
Seorang lelaki bertubuh tegap tengah duduk di ruangan VIP sebuah bar. Ruangan ini kedap suara. Sehingga suara dentuman musik tak mengganggu kenyamanan orang-orang yang berada di sini.
Tiga orang wanita melirik tertarik padanya. Dua orang wanita seksi berambut pirang dan seorang wanita latin eksotis yang luar biasa menggoda. Mereka saling melirik satu sama lain, memberi isyarat untuk mulai mendekati objek baru.
Tetapi meskipun satu menit telah berlalu, tetap tak ada yang bergerak mendekat.
Lelaki ini memiliki aura yang menakutkan. Campuran antara kekejaman dan kegelapan total.
Mata emasnya yang bagaikan elang menyorot tajam pada setiap hal yang menjadi objeknya. Rambut gelapnya ia pangkas sebagian, sehingga menambah gurat ketampananya.
Usianya mungkin tak lebih dari tiga puluh tahun. Tetapi tatapanya seolah mampu memerintahkan semua orang, bahkan yang lebih tua darinya. Kedua tanganya terkulai santai di sisi kursi berkelas yang menjadi fasilitas tempat ini.
Dia menyesap bir langka produksi tahun delapan puluhan dengan gerakan luwes, mengabaikan orang-orang yang was-was karena berada di dekatnya. Keberadaanya benar-benar terlalu dominan.
"Kawan, kudengar kau sedang dalam masalah." Seorang lelaki gendut berusia empat puluhan mulai membuka perbincangan. Dia adalah Mr. Leon, pemilik tempat ini.
Lelaki yang ia ajak bicara masih saja bergeming tak peduli. Kedua matanya seperti teka-teki mematikan tanpa dasar. Bagaimana bisa dunia yang indah ini menyimpan makhluk semenakutkan dia.
"Apa pedulimu, Leon?" tanyanya datar. Nadanya mengandung kesinisan. Dia lelaki yang sulit untuk didekati. Sangat sulit.
"Aku selalu peduli pada informasi yang sensitif." Leon berkata ringan sembari mengusir banyak ****** di sekelilingnya. Wanita-wanita itu hanya mengganggu suasana saja.
Gossip telah beredar dan menyebarkan kabar bahwa lelaki hebat ini tengah diburu banyak pihak. Dari kepolisian, agen internasional hingga para mafia yang menyimpan dendam.
Tetapi kali ini kasusnya lebih rumit. Para pemburu saling bekerja sama untuk membongkar identitasnya. Langkah-langkah mereka mulai terasa mengganggu.
Tidak sembarangan orang mampu mengetahui identitas lelaki tersebut. Leon adalah salah satu orang yang cukup beruntung mendapatkan kepercayaan itu. Infornasi ini berhasil ia tutupi dengan sangat sempurna.
"Kau perlu keluar dari negara ini jika tetap ingin bertahan. Aku akan membantu membuatkan paspor baru."
Lelaki itu menoleh, membuat Leon tersentak tak nyaman. Sialan si mata kucing ini. Tatapanya bisa membuat Leon yang berwibawa merasa terganggu.
"Percuma. Aku sudah diburu oleh sembilan negara. Ada yang sudah mulai mencurigai identitasku."
Leon mengusap tengkuknya, merasa canggung. "Kau tahu kabar terbaru? Mr. Guns telah tewas kecelakaan sebelas hari yang lalu."
Lelaki itu hanya diam tanpa bereaksi. Dia menyimpan semua ekspresi jauh di dalam hatinya. Pandanganya semakin menajam, menguarkan aura gelap.
"Jadi, sang lelaki legendaris itu menutup usia juga akhirnya." Wajahnya masih tetap datar.
Leon mengangguk dan menanggapinya lagi. "Meninggalkan seorang janda yang luar biasa mempesona. Kudengar, ia disebut-sebut sebagai dewi."
Lelaki ini masih tak bergerak sedikit pun. Dia tak terpengaruh dengan informasi tersebut. Dari dulu, ia memang tak pernah tertarik dengan wanita. Satu-satunya yang ia lakukan setelah memanfaatkan tubuh mereka adalah membuangnya begitu saja. Jika suasana hatinya sedang buruk, ia bahkan menghabisi mereka dengan sengaja.
Mengingat semua itu, Leon menarik diri dan bergidik ngeri. Dia merasa sedikit tertekan setiap kali berbincang dengan orang ini. Siapa yang tidak terganggu jika ia berbincang dengan pembunuh gelap bayaran yang paling ditakuti di dua benua besar?
Orang-orang menjulukinya sebagai Eyes Evil. Dia membunuh dengan meminjam kekuatan iblis.
…
Pagi ini Alice menyusuri jalanan kota. Dia bertekad akan menanyai langsung dokter yang menganalisa kematian Anson dan kedua anaknya. Rasa penasaranya sudah semakin meninggi. Dia perlu memperjelas semuanya.
Meskipun sebuah fakta tidak bisa mengembalikan mereka ke sisinya lagi, tetapi setidaknya ia membutuhkan sebuah jawaban. Ia juga membutuhkan keadilan. Jiwa mereka perlu dilepas dengan tenang, bukan penuh kecurigaan seperti ini.
Alice tiba di rumah sakit kota saat jam masih terlalu pagi. Dia menyempatkan diri melahap sarapan di cafe bawah bangunan ini. Setelah merasa jam sudah memasuki jam kerja, dia berjalan cepat menuju ruang informasi untuk menanyakan tentang dokter yang menangani kematian anak dan suaminya.
Sang resepsionis menunjukkan arah menuju ruangan di mana dokter tersebut berada. Entah ini sebuah kebetulan atau apa, dokter yang menangani mereka adalah dokter yang sama. Dr. Staveno Dark.
Alice sedikit mengernyitkan kening. Apakah tidak terlalu aneh satu dokter menangani tiga orang dalam satu keluarga? Anson orang dewasa yang meninggal karena kecelakaan. Kimberly anak-anak yang meninggal karena sesak nafas. Joseph adalah bayi yang meninggal karena sesak nafas juga. Tidakkah rumah sakit ini memiliki dokter spesialis masing-masing?
Alice tak terlalu tahu prosedur rumah sakit. Dia adalah orang awam. Tetapi sepanjang pengetahuan Alice, rumah sakit biasanya memiliki dokter spesialis untuk bagian-bagian tertentu.
Alice mengetuk pintu dan langsung disambut oleh suara renyah seorang lelaki berjas putih berusia awal lima puluh tahun. Sebuah name tag bertuliskan Dr. Staveno D. tertulis jelas di bagian dada.
"Mrs. Mallory," sambutnya ramah. Alice tersenyum memasuki ruangan kecil ini. Setelah kematian suaminya, Alice tetap memilih nama belakang Anson sebagai miliknya.
"Pagi Dr. Stav," Alice mengangguk sopan.
Mereka baru dua kali bertemu. Tetapi Dr. Stave masih mengingat dengan jelas tentang sosok Alice. Dia bahkan mengingat namanya. Apakah ini bukan suatu hal yang aneh? Pasien beliau berjumlah ratusan sehingga pasti sulit untuk msnghafalkan satu per satu dari mereka.
Alice menggeleng lemah, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang ia miliki. Bisa saja Dr. Stave adalah lelaki yang memiliki ingatan tajam. Hanya itulah satu-satunya penjelasan yang bisa ia terima.
"Pagi, Apakah ada sesuatu yang kau inginkan dariku, Mrs. Mallory?" Wajah Dr. Stave membundar dengan pipi besar seperti anak kecil. Wajahnya berseri-seri menyenangkan.
"Aku ingin bertanya tentang mendiang suami saya dan mendiang anak-anak saya, Dok," jelas Alice. Ia dipersilakan duduk di depan meja kayu minimalis. Di atas meja terlihat tumpukan map-map dan coretan tangan yang tak Alice pahami.
__ADS_1
"Oh, tentu saja. Anson Mallory, Kimberly dan Joseph , bukan?"
Alice memicingkan mata, semakin merasa curiga. Dr. Stave bukan hanya tau tentang namanya, tetapi juga semua keluarganya yang meninggal. Apakah ingatan dokter memang setajam itu? Atau memang Dr. Stave adalah dokter hebat yang memiliki ingatan tajam?
"Ya. Bukankah kau yang menangani mereka?" tanya Alice, mamasang wajah ramahnya. Jika ia ingin mengorek infornasi, ia harus pintar bersandiwara.
"Kau benar, Mrs. Mallory, Bisakah aku memanggilmu Alice?" pintanya masih dengan nada riang. Alice mengangguk mempersilakan.
"Bagaimana kau bisa menangani mereka semua padahal mereka memiliki keluhan yang berbeda dan genre usia yang berbeda pula?" Alice mengeluarkan uneg-unegnya.
Dr. Stave tersenyum sedikit canggung. Alice menangkap ada sedikit kekakuan dari sikapnya.
"Aku adalah dokter umum yang sering kali menangani kasus di IGD. Mereka semua langsung dibawa ke IGD saat itu sehingga akulah yang menangani mereka. Setelah itu, memang ada beberapa dokter spesialis yang menanganinya sendiri-sendiri. Aku akan menuliskan nama-nama mereka jika kau ingin, Alice," tawar Dr. Stave apa adanya.
Alice mengangguk, menerima penjelasan tersebut. Dokter umum memang sering kali mengangani banyak kasus. Mungkin, jika nanti Alice memiliki waktu ia akan menanyai dokter spesialis lain yang menangani mereka.
Alice mengucapkan terimakasih saat menerima selembar kertas berisi coretan nama-nama dokter lain yang terlibat dalam penanganan kematian keluarganya.
"Dok, apakah kau menemukan zat lain selain alkohol dalam jenazah Anson?" Alice melemparkan pertanyaan lain.
Dr Stave duduk, memandang Alice dengan pandangan serius.
"Hanya ada alkohol yang kutemui dalam jenazah Anson sebagai zat penyebab kematianya."
"Jadi, maksud Anda dia mabuk?"
Dr. Stave mengangguk mantap.
"Apakah kandungan alkohol yang terdekeksi berada di atas jumlah normal?"
"Sangat banyak. Jumlah yang pastinya sangat memabukkan sehingga ia kehilangan kontrol diri dan kesadaran secara penuh."
Alice ingin tertawa dalam hati. Dua gelas bukanlah jumlah yang banyak. Anson juga tak akan ambruk hanya karena jumlah alkohol yang banyak. Dia lelaki yang mengetahui batas dirinya. Alice semakin tak mempercayai dokter ini.
"Baiklah. Aku saja yang terlalu terkejut mengetahui semua ini, Dok."
Alice menarik nafas secara perlahan. Dia masih perlu mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Alice harus berusaha mengorek informasi lengkap dari dokter ini.
"Mengenai anak-anak saya, Dok. Apakah kematian mereka wajar? Bagaimana mereka bisa tiba-tiba sesak nafas?"
Alice kembali melanjutkan pertanyaanya.
Teka-teki itu semakin runyam setiap kali Alice memikirkanya. Semua tragedi yang ia alami memiliki kejanggalan. Ibarat sebuah novel, cerita yang disuguhkan mengalami plot hole. Alice hanya ingin melengkapi ganjalan tersebut dengan fakta masuk akal yang mampu ia terima.
"Sesak nafas tidak terjadi hanya karena faktor-faktor yang kau sebutkan, Alice. Kimberly terdeteksi tersedak makanan di tenggorokan. Meskipun ini kasus yang langka, tetapi semua hal bisa terjadi di dunia ini."
Dr. Stave menjelaskan dengan lancar. Akan tetapi, Alice melihat raut mukanya sedikit berubah diwarnai dengan semburat kemerahan. Gesture tubuhnya juga sedikit mencurigakan. Dia menoleh beberapa kali ke kanan dan ke kiri, seperti mencoba menghindari sesuatu.
"Dan bayi saya?"
"Oh? Bayi lelaki itu?" Dr. Stave bahkan ingat dengan jelas bayinya adalah lelaki. "Kau tahu SIDS? sudden infant death syndrome atau sering kita sebut sebagai kematian mendadak. Anakmu mengalami hal itu. Faktornya bisa banyak, salah satunya kepalanya menyuruk pada kasur atau pada bantal, sehingga bisa menyebabkan kematian."
Alice terdiam lama. Meskipun beberapa fakta yang disuguhkan Dr. Stave ada yang masuk akal, namun ada beberapa hal yang Alice pikir dibuat-buat. Dia harus memeriksa semua ini.
"Alice, aku tahu semua itu tak mudah kau lalui. Akan tetapi, kehidupan selalu memiliki jalanya sendiri. Kau harus mencoba berdamai dengan keadaan. Mendiang suami dan anak-anakmu pasti ikut sedih jika kau terus larut dalam duka." Dr. Stave mencoba menghibur. Dia merasa sedikit lega wanita itu tak lagi memberondong dirinya dengan banyak pertanyaan lagi.
"Baiklah, Dok. Saya permisi." Alice menyalami Dr. Stave dan berlalu pergi.
Sepeninggal Alice, Dr. Stave segera mengambil ponsel dan menghububungi seseorang. Wajahnya terlihat sedikit tak nyaman.
"Dia mulai curiga."
…
Alice keluar dari ruangan Dr. Stave dengan langkah-langkah pelan. Dia berjalan menuju tempat parkir di basement. Pikiranya semakin tak menentu. Alice semakin yakin kematian keluarganya adalah hasil dari perbuatan seseorang. Tetapi siapa? Masalah apa yang melatar belakanginya?
Alice mencengkeram tas tanganya dengan sepenuh tenaga. Dia merasa ada seseorang yang tengah mengikuti langkahnya. Setiap kali dia berjalan pelan menyusuri lorong yang panjang ini, langkah-langkah di belakangnya ikut pelan. Saat Alice mempercepat langkah, dia juga ikut cepat.
Dia merasakan reaksi yang sama dengan reaksi saat ia dibuntuti dulu. Pasti ada seseorang yang tengah mengincarnya. Alice mempercepat langkah untuk segera tiba di mobil. Dia sudah lelah menghadapi bahaya. Hidupnya seperti roller coster yang naik turun tak tentu arah.
Tempat parkir ini sedikit sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Alice berniat membuka pintu mobil saat tiba-tiba merasakan sesuatu menahan tanganya.
"Mrs. Alice Mallory."
Alice menoleh ke belakang.
__ADS_1
Seorang wanita berusia dua puluh tahunan dengan pakaian perawat menahan dirinya. Wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan postur tubuh seperti model. Akan tetapi, wajahnya terlihat sedikit tertekan. Bibirnya bergetar seperti menahan tangis.
"Kau mengikutiku?" tebak Alice.
Wanita itu mengangguk pelan. Benar saja dugaan Alice. Dia memang diikuti seseorang sejak tadi keluar dari ruangan Dr. Stave.
"Aku Bella. Bisakah kita membicarakan sesuatu sebentar?" Kedua tangan Bella saling terkait tak menentu. Pandangan matanya beralih antara Alice dan pintu mobil.
Alice mengamati keseluruhan penampilan Bella. Dia merasa tak yakin dengan keadaan ini. Mungkin, akan lebih baik baginya jika menolak Bella. Saat ini fokusnya sedang mengarah pada penyebab kematian Anson dan kedua anaknya. Alice tak memiliki waktu untuk membahas hal-hal lain dengan wanita asing seperti Bella.
"Ini mengenai anak-anakmu." Suara Bella sedikit tergagap.
"Anak-anakku? Maksudmu Kimberly dan Joseph."
"Ya. Bisakah kita membicarakan di dalam mobil?" Bella mengamati sekeliling mereka, menilai situasi sekitar. Dia memastikan tak ada orang yang melihat mereka bersama.
Alice membuka mobil dan mempersilakan Bella masuk. Dia butuh mendapatkan informasi apa pun mengenai kematian keluarganya.
Setelah mereka duduk di dalam mobil, Alice menatap Bella dengan sorot mata penuh harapan. Dia menggenggam perawat itu dan memohon tanpa kata untuk membagi infornasi yang ia miliki.
"Bisakah kau merahasiakan informasi yang kumiliki ini? Aku tak ingin terlibat dalam masalah," pinta wanita itu tergagap. Sepertinya Bella adalah orang yang cukup cerdas. Dia mengetahu informasi yang ia berikan sangat sensitif, sehingga ia tak ingin ikut terseret.
Alice mengangguk menyetujui. Dia bukan wanita yang suka melemparkan masalah pada orang lain.
"Aku tak tahu tentang kematian suamimu apakah dia karena kecelakaan atau hal lainya. Tetapi aku mencurigai tentang anak-anakmu yang meninggal secara mendadak." Bella berkata lirih, menoleh kembali ke kanan kiri untuk mengetahui kondisi situasi mereka.
"Apa yang terjadi dengan anak-anakku?"
Saat kedua anaknya meninggal, Alice tidak menyaksikan kondisi mereka secara langsung. Dia tengah masih terbaring lemah pasca melahirkan sehingga dokter menyarankanya tetap di ranjang rumah sakit. Alice hanya mengetahui jenazah mereka setelah mereka dimandikan.
"Mereka memang sesak nafas sebelum meninggal, tetapi mereka juga mengalami gejala-gejala lain. Seperti kejang, keringat berlebih, pupil mata mengecil, detak jantung meningkat dan merosot drastis."
Alice terbelalak lebar. "Bisakah kau jelaskan maksud dari semua itu?"
Bella menepuk bahu Alice, mencoba menguatkan.
"Aku pernah membantu menangani orang yang keracunan sarap. Gejala mereka sama persis dengan gejala anak-anakmu sebelum meninggal. Hanya saja, anak-anakmu lebih parah lagi, sehingga tak tertolong."
"Apakah bayiku juga mengalami hal itu?"
"Ya. Kedua anakmu mengalami hal yang sama. Dia ditangani dua dokter. Dokter Stave dan satu lagi Dokter Mark, spesialis anak. Aku satu-satunya perawat yang membantu mereka."
Bella menarik nafas lega. Akhirnya, beban itu berkurang juga dari pundaknya. Dia telah menahan semua itu selama berhari-hari, merasa menjadi pengecut karena menutupi sesuatu. Kini, dia telah menjelaskam segalanya. Terserah Alice akan mengolah informasi itu seperti apa. Yang terpenting, rasa bersalahnya telah hilang.
"Apakah mereka tidak melakukan tindakan apapun?"
Bella menggeleng lemah. Itulah kenapa ia merasa mencurigai kejadian ini. Dia menyaksikan sendiri kedua dokter tersebut seperti enggan melakukan tindakan penyelamatan darurat. Mereka terkesan membiarkan saja kondisi kritis pasien.Bella merasa ada yang aneh dari kasus ini.
"Mereka seperti sengaja membiarkan anak-anakmu diracuni."
Alice memejamkan mata, merasa sebuah godam besar meninju dadanya. Ya Tuhan. Kenyataan apalagi ini yang ia terima. Anak-anaknya telah diracuni seseorang dan dibiarkan meninggal tanpa pertolongan.
"Apakah ada petunjuk lain yang harus aku ketahui lagi?" Alice bertanya lirih. Tenaganya seperti dilolosi secara perlahan-lahan.
"Hanya itu yang mampu aku tangkap. Aku melihat Dr. Stave bertindak tenang. Tetapi Dr. Mark seperti tertekan. Dia menunjukkan raut muka bersalah yang sulit kupahami."
Alice mengangguk mengerti, kemudian meminta informasi mengenai Dr. Mark. Bella menyarankan agar Alice mendatangi rumahnya saja untuk mengorek informasi. Dia beranggapan jika melakukan di rumah sakit tidak akan efektif. Alice mengikuti saran Bella dan mendapat alamat rumah Dr. Mark.
Setelah Bella merasa cukup memberikan informasi, dia pergi terburu-buru dari mobil Alice. Dia tak pernah tahu bahwa hari itu menjadi hari terakhirnya menjalani kehidupan.
Alice menjalankan mobilnya dengan kecepatan stabil. Dia merasa kepalanya berdenyut hebat. Fakta yang baru saja ia dengar dari Bella telah berhasil mengiris hatinya. Dia merasa kehidupan sekali lagi mengoloknya dalam sebuah tragedi baru.
Tiga puluh tahun dalam hidupnya, ia hanya ingin menjalani hari sebagai wanita biasa yang penuh kebahagiaan. Akan tetapi, arang terjal kehidupanya selalu mengarahkanya pada permasalahan baru. Sejujurnya, Alice merasa telah lelah. Dia ingin menjerit memprotes pada dunia. Dia ingin bertanya kenapa kehidupan yang ia jalani sesulit ini.
Bisakah ia mengais kebahagiaan kembali? Mungkinkah ia selalu ditakdirkan dalam masalah tak berujung? Masih adakah akhir yang bahagia untuknya?
Air mata berlinang membasahi wajah cantiknya. Dia memukul setir mobil dan berteriak marah. Kesedihan telah bersatu dengan amarah. Membuatnya seolah-olah sebagai wanita tanpa arah.
Alice menatap langit. Matahari masih menampakkan sinarnya dengan lenbut. Angin masih meniupkan desiranya. Awan masih berwarna biru dan bertahta di langit sana.
Namun, hatinya tak lagi sama. Kehidupan Alice tak lagi sama. Kisah Alice tak lagi sama. Semuanya telah berbeda, menyisakan luka dalam yang menganga lebar.
Tuhan, ke mana kehidupan menuntunya?
…
__ADS_1
Saya baik kan, udah ngeluarin cogan lagi? ❤❤
Like dan komentar ya kawan, semua support kalian sangat berarti bagi semangat saya dalam menulis.