
Hari berganti hari dengan cepat. Tiga bulan telah berlalu begitu saja dari semenjak Alice ditinggalkan Klayver di rumah ini. Dia masih menanti lelaki itu dengan hasrat yang membara, tak pernah pudar oleh keadaan.
Musim gugur telah berlalu. Kini telah memasuki awal Januari. Salju telah turun di beberapa tempat, membuat suhu udara semakin menurun dari sebelumnya. Siang hari biasanya berada di 4° celcius, sementara malam bisa berada di -3° celcius, atau pun berada di sekitar itu.
Alice membutuhkan baju tambahan setiap kali pergi keluar. Axel pun demikian. Mereka berdua lebih sering berada di rumah. Hanya saat sekolah saja Axel keluar. Beberapa hari yang lalu diperkirakan akan terjadi badai ekstrem dingin. Mungkin sekolah akan terancam libur. Alice berharap semoga saja badai itu tak terjadi. Hal-hal seperti itu bisa mempengaruhi banyak aktifitas orang-orang.
Dengan mantel hangat yang membalut tubuhnya, Alice bersenandung lirih di atas balkon. Dia menatap pemandangan di sekelilingnya yang memperlihatkan banyak gedung-gedung dan bangunan megah. Kota ini telah berkembang dengan kecepatan yang mengerikan. Alice merasa kagum sekaligus was-was dengan setiap proses pembangunan yang ada.
Semua hal selalu memiliki dua sisi. Pembangunan, contohnya. Di sisi lain, sebuah tempat membutuhkan perombakan dan pembangunan yang berkesinambungan setiap waktu. Tetapi efeknya adalah kehilangan nilai kemurniannya sendiri.
Untuk menciptakan gedung yang indah, maka akan mengorbankan banyak tanah dan lahan kosong yang tadinya lebih bersahabat pada alam. Untuk membangun kawasan baru, biasanya akan mengambil kawasan hijau yang tadinya sejuk. Untuk membangun perkotaan, biasanya akan mengorbankan kawasan desa yang masih asri.
Memang semua itu merupakan hukum alam yang telah berjalan lama. Alice menyadari dengan enggan, karena ia pun sejatinya merupakan pelaku bisnis dalam bidang properti. Dia sering kali merasa dilema. Setiap menciptakan hal baru, ada hal lama yang terpaksa harus digeser perannya.
Karena itulah, akhir-akhir ini Alice membatasi bisnisnya. Dia hanya bersedia membangun dan merenovasi bangunan yang memang telah berada di kawasan padat penduduk. Jika ia menemukan lahan murni yang masih tak terjamah, dia cenderung akan membangun rumah kayu seperti pondok dan mempertahankan eksistensi di sekelilingnya, agar tak menggeser nilai kemurnian yang ada. Jika pun ia harus menjual, Alice akan mengutamakan menjual pada orang yang menghargai akan keindahan alam dan pecinta hal-hal seperti itu.
Akhirnya, setelah banyak perjalanan hidup yang ia lalui, dia memahami bahwa uang tidak semata-mata menjadi hal utama yang dikejar. Ada banyak faktor yang lebih baik dari sekadar mencari uang. Alam juga perlu dihargai. Kemurniannya perlu dijaga.
Tidak selamanya dollar menjadi kiblat. Alice menyayangkan pembangunan yang terjadi dengan merusak lahan yang ada dalam kawasan hijau. Wilayah hutan semakin berkurang.
Dunia mengalami suhu yang panas setiap waktu, lahan hijau berkurang, dan kawasan hutan disasar para usahawan. Sementara di luar sana, kelompok alam yang mengedepankan lingkungan tak sebesar orang-orang yang menghancurkan lingkungan. Jumlahnya hanya minoritas, melawan mayoritas yang berkekuatan besar.
Lama-lama, dunia mulai sekarat, menunggu kematian yang mengenaskan detik demi detik. Alam hanya akan menjadi sesuatu yang tersisa dan digerogoti setiap waktu oleh manusia. Perusak utama sekaligus predator paling kejam.
Bukan hanya alam, harapan Alice pun semakin menipis setiap hari. Entah ke mana hidup akan membawanya, dia hanya berharap masih memiliki tempat yang ia idam-idamkan. Tiga bulan menjalani hari dalam kesendirian bukanlah hal yang mudah untuknya. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke empat. Terkadang, kedutan-kedutan kecil mulai tercipta dari janinnya. Anak ini pasti tumbuh dengan baik, mulai bergerak aktif sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Alice menatap matahari musim dingin yang mulai berwarna jingga. Jam baru menunjukkan pukul 17.20 waktu setempat. Tetapi petang mulai menjelma. Siang di Manhattan lebih sedikit frekuensinya dari pada malam hari. Tetapi bagaimana pun iklim dan suasana di kota ini, Alice sudah terlanjur jatuh cinta dengan tempat ini. Tempat di mana ia lahir, tumbuh, dan dibesarkan.
Anak-anaknya juga akan tumbuh di sini. Menemui setiap matahari terbit dan terbenam, mengalami setiap musim yang berganti, hingga menua bersama keluarganya kelak.
…
Jasmine duduk di kursi meja rias dengan pandangan nanar. Dia merapikan helaian-helaian rambut pirangnya dan menahannya ke telinga. Wajahnya kelam, menunjukkan banyak kebimbangan.
Kedua tangan Jasmine sedikit gemetar. Dia menatap ke cermin rias, menyadari wajahnya benar-benar tak menyenangkan untuk dilihat.
Tidak ada baju seksi yang melekat ke badannya kali ini. Sebagai gantinya, dia mengenakan kaos panjang dengan celana kain senada sepanjang mata kaki. Udara musim dingin akan berada di bawah titik beku setiap malam. Dia mengambil mantel hangat di sandaran kursi dan memakainya dengan cepat.
Ya Tuhan. Hidupnya mungkin akan berubah mulau detik ini. Dia telah mempersiapkan diri, tetapi nyatanya kenyataan yang baru saja ia terima masih saja menggebrak kesadarannya dengan sangat kuat.
Jasmine berdiri, menatap musim dingin Manhattan dari balik jendela. Dia bisa melihat salju di beberapa titik. Matahari hanya menyisakan satu garis merah muda di cakrawala. Menyambut malam dengan udara yang menggigit tulang.
Ia hamil.
Kenyataan yang baru ia pastikan beberapa menit yang lalu. Memang sedikit tak masuk akal, tetapi nyatanya inilah yang terjadi.
Datang bulannya terlambat satu setengah bulan lamanya. Tadinya Jasmine pikir, itu hanya masalah hormonal karena pindah dari Washington ke Manhattan. Mungkin tempat bisa mempengaruhi hormon Jasmine.
Tetapi setelah ditunggu sampai satu setengah bulan tak juga kunjung datang, Jasmine memberanikan diri untuk melakukan tes secara mandiri. Dia membeli dua test pack,mencobanya sebanyak dua kali dan hasilnya tetap sama. Dua garis merah dengan goresan yang kuat.
Tentu saja hal ini mengejutkan. Jasmine tak pernah merasakan gejala-gejala layaknya orang hamil pada umumnya. Dia tak mual, tak muntah-muntah, tak mengalami morning sickness atau semacamnya. Jasmine bahkan bisa berolah raga dengan normal, tidak merasakan lemah atau berubah mood tiba-tiba. Jadi, fakta dirinya hamil sangatlah di luar dugaan.
__ADS_1
Jasmine menutup mata, merasa lemah saat ini. Ayah dari bayi yang ia kandung adalah Daniel. Dia sangat yakin. Daniel adalah lelaki yang menyentuhnya selama dalam kurun waktu tersebut. Saat pertama kali Jasmine datang ke tempat ini, dia masih mengalami siklus menstruasi. Siklus itu mulai berhenti setelah Daniel menyentuhnya ketika kesepakatan mereka berlangsung.
Jasmine ingat saat itu Daniel menggunakan pelindung. Saat itu Jasmine tak menggunakan pil kb karena yakin dengan pelindung yang Daniel gunakan. Satu-satunya hal yang menjadikan kehamilan ini terjadi, adalah adanya kebocoran ******.
****** memang bisa mencegah kehamilan dan penularan penyakit seksual. Tetapi Jasmine pernah mendengar pengaman itu memiliki tingkat kegagalan beberapa persen. Bisa saja terjadi kebocoran karena hal yang tak diduga.
Jasmine termenung lama. Dia pernah kehilangan putri beberapa tahun silam. Hal itu merupakan kejadian yang sangat traumatis dan sulit untuk ia sembuhkan. Rasa sakit yang ia derita membekas, mengakar dalam hingga membentuk rasa pedih tak terkira.
Seburuk-buruknya orang, terkadang dia masih menyimpan kebaikan dan kelembutan tersendiri. Jasmine pun juga demikian. Dia memiliki sisi rapuh pada makhluk yang bernama bayi. Kehilangan telah membuat sebagian hati Jasmine lemah dan menyerah kalah. Suaminya menolak dirinya, putrinya pun ia ambil dengan kejam dan dibawa dalam kematian yang menyedihkan.
Jasmine masih ingat bagaimana lara itu terbentuk. Ia tak ingin mengulangi hal yang sama. Cukup sekali hal tersebut terjadi. Jiwanya tak akan bisa menyimpan duka dua kali dalam hal serupa.
Anak merupakan sebuah mukjizat tersendiri bagi hidup Jasmine yang gersang. Dia tak akan mengambil resiko kehilangan janin ini. Akan ia pendam kenyataan ini baik-baik. Kehamilannya mungkin baru berusia dua setengah bulan. Dia harus bisa menyembunyikan kehamilan ini hingga tiga bulan ke depan.
Dia tak ingin Daniel tahu dan mulai membentuk spekulasi. Andai pun Daniel curiga, dia tak ingin menyebutkan fakta bahwa Daniel-lah ayah dari janin yang ia kandung.
Lelaki bisa saja bertindak kejam kepada wanita rendah seperti Jasmine. Hal yang terparah dan tak ingin Jasmine bayangkan adalah menggugurkan bayi ini. Untuk menghindarinya, dia harus hati-hati menjaga kenyataan ini dari siapa pun juga. Daniel bisa saja berniat menggugurkan janin ini andai ia tahu pelacúr yang ia sewa mengandung benihnya.
Dengan perasaan sesak, Jasmine menggenggam tangannya sendiri dengan lebih erat. Kehidupan telah lama tak bersahabat dengannya. Entah ke mana arah hidup Jasmine akan mulai terbentuk setelah anak ini lahir. Masihkah ia bisa melanjutkan profesinya? Atau mungkinkah ia akan hidup dengan cara lain yang belum pernah ia lakukan?
Semuanya masih samar. Tak ada kepastian yang bisa ia lihat saat ini. Hal yang paling baik adalah berusaha menjaga kesehatannya dengan tambahan vitamin. Mungkin, anak ini bisa lahir di awal musim panas. Musim yang cukup indah saat buah hatinya melihat dunia.
Jasmine berbalik, berjalan pelan keluar kamar. Dia perlu melihat kondisi Alice. Semenjak Alice masuk rumah sakit karena kelelahan dan mengalami flek ringan, Jasmine menjadi lebih protektif.
Ngomong-ngomong tentang kelelahan, Jasmine jadi teringat dia harus ekstra menjaga dirinya sendiri agar tak terlalu memforsir tenaga. Alangkah lebih baik mulai besok ia mengurangi aktifitas fisik dan memperbanyak istirahat. Tubuhnya pasti butuh imun yang kuat untuk menghadapi musim dingin kali ini. Bayinya mengandalkannya. Jasmine harus menjadi wanita hebat dan kuat. Demi anak ini, ia akan melakukan apa pun selama kehamilannya bisa tetap terjaga.
__ADS_1
Ya Tuhan. Membayangkan akan punya anak membuat Jasmine diliputi euforia tak berkesudahan. Dia berjalan dengan ringan, melangkah penuh kebahagiaan. Apakah ini juga yang dirasakan Alice saat dulu ia msngetahui kenyataan kehamilannya? Jika begini rasanya, pantas saja ia selalu melihat wajah bersinar Alice setiap kali membahas tentang calon anaknya. Sinar mata kebahagiaan seorang ibu. Ya. Itulah yang kini ia alami.
…