Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
147 - SEASON 2


__ADS_3

Sore ini Rachel duduk berdua, menghabiskan waktu bersama Maxen. Mereka tengah berbincang ringan dengan mengangkat topik-topik kecil yang menyenangkan. Tak jauh dari mereka, Axel bermain dengan Helena. Anak itu baru saja datang sepuluh menit yang lalu untuk menginap. Katanya dia lebih nyaman berada di rumah ini besama Rachel dari pada ikut makan malam bersama Alice dan kedua mertuanya untuk merayakan anniversary pernikahan Violin. Membosankan katanya. Musim dingin tak terlalu membuat Axel antusias dalam melakukam aktifitas di luar ruangan saat matahari telah lama tenggelam. Agaknya anak itu tak terlalu suka dengan udara dingin di malam hari.


Maxen semakin lama semakin terbiasa dengan kehadiran anak itu. Dia tak lagi terkejut jika tiba-tiba menemukan keberadaan Axel tak jauh dari istrinya. Bagi Maxen, selama Rachel bahagia, ia tak perlu melarangnya.


"Aku tak menyangka mertua Alice sangat baik. Mereka memperlakukam Axel dengan luar biasa. Benar-benar suka memanjakan anak. Axel cukup beruntung mendapat keluarga baru seperti mereka!" Jasmine berkomentar kecil. Dia menatap Maxen yang kini tengah sibuk mengamati putra Alice dengan mata tajamnya.


"Oh." Hanya itu jawaban yang diberikan Maxen. Dia seperti tak terlalu menanggapi kata-kata istrinya. Mata Maxen terlihat sedikit menerawang, memikirkan sesuatu secara sembunyi-senbunyi.


Rachel yang menangkap gelagat suaminya hanya bisa tersenyum pasrah. Saat pikiran Maxen mulai mengembara, keberadaan Rachel menjadi samar dan seperti tak diperhatikan. Terkadang Rachel kesal sendiri jika ditanggapi seperti ini.


"Kau sedang memikirkan sesuatu?" Rachel menyentuh lengan suaminya dengan sedikit kesal. Mulut Rachel mengerucut kecil, membentuk ekspresi tak suka.


"Maaf, Sayang. Aku hanya sedang mengingat mertua Alice."


Maxen tersenyum hangat sebagai bentuk permintaan maaf. Dia merangkul bahu istrinya dan mengecup mesra kepala Rachel. Ini adalah wanita yang telah berhasil mengambil hatinya secara telak. Maxen sangat menghargai Rachel dalam setiap situasi. Tak jarang ia sering mengalah dalam banyak hal demi kepentingan Rachel seorang. Cinta benar-benar telah membutakannya.


"Oh, aku lupa. Kau melihat mereka kemarin petang, bukan? Bagaimana pendapatmu mengenai mereka?" tanya Rachel kemudian.


Rachel baru ingat kemarin petang saat ia berkunjung ke rumah Alice, Maxen-lah yang mengantarkannya sehingga lelaki itu sempat bertemu dan bertatap muka dengan mertua Alice sekilas. Kedua orang tua itu menyambut kedatangan Maxen dengan cukup baik. Yah, meskipun Violin tampak sedikit dingin dalam menerima Maxen. Wanita itu sedikit menaruh dendam karena Maxen pernah menjadi musuh Alice beberapa waktu lalu.


"Mereka? Aku tak terlalu cocok pada salah satu dari mereka," jawab Maxen jujur. Mata Maxen sibuk menatap Axel yang masih saja asyik bermain bersama Helena. Kali ini anak itu bermain pedang-pedangan dengan kayu eek yang sebelumnya dipajang di dinding sebagai hiasan utama. Entah bagaimana anak itu bisa mengambil barang tersebut. Helena pasti orang yang telah membantu Maxen untuk mengambilnya.


Axel sangatlah aktif. Setiap kali anak itu ke mari, Maxen mendapati banyak barang-baranganya menjadi korban dari keaktifan anak itu. Maxen sebenarnya mau menegur, tetapi Rachel selalu membelanya mati-matian. Hasilnya mudah ditebak. Lagi-lagi Maxen memilih mengalah demi Rachel. Dia tentu tak ingin dengan sengaja memancing keributan dengan istrinya sendiri.


Bukan Maxen takut kepada Rachel. Sama sekali bukan. Maxen hanya terlalu mencintai Rachel sehingga ia tak akan pernah bisa dengan sengaja melukai dan mengecewakan perasaan wanita itu.


"Pasti Violin. Kau tak cocok dengan ibu Klayver. Wanita itu memang memiliki ekspresi dingin dan terkadang bersikap kasar. Hanya orang-orang tertentu yang berhasil mendapatkan hatinya.Tapi di balik sikap dinginnya, Alice pernah berkata padaku sebenarnya Violin cukup baik dan setia dalam membela keluarganya. Hanya covernya saja yang kasar."


Rachel menyampaikan apa yang pernah ia dengar dari Alice. Violin adalah wanita yang cukup baik. Terbukti dia bersedia melakukan apa pun demi melindungi Alice dari bahaya. Termasuk bersedia melawan Luiz Martinez sekalipun.


"Bukan Violin. Bukan wanita itu. Tetapi James, suami Violin."


"Heh? Maksudmu, kau tak cocok dengan lelaki itu? Yang benar saja, Maxen. Siapa yang tidak cocok dengan lelaki ramah yang super baik seperti James. Dibandingkan Violin, James seperti malaikat. Apakah kau memang tak suka dengan lelaki yang bersikap ramah seperti itu?" Rachel mulai tertawa. Dia benar-benar tak habis pikir jika suaminya justru akan merasa tidak cocok degan James. Lelaki yang notabene merupakan lelaki berkarakter baik dan tidak pernah menyinggung siapa pun.


"Ya. Aku memang tak terlalu suka dengan lelaki yang super baik. James tak cocok bersikap lembut seperti itu. Dia seperti … entahlah. Aku tak bisa menjabarkannya. Intinya, aku tak cocok dengannya." Hanya itu penjelasan yang mampu Maxen ungkapkan. Dia memang tak terlalu suka dengan James. Mungkin karena ia lelaki yang dominan, jadi melihat ada lelaki lembut seperti itu seperti memiliki sikap yang bertolak belakang.


"Dasar kau ini. Ketidaksukaanmu benar-benar tanpa alasan. Maxen, kau tahu Daniel, bukan? Temanku yang satu lagi. Kupikir sebentar lagi dia akan menikah. Aku mulai memikirkan untuk memberinya kado istimewa. Kau memiliki saran?" Rachel memilih mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak ingin berdebat dengan Maxen. Membahas topik James hanya akan membuat mereka berdua saling beradu mulut tak jelas.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Sayang. Kau terlalu baik sehingga yang kau pikirkan hanya teman-temanmu saja. Di mana posisiku saat ini? Apakah itu artinya aku kehilangan kedudukan di hatimu?" goda Maxen sembari menyentuh lengan Rachel. Dia menatap Rachel tak suka seolah-olah menampakkan kecemburuan total.


Perlahan, Maxen merengkuh tubuh istrinya dan menahannya dalam pelukan hangat. Tidak ia ijinkan Rachel bebas begitu saja. Sisi-sisi wajahnya Maxen ciumi berkali-kali. Rachel yang merasa tergelitik hanya bisa tertawa kecil.


"Ya Tuhan, hentikan! Hentikan, Maxen. Aw. Kau membuatku sulit betnafas!" Rachel mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dipeluk paksa dan ditahan di dada bidang Maxen yang lebar memang menyenangkan. Tetapi jika terlalu ditekan hanya membuat Rachel merasa sesak dan sulit untuk bernafas.


"Bagaimana bisa kau memikirkan orang lain terus dari tadi dan melupakan aku serta calon anak kita. Mari kita bahas tentang anak kita saja. Aku tak ingin membahas hal yang lainnya. Menurutmu, bayi ini akan lahir laki-laki atau perempuan?" Maxen ganti menyentuh perut Rachel yang masih rata. Di dalam sana, di balik kulit ini, ada sebuah janin yang mulai tumbuh secara perlahan. Janin yang nantinya akan memanggil Maxen sebagai Daddy.


"Aku baru mengandung delapan minggu dan kau sudah bertannya tentang jenis kelamin? Apakah kau benar-bebar tak sabar, ya?" Tangan Rachel memukul lengan Maxen dengan sedikit keras. Dia mendorong tangan Maxen agar sedikir menjauh dari perutnya.


"Memangnya tidak boleh?" Maxen balik bertanya. Sinar matanya menunjukkan gurauan hangat. Sebuah gurauan yang hanya keluar untuk Rachel seorang.


"Huh. Kau ini. Bayi ini baru dua bulan di rahimku dan lihat apa yang kau lakukan, Maxen. Kau sudah membelikan anak ini sepaket tempat tidur dan ditempatkan di kamar yang seukuran kamar pemain bisbol. Benar-benar berlebihan." Kepala Rachel menggeleng cepat, teringat tentang tempat tidur bayi khusus yang Maxen beli setelah ia tahu tentang kehamilan istrinya.


Rachel sebenarnya tak terlalu suka berlebihan. Dia lebih suka menjalani sesuatu dengan apa adanya dan tak boros membelanjakan uang. Bagaimanapun juga, Rachel tak terlalu suka bersikap boros. Anak ini kelak jika sudah lahir, akan Rachel ajari banyak hal. Bersikap apa adanya, salah satu contohnya.


"Itu hanya tempat tidur. Kita masih membutuhkan pakaian bayi, permainan bayi, dan perkakas bayi. Oh jangan lupakan alat-alat penting bayi seperti minyak oles untuk tubuh, shampoo, sabun, dan parfum." Maxen menyentuh ujung dagunya berkali-kali. Siapa tahu ada hal-hal yang terlewat lagi tentang kebutuhan bayi.


Rachel menggeleng tak suka. Dia sudah memperkirakan Maxen akan bersikap sangat boros sepanjang menyangkut tentang bayi mereka. Kehilangan janin sebelumnya telah cukup memberi luka bagi Maxen. Sehingga mau tak mau kehamilan Rachel kali ini berbasil menarik semangatnya kembali.


"Sudah kukatakan berkali-kali. Bersikap berlebihan itu tak baik. Kasihan mental anak kita jika kita terlalu memanjakannya. Aku tak ingin anak kita menjadi pribadi yang buruk dalam pergaulan."


Maxen yang menyadari ketakutan Rachel hanya membalasnya dengan senyum kecil. Bagi Maxen, apa yang ia lakukan tidaklah sesuatu yang berlebihan. Apa gunanya dia mencari uang dan memiliki kedudukan jika ia tak bisa memanjakan dan memberikan apa pun yang diinginjan oleh orang-orang yang ia sayangi. Itulah fungsi dirinya. Menjadi sosok yang bisa membahagiakan dan memberikan apa pun kemauan orang-orang tercintanya. Bagi Maxen, tak masalah Rachel dan anaknya nanti meminta apa pun selama ia bisa melakukannya.


"Anak kita tidak akan menjadi pribadi yang buruk hanya karena aku memanjakannya. Dia tetap akan tumbuh dengan baik di bawah pengasuhanmu. Aku yakin, kau adalah ibu yang bisa mengatasi setiap masalah anak-anak kita nantinya. Kau juga merupakan wanita yang hebat. Denganmu, semuanya akan tetap baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal." Maxen menenangkan Rachel atas kekhawatiran wanita itu. Dia tak ingin dalam kehamilan awalnya, Rachel terbebani karena pikiran-pikiran yang tak penting.


"Aku tahu niatmu baik, Maxen. Tetapi dalam pengasuhan anak, setiap prosesnya memiliki prosedur-prosedur tersendiri. Tidak baik juga terlalu memberikan apa pun yang anak mau. Aku ingin anak kita kelak akan menghargai yang namanya perjuangan dan proses. Jika anak kita terlalu dimanjakan sejak awal, dia hanya akan menjadi pribadi yang ringkih emosinya dan mudah tak terkontrol karena gara-gara hal sepele. Kau mengerti maksudku, bukan? " Rachel mencoba menjelaskan kepada Maxen dengan lebih lembut lagi.


Rachel menyadari Maxen tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak seperti keluarga pada umumnya. Dia juga memiliki pribadi yang dominan dan terkadang memiliki sisi kejam. Rachel tak ingin anaknya kelak nanti memiliki sisi-sisi buruk dari suaminya. Sebisa mungkin, Rachel berusaha agar anaknya nanti memiliki kehidupan yang normal, penuh kasih sayang, penuh kehangatan, dan jauh dari hal-hal negatif lainnya. Biarkan saja pengaruh buruk Maxen hanya menjadi masa lalu lelaki itu. Untuk kedepannya, Rachel berharap agar semuanya baik-baik saja.


Rachel adalah wanita yang suka dengan kenyamanan dan kemapanan secara psikis. Dia tak terlalu menyukai gelombang-gelombang masalah yang sering kali menerpa kehidupan orang-orang. Andai ia bisa memilih, Rachel akan lebih memilih memiliki kehidupan yang menonton tetapi dalam suasana aman dari pada memiliki kehidupan yang bergejolak tetapi penuh dengan bahaya. Semoga saja mulai saat ini, Rachel, Maxen, dan anaknya, kelak bisa menjalani hari-hari yang cukup nyaman tanpa risiko-risiko yang tak perlu.


"Baiklah, Rachel. Apa pun maumu. Selama itu bisa membuatmu bahagia, aku berusaha akan memenuhinya tanpa protes. Kau tahu, melihatmu tersenyum dan bahagia itu adalah misi hidupku saat ini. Sekarang dan selamanya, aku berjanji inilah apa yang akan aku lakukan selama aku mampu. Kau adalah apa yang telah kutemukan dengan cara yang tidak mudah. Memilikimu merupakan suatu anugerah tersendiri. Aku Jelas tak ingin melakukan sesuatu hal yang bisa membuatmu marah dengan sengaja. Bagiku, selama kau bisa tersenyum, Itu sudah lebih dari cukup. "Maksud memeluk Rachel lebih erat lagi. Tidak ada dusta di matanya. Sinar mata lelaki ini menunjukkan kebenaran dari setiap kata-katanya.


Rachel tersenyum hangat. Inilah lelaki yang berhasil ia miliki dalam hidupnya. Lelaki yang sangat ia cintai dengan semua cara. Demi Maxen, Rachel bersedia melakukan apa pun.


"Terimakasih, Sayang. Kau selalu menjadi yang terbaik untukku."

__ADS_1


"Ya. Aku akan tetap menjadi yang terbaik dan satu-satunya untukmu. Ngomong-ngomong, kemarin saat ke rumah Alice, Anna, adikmu sempat menghubungiku."


Anna adalah adik Rachel yang saat ini menempuh pendidikan di kota lain. Dia memiliki kedekatan khusus dengan Rachel. Mereka berdua bukan hanya sekadar kakak adik, tetapi juga memiliki hubungan erat dan pemahaman tinggi satu sama lain.


"Oh, apakah ada masalah?" Rachel terlihat menegang dalam waktu yang singkat. Matanya menunjukkan kekhawatiran baru. Maxen yang ada di sisinya hanya bisa menarik nafas dengan berat. Sebenarnya ia enggan untuk menyampaikan kabar ini. Tetapi mau tak mau sepertinya Rachel harus mengetahuinya juga.


"Tidak. Setidaknya tidak untuk Anna. Dia mengatakan kepadaku beberapa hari yang lalu bertemu dengan Harry. Lelaki itu sengaja mendatangi Anna untuk meminta uang. Dia pikir Anna memiliki banyak uang dariku sehingga dengan berani Harry mencoba memintanya secara langsung!"


Kedua tangan Maxen mengepal tak suka. Dia sangat kesal dengan Harry. Meskipun secara biologis Harry adalah adiknya, tetapi tindakan lelaki itu sebelumnya berhasil membuat Maxen dan Rachel dalam kesulitan.


Seharusnya, sebagai kakak Maxen mencoba menghukum Harry. Tetapi ia enggan karena masih mempertimbangkan posisi Harry sebagai adiknya. Hanya saja, lama-lama lelaki itu mulai bertindak di luar kontrol. Berani-beraninya dia menemui Rachel dan meminta uang padanya. Sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan lelaki itu.


"Harry? Menemui Anna hanya untuk meminta uang? Bagaimana bisa lelaki itu tak memiliki urat malu begitu? Tidak bisakah ia bersikap layaknya lelaki jantan dan mendatangi kita untuk meminta maaf, alih-alih datang pada adikku hanya untuk meminta uang? Di mana harga diri Harry sebenarnya?!"


Kemarahan tampak jelas tersirat dari wajah Rachel. Rachel sudah berusaha memaafkan dan melupakan tindakan Harry. Harry dulu mencampakkannya menjelang pernikahan, dan membocorkan informasi tentang Maxen kepada Klayver. Tidak berhenti di situ saja, Harry bahkan berani datang secara diam-diam pada adik Rachel. Sebenarnya, mental lelaki itu terbuat dari apa? Bisa-bisanya ia bersikap pengecut seperti itu.


"Memang begitulah karakter Harry, Rachel.


Sepertinya kita memang harus menerima kenyataan-kenyataan seperti itu."


"Berapa dollar dia mencoba menguras Anna?" tanya Rachel masih tak bisa mengendalikan amarahnya. Dia saat ini sungguh sangat kesal dengan ulah Harry.


"Tadinya dia meminta lima ratus dollar. Tetapi hanya diberi dua ratus oleh Rachel. Sepertinya Harry saat ini benar-benar terdesak. Rachel berkata padaku lewat telepon jika Harry sudah seperti mayat hidup. Dia terlihat sangat kurus dan jauh berbeda seperti Harry yang selama ini kita kenal. Rachel juga berkata Harry terlihat seperti pecandu. Mungkin lelaki itu mulai hilang arah. Dia jadi tak terkendali dan terjebak dengan kehidupan yang buruk."


Maxen meingat-ingat kata-kata Anna yang mengatakan Harry seperti tikus got keluar dari tumpukan sampah. Adik Rachel itu ternyata juga bisa mengeluarkan kata-kata kasar juga.


"Baguslah. Itu artinya kehidupan sudah mulai memberi Harry pelajaran. Dia memang harus menghadapi kehidupan dengan lebih dewasa. Tidak selamanya hidup itu lurus. Ada konsekuensi dari setiap tindakan yang kita lakukan dan mau tak mau kita harus mulai menerima hal itu!"


Tak ada belas kasih sama sekali di raut wajah Rachel. Bagi Rachel, lelaki pengecut seperti Harry tak pantas untuk dikasihani. Harry memang harus dibiarkan hidup di luar perlindungan keluarga agar bisa belajar banyak hal. Siapa tahu suatu hari nanti jika Harry memutuskan untuk kembali, dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Rachel berharap Harry cukup bijaksana mengambil hikmah yang disampaikan kehidupan.


"Huh. Kau benar-benar tak memiliki belas kasih lagi, ya …." Maxen menggeleng lemah, terkekeh kecil. Meskipun Maxen memiliki sisi kejam, tetapi dia masih memiliki sesdikit rasa kasihan untuk orang-orang yang terikat darah dengannya.Seburuk-buruknya Harry, toh dia masih menjadi adiknya juga.


"Aku heran kenapa Anna masih saja memberinya uang." Rachel mengangkat bahu, tak mengerti dengan pikiran adiknya.


"Dia masih menyimpan rasa kasihan pada Harry. Tidak seperti dirimu."


"Jelas saja. Karena Harry dulu juga tak menyimpan rasa kasihan padaku sama sekali." Mata Rachel menerwang jauh, mengingat-ingat bagaimana dulu Harry bersikap semena-mena terhadapnya.

__ADS_1



__ADS_2