
Setelah melewati berjam-jam penerbangan yang menjenuhkan di pesawat, Alice menarik nafas lega saat ia berhasil mendarat di LA. Dia keluar dari bandara dengan menjinjing sebuah koper berukuran sedang. Sebuah kacamata hitam bertengger manis menutupi matanya dari sinar matahari.
Bulan ini mulai memasuki musim panas. Alice hanya mengenakan sebuah kemeja pendek dengan celana berbahan kain yang nyaman. Dia perlu menyusaikan diri dengan cuaca. Suhu mulai merangkak naik menjelang tengah hari.
Alice memyusuri trotoar dan menghentikan diri di depan salah satu hotel berbintang. Dia memutuskan untuk mengambil chek in beberapa malam di kota ini. Alice tak tahu akan berapa lama ia mencari keberadaan Aaron Stephen. Dia harus mempersiapkan segala kemungkinanya mulai dari sekarang.
Setelah berhasil mendapatkam kamar yang ia inginkan, Alice berbaring sejenak untuk menenangkan gejala jetlag yang ia alami. Mandi air dingin benar-benar menggoda saat ini. Dia memaksa tubuhnya bangkit dan segera berjalan ke arah kamar mandi yang berada di sudut.
Perlahan, Alice menanggalkan pakaianya dan membilas tubuhnya dengan air dingin. Benar-benar segar. Air ini mampu mengurangi stress yang ia alami.
Pikiranya akhir-akhir ini mulai kacau. Kehilangan tiga orang keluarga dalam saat bersamaan membuat dirinya terpuruk dalam kepedihan baru. Tetapi, dia berusaha kuat untuk menanggung semuanya. Yang ia pikirkan hanyalah Axel. Akan seperti apa nasib anak itu jika ia tumbang? Putranya perlu kekuatan ibunya untuk tetap bertahan melalui kehidupan pelik yang mereka jalani.
Ya Tuhan. Setahun berlalu dan kenangan-kenangan tentang Anson masih belum berhasil disingkirkan dari memorinya. Sering kali ia tak sengaja memanggil nama suaminya seolah-olah ia masih hidup dan sehat. Alice akan merasa nyeri saat kemudian menyadari Anson telah lama tiada.
Bagaimana waktu bisa secepat ini berjalan dan membuat kehidupanya terbengkalai? Alice ingin mengutuk kehidupan, namun ia takut akan karma. Dia hanya bisa pasrah dan berharap suatu hari nanti akan tiba saatnya pelangi itu hadir.
Setelah merasa lebih baik, Alice menutupi dirinya dengan handuk yang disediakan pihak hotel dan keluar menuju balkon untuk berjemur sebentar.Dalam waktu yang sekejap, kulitnya telah berwarna kemerah-merahan terkena sinar matahari. Dari dulu dia memang sensitif setiap kali bersinggungan dengan udara panas secara langsung. Alice memutuskan untuk kembali ke kamar dan beganti baju. Sudah saatnya ia bersiap-siap menncari tahu keberadaan Aaron.
Saat Alice keluar dari kamar dan berjalan menyusuri lorong, pikiranya mulai sibuk dengan banyak pertanyaan.
Siapa sebenarnya Aaron Stephen? Kenapa Anson meninggalkan petunjuk pada lelaki tersebut? Mungkinkah mereka dulu berteman dekat? Atau mungkinkah mereka satu organisasi? Atau mungkinkah Aaron bawahanya?
Semua kemungkinan-kemungkinan mulai terbentuk dalam kepala Alice. Dia mendengus kecil dan segera mencari taksi untuk mengantarkanya pada tempat sesuai petunjuk Anson.
Aaron Stephen.
Alice harus mengingat-ingat nama itu.
Taksi ini membawa Alice melalui jalanan dengan ahli. Drivernya adalah seorang pemuda berusia akhir dua puluhan. Alice cukup puas dengan kegesitanya sehingga ia menambahkan tips lumayan banyak.
"Oh terimakasih Miss, Anda sungguh sangat dermawan." Kedua mata pemuda itu berbinar bahagia. Alice hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Anda bukan hanya cantik Miss, Anda seperti malaikat."
Alice tertawa melihat respon dari sang pemuda. Dia menggelengkan kepalanya, merasa terhibur. Sulit mencari seseorang yang cukup menyenangkan akhir-akhir ini.
"Jika besok Anda butuh diantarkan ke mana saja, hubungi saja saya di nomor ini. Saya akan siap sedia menjemput dan mengantarkan Anda ke manapun Anda mau. Saya juga ahli mengetahuu tempat-tempat yang hebat di kota ini. Apalagi masalah shopping. Saya memiliki referesi segudang."
Alice berterimakasih dengan tawaran sang pemuda dan menerima selembar kartu nama. Max Street. Wow. Nama belakangnya saja berarti jalanan. Sepertinya lelaki itu memiliki bakat kegesitan dari lahir.
"Jangan terlalu formal denganku, Max. Panggil saja aku Alice."
Max mengangguk senang. "Baiklah Alice, kau sudah sampai di tempat yang kau tuju."
Max berhenti di bahu jalan. Alice mengamati sekeliling di antara jalanan sepi yang hanya ditumbuhi pepohonan di samping kanan dan kirinya. Hanya ada beberapa rumah sederhana di lingkungan ini. Salah satunya adalah rumah kayu yang kecil dan mengenaskan di samping mobil mereka.
"Apa kau yakin rumah ini adalah alamat sesuai yang aku tunjukkan padamu?" Alice tampak ragu. Dia menatap pondok kecil itu yang terlihat suram. Sekilas memang tampak kokoh, namun seperti tak berpenghuni lama.
"Ya. Sangat sesuai. Nomor dan jalanya sama." Max sedikit heran. Bagaimana mungkin seorang wanita cantik seperti Alice mencari tempat seperti ini?
Dqhi Max berkerut-kerut tak senang dan menatap Alice tak nyaman.
"Alice, aku baru ingat sesuatu. Rumah ini menjadi tersangka tempat pembunuhan sebanyak tiga kali dua tahun yang lalu. Namun, kasusnya tak selesai saat dibawa ke pengadilan. Kudengar tersngka adalah lelaki bernama belakang Stephen."
Ya Tuhan, Alice merasa mual. Dia menatap pondok itu ragu dan ingin berbalik meninggalkan sejauh mungkin tempat terkutuk ini.
Apakah Aaron menjadi tersangka pembunuhan? Bagaimana bisa sekarang ia malah datang secara suka rela ke tempat ini? Itu sama saja mengantarkan nyawa.
"Apa kau yakin ingin mendatangi tempat ini?"
__ADS_1
Max ikut ragu-ragu. Dia tak ingin mengantarkan penumpangnya sendiri pada masalah. Bagaimanapun juga, Alice wanita yang cukup dermawan. Tak seharusnya ia membiarkan wanita baik sepertinya menanggung bahaya.
"Sepertinya mau tak mau memang harus."
Alice tak memiliki pilihan lain. Petunjuk dari Anson hanyalah tempat ini. Dia harus memberanikan diri mencari informasi apapun yang bisa ia dapatkan. Lagi pula dia sudah jauh-jauh melakukan perjalanan dari Manhattan ke sini. Apakah ia akan bersikap pengecut dan membiarkan saja usahanya sia-sia?
"Apa kau yakin?" Max kembali bertanya.
"Ya."
"Kau ingin aku menemanimu masuk ke dalam?" Max bertanya takut-takut. Sepertinya keberanian lelaki itu lebih kecil dari Alice.
Setelah menimbang-nimbang lama, Alice memilih menolak tawaran Max. Dia ingin membahas sesuatu yang sensitif, tak seharusnya Max mengetahui pembicaraan mereka.
"Aku ingin masuk seorang diri. Kau tunggulah di tempat lain yang tak jauh dari sini. Jika aku telah selesai, aku akan menghubungimu untuk menjemputku," pinta Alice yang segera dibalas anggukan oleh Max.
"Max,"
"Ya?"
"Jika dalam satu jam aku tak menghubungimu, ada baiknya kau panggil polisi kemari."
Wajah Max sedikit memucat memikirkan kemungkinan tersebut. Dia seperti anak kecil yang ketakutan. Yang benar saja, apakah ia sekarang terjebak aksi heroik seperti di film-film?
"Bisakah kau tidak bercanda seperti ini?" Max berkata lirih. Dia memijat pelipisnya tak berdaya.
"Baiklah. Sampai jumpa, Max."
"Miss … Miss ... sebaiknya kau urungkan niatmu. Miss … Hei, kau harus mendengarkanku!"
Alice tak menghiraukan teriakan Max dan keluar dari mobil begitu saja.
Max merasa gamang. Dia kemudian pergi dari tempat ini dan mencari tempat lain yang lebih nyaman untuk menunggu Alice. Semoga saja wanita itu cukup beruntung, karena Max tak terlalu berani menolongnya jika terjadi apa-apa. Ya Tuhan, sifat pengecut yang ia miliki ini tak bisa ia rubah dari dulu. Dia orang yang tak terlalu suka dengan bahaya.
Alice jadi membayangkan film horor. Biasanya setting yang sering digunakan dalam film tersebut persis seperti yang ia lihat. Pondok tua menyeramkan, penuh misteri dan terlantar. Bedanya, film horor menggunakan setting waktu malam hari, sementara ia mengalaminya saat matahari tengah bersinar sempurna.
Alice sedikit merinding saat ia sudah berdiri persis di depan pintu. Sebuah gerendel dari besi terpasang menyatu dengan pintu kayu yang berfungsi menggantikan bel modern. Alice menyentuh perlahan gerendel tersebut dan mengetukkanya beberapa kali, membuat suara berdenting nyaring.
Satu detik berlalu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tu …
krieeeettttt
Alice mundur secara tiba-tiba saat pintu mulai terbuka. Nafas Alice berkejaran tak menentu. Dia memegangi dadanya dengan sepenuh tenaga. Ya Tuhan, keadaan ini memiliki efek kejut seperti cerita thriller.
Seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun berdiri di depan Alice. Orang ini memiliki perawakan kurus kering dengan rambut memutih semua. Matanya berwarna silver dengan pandangan menyorot tajam. Ada kejejaman yang tak bisa ia sembunyikan dari tatapanya. Dia mengenakan kaos berlengan pendek dan celana kain yang terlihat kebesaran.
Alice berdehem, merasa canggung. Rasa takut mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Apakah gosip pembunuhan itu benar terjadi? Mungkinkah lelaki ini pelakunya? Alice semakin merasa was-was. Ya Tuhan, dia wanita lemah yang bisa saja ditaklukkan dalam sekali pukul oleh lelaki berpengalaman. Meskipun lelaki itu terlihat tua, tetapi Alice yakin kemampuanya pastilah tidak sembarangan.
"Ehem, saya Allice, apakah Anda Mr. Aaron Stephen?"
Alice berdehem. Dia menoleh ke sekelilingnya, membaca suasana. Sialan. Di sekitar sini tak ada orang. Jika terjadi apa-apa dengan Alice,hanga Tuhan dan iblis yang menjadi saksinya.
"Ya. Kau cukup pintar, Miss. Jangan bilang kau tersesat di pondokku." Aaron terkekeh geli. Meskipun wajahnya menampakkan humor, tetapi kekejamam di sorot matanya tak luntur sedikit pun. Dia bahkan lebih menakutkan dari Anson.
"Tidak, Sir. Saya ingin berbicara secara pribadi dengan Anda. Bisakah saya meminta waktu Anda sebentar saja?"
Aaron melihat keseriusan di mata Alice. Wanita ini sedikit unik. Meskipun Aaron bisa mendeteksi reaksi ketakutan dari raut wajahnya, tetapi tekadnya cukup kuat untuk bertahan di sini. Pastidia memiliki tujuan tertentu.
"Baiklah. Aku tak pernah menolak wanita cantik. Masuklah," tawarnya ramah, membuka pintu semakin lebar.
__ADS_1
Alice berdiri mematung. Apakah bijaksana memasuki sarang harimau? Bagaimana jika ia tak berhasil keluar hidup-hidup?
"Masuklah, Miss. Sudah terlambat jika kau merasa takut." Aaron tertawa kecil. Dia menyukai reaksi ketakutan yang ditunjukkan Alice. Wanita ini sangat menarik.
Alice perlahan masuk ke ruang tamu. Dia tak memiliki pilihan lain. Mau tak mau dia harus melalui ini semua. Jantung Alice semakin berdetak tak menentu.
Ruang tamu ini memiliki ukuran tujuh kali lima. Tidak terlalu kecil sebenarnya. Disetiap dinding kayu ada hiasan … tunggu, apa itu? Tengkorak? Ya Tuhan, apakah itu tengkorak manusia?
Alice mundur ke pintu depan. Dia tak tahu orang gila macam apa yang menggunakan tengkorak untuk pajangan di ruang tamu.
Aaron yang melihat ketakutan Alice hanya tersenyum kecil. Wanita ini seperti bocah yang mudah ditakuti. Dia senang mempermainkan emosi seseorang.
"Masuklah, Miss. Semua itu tengkorak buatan. Kau tak perlu berpikir aneh-aneh tentangku. Dulu aku adalah dokter. Aku memiliki banyak koleksi tulang-tulang palsu manusia."
Alice menyipit tak percaya. Mungkinkah yang ia dengar adalah kebenaran? Bisa saja Aaron berbohong untuk mengecoh dirinya. Alice memukul kepalanya, sedikit ragu. Kenapa dia harus terjebak dengan pesakitan jiwa seperti Aaron?
Namun, lagi-lagi dia memang tak memiliki pilihan lain. Alice memberanikan diri memasuki ruangan dan duduk di kursi kayu. Ia biarkan pintu tetap terbuka. Jika sewaktu-waktu Aaron berniat buruk, Alice berharap masih bisa melarikan diri.
"Kau ingin minum sesuatu?"
Alice menggeleng dengan cepat. Dia tak ingin minum racun yang bisa saja disuguhkan oleh lelaki aneh itu. Sepertinya jiwa paranoid Alice muncul dan menghancurkan semua pikiran sehatnya.
"Baiklah, apa tujuanmu ke sini? Kau bukan reporter yang berusaha mengorek-ngorek kasus pembunuhan dua tahun yang lalu, bukan?"
Alice terbatuk dengan hebat. Dia baru saja merasa tenang, kenapa Aaron kembali lagi memunculkan ketakutanya? Mungkinkah Aaron sengaja mempermainkan dirinya? Sialan.
"Bukan. Aku bukan reporter." Alice menggeleng kuat-kuat.
"Ataukah kau orang yang kebetulan penasaran dengan kasus itu?" Aaron kembali mengungkit kasus tersebut.
"Tidak. Aku … aku ke sini untuk membicarakan sesuatu."
Baiklah. Alice harus cepat menyekesaikan niatnya. Ia tak tahu akan berapa lama dirinya kuat berada di rumah ini.
"Kau mengenal Anson Mallory?"
Raut muka Aaron langsung berubah pias. Dia menolehkan kepala ke samping dan menendang sebuah benda kecil yang kebetulan ia temui.
"Ya. Kudengar dia sudah meninggal beberapa waktu lalu," katanya dengan ekspresi ganjil. Alice berdehem kembali dan mencoba merangkai kata-kata.
"Aku adalah jandanya," jelas Alice lirih, merasakan kembali kepedihan yang menyeruak tiba-tiba.
Aaron menatap Alice dengan pandangan menyorot tajam. Ekspresi matanya sulit untuk ditebak. Dia megamati Alice dengan cara yang sangat intensif. Alice mengkerut di kursi kayu, merasa kembali takut.
"Kau jandanya?"
"Ya." Alice berkata lirih. Ia menyibukkan dirinya untuk melihat langit-langit pondok agar ketakutanya tak kembali lagi.
"Kudengar dia juga memiliki anak."
Alice mengangguk, membiarkan tangisan kecil keluar dari bibir indahnya. Kepedihan itu terlalu nyata untuk ia rasakan kembali. Hatinya selalu ringkih jika membahas tentang Anson. Ya Tuhan, separuh hidupnya telah pergi begitu cepat.
"Tiga anak. Dua anak kami telah meninggal beberapa waktu setelah kepergian Anson," jelas Alice terisak pilu. Dia mencengkeram ujung kemejanya dan menangis lirih. Ya Tuhan. Sakit ini tak pernah berkurang. Selalu sama.
Dia pikir, waktu akan menyembuhkanya. Namun ternyata kepedihan itu tak kunjung hilang, seolah menjadi abadi. Setiap detik yang ia habiskan setelah kepergian Anson hanyalah kehampaan tanpa makna. Hidupnya tetasa gersang dan kosong.
"Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan, Alice?"
Alice menatap lelaki ini dengan gamang. Dia kemudian menyampaikan maksudnya.
__ADS_1
"Aku mencurigai kematian Anson dan anak-anak adalah suatu kesengajaan. Aku menemukan pesan tertulis dari Anson yang menyatakan jika kondisi kami dalam masalah, aku diminta untuk mendatangi dan meminta bantuan Anda, Sir."
…