Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
149 - SEASON 2


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Alice kembali ke rumah bersama James dan Violin. Dari selusin pengawal yang mereka bawa sebelumnya, James hanya menyisakan dua. Dua orang itu adalah dua orang yang paling hebat katanya. Sepuluh yang lain James transfer kepada temannya semua. Alice sama sekali tak keberatan dengan hal ini. Bahkan sopir yang mereka bawa juga James distribusikan untuk temannya. Sepertinya teman James saat ini benar-benar dalam kesulitan besar. Alice hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.


Sebagai ganti ketidakhadiran sopir, James-lah yang mengemudikan mobil. Mereka kembali ke rumah saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Udara terasa menggigit tulang. Musim dingin masih berlangsung di Manhattan. Alice terpaksa tetap mengenakan mantel hangat yang ia bawa dari rumah. Dia tak ingin tubuhnya mengalami demam karena cuaca yang tak mendukung. Kasihan bayinya nanti.


Baru saja mereka melewati tikungan kecil setelah lampu merah, tiba-tiba mobil mereka didorong mobil lain dari belakang. Baik James, Violin, dan Alice merasa terkejut. Mereka semua menoleh ke belakang dan menatap sebuah mobil SUV hitam yang berplat nomor asing. Sepertinya bukan mobil daerah sini.


"Ada apa i—"


Braakkk


lagi-lagi, mobil itu mendorong mobil mereka lebih kuat lagi. Alice sangat kaget. Dia menoleh ke arah Violin dan James yang sepertinya merasakan hal yang sama. Kedua mertuanya dan dua pengawal Alice yang berada di mobil lain di belakang mereka, tak jauh dari mobil SUV asing itu, mulai waspada.


James yang mengetahui ada bahaya mengincar mereka, mulai memikirkan sesuatu dengan cepat. Dia kemudian memutar kemudi menuju jalan yang lebih sepi dari jalan utama. Berharap dengan demikian, tidak terjadi keributan di tempat umum seperti dengan banyak warga tak bersalah.


Mereka diikuti oleh dua mobil di belakangnya. Pertama, mobil SUV hitam yang baru saja mendorong mereka, dan lainnya, mobil yang berisi para pengawal Alice yang tersisa. Dua mobil itu saling membuntuti Alice dengan kecepatan tinggi. Setiap kali SUV hitam itu mulai mendorong mobil yang Alice tumpangi, pengawal di belakang mereka mencoba menghentikan mobil tersebut dengan hal yang serupa. Jadilah semuanya semakin runyam.


Sepuluh menit kemudian, James mendapati ada tiga mobil lain yang mulai mengejar mereka. Masing-masing mereka menggunakan mobil berwarna hitam dari jenis SUV, Mini Cooper, dan satu lagi Ferrari.


Saat ini mereka telah memasuki jalan yang sepi. Malam telah membuat jalanan alternatif yang mereka gunakan, terasa sepi karena jarang digunakan oleh kendaraan-kendaraan lain.


Ditambah lagi ini adalah musim dingin. Salju masih sesekali turun. Membuat banyak orang malas untuk beraktifitas di luar ruangan.


"Siapa mereka?" tanya Alice tak mengerti. Dia mulai menebak, tetapi merasa tidak yakin jika belum bertanya secara langsung kepada Violin dan James.


"Anak buah Luiz, kutebak!" Violin sedikit merasa kesal. Dia memgambil pistol dari bawah jok kursi dan membuka pengamannya. Bersiap-siap jika hal buruk terjadi.


Situasi ini sangat di luar dugaan semua orang. Ketika James telah memutuskan untuk membagi banyak pengawalnya untuk membantu temannya, masalah justru datang menerpa mereka. Violin sama sekali tak menyangka di semua waktu yang ada, Luiz Martinez justru bertindak dengan mengirim orang-orangnya untuk mengejar mereka saat ini di waktu ketika mereka semua sedang kekurangan orang dan pengawal.


James saat ini memiliki emosi yang lebih stabil dari pada Alice. Jika Alice dan Violin terkesan kaget dan syok, tak menyangka dengan keadaan mereka yang sedang kritis, lain halnya dengan James yang bisa bersikap tenang dan masih mengendarai mobil ini dengan kecepatan normal. Di beberapa tikungan lain, James memutuskan mengambil jalur yang lebih kecil dan jarang dilalui oleh mobil lainnya sehingga tidak ada saksi mata yang memungkinkannya melihat aksi mereka.


Situasi semakin kacau ketika tiba-tiba terdengar suara tembakam yang ditujukan untuk dua pengawal Alice. Sepertinya orang-orang ini mulai bertindak bar-bar. Alice sempat melihat beberapa orang yang mengejar mereka menggunakan senjata pistol juga.


Hanya sekelebat bayangan hitam yang Alice tangkap. Orang-orang Luiz ini sepertinya tak terlalu mengekspos diri. Alice merunduk sesekali ketika salah satu dari para pengejarnya menyorotnya dengan pistol. Entah sebenarnya mereka mengancam agar mereka berhenti, atau benar-benar ingin mengambil nyawa Alice begitu saja.


Brakkkkk


Dorongan lain kembali terjadi. Kali ini Ferrari hitam yang mendorong mobil mereka dari belakang.


"Apakah semuanya baik-baik saja? Mungkinkah semuanya akan tetap baik-baik saja?" tanya Alice mulai khawatir. Kedua tangannya kebas, mengalirkan keringat dingin.


Situasi seperti ini adalah situasi yang tak pernah Alice sukai. Bahaya demi bahaya yang mengancam jiwa. Alice lelah disudutkan terus oleh keadaan.


"Merunduk saja, Sayang. Jika situasi darurat, ambil pistol di jok bawahmu. Bukankah kau bisa menggunakan pistol? Jasmine pernah mengajarimu hal ini, bukan?" tanya Violin memastikan. Dia memberikan instruksi pada Alice dengan sesekali menatap ke belakang, melihat suasana yang terjadi.


"James, bisakah kau mempercepat mobil ini? Sepertinya—"

__ADS_1


Braaakkkk


Braaakkkkk


Mobil SUV itu semakin insentif dalam mendorong mobil mereka. Violin memukul-mukul bahu James dari belakang, memberi isyarat agar suaminya mempercepat kecepatan mobil mereka.


"Santai saja, Sayang. Kita akan melalui semua ini," kata James tenang. Ekspresinya datar, tak mencerminkam emosi lain sama sekali. Dia tetap saja mempertahankan kecepatan mobil. James satu-satunya orang yang sepertinya tak terganggu dengan pengejaran ini.


"Kita akan melaluinya dengan kemenangan. Karena itu, saat ini fokus utama untuk menang adalah kabur, bukan menghadapi mereka. Orang-orang Luiz terlalu banyak. Kita hanya memiliki dua pengawal dan kemung—"


Dooorrr


Doorrr


Kalimat Violin terputus oleh suara pistol yang cukup keras. Dia berbalik melihat dua pengawal mereka yang ada di belakang, mencoba menghalangi musuh. Pengawal-pengawal itu baru saja mendapat tembakan kasar dari anak buah Luiz. Kaca mobil pengawal pecah di sebelah kanan. Tetapi sepertinya kondisi pengawal itu baik-baik saja. Buktinya, mereka masih bisa membalas tembakan itu dengan tembakan serupa. Hanya saja, tembakan mereka tak ada yang mengenai lawan secara telak. Menembak dari mobil kepada objek yang bergerak sepertinya memang tak mudah.


"Ya Tuhan. Apakah kita akan baik-baik saja?" tanya Alice semakin khawatir. Mobil Mini Cooper hitam yang tadinya hanya mengikuti mereka, kini terlihat mencoba menyalip mereka dari samping.


"James! James! Bisakah kau percepat mobil ini?" pinta Alice dengan nada meninggi.


Tidak masalah jika James ingin menikmati dikejar dengan adrenalin yang tinggi setiap saatnya. Mungkin James memiliki sisi lain yang tak Alice pahami. Tetapi yang jelas saat ini Alice benar-benar tak tertarik untuk berkontribusi dalam permianan kejar-kejaran penuh bahaya seperti ini. Dia hanya ingin kembali ke rumah dalam keadaan amam.


"Tenanglah, Alice. Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah padaku!" James menenangkan. Suaranya berat dan berwibawa, membuat Alice dan Violin merasa semakin was-was.


"Pinggirkan mobilnya ke samping kiri. Aku butuh sudut yang efektif untuk menembak mereka!" Violin memilih bertindak saat mini cooper yang mengejar mereka semakin mencoba memepet mereka dari arah samping.


Ada dua SUV juga yang mengejar mereka. Violin perlu melumpuhkan salah satu dari mereka dengan cepat. Dia tak ingin mereka berhasil memojokkan Violin dan Alice.


"Lakukan saja apa yang kau mau, Sayang!" James berkata ringan. Dia meminggirkan mobil ke samping dan mengurangi kecepatannya sedikit agar Violin bisa mengarahkan objek tembak dengan akurat.


Mata Violin berubah layaknya elang. Dia menyipit kecil, mencari celah yang vital. Seorang manusia didesain memiliki titik lemah tertentu. Jika titik lemah itu diserang, mereka akan mudah dihabisi.


Setelah Violin berhasil mengunci targetnya dalam beberapa detik, dia mulai menekan pelatuknya dengan seringaian kecil. Kemampuan Violin masih bagus dalam menembak. Dia sangat jarang meleset.


Klek


Hanya itu suara yang dihasilkan oleh pistol dalam genggaman Violin. Kening Violin mengernyit dalam. Dia mencoba kembali dalam beberapa detik dan masih tetap menghasilkan suara yang sama. Tak ada peluru satu pun yang keluar.


"Tak ada pelurunya!" Violin melemparkan benda di tangannya dengan kemarahan. Dia bergerak dengan cepat untuk mengambil pistol lain yang ada di bawah jok Alice. Dalam setiap situasi, Violin selalu mempersiapkan pistol di mobil yang ia pakai. Dia adalah wanita yang penuh persiapan dan memiliki kewaspadaan tinggi. Tak mungkin Violin pergi keluar tanpa persiapan pengamanan.


Hanya saja, akhir-akhir ini karena situasi aman Violin tak terlalu sering mengecek isi peluru. Dia beranggapan senjatanya sudah siap sedia. Setiap terakhir digunakan, biasanya Violin akan mengisinya kembali sehingga senjata tersebut siap ia gunakan untuk moment berikutnya.


"Violin, apakah ada sesuatu yang tak beres?" Alice semakin merasa tersudut. Dia mampu menangkap ada keganjilan-keganjilan dari situasi ini. Tetapi ketika ingin mengungkapkan, ia masih ragu-ragu.


Violin sibuk mengecek pistol yang baru saja ia ambil dari bawah jok kursi Alice. Gerakannya sangat cermat dan sigap, meunjukkan betapa ia sangat terlatih.

__ADS_1


"Kosong!" Violin menatap pistol yang telah terbongkar di tangannya dan menunjukkan pada Alice tak ada satu pun peluru di dalamnya.


Alice dam Violin menatap pasrah kepada James. Dengan bingung, Violin mengguncang-guncangkan bahu suaminya dengan sepenuh tenaga.


"Larilah sejauh mungkin mobil ini membawa kita. Tingkatkan kecepatan semaksimal mungkin."


"Tenanglah, Violin!" James sama sekali tak terpengaruh. Bukannya mempercepat mobil, lelaki itu justru memelankan mobil yang mereka tumpangi. Empat mobil yang mengincarnya ikut pelan.


Alice membelalak terkejut. Dia memegang bagian dadanya dan merasakan detak nadi utamanya kian bergemuruh tak karuan. Ini adalah situasi kritis. Situasi yang selayaknya digunakan dengan baik untuk kabur. Mereka hanya bertiga ditambah dengan dua orang pengawal. Melawan orang-orang Luiz saat ini jelas bukan pilihan bijaksana.


Ada istilah mundur secara bijaksana dalam sebuah perang. Bukan karena pengecut, tetapi karena sadar kekuatan diri kita sendiri sehingga mundur dengan harapan selamat lebih diutamakan.


"Aku memiliki sebuah rencana." James menatap kedua orang di belakangnya dengan tenang. Matanya menyorotkan sinar lain. Violin mulai membeku di tempat. Sudut mata wanita itu mengamati dengan tajam setiap mobil yang sebelumnya mengikuti mereka. Keempat mobil itu memgitari mereka semua, mencoba menahan posisi Alice dari semua arah.


"Kita keluar!" James membuka kunci mobil dan membiarkan mereka semua tanpa pertahanan.


"Kau gila?" Violin tak habis pikir.


Dua orang pengawal Violin mulai keluar dari mobil dan berlari cepat melindungi Alice. Violin melihat mereka yang masih memiliki tekad dan keberanian. Tetapi mereka tertahan oleh orang-orang Luiz yang mulai keluar satu per satu dari mobil mereka masing-masing.


Alice memghitung dengan cepat. Orang-orang itu berjumlah sekitar dua puluh orang. Dengan pakaian hitam-hitam dan penutup kepala. Ada dua orang di antara mereka yang paling kekar yang tak memakai penutup kepala. Mereka terlihat memiliki wajah latin seperti Luiz dan memiliki tato di sisi wajah mereka masing-masing. Sebuah anting bundar melingkari telinga mereka dengan cara khas orang jalanan.


"Keluar saja, Sayang. Percayalah padaku! Aku memiliki rencana yang cukup meyakinkan."


James tak main-main kali ini. Dia membuka pintu mobil dan keluar secara perlahan menghadapi mereka. Gestur tubuhnya menunjukkan kepercayaan diri.


"Violin, apa yang harus kita lakukan?" tanya Alice tak mengerti. Saat ini Alice benar-benar buyar pikirannya.


"Keluarlah. Tak apa-apa. Aku mempercayai James lebih dari pada siapa pun!" Violin berkata meyakinkan. Tak ada apa pun yang bisa mereka lakukan saat ini. Dua pistol yang Violin andalkan tak berisi peluru sama sekali. Percuma juga mereka tetap berada di mobil. Tak ada apa pun yang bisa melindungi mereka. Anak buah Luiz telah mengepung. Mereka sudah kehilangan langkah untuk melarikan diri.


Perlahan, Violin dan Alice keluar dari mobil. Violin mencoba memposisikan diri persis di depan Alice sebagai bentuk perlindungan. Jika terjadi sesuatu, Violin ingin memastikan keselamatan Alice terlebih dahulu.


"James, apa yang bisa kita lakukan saat ini?" Suara Violin sedikit keras, membuat beberapa orang yang mengepung mereka menoleh curiga.


"Bermain dengan caraku!"


Doooor


Doooor


Dua tembakan berhasil James layangkan dari pistol yang ia ambil dari balik jas hitamnya. Lelaki itu berhasil menumbangkan dua orang.


Hanya saja yang ditumbangkan bukan salah satu anak buah Luiz Martinez, tetapi dua pengawal Alice dan Violin yang masih tersisa.


__ADS_1


__ADS_2