Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
052 - SEASON 2


__ADS_3

Sepanjang kehidupan Rachel, dia tak pernah mengira akan memilih sisi yang berseberangan dengan Alice. Pertemanan mereka seperti benang tipis yang mulai hancur dimakan perbedaan.


Klayver menatap mereka semua dengan raut muka datar. Dia seperti tak terkejut melihat perkembangan ini. Dalam hidupnya, dia telah banyak belajar jika hati manusia mampu berubah secepat kilat. Ikatan tak akan pernah abadi. Persahabatan ataupun kekeluargaan, selama tujuan mereka saling bertentangan, mereka tetap akan saling menyerang satu sama lain.


Begitulah sejatinya manusia. Hati akan tergerak oleh kepentingan. Karena itulah akan terjadi pengelompokan-pengelompokan sosial sesuai dengan kepentingan masing-masing.


Alice sepertinya cukup terguncang melihat tindakan Rachel. Di dalam lubuk hatinya, ia masih menyimpan harapan jika temannya akan lebih memilih Alice dari pada suaminya.


Nyatanya, cinta tetap menjadi penentu utama. Hati seseorang ketika telah berlabuh, cenderung akan memilih pasangan hidupnya.


"Aku tak akan mengurungkan niatku menghabisi Maxen sekali pun kau memilih berada di sisinya, Rachel," ucap Alice pilu.


Jika Rachel telah menentukan pilihannya, maka Alice juga telah memutuskan pilihannya. Mereka kini dua orang yang saling berdiri berlawanan.


Maxen memejamkan matanya dan melirik istrinya lemah.


"Tahukah kau sangat bodoh, Rachel? Aku memberikanmu peluang keluar dari masalah tetapi kau justru menerjunkan diri dalam masalah."


Tindakan Rachel patut untuk Maxen hargai. Sayangnya, situasi ini terlalu rumit sehingga Maxen lebih memilih Rachel keluar dari situasi ini.


Mungkin, film-film akan mengangkat betapa romantisnya keadaan mereka. Saling menerjunkan diri dalam keadaan sulit untuk merealisasikan sumpah sehidup semati.


Nyatanya, kenyataan ini jauh dari romantisme. Maxen dicekam ketakutan besar. Dia tak pernah merasa tidak berdaya seperti ini. Melihat Rachel memilih berada di sisinya, membuat hatinya pilu.


Demi Tuhan. Dia lebih memilih Rachel hidup baik-baik meskipun Maxen sendiri mati mengenaskan. Melihat orang yang kita cintai menerjunkan diri dalam jurang kehancuran bersama kita adalah tragedi paling buruk.


Lelaki mana pun tak akan pernah rela wanitanya terjebak dalam posisi menyulitkan. Nyawa Maxen saat ini terasa tidak lagi penting selama bisa menukarnya dengan kehidupan orang tercinta.


"Pergilah, Rachel. Ini bukan saat yang tepat untuk kau ikut campur!" pinta Maxen serius. Membayangkan ada janin yang juga akan ikut terseret membuat Maxen semakin kacau.


"Aku tak peduli. Aku tidak akan menyerah meskipun nanti akhirnya akan kacau. Maxen, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu." Rachel berkata pelan, menyunggingkan senyum kepasrahan.


Dunia selalu berputar secara teratur. Tetapi manusia tidak pernah bisa dibelenggu oleh keteraturan. Masing-masing seperti berjalan sesuai kondisi dan tujuannya.


"Selesaikan urusan Maxen secepatnya. Biarkan aku mengurus Rachel." Alice berkata pada Klyyver dan berjalan menuju Rachel.


"Rachel, kau tak bisa menerjunkan diri dalam masalah ini." Alice berkata tajam. Dia menggengam lengan Rachel tapi segera ditepis olehnya.


Tatapan Rachel terhadap Alice seolah menyatakan ketidakpedulian. Netranya kian menggelap dalam.


"Ini adalah tempatku. Aku memilih berdiri di sisinya sebagaimana kau memilih tetap di sisi Anson demi dendammu." Rachel berkata serius.

__ADS_1


Wanita tersebut menatap kondisi Maxen yang mengenaskan dalam belenggu rantai dengan beberapa lebam di sudut bibir. Rambut Maxen berantakan. Pelipis kirinya menampakkan luka seperti bekas dipukul benda tajam. Mata satunya juga terlihat tergores sesuatu.


Rachel merasa pilu melihat keadaan Maxen. Kedua matanya berkaca-kaca, meskipun tidak ada air mata yang tumpah dan mengalir turun.


Kesedihan semakin menjadi-jadi saat Rachel menatap Klayver yang menodongkan pistol dengan aura membunuh ke arah kepala Maxen.


Rachel ingin meluruh pilu dan memohon, merendahkan diri agar suaminya selamat. Tetapi melihat keteguhan di mata Alice ia mengurungkan niatnya.


Seluruh jalur komunikasi telah diblokir oleh Klayver. Bahkan alarm keamanan juga berhasil ia rusak. Rachel tak bisa meminta bantuan dari pihak luar. Mansion ini juga terlalu luas dan berjarak dari rumah lainnya. Sehingga keributan apa pun yang berada di dalamnya akan sulit dideteksi oleh tetangga.


Tidak ada harapan bagi mereka untuk keluar. Mereka telah terjebak di sini dalam situasi genting. Saat inilah Rachel baru menyadari betapa bodohnya ia karena tidak keluar menerima kesempatan Alice sehingga bisa memanggil bantuan dari luar. Seharusnya ia tadi tidak terlalu dipenuhi emosi. Nyatanya ia malah memilih kembali menjebak dirinya bersama Maxen.


Yah, kadang seseorang bisa menjadi bodoh dalam keadaan-keadaan tertentu. Rachel mengutuki dirinya sendiri atas langkahnya yang keliru.


"Kau tidak seharusnya berada di sini. Tolong hargai kata-kataku, Rachel. Aku masih menganggapmu sebagai temanku sehingga memberimu kesempatan untuk keluar dari keadaan ini." Alice berkata tulus. Ia masih tak bisa membiarkan tindakan Rachel begitu saja.


"Aku tak bisa, Alice. Inilah tempatku bersamanya. Kau tidak memikirkan perasaanku kehilangan dia. Kau juga tak bisa berharap aku memahami perasaanmu juga. Jangan menjadi egois, Alice." Rachel berkata tajam. Demi Maxen, dia telah kehilangan akal sehatnya juga. Bahkan Alice sendiri ia tentang mati-matian.


"Aku akan tetap egois selama itu menyangkut orang-orang yang melukai keluarga terdekatku!" teriak Alice tak mau kalah.


Bukankah Rachel melihat sendiri bagaimana ia hancur setelah ditinggal Anson? Perlukah temannya itu mendengar langsung dari bibir Alice bahwa Maxen telah menjadi faktor bagi penderitaan tanpa ujung?


"Maaf, Alice. Kita berada di sisi yang berseberagan saat ini." Rachel berkata tajam. Dia membuka mata Alice dengan lebar tentang keadaan mereka sekarang.


"Kau tak seharusnya berada di sini!" Maxen mencoba membuat Rachel pergi dari sisinya.


"Maxen, tapi—"


"Pergilah, Rachel!" pinta Alice.


"Tidak akan!" bantah Rachel sama keras kepalanya.


"Keberadaanmu di sini tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk mengakhiri hidup Maxen. Kau hanya mempersulit dirimu sendiri dengan menyaksikannya langsung!" kata Alice. Sudut bibirnya kaku, menahan amarah yang terpendam.


"Keberadaanku di sini untuk menyatakan keberpihakanku meskipun aku tak bisa mengubah apa pun yang telah kau rencanakan, Alice!" Rachel tak ingin kalah. Ia menunjuk Alice seolah-olah ingin memberitahukan bahwa langkah apa pun yang Alice ambil tak akan pernah bisa membuat Rachel mundur.


"Baiklah. Kau yang memintanya sendiri," Alice melirik ke arah Klayver. "Klayver," dia memberi isyarat dengan mata.


"Alice. Kau benar-benar akan melakukannya?" Rachel mulai gemetar. Keberaniannya tak sama lagi seperti tadi. Sinar matanya penuh kekalutan.Dia melirik Maxen yang hanya berjarak setengah meter dan meringis pedih.


"Sudah kukatakan. Tak akan ada yang bisa mengurungkan niatku."

__ADS_1


"Alice,"


"Sudah kubilang kau seharusnya pergi dari masalah ini!"


"Tapi Maxen suamiku," balas Rachel tak terima.


"Tapi dia juga pembunuh Anson. Lupakah kau bagaimana dulu aku menderita, Rachel?" Alice meradang.


"Apakah kau berubah menjadi sekejam ini?"


"Berhenti menghakimiku, Rachel. Kata-katamu tidak akan menghentikanku. Klayver, lakukan!" Alice sudah tak lagi peduli. Dia membalikkan badan, membelakangi pemandangan yang sebentar lagi akan berubah penuh darah.


Rachel membeku. Semua kata yang ingin ia sampaikan tertelan kembali di tenggorokan. Pistol yang dipegang oleh Klayver bagaikan benda keramat yang menyesakkan dada.


Perlahan-lahan, telunjuk Klayver menekan pelatuk. Tatapannya dingin, tanpa emosi sama sekali. Dia saat ini bagaikan malaikat pencabut nyawa yang tak punya hati.


Perlahan-lahan, seperti adegan film yang disorot dalam semua lampu, pistol yang Klayver tekan memuntahkan pelurunya. Kecepatan yang peluru itu luncurkan sebanding dengan kecepatan gerak Rachel yang tiba-tiba. Dalam detik-detik terakhir, dia membuat keputusan gila. Keputusan yang ia ambil dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Maxen merasa kalah saat peluru ditekan oleh Klayver. Dia tak takut akan kematian. Tetapi yang membuatnya merasa kalah ialah terbunuh dihadapan istrinya sendiri. Setelah ini, Rachel pasti akan dihantui tragedi akan kematiannya. Tidak akan mudah bagi wanita itu melanjutkan hidup kembali.


Hanya saja dalam detik-detik terakhir, rasa sakit yang ia duga tak kunjung menghampiri.


"Aaaaaaaarrrrgggggggg!"


Sebagai gantinya, teriakan kesakitan Rachel menggema di seluruh ruangan. Maxen membuka matanya dan melihat pemandangan paling mengerikan.


Istrinya menghadang pistol untuknya dengan mengorbankan tubuhnya sendiri. Darah merah mulai merembes melalui perutnya. Dia luruh di atas lantai, menatap Maxen dengan wajah pucat pasi. Sudut mulutnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan oleh rasa sakit yang luar bisa. Perlahan, wanita itu jatuh tak berdaya di atas keramik yang berdesain abstrak. Matanya terpejam memilih menyerah oleh rasa sakit.


Alice membalikkan tubuh, merasa mati rasa melihat pemandangan di hadapannya. Alice tergeletak tak berdaya, dengan darah yang mengalir merah. Membuat piyama tidur yang masih ia kenakan dari tadi terasa pekat oleh cairan darah.


Alice menjerit histeris. Dia berlutut di samping temannya dan mencoba menatap wajah Rachel yang kini tak lagi memiliki ekspresi. Dia mengguncang-guncangkan tubuh temannya beberapa kali, ingin melihat respon darinya. Tak ada gerakan sama sekali yang Rachel berikan sebagai respon.


"Rachel! Rachel! Dengarkan aku. Kau tak boleh seperti ini. Rachel!" teriak Alice.


Alice berharap semuanya masih belum terlambat. Dia menyentuh ujung hidung Rachel dan merasakan nafas lemah yang tersisa. Dengan gemetar hebat, dia menoleh ke arah Klayver.


"Bawa ia ke rumah sakit dan panggil anak buahmu membereskan semua kekacauan ini."


Klayver masih tanpa ekspresi. Dia hanya mengangguk kecil dan kembali mengarahkan ujung pisto ke arah Maxen.


Alice merasa kelu ketika kahirnya ia mengucapkan sebuah kalimat. "Jangan bunuh Maxen sekarang!"

__ADS_1



__ADS_2