
Jadi, James adalah orang yang mendorong kau dan Violin ke dalam jebakan Luiz?" tanya Jasmine malam ini di ruang tengah.
William saat ini sedang keluar lagi untuk mengecek keadaan. Katanya dia perlu melihat kondisi Klayver. Saat ini Alice hanya dipercayakan pada Jasmine. Mungkin sebentar lagi Maxen akan ke sini. William berkata suami Rachel itu ikut mencari keberadaan Alice ketika beberapa hari yang lalu Alice tak ada kabar. Karena itulah sekarang William menambah keamanan Alice dengan cara memanggil Maxen ke rumah ini serta.
"Ya. Begitulah. Dia merasa bahwa Violin merupakan ancaman bagi dirinya sendiri untuk naik ke puncak. Selama ini James beranggapan dirinya hanya menjadi sekadar bayangan Violin."
Alice kembali menerawang jauh pandangannya. Dia masih saja tak menyangka James mampu melakukan hal ini kepada Violin. Kepadanya. Kepada mereka semua.
Apakah nilai ambisi itu sangat besar sehingga mampu mengalahkan prinsip dan moral yang ada? Bahkan keluarga dan orang terdekat pun ikut diseret menjadi korban.
Alice menatap Jasmine sedikit lama. Wajah Jasmine seperti air yang tenang tetapi memendam banyak reaksi tersembunyi. Saat ini pasti wanita itu tengah membentuk pendapatnya sendiri dalam kasus Alice.
"Jasmine. Apakah kau menghakimi Violin? Bagaimana pun juga, aku akui terkadang Violin memiliki sisi dominan yang sangat tinggi dalam segala hal. James sering kali terlihat mengalah dan menjadi latar belakang semu!" Alice menciba menanyakan hal ini. Dia penasaran apa yang akan Jasmine katakan kepada Alice seputar kejadian ini.
Sudah menjadi rahasia umum jika Violin dan Jasmine sering kali tak sejalan. Mereka memiliki karakter kuat dan saling memojokkan satu sama lain. Alice tak akan terkejut jika saat ini Jasmine memilih menyudutkan Violin dan menyalahkan wanita itu atas sikap yang ia ambil selama ini terhadap James.
"Kau pasti menyalahkan Violin." Alice bermonolog sendiri.
James tidak sepenuhnya salah. Mungkin tindakannya didasari atas sikap Violin yang keras kepala dan ingin menang sendiri. Tetapi di sisi lain, Alice menyadari dengan pasti bahwa itu adalah salah satu karakter yang dimiliki Violin.
Karakter itu merupakan sesuatu yang alami dan sulit untuk diubah. Mungkin bisa dikurangi, tetapi jelas tak mungkin untuk hilang sepenuhnya. Seharusnya James bisa menerima keadaan ini dengan lebih baik.
__ADS_1
"Violin memang memiliki karakter seperti itu. Andai James tak suka dengan karakter Violin, kenapa dia memilih menikah dan mempertahankan rumah tangga selama ini hingga puluhan tahun? Hukum negara juga mengatur tentang perceraian. Seseorang yang merasa tak cocok satu sama lain dengan berbagai pertimbangan, mereka akan diijinkan untuk berpisah secara baik-baik. Tidak ada jalan membunuh karena alasan ketidakcocokan. Harusnya James bisa bersikap lebih dewasa menyikapi pernikahannya sendiri. Dengan kata lain, lelaki itu cukup pengecut untuk menyadari kelemahan diri sendiri."
Jasmine menjelaskan panjang lebar. Dia mengutarakan apa yang ada dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Pernikahan itu buknlah sebuah permainan. Tetapi meski begitu juga tidak mungkin untuk dibubarkan. Karena itulah ada undang-undang tersendiri tentang perkawinan yang dilindungi negara. Dari situ, setiap orang yang masuk pernikahan harusnya cukup dewasa untuk menyikap setiap perbedaan yang ada.
Membahas masalah pernikahan, Jasmine jadi teringat dengan dirinya sendiri. Dia sebentar lagi akan menikah dengan Daniel. Kira-kira, pernikahan seperti apa yang akan mereka miliki?
Violin dan James saja yang dulunya menikah dengan landasan cinta, akhirnya bisa saling bermusuhan dan menyerang satu sama lain. Apalagi pernikahan yang hanya karena ingin mengamankan status anak? Bisakah semuanya lebih baik?
Jasmine sudah tak ingin terlalu berharap lebih. Dia hanya bisa menerima keadaan. Andai nanti pernikahan dirinya dengan Daniel tak bisa bertahan, itu adalah hal yang sangat lumrah. Yang terpenting adalah anak itu mampu diasuh Jasmine sepenuhnya. Itu saja. Semuanya memang karena anak. Tidak ada faktor lain.
"Aku hanya melihat dengan kacamataku saja, Alice. Kupikir di sini James yang bersalah. Ngomong-ngomong, apakah saat ini James masih berada di sisi Luiz?" tanya Jasmine kemudian.
Caterine datang menyelingi pembicaraan mereka. Dia membawakan beberapa kudapan yang masih mengeluarkan uap hangat. Alice segera menyambut niat baik Caterine dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.
Empat hari tidak berada di rumah membuat Alice sangat merindukan suasana rumah. Masakan Caterine adalah salah satunya. Ketika semua itu hilang, Alice baru merasakan arti kehadiran orang-orang di sekelilingnya yang sebelumnya terasa tak penting.
"Bagaimana kabarmu, Nyonya? Kau baik-baik saja, bukan? Aku ikut khawatir saat mendengar kabar kehilanganmu beberapa hari yang lalu. Aku bermaksud melaporkannya pada polisi. Tetapi dicegah oleh William. Katanya dia akan mencari cara sendiri untuk menemukanmu!'
Caterine memegang dadanya dengan dramatis. Dia dalah orang yang paling histeris mendengar kabar hilangnya Alice empat hari yang lalu. Pelayan itu sudah akan pergi ke kantor polisi terdekat untuk membuat laporan. Untung saja dicegah oleh William. Menggunakan pihak polisi untuk mencari Alice bukanlah langkah yang bijaksana. Apalagi lawannya dalah Luiz Martinez. Sama saja laporan itu hanya akan berhenti tanpa tindakan lebih jauh lagi.
__ADS_1
"William benar. Dia akan lebih cepat bertindak dengan caranya sendiri." Alice mengangguk kecil, mengusap bahu Caterine untuk menenangkan wanita itu.
"Oh. Baguslah aku bersyukur aku mendengarkan saran William, Nyonya. Nyonya, aku harus melakukan sesuatu di belakang. Tolong panggil saja aku jika perlu apa pun yang biza kubantu!" Caterine menunduk cepat dan berbalik lagi ke arah dapur. Pelayan itu cukup gesit. Apa pun ia lakukan dalam hitungan menit.
Alice kembali menatap Jasmine dan mengerutkan salah satu alisnya. "Tadi kau bertanya apa, Jasmine?" Alice kembali membahas topik sebelumnya.
"Aku bertanya apakah James masih bersama Luiz saat ini," ulang Jasmine kemudian.
Alice kembali duduk dengan memakan kudapan yang diberikan oleh Caterine. Kelihatannya wanita itu jadi lebih suka makan dari pada sebelumnya.
"Entahlah. Aku tidak terlalu tahu. Terakhir aku melihat James dua hari lalu saat ia bermaksud mengcek keadaanku. Saat itu, katanya penampilanku lebih baik dari pada Violin."
Alice kembali memgingat hal ini. Kerinduan Alice kepada Violin jadi tumbuh lebih besar lagi. Kira-kira, bagaimana kabar wanita itu sekarang? Apakah Violin baik-baik saja? Apakah Violin mengalami hal-hal buruk?
Alice mulai dihinggapi kekhawatiran. Dia berdiri memutari ruangan dan mengusap telapak tangannya berulang kali.
"Ada apa denganmu?" tanya Jasmine tak habis pikir.
"Aku khawatir dengan keadaan Violin. Kuharap dia baik-baik saja." Alice berkata lirih. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana. Violin sudah sering membantunya.Saat ini giliran Violin dalam kesulitan, Alice tak bisa melakukan apa pun untuk mertuanya sendiri.
…
__ADS_1