
Tiga hari lagi merupakan hari di mana Liza akan melakukan misinya bersama Luiz. Menahan Alice dan menjadikannya sandera sebagai cara untuk memancing keberadaan Klayver yang hingga kini tak diketahui rimbanya. Liza menatap cermin dengn rasa malas.
Apakah adil seperti ini? Wanita yang tak ia kenal, terpaksa ia bawa dengan cara-cara buruk hanya demi memuaskan dahaga Luiz akan ambisinya yang kejam.
Masalah Luiz sebenarnya adalah dengan Klayver. Tetapi karena masalah mereka, istrinya yang tidak tahu apa-apa terpaksa harus mendapatkan juga imbasnya. Bagi wanita normal, Alice pasti tidak akan siap dengan hal ini. Dia hanya wanita biasa, yang menginginkan kehidupan normal, dan tidak pernah membayangkan akan mendapatkan bahaya seperti ini. Bukanlah ini kejahatan yang sesungguhnya? Memanfaatkan wanita hanya demi keinginan egois.
Tidak apa-apa jika Alice hanya diculik dan ditahan. Bagaimana jika karakter kejam Luiz mulai muncul dan menginginkan Alice disiksa dengan kejam layaknya mainan? Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi.
Liza sudah pernah menyaksikannya dulu. Ada seorang tawanan dari musuh Luiz. Dia adalah putri seorang mafia saingan Luiz yang berhasil ia ambil dalam perjalanan ke Meksiko. Wanita muda berusia sembilan belas tahun itu diperlakukan dengan sangat buruk. Setiap hari yang ia terima hanya penyiksaan dan penyiksaan. Segala macam metode yang ada, Luiz gunakan demi untuk mendapatkan rasa puas.
Luiz sangat berhati-hati agar nyawa wanita itu tak mudah melayang. Dia menyiksa sedemikian rupa dengan tangannya sendiri, menikmati jerit kesakitan dari korban layaknya orang yang memiliki kelainan psikis, dan tertawa setiap kali korban tak berdaya.
Itu terjadi tiga tahun silam. Liza bisa mendengar setiap teriakan yang menyayat hati dari sang wanita. Dia bahkan ingat ketika teriakan tersebut berubah menjadi desahan menyesakkan karena pita siaranya mulai tak berfungsi dengan baik.
Hingga tiba saat giliran keluarganya dihubungi dan ayahnya memberikan apa yang Luiz mau, yaitu sebagian wilayah miliknya, wanita itu diserahkan dalam kondisi babak belur tanpa bisa dikenali lagi.
Mereka membawanya ke rumah sakit selama tiga hari. Dalam waktu itu, wanita muda yang telah banyak menerima siksaan demi siksaan akhirnya menyerah kalah dan memilih untuk menemui kematian yang lebih bersahabat. Ayahnya langsung marah mengetahui perlakuan buruk yang diterima putrinya. Semenjak itu, dia semakin kuat dalam memusuhi Luiz. Tetapi karena lelaki itu kekuatannya terbatas, hingga detik ini Luiz masih belum bisa digulingkan dan dihancurkan.
Andai Liza tiba-tiba mendapat kabar Luiz dihancurkan oleh seseorang, siapa pun itu, entah polisi atau pihak mafia lain, mungkin Liza adalah orang pertama yang akan bersyukur dan merayakan hal ini dengan meniup lilin penuh rasa bahagia. Luiz pantas digulingkan. Ia seharusnya dari dulu dimusnahkan dan diasingkan hingga ke ujung dunia.
Andai reinkarnasi itu ada, Liza tergoda untuk membuang abu Luiz ke semua tempat di dunia atau memisah-misahkan anggota tubuhnya, atau melakukan banyak ritual lain yang bisa menahan agar Luiz tak bisa bereinkarnasi lagi dan hanya menjadi debu yang akan hilang ditelan gelombang laut.
Lelaki seperti Luiz sangatlah menakutkan andai dibiarkan bereinkarnasi dan hidup kembali. Jangan-janagn karakternya bisa berubah lebih kejam dan semakin haus oleh darah. Liza tak bisa menerima resiko seperti ini. Orang seperti Luiz pantas untuk dibungkam selamanya dan ditahan oleh bumi agar tak terlahir kembali. Mungkin, menahan Luiz adalah salah satu langkah yang akan Tuhan berkahi. Lelaki itu terlalu jahat, terlalu kejam, terlalu dingin, dan terlalu gila.
Dia seorang psikopat sejati. Ya. Itulah sebutan yang pantas untuknya.
Lamunan Liza dihentikan oleh ponselnya yang berdering nyaring.
Liza melihat sebuah nama adiknya berada di layar utama. Dia segera menyambar ponsel pintar itu dan menggeser layarnya untuk menerima panggilan tersebut dengan antusias.
"Liza, apa kabarmu?" tanya Bella dengan ceria.
Liza tersenyum senang. Setidaknya, di dunia ini, Liza masih memiliki seseorang yang sangat murni dan polos seperti adiknya. Sesuatu yang coba ia jaga agar tak tercemar oleh kehidupan dan jangan sampai berakhir menjadi seperti dirinya.
__ADS_1
Harapan Liza yang tak bisa ia terapkan pada dirinya, ia alihkan semuanya pada Bella. Berharap suatu hari nanti, entah kapan, Bella akan menjadi penyambung bagi setiap impian-impian yang pernah mengakar di hati Liza.
"Baik, bagaimana denganmu?" tanya Liza kembali Senyum Bella mampu Liza bayangkan dengan sempurna. Adik remajanya saat ini pasti telah memiliki wajah manis dengan garis-garis latin seperti mama. Anak itu benar-benar sempurna. Prestasinya di sekolah juga mencengangkan. Dia seperti mesin yang bisa bekerja otomatis dengan hasil luar biasa hebat.
"Oh, aku selalu baik. Kapan aku diijinkan pulang dan berlibur? Aku ingin berlibur bersamamu, Liza. Menikmati musim dingin di negara lain dan mengukir nama kita di pohon asing." Bella mulai mengucapkan harapannya.
Dia telah lama terkurung di sekolah asrama yang setiap harinya hanya belajar dan berdoa saja tanpa bisa menemukan lelaki seperti seharusnya, berpacaran, bermain, dan bersenang-senang lainnya.
Lama-lama Bella merasa bosan dan membutuhkan suasana yang baru. Suasana baru untuk menyegarkan kembali otaknya yang telah sering ia gunakan untuk belajar dan belajar. Hanya itu aktifitasnya selama ini.
"Baiklah. Aku akan menyusun rencana liburan kita bulan depan saat kau liburan. Aku janji akan membawamu ke negara lain dengan pemandangan yang sangat indah. Kau pasti akan terkesan nantinya." Liza memberinan janjinya kepada sang adik.
Liza adalah tulang punggung keluarga. Dia yang menanggung semua beban ekonomi, dan mengarahkan keluarga mereka secara finansial. Tanpanya, Mama dan Bella pasti akan terlantar dan tak memiliki kehidupan yang cukup baik. Liza memahami hal itu. Karena itulah ia semakin terjebak dalam organisasi yang Luiz ciptakan. Selain ia sendiri memang mustahil keluar, keluarganya membutuhkan topangan kuat secara materiil.
Biaya pendidikan dan kesehatan semakin melambung naik setiap tahunnya. Membuat bamyak orang kembang kempis dalam menghadapi perkembangan jaman yang pergerakannya sangat cepat. Banyak orang yang terseok-seok pasrah dalam mengejar kebutuhan sehari-hari. Seolah jaman semakin kejam dalam menuntut setiap manusia untuk tetap produktif.
"Oh, benarkah?" tanya Bella terdebgar sangat antusias. Anak itu belum pernah berlibur ke negara lain sama sekali. Mendengar tawaran yang akan ia terima dari Liza merupakan sebuah anugerah yang tak pernah berani ia bayangkan.
"Tentu saja, Sayang. Kapan aku berbobong padamu? Belajarlah yang rajin dan kabari aku jika kau mendapat peringkat teratas. Dengan begitu, aku pasti akan lebih semangat dalam mengajakmu berlibur, bagaimana?" tantang Liza.
Bella berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Kehidupan yang semestinya. Untuk itu, Liza bersedia melakukan apa pun selama Bella terjamin hidupnya. Dia ingin Bella memiliki masa depan cerah dan terarah. Hanya itulah harapannya
"Oh, Liza. Kau sungguh baik badaku, kau tahu? Aku bangga memilikimu sebagai seorang kakak. Jika aku besar nanti, aku janji akan menjadi orang hebat dan akan membuatmu bangga memiliku sebagai adik." Bella mengucapkan janjinya yang segera dibalas dengan senyum hangat oleh Liza.
Dalam hati, Liza percaya adiknya akan mendapatkan apa yang ia impikan. Bella merupakan anak yang sangat pintar dan enerjik. Jika ia mau, ia bisa mendapatkan banyak hal. Selama Bella berusaha, hanya itulah intinya.
"Aku yakin kau akan menjadi orang yang hebat suatu hari nanti. Orang yang akan membanggakan Mama dan aku." Liza tanpa sadar mulai menitikkan air mata. Dia ingin apa yang ia katakan menjadi kenyataan. Dia ingin adiknya mencecap surga dan mencecap kebebasan yang tak pernah ia dapatkan selama ini.
"Tentu saja, aku akan menjadi orang hebat. Aku adalah bibit yang baik, bukan? Baiklah, Liza. Acara doa bersama akan segera dimulai. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Bella menutup sambungan ponsel dan mengakhirinya dengan mengirimkan ciuman jauh. Asrama dan sekolah adiknya cukup ketat. Murid-murid memang diijinkan untuk membawa ponsel bagi yang berusia dua belas tahun ke atas. Tetapi penggunannya sangatlah dibatasi. Mereka tidak bisa sering-sering menghubungi keluarganya dan bercanda setiap waktu
Meskipun ketat, tapi Liza merasa tempat itu adalah tempat yang cukup baik bagi adiknya dan bagi tumbuh kembang Bella, terutama masalah mental dan karakter. Liza harus ingat itu. Dia menbutuhjan medi yang baik untuk adiknya. Hanya itu.
__ADS_1
…
Klayver sedikit bersantai sore ini dengan duduk di dalam kedai teh dan memesan beberapa menu. Dia menatap layar televisi tempat ini dan tersenyum kecil melihat kabar tentang kematian mantan pejabat Arnold Murdock yang mengenaskan.
Di televisi itu ditampilkan banyak pihak yang ikut berbela sungkawa dan memuji Arnold tanpa henti seolah-olah lelaki itu adalah dewa sejati yang hidupnya diperuntukkan hanya untuk rakyat. Bahkan yang paling lucu dari semuanya, beberapa pihak yang menjadi musuh Arnold ikut datang melayat dengan memberikan ucapan duka.
Huh. Yang benar saja? Apakah orang-orang itu sekadar ingin menertawakan Arnold di saat-saat terakhir dengan menghadiri pusaranya dan menyaksikan kekalahan telak musuhnya yang kini tak berdaya?
Di dunia ini, ternyata memang masih banyak orang munafik di mana-mana. Mereka yang mulutnya mengucap duka tapi hatinya berteriak penuh suka cita. Mereka yang berhubungan layaknya kucing dan anjíng tapi di permukaan seperti sahabat sejati sepanjang hidup dan tak terpisahkan.
Klayver kadang tak mengerti apa perlunya bersandiwara di hadapan mayat. Baginya, jika ia memiliki musuh dan musuhnya mati, ya sudah. Klayver hanya akan mendengar kabarnya dan tidak akan melakukan apa pun sebagai bentuk rasa simpati palsu. Untuk apa repot-repot dan menyumbang mawar demi nama baik? Toh, mawar itu hanya akan sia-sia dan layu nantinya.
Klayver mengambil cangkir di depannya dan menikmati arabica coffee tanpa gula. Berita kematian Arnolds telah berhasil membuat suasana heboh di mana-mana. Di media lokal, media cetak, televisi, bahkan internet.
Memangnya siapa yang tak terkejut mendengar mantan hakin dibunuh di tempat umum begitu saja sementara pembunuhnya hingga kini belum ditemukan keberadaannya. Orang-orang yang pernah menjabat dalam bidang politik dan pernah bermitra dengan Arnold mulai khawatir. Takut jika mereka juga akan ikut terseret dan menemui akhir yang tragis.
Kematian Arnold telah menjadi pelajaran bagi sebagian orang. Bahwa sekali pun kau memiliki harta dan kekuasaan, selama Tuhan memanggilmu dan alam mengalahkanmu, kau tak bisa bertindak apa pun juga kecuali menyerah.
Setiap kekuatan tercipta dengan ukuran yang bermacam-macam. Di atas kekuatan yang satu, pasti ada kekuatan lainnya. Di atas langit, pasti ada langit. Begitulah filosofinya. Arnold hanyalah lelaki tak beruntung yang selalu percaya kekuatan yang dimilikinya mampu melindunginya bahkan dari maut sekali pun.
Akhirnya, lelaki tua itu berakhir tragis karena sesumbarnya sendiri. Dia terlalu meremehkan keadaan dan terlalu suka bermain-main pada wilayah yang salah. Akibatnya, dia memancing orang yang tak seharusnya. Mengenaskan memang, tetapi semua itu terlanjur terjadi.
"Apakah kau butuh tambahan kopi, Sir?" tanya seorang wanita berseragam pelayan. Dia melirik cangkir milik Klayver yang mulai kosong.
"Tidak." Klayver menolak dengan dingin.
"Atau menu lainnya?" tanya wanita itu dengan genit. Dia melihat penampilan Klayver dan memutuskan lelaki itu adalah ikan gendut yang bisa dijadikan sebagai mangsa baru. Kantongnya pastilah tebal. Tanya juga lumayan. Bukan hanya lumayan, tetapi sangat luar biasa.
"Apakah kau tuli? Atau otakmu mulai tak ada? Aku bilang tidak!" Klayver menatap dingin wanita itu. Sorot matanya menunjukkan hawa membunuh dengan kuat.
Wanita itu segera berbalik pergi dan melangkah tergesa-gesa. Agaknya, ikan gendut tak selamanya mampu ia pancing. Wanita itu tak tahu di mata Klayver, satu-satunya sosok yang bisa menggodanya hanya istrinya sendiri, Alice.
Wanita lain sama sekali tak memiliki nilai di matanya.
__ADS_1
…