Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
019 - SEASON 2


__ADS_3

Harry Millian?


Senyum Alice memudar. Tatapanya menggelap. Dia menatap lelaki yang berperawakan sedang dihadapanya, bermata hitam dan berambut pirang.


Kebencian perlahan-lahan mulai muncul di kedua matanya. Netranya mengunci sosok di depanya dengan amarah luar biasa.


Jadi ini lelaki yang bernama Harry? Lelaki yang meninggalkan Rachel di detik-detik terakhir sebelum pernikahanya?


Sungguh lucu. Dari semua kesempatan yang ada, nasib telah mempertemukan mereka saat ini. Kebencian yang ditanggung Alice semakin membesar dan menganak pinak tak terkendali.


"Jadi kau lelaki yang membuang sahabatku dan mencampakkanya di hari pernikahan?" Suara Alice sangat dingin. Nadanya tajam bagaikan belati.


Harry tersentak. Dia mengernyitkan dahi, memahami situasi ini. Sepertinya, dia tak pernah bertemu wanita itu, terapi kenapa Alice seperti telah mengenalnya cukup lama? Siapa sebenarnya dia?


Harry sudah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi kemudian berhenti saat melihat bayangan familiar yang mendekati mereka.


Semua orang menoleh. Tak jauh dari mereka, Rachel berjalan mendekat. Wanita itu memakai gaun berwarna biru laut dengan desain melebar di ujung bawah. Sangat memesona dan indah.


Sejenak, Rachel tak menyadari keanehan situasi ini. Ketika ia tak sengaja bersirobok dengan Harry, baru saat itulah ia mengetahui alasan kejanggalan sikap Alice.


"Harry?" Suara Rachel tercekat. Tatapanya penuh luka dan kesedihan. Binar matanya hilang dalam sekejap.


Harry sama terkejutnya dengan Rachel. Dia seolah tak percaya dengan kebetulan yang terjadi. Dari semua peluang yang ada, mereka kembali dipertemukan pada situasi rumit.


"Ehm, kupikir, kalian perlu ruang untuk berbicara. William, tolong antarkan Mr. Millian dan Rachel ke ruang dalam. Pastikan mereka memiliki prifasi."


Alice mencoba menengahi. Meskipun kemarahanya ikut menggelegak untuk Rachel, tetapi Alice mencoba bersikap realististis. Mereka butuh ruang dan waktu untuk berbicara. Terutama Rachel. Temanya perlu penjelasan logis atas sikap Harry yang tak bertanggung jawab.


William membawa mereka berdua di sebuah ruangan dalam berukuran empat kali empat meter. Ada beberapa kursi yang tersebar di sini dan satu meja kayu berpelitur. Oh, mungkin ini salah satu ruangan khusus semacam ruang barang atau apapun dalam gedung.


Harry dan Rachel memasuki ruangan dengan canggung. William segera mengangguk dan meninggalkan mereka.


Suasana hening. Rachel merasa lidahnya kelu. Dia memandang Harry dengan tatapan bingung. Semua pertanyaan yang ingin ia lontarkan lenyap. Semua kemarahan yang ingin ia semburkan seperti berhenti di tenggorokanya. Semua kesal yang ia pendam hanya hadir tanpa aksi.


Rachel telah membayangkan pertemuan ini berulang kali. Dia selalu dilanda pertanyaan mendalam. Apa kiranya yang akan ia lakukan jika alam mempertemukan mereka kembali?


Rachel telah berangan-angan. Dia akan menampar Harry, mendorong, memukul, mencecar, memaki, dan bertindak kasar sesuai emosinya. Sungguh keterlaluan lelaki itu. Dia telah


melukai dan meninggalkan Rachel dalam keadaan genting di sebuah ikatan bernama pernikahan.


Namun, semua yang ia bayangkan hilang dalam sekejap. Rachel bergeming. Emosi yang ia rasakan terlalu berkecamuk dan sulit untuk ia kendalikan. Melihat lelaki ini hanya semakin menjungkir balikkan perasaanya yang sudah lama rapuh.


Pada akhirnya, Rachel hanya sanggup meluruh dalam ketidakberdayaan. Dia menangis dalam pilu. Suara rintihanya terdengar mengiris hati. Isakan demi isakan membuat tubuh kecilnya bergetar tak terkendalai.


"Harry … Harry …." Nama ini sudah lama hadir dalam hatinya, menggerogotinya, dan menjadi bagian dirinya secara penuh.


Nama yang akhir-akhir ini telah menjadi sumber luka dan air mata. Menjadi sumber tanya yang tak terjawab.


"Tahukah kau betapa sakitnya di sini." Rachel memukul dadanya dengan kuat. "Ketika seseorang ditinggal pergi tanpa penjelasan?" tanya Rachel menunduk ke lantai yang dingin.


Air mata jatuh satu per satu membentuk genangan bening di atas keramik. Tangisanya bagaikan nyanyian paling memyedihkan di dunia.

__ADS_1


"Tahukah kau berapa kali aku bertanya pada diri sendiri apa kesalahanku dan apa dosa yang aku lakukan? Sehingga kau memilih membuangku tanpa lagi menoleh seolah-olah aku adalah sampah!"


Harry ikut merasakan sakit yang ditanggung Rachel. Dia ingin meraih wanita itu, tetapi ia urungkan secara tiba-tiba. Tatapanya hanya memandang Rachel dengan ketidakberdayaan.


"Kenapa? Kenapa, Harry? Apa salahku? Apa cacatku? Apa kurangku? Kenapa kau memperlakukanku sekejam ini?" Rachel bangkit dan memukul dada Harry dengan lemah. Dia kemudian kembali luruh dan berlutut di lantai persis di hadapan lelaki yang selama ini ia cintai. Dan masih ia cintai hingga sekarang.


Harry menyerah dengan kata hatinya dan merengkuh Rachel ke dalam pelukan hangat. Perlahan-lahan, ia menyesap aroma vanilla yang samar. Wanita ini selalu memiliki aroma yang khas.


"Maaf, Rachel. Maaf. Aku terpaksa melakukan semua ini."


Harry tak berharap Rachel mampu memahami alasanya. Dia tahu, apa yang telah ia lakukan sulit untuk dimaafkan. Selama enam tahun lebih, Rachel telah setia di sisinya. Menemaninya dan tak pernah mengeluh sedikit pun.


Setelah semua hal mereka lewati, saat giliran hari bahagia itu tiba, Harry justru meninggalkanya. Wanita mana yang tidak marah dan kecewa diperlakukan seperti itu?


"Aku terjebak pernikahan palsu dengam Maxen. Tahukah kau betapa besar keruntuhan harga diriku? Itukah yang kau inginkan? Puaskah kau sekarang?"


Harry memejamkan matanya, tetap menahan Rachel dalam pelukan. Ada kepedihan jelas yang terpancar dari raut mukanya. Dia merasa hampa dan hilang arah. Semua yang ia perjuangkan berakhir memilukan.


"Rachel, keluarga Millian tidaklah sesederhana yang kamu pikirkan. Itulah kenapa aku memutuskan pernikahan kita. Karena aku tak ingin menyeretmu ke dalam masalah."


Harry meninggalkan Rachel dengan sebuah tujuan besar. Pertama, dia ingin melepaskan diri dari dominasi keluarganya, sehingga ia harus pergi dan meninggalkan semua yang terkait dengan mereka, ataupun hal-hal yang akan mengaitkan dengan mereka. Kedua, karena dia tak ingin membuat Rachel memiliki nama belakang Millian dan menjadi alat bagi keluarganya untuk menahan Harry.


Rachel terlalu lugu. Tak seharusnya ia terjebak dalam keluarga kotor dan penuh intrik seperti keluarga besarnya. Rachel terlalu indah untuk menjadi tawanan mereka semua. Wanita itu hanya akan menjadi debu jika terjatuh dalam permainan kejam keluarganya.


Namun, satu-satunya hal yang tak pernah ia duga adalah Maxen menggantikan dirinya menikahi Rachel. Sia-sia semua pengorbanan yang dilakukan Harry untuk wanita tersebut. Toh akhirnya, Rachel tetap saja terjebak pada keluarga Millian. Masalah menjadi semakin runyam.


"Tapi kau yang telah mendorongku ke dalam kerumitan ini, Harry. Aku membencimu. Aku benar-benar membencimu." Rachel masih saja memukulkan kepalan tanganya ke dada Harry. Tetapi kali ini gerakamya sedikit terbatas, karena pelukan Harry menahanya dengan kuat.


Apa arti dari kata-kata Harry? Mungkinkah itu artinya ada banyak rahasia yang terpendam di balik nama Millian? Mungkinkah selama ini semua sikap Harry yang menyepelekan dan tidak menganggap Alice adalah suatu bentuk perlindungan untuknya? Tapi, dari apa? Dan dari siapa?


Banyak pertanyaan yang ingin digali lebih dalam lagi. Rachel menatap Harry dengan pandangan bertanya. Ia ingin menyingkap semuanya dan memahami detail demi detail apa yang dikatakan oleh Harry. Ada apa sebenarnya?


"Harry? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku sudah terikat pernikahan sementara dengan Xander. Setelah semua gosip reda dan nama baik keluarga Millian kembali, kami sepakat untuk segera mengakhiri pernikahan ini." Nada Rachel rendah. Dia tak lagi tahu harus bersikap bagaimana menghadapi lelaki yang nyaris menjadi suaminya.


Saat ini yang ia tahu, bahwa Harry masih menyimpan kepedualian. Apa yang ia lakukan demi untuk kebaikanya. Inilah satu-satunya hal yang bisa membuat Rachel sedikit meredakan amarah.


"Rachel, kau percaya bahwa Maxen menggantikan pernikahan itu hanya untuk menutupi gosip?" Harry mendesah kecewa dan menarik nafas berat. Dia kemudian melanjutkan. Tatapan matanya semakin nanar.


"Apakah kau tahu riwayat Maxen? Dia digosipkan sebagai bajiingan sejati dengan segala skandal yang tak pernah putus. Apa kau pikir lelaki seperti itu bisa berubah menjadi penganut norma dan memperhatikan nama baik?"


Rachel menatap Harry tak percaya. Dia memang pernah mendengar selentingan tentang gosip buruk yang menimpa Maxen. Tapi Rachel pikir semua itu hanya sekedar kabar burung yang tak pasti. Semakin besar seseorang, semakin besar angin yang menerpa.


"Apakah dia …."


"Ya. Dia lelaki brengs*k." Harry menyugar rambutnya dengan putus asa. Bagaimana mungkin Rachel sekarang justru jatuh di tangan lelaki itu?


"Tapi dia saudaramu sendiri, Harry. Niat apa yang dia miliki untuk menikahiku jika tidak untuk menyelamatkan nama baikku dan nama baik keluarga?"


"Lelaki seperti dia tak pernah bisa mengetahui arti nama baik, Rachel. Dia pasti memiliki niat tersembunyi untuk menikahimu. Salah satunya adalah memancingku keluar."


Rachel membulatkan matanya tak mengerti. Memancing Harry keluar? Mungkinkah mereka terlalu marah akan kelakuan Harry dan menggunakan dirinya sebagai umpan? Memangnya apa fungsi dirinya jika Harry saja dengan suka rela meninggalkan Rachel.

__ADS_1


Rachel menggeleng lemah. Dia semakin tak mengerti ke mana arah pembicaraan Harry. Mungkinkah ini hanya sekedar alasan Harry? Ataukah memang ada sesuatu yang sedang keluarga Millian sembunyikan dari Rachel? Lantas di mana peran Rachel selama ini?


"Kenpa ia harus memancingmu?" tanya Rachel, tak bisa membendung pertanyaan yang mengganjal hati.


"M1ereka ingin aku menjadi orang yang patuh pada kekuasaan otoriter keluarga Millian. Mereka tahu bahwa aku meninggalkanmu semata-mata karena tak ingin melibatkanmu dalan masalah. Karena itulah mereka berspekulasi kau pastilah sangat berharga bagiku. Sekarang Maxen menikahimu. Itu artinya kau telah sukses menjadi tawanan keluarga Millian dan akan dijadikan alat tukar agar aku mau kembali pada mereka."


Penjelasan Harry justru semakin membuat Rachel diliputi kebingungan. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Harry selama ini? Apa yang laki itu telah sembunyikan darinya? Teka-teki apa yang mereka simpan dengan sangat dalam.


"Bisakah kau jelaskan maksudmu, Harry?" Alice mencengkeram lengan Harry dengan kuat. Dia butuh banyak informasi mengenai ini semua.


"Rachel, aku tak bisa menjelaskan semuanya padamu. Pada saatnya nanti, kau akan mengetahui setiap detail yang terjadi. Aku hanya bisa mengingatkan bahwa Maxen adalah orang yang harus kau waspadai. Cari celah agar kau bisa lepas darinya. Dan satu lagi, jangan pernah katakan kau bertemu denganku. Jika nanti aku sudah cukup kuat, aku pasti akan menolongmu!"


Harry mengecup kening Rachel dengan mesra dan melepaskan rengkuhanya. Ia berlalu pergi dari ruangan ini. Rachel segera menyusulnya dengan terburu-buru. Tetapi sosok itu telah menghilang dalam pekatnya malam. Bahkan di aula gedung pun siluet tubuhnya tak nampak sama sekali.


Rachel kembali menahan tangis dan meluruh lemas tak berdaya. Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Situasi apa yang telah ia masuki sehingga masalah satu per satu bermunculan tanpa di undang.


"Rachel?" Sebuah suara yang sangat familiar memanggilnya. Rachel berbalik, melihat raut muka khawatir di wajah Alice dan tersenyum kecil. Rachel yakin selama waktu berlalu saat ia berbicara di ruangan pribadu, Alice pasti telah mengawasi mereka.


"Kulihat Harry baru saja pergi menuju pintu belakang. Apakah kau baik-baik saja?" Alice mendekat. Dia mengusap wajah pias Rachel dengan penuh khawatir.


Alice tahu pasti tak mudah berbicara secara langsung kepada lelaki yang telah mencampakkan kita dalam pernikahan. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk mengawasi mereka dan duduk tak jauh dari ruangan pribadi yang William tandai dengan cara diam-diam.


Alice sebenarnya sudah mendengar tangisan Rachel dari tadi, meskipun dia tak bisa menangkap pembicaraan yang berlangsung. Tangisan tersebut sangat memilukan dan menyayat hati. Tetapi Alice tak bisa gegabah dan menerobos masuk begitu saja. Bagaimanapun juga, mereka sedang berbicara serius dan Alice tak ingin menjadi pengganggu. Dia hanya mengantisipasi andai Harry melakukan kekerasan fisik atau semacamnya.


Alice merasa lega setelah mengamati keadaan temanya. Tidak ada bekas kekerasan seperti tamparan atau semacamnya. Hanya jejak air mata dan mata sembab yang luar biasa. Seluruh gaub Rachel kusut tak karuan.


"Rachel, beristirahatlah dulu di ruangan tadi untuk beberapa saat. Jika kondisimu lebih baik, aku akan menyuruh salah satu sopirku mengantarkanmu pulang."


Rachel ragu-ragu menerima tawaran Alice. Dia kembali memasuki ruangan tersebut dengan bimbang. Sebelum ia membuka pintu, Alice kembali menahanya.


"Apakah kau yakin kau baik-baik saja?" Alice mendeteksi suasana Rachel yang semakin memburuk setiap saat. Dia merasa menderita melihat sahabatnya terluka sedalam ini. Semua ini gara-gara Harry. Lelaki itu harusnya dihukum rajam hingga ruhnya pergi merangkak ke neraka paling dalam.


"Alice," Saura Rachel terdengar rapuh. Sorot matanya kelam, menyimpan banyak duka terpendam.


"Ya? Kau butuh sesuatu?" Alice berjalan mendekat.


Rachel melirik ke sekitarnya dan mendapati bahwa mereka cukup aman untuk melakukan pembicaraan rahasia.


"Harry meninggalkanku di hari pernikahan, semata-mata untuk kebaikanku. Aku masih belum memahami apa alasan yang sebenarnya. Tetapi aku cukup memercayai Harry. Jadi mulai sekarang, tolong jangan salahkan dia atas situasi ini. Jangan benci dia, Alice!"


Air mata kembali meleleh membasahi sisi wajah Rachel yang selembut sutra.


...


Buat kk Ramla, kk Riva, kk Remang Langit, kk Juminten, kk siapa aja yang sering setia dan nongol meninggalkan jejak kirim cium jauh dulu 😘😘😘


Ngomong-ngomong kalo ada libur nggak up sehari, itu artinya ... deng deng ...


aku terjebak di dunia fantasi milik orang lain.


Kalo muncul digetok palanya aja ya. Biar cpet up. Maklum ini otak sering khilaf keterusan. 😁😁

__ADS_1


Panggil saja saya julpa, jangan thor ya. Disebut author itu berasa tekanan, karena coretan masih abal2 bgini masak dibilang thor 🤣🤣🤣


__ADS_2