Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
111 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini Alice sarapan berdua bersama Jasmine. Axel berangkat ke sekolah lebih pagi dengan sopirnya untuk menghindari hujan yang akan terjadi. Perkiraan cuaca telah mengatakan akan terjadi hujan yang cukup ekstrem. Anak itu telah membawa bekal sarapan di tas dan berharap saat hujan terjadi, ia sudah berada di sekolah. Terjebak hujan di musim dingin bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Alice sudah memperingatkan Axel tentang hal ini. Beruntung anak itu menuruti kata-katanya.


Setelah kepergian Axel, tinggallah Alice dan Jasmine saja. Suasana meja makan terasa sepi. Semenjak kematian Sila dengan cara bunuh diri, beberapa pelayan berpamitan keluar kerja karena merasa takut tetap berada di tempat yang sama saat teman mereka meninggal.


Gosip-gosip mulai bertebaran tak tentu arah. Ada yang mengatakan melihat penampakan Sila di ujung dapur, ada yang mengatakan mendengar suara tawa Sila bersama suara tangis yang berganti-ganti, bahkan ada yang berkata ditemani Sila ketika tertidur di sisi ranjang.


"Caterine, carilah beberapa pelayan baru untuk menggantikan orang-orang yang keluar!" pinta Alice kepada Caterine yang masih berdiri diam di sudut dapur. Pengganti Sila itu hanya mengangguk dengan kaku, merasa tak yakin harus mengatakan apa.


Mencari pelayan untuk rumah yang pernah digunakan bunuh diri bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin tak masalah jika masih siang hari. Tetapi teror itu mulai terjadi ketika malam hari. Masing-masing dari pelayan mengaku merasa takut melewati malam demi malam. Seolah-olah mereka tengah diawasi oleh mata yang tak kasat mata. Menyedihkan.


"Caterine, berhentilah merasa takut dan bekerjalah dengan normal seperti biasa. Tidak ada yang namanya hantu. Kau hanya terlalu percaya pada mitos-mitos tak berdasar!" Alice menatap wajah Caterine yang diliputi ketakutan. Sejak kematian Sila, Caterine termasuk salah satu orang yang merasa takut setiap kali berada di dapur. Dapur adalah tempat yang sering Sila tempati sebelumnya. Seolah-olah bayangan Sila berkunjung setiap saat di tempat ini. Caterine terlihat penuh tekanan setiap kali berada di ruangan ini.


"Maafkan saya, Nyonya." Caterine hanya mengangguk kecil. Dia membenarkan letak beberapa perabotan dan menyibukkan diri dengan hal lain. Setelah beres, wanita itu memilih menyingkir ke ruangan lain bersama para pelayan.


"Dia benar-benar ketakutan," komentar Jasmine dengan senyum kecil. Jasmine percaya pada kehidupan setelah kematian, tetapi bukan berarti dia wanita penakut seperti Caterine.


Jika memang ruh Sila ada di sini, ya sudah. Biarkan saja. Toh selama tidak mengganggu, kita juga tidak akan diganggu. Mudah, bukan? Tak perlu memupuk ketakutan yang tak penting.


"Bukan hanya dia. Para pelayan lain juga merasakan hal yang sama." Alice menggelengkan kepala dengan pasrah. Lama-lama dia merasa para pelayannya semakin tak realistis dalam bertindak.


"Wajar, Alice. Mereka orang-orang yang dekat dengan Sila. Otomatis mereka juga orang-orang yang paling terpengaruh atas kematiannya." Jasmine menjelaskan.


Terkadang, jika seseorang sudah takut, dia akan mudah mengaitkan hal-hal kecil dengan fokus takutnya selama ini. Suara kecil saja yang berasal dari tikus, bisa dianggap dari Sila. Pintu yang terbuka terkena angin, dianggap digerakkan oleh Sila. Rumah ini lama-lama jadi kacau, penuh horor karena dibuat oleh para pelayan sendiri. Terbukti setiap malam, jarang ada pelayan yang berani keluar kamar setelah lampu rumah dimatikan. Hanya William saja yang cukup berani untuk tetap beraktifitas seperti biasa. Lelaki tua itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah para pelayan yang seperti itu.


"Ketakutan mereka sudah berada di luar batas wajar. Lihat saja mereka, Jasmine. Setiap menit dipenuhi ketakutan. Aku bingung harus bagaimana lagi."


Jasmine menanggapi keluhan Alice dengan tawa lucu. Dia merasa hal ini lama-lama menggelikan. Macam rumah hantu yang ada di film-film.


"Pindah rumah saja, Alice!" saran Jasmine ringan sambil menghabiskan saladnya.


Alice membelalakkan matanya. Pindah rumah? Yang benar saja. Mana mungkin ia meninggalkan rumah yang sudah empat tahun ia tempati ini. Di setiap sudut rumah ini masih menjadi kenangan yang indah untuk Alice dan untuk Axel. Mana mungkin dia meninggalkan tempat ini begitu saja?


Setiap hal di dunia ini, tidak hanya memiliki nilai materil saja. Ada nilai emosional juga. Terutama untuk benda-benda penuh arti seperti rumah. Di dalam sini, banyak cerita yang terbentuk. Dari ketika Axel berusia hampir dua tahun hingga kini ia enam setengah tahun. Setiap ruang memiliki kisah yang unik.


"Saranmu sangat tak masuk akal." Alice menatap Jasmine dengan tak terima. Untuk wanita seperti Jasmine, pasti mudah saja baginya menyarankan pindah rumah.


Jasmine adalah wanita yang jarang memiliki nilai emosional terhadap benda mati. Baginya, rumah hanya sebatas bangunan tempat ia tidur, istirahat, dan bernilai layaknya properti pribadi. Hanya itu, tak lebih. Tak heran selama ini Jasmine sering kali pindah rumah ke rumah yang lain, dari satu apartemen ke apartemen yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain.


Ibarat tumbuhan, Jasmine tak memiliki tanah yang tetap. Akarnya sangat mudah dialihkan di mana pun ia mau. Begitulah hidup menurutnya. Sangat berbeda dengan yang Alice rasakan.

__ADS_1


"Kau terlalu sensitif terhadap benda mati, Alice. Rumah hanya rumah. Sudah. Seperti itu. Kau bisa membeli lagi yang lain, dengan tempat dan pemandangan yang lebih baik. Bukankah kau ahli properti? Mudah bagimu mendapatkan rumah mana pun yang kau mau."


Benar saja. Itulah pemikiran yang dimiliki Jasmine. Rumah hanya sekadar bangunan. Titik.


"Tidak semua hal hanya berarti materi, Jasmine. Rumah ini memiliki sisi sentimental yang cukup kuat untuk aku dan Axel. Kau pasti akan memahami kata-kataku jika nanti kau sudah berkeluarga dan memiliki anak. Percayalah. Hatimu pasti akan berubah juga!" Alice berkomentar serius. Dia menatap Jasmine penuh arti.


Suatu hari nanti, entah kapan, Alice yakin Jasmine pasti akan menemukan jalannya sendiri. Suami yang baik, anak-anak yang mengagumkan, dan keluarga sempurna seperti yang Alice miliki.


Sejatinya, Jasmine adalah wanita yang baik. Meskipun profesinya sangatlah melawan norma masyarakat, tetapi jauh di dalam hatinya ia memiliki hati yang tulus dan impian sederhana seperti kebanyakan wanita pada umumnya.


Bukan hal yang mustahil jika suatu hari nanti akan datang seorang lelaki yang cukup kuat untuk mengimbanginya dan memperlakukannya dengan baik. Lelaki yang bisa menyayanginya, menerima semua masa lalu milik Jasmine. Jika moment tersebut tiba, Alice berjanji pasti akan mendukung langkah Jasmine dan ikut bahagia untuknya.


"Entahlah, aku tak yakin. Kehidupan seperti itu sepertinya tak cocok untukku. Aku mungkin sudah didesain sendiri." Jasmine tersenyum miris.


Berkeluarga bukanlah hal yang sepertinya cocok untuknya. Jasmine sudah lama menjalani hidup seorang diri, melakukan semua hal seorang diri, dan menyimpan semua hal seorang diri. Sehingga tanpa sadar dia telah menjalani kehidupan ini dengan mengandalkan kemampuannya sendiri tanpa orang lain. Pernah sekali ia mencoba untuk percaya pada orang lain, tetapi hasilnya sangat menyesakkan.


Pernah Jasmine memiliki seorang suami, tetapi nyatanya suaminya justru melakukan banyak hal yang di luar dugaan. Banyak kesedihan yang telah Ia lalui, sehingga ia tidak lagi mempercayai tentang ikatan pernikahan.


" Jasmine, setiap orang, terutama setiap wanita, pasti menginginkan sebuah kehidupan normal. Kau pun juga demikian. Suatu hari nanti, aku yakin pasti ada lelaki yang cukup baik untuk bisa menerima dirimu. Kamu hanya harus meyakini hal tersebut akan terjadi."


Jasmine terdiam lama. Alice hanya tidak menyadari apa yang tengah ia katakan. Tidak semua wanita seperti itu. Dia telah mengalami banyak hal, sehingga Jasmine bisa menyimbulkan beberapa kaum wanita tidak cocok untuk melakukan pernikahan. Termasuk dirinya.


Jasmine cukup keras kepala. Dia telah mengalami kegagalan yang cukup fatal dalam pernikahan, sehingga pendapatnya sudah terbentuk secara otomatis. Lelaki yang sebelumnya ia kira baik menjadi orang yang bisa melukainya. Jadi, sekarang Jasmine tidak mudah untuk menilai kaum lelaki. Baginya, mereka sama saja. Keinginan mereka hanya satu. Menyalurkan hasrat dan gairah kepada wanita. Tak lebih.


"Sebagai wanita yang modern, kau cukup kolot, Jasmine." Alice berkomentar dengan sedikit cibiran. Pemikiran Jasmine sangat sempit. Bagaimana bisa lelaki mendekat padanya jika Jasmine saja telah menciptakan portal kuat untuk menahan semua kedekatan yang mungkin bisa terjalin.


"Mungkin. Aku hanya tak ingin membuka kesempatan untuk dilukai, Alice. Bukankah sudah kukatakan putriku meninggal di tangan suamiku sendiri? Kejadian itu masih sangat kuat ada di ingatanku! Tak mudah bagiku untuk menutup peristiwa itu!"


Hal yang sangat traumatis bagi seseorang, sangatlah sulit untuk dilupakan begitu saja. Semua itu membekas di relung hati terdalam. Seperti noktah merah yang sulit untuk dihapus begitu saja. Ada dan terus ada. Tidak mungkin hilang.


Sekuat apa pun Jasmine mencoba lupa, dia tetap saja teringat. Bayang-bayang kesakitan yang ia dapatkan. Rasa perih yang suaminya torehkan. Semua hal yang ia pikir tak akan sanggup jiwanya terima. Meskipun suaminya telah mendapatkan ganjaran, tetap saja rasa sakit yang tertoreh sulit untuk hilang. Sesuatu yang terlanjur digores, mustahil bisa lenyap dengan mudah.


"Semoga suatu hari nanti kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, Jasmine. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu!" Alice tersenyum maklum. Memang mudah untuk memberikan saran, tetapi tak semudah itu untuk melakukannya. Alice memahami dengan baik setiap kesulitan yang dialami oleh psikis Jasmine. Hatinya pernah terluka, dan tak sembarang orang bisa menghapus lukanya.


Jasmine mengangguk kecil, tak sadar tangannya mengelus perut. Senyumnya merekah, membayangkan rasa hangat yang sebentar lagi akan menyapanya saat ia menjadi seorang ibu.


Sudut mata Alice menatap apa yang Jasmine lakukan. Dia menarik nafas panjang, menyimpulkaan sesuatu.


"Jadi, jika kau bisa jujur padaku, berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Alice tiba-tiba.

__ADS_1


"Hah?" Jasmine menatap Alice dengan mata melotot lebar. Dia seperti orang linglung yang sama sekali tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.


"Kubilang, berapa usia kandunganmu sekarang?" ulang Alice mulai kesal.


Mata Jasmine mengerjap tak percaya. Dia terlihat bingung, sangat berbeda dengan sikapnya selama ini.


"Kau? Dari mana kau tahu?" tanya Jasmine dengan syok.


"Selama tiga hari ini kulihat kau sering mengelus perutmu dengan sinar mata berbinar. Aku seorang ibu, Jasmine. Aku tahu jenis tatapan yang kau berikan pada perutmu setiap kali kau menyentuhnya." Alice berkata dengan sabar.


Semenjak Jasmine berada di rumah ini, ia sudah mengajari banyak hal pada Alice, meskipun masih berada di tingkat dasar. Dari olah fisik, bela diri standar, dan cara menyembunyikan emosi sekaligus mengamati emosi orang lain.


Meskipun dia sudah tidak melakukan olah fisik, tetapi insting Alice mulai otomatis terlatih setiap waktunya. Dia bisa menilai emosi-emosi kecil dari orang di sekelilingnya, dan mengambil kesimpulan baru yang mendekati kebenaran.


Tindakan yang dilakukan Jasmine, hal-hal sederhana yang tak sadar ia lakukan, mengarahkan Alice pada suatu kesimpulan. Wanita itu merasakan kebahagiaan dan keprotektifan yang sama seperti Alice sebagai calon ibu. Terlihat dari kehati-hatian yang wanita itu lakukan dalam tiga hari ini setiap kali ia naik turun tangga.


"Apakah aku sejelas itu dalam mengekspresikan diri?"


Jika Alice saja bisa tahu rahasianya dan menangkap setiap tindakan Jasmine, maka Daniel pun juga pasti akan mudah menebaknya juga. Daniel memiliki insting yang lebih kuat dan lebih tinggi dari Alice. Sepertinya sikap Jasmine perlu dibenahi. Dia harus lebih pintar menutup diri dan mengekspresikan banyak hal yang tengah ia rasakan.


"Tidak juga, sebenarnya. Tetapi aku adalah seorang ibu yang pernah juga kehilangan bayi. Jadi aku bisa tahu bagaimana rasanya jika mengandung. Aku bisa menilaimu dengan sudut pandang dariku, Jasmine. Instingku sebagai seorang ibu sudah sangat tajam."


Untuk Alice, ekspresi Jasmine bisa ia tangkap karena ia sendiri pun demikian. Hamil merupakan hal yang sangat istimewa. Mengandung anak, membesarkannya, dan melahirkannya merupakan moment paling istimewa.


"Oh, baiklah. Sepertinya aku memang harus jujur padamu. Usia kandunganku mungkin sekitar sebelas atau dua belas minggu. Entahlah, aku belum memeriksakanya secara langsung kepada dokter." Jasmine meringis kecil, menyentuh kembali perutnya penuh rasa sayang.


Mungkin sebentar lagi Jasmine akan ke dokter. Memeriksa kandungannya dengan lebih akurat. Untuk saat ini, dia lebih suka menikmati kehamilannya untuk dirinya sendiri. Membayangkan semua perkembangan yang janin ini peroleh hari demi hari.


"Kau lebih baik segera ke dokter. Akan lebih baik jika kandunganmu diperiksa lebih dini. Kau butuh aku untuk menemanimu?" tawar Alice penuh pengertian..


Alice tahu bagaimana pentingnya teman saat situasi-situasi seperti ini. Dia dulu juga dibantu oleh Rachel ketika di kehamilan awal. Rachel bahkan bertindak layaknya saudara dan melakukan banyak hal untuknya.


"Tidak perlu, Alice. Aku wanita yang cukup mandiri," tolak Jasmine apa adanya. Dia menatap air putih di atas meja di dalam gelas kristal, mengambilnya, dan menghabiskannya dalam satu kali tenggak.


"Apakah ayahnya adalah Daniel?"


Minuman yang baru saja disesap oleh Jasmine seperti akan keluar langsung dari tenggorokannya. Jasmine menatap Alice dengan pandangan nanar.


__ADS_1


__ADS_2