulit. Seorang kriminal di negara asing akan lebih mudah diajatuhi hukuman yang lebih menyudutkannya.
Semua kemungkinan itu sudah Klayver pahami baik-baik. Dia membuat peta konsep di kepalanya secara abstrak untuk membuat skema kasar langkah-langkah apa yang harus ia lakukan agar bisa melenyapkan orang yang memburunya tanpa menyinggung orang yang tidak tepat. Ada beberapa pihak yang tak pantas untuk Klayver singgung. Kekuatan mereka bisa saja menghancurkan Klayver sewaktu-waktu.
Klayver lebih memilih mengambil langkah hati-hati dan terorganisir. Dia perlu menyembunyikan diri sedemikian rupa untuk melindungi tujuannya agar mudah dilaksanakan tanpa membuat banyak keributan.
Seperempat jam kemudian Klayver mulai memasuki pesawat dengan tenang. Dia bertingkah layaknya turis yang penuh minat dan memalsukan namanya sebagai Mr. Darrel Grint. Sebuah kumis yang tampak natural menghiasi mulut atasnya dan rambutnya ia sisir rapi layaknya lelaki lugu yang kaku. Bahkan, kemeja atasnya ia masukkan ke dalam celana kain hitam miliknya.
"Maaf, sir. Kursi anda nomor berapa?" tanya seorang pramugari melihat kebingungan yang terpancar dari wajah Klayver.
"A-Aku … aku nom-nomor … maksudku, kursi emh … nomor 34C." Klayver menjawab dengan nada tergagap. Dia mengelap keningnya yang tak berkeringat dan menampilkna wajah bodoh. Beberapa orang yang berada di belakangnya ikut tak sabar berdiri di lorong pesawat menunggu Klayver segera bergerak ke arah lain.
"Baik, Sir. Mari saya tunjukkan." Pramugari tersebut tersenyum penuh pengertian dan mengarahkan Klayver dengan sabar menuju tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket lucek yang Klayver pegang. Pesawat ini telah banyak menampung semua jenis manusia. Ada yang menyebalkan, lugu, kasar, dan cuek. Pramugari tersebut tak terkejut melayani jenis penumpang seperti Mr. Darrel Grint. Dia tetap profesional dan melakukan tugasnya dengan cekatan. Klayver pasti akan menilai penerbangan ini dengan memberinya bintang lima nanti.
Penampilam Klayver sebagai orang culun yang kaku tampak meyakinkan. Dia tersenyum dalam hati dan bersyukur kemampuan ini masih ia miliki. Seorang pembunuh bayaran bukan hanya dituntut untuk selalu menyatu dengan lingkungan dan keadaan. Tetapi ia juga harus bisa menjadi siapa pun yang keadaan butuhkan. Termasuk saat ini. Dia harus berpura-pura menjadi pribadi lain dengan sangat meyakinkan.
Setelah nyaman dalam duduknya, Klayver memejamkan mata sejenak dan bayangan tentang Alice menyerangnya dengan cepat.
Ya Tuhan. Dia baru satu setengah bulan meninggalkan Alice dan kerinduan yang ia miliki sudah membuncah tak karuan. Rasa cinta Klayver bak madu lebah liar. Manis, agresif, dan kuat.
Kerinduan ini hadir laksana wabah. Terpercik dari hal kecil, membesar, menyebar, dan tak terkendali.
Wajah yang tercinta menyatu bersama setiap objek yang ia lihat. Awan bak bayangan yang menyampaikan kehalusan Alice. Angin menjadi bahasa kerinduan bagi mereka. Bahkan langit juga meneruskan setiap isyarat cinta yang mereka ukir.
Klayver tersenyum kecil, menyimpan rasa dalam dada dengan penuh rahasia.
Cinta adalah penyakit. Siapa yang terkena, dia tak akan pernah mau disembuhkan. Begitulah Jalaluddin Rumi pernah berkata. Sebuah kebenaran setelah Klayver mengalaminya sendiri.
Demi wanita itu, Klayver akan melakukan semua hal meskipun harus menghancurkan setengah dari dunia ini.
__ADS_1
…