Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
020 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel pulang tengah malam. Dia diantar oleh supir Avery menuju mansion kediaman Maxen. Pikiran Rachel masih sedikit kacau setelah ia mendengar penjelasan dari Harry. Banyak pertanyaan yang mengganggunya mengenai siapa sebenarnya keluarga Millian. Rahasia apa yang telah mereka sembunyikan. Dan apa yang telah mereka lakukan selama ini dibalik layar.


Saat Rachel memasuki ruang depan, dia mendengar suara Alena yang tengah berbicara serius dengan Maxen. Rachel berjalan mendekat. Dia cukup terkejut mendapati ibu mertuanya datang selarut ini. Perasaan tadi sebelum ia berangkat ke pesta Alena masih belum tiba di sini. Mungkinkah dia sengaja datang malam-malam? Untuk apa?


"Hai, Rachel. Kudengar kau baru saja mendatangi pesta pernikahan temanmu." Sapa Alena bergegas mendekati sang menantu dan memberikan pelukan hangat.


Rachel sedikit membeku. Entah kenapa, penjelasam Harry tentang keluarga Millian membuatnya semakin waspada. Alena menjadi orang yang tak terkecualikan.


Alena mengernyit, merasa respon Rachel sedikit tak wajar. Dia mengamati seluruh wajah Rachel dengan raut muka khawatir.


"Kau baik-baik saja, Sayang?"


Rachel mengerjapkan kedua matanya. Dia tersenyum kaku dan mengangguk lemah.


"Aku hanya sedikit lelah. Maaf Mom, sepertinya aku harus segera istirahat." Pamit Rachel terburu-buru. Dia meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi dan segera menyusuri tangga menuju kamar.


Baik Maxen dan Alexa saling berpandangan heran. Insting Maxen mengatakan ada yang salah dengan istrinya. Kedua matanya menyipit membentuk bulan tsabit, mencoba menebak perubahan sikap Rachel.


"Apa kau yakin dia baik-baik saja?" tanya Alena skeptis.


Maxen mengangkat bahu.


"Baiklah, Mom pulang dulu. Bujuk Rachel dan buat sikapnya kembali membaik. Kita membutuhkan wanita itu, Maxen."


Alena menarik nafas dengan berat. Masalah semakin rumit saja sekarang. Dia berharap segalanya akan baik-baik saja.


"Kau tak perlu khawatir, Mom. Kembalilah pulang dan biarkan supirku mengantarkanmu. Sudah terlalu malam untuk pulang sendiri." tawar Maxen tulus.


Alena mengangguk kecil, menerima kebaikan hati putranya. Dia pergi dari kediaman Maxen dengan pikiran melayang-layang.


Sepulangnya Alena, Maxen menyusul Rachel ke kamar. Wanita itu sudah berganti dengan piyama katun bermotif winnie the pooh dan meringkuk di bawah selimut dengan mata terpejam. Nafasnya tak teratur, menandakan dia belum sepenuhnya tidur.

__ADS_1


"Rachel, apakah kau baik-baik saja?" tanya Maxen mengambil tempat duduk di sisi ranjang.


Rachel membuka mata, merasa tidak terkejut sama sekali atas kehadiran Maxen. Lelaki itu sangat gila kontrol. Meskipun ia mengunci kamar, jika Maxen tetap ingin masuk, toh kunci itu tak lagi memiliki fungsi.


"Ya," jawabnya datar.


"Sikapmu sedikit berbeda."


Rachel mengangkat tubuhnya untuk duduk dan menatap lelaki di sampingnya dengan pandangan nyalang. Tatapan mata Maxen yang dingin dan kejam semakin meningkatkan kecurigaan dirinya. Siapa lelaki ini sebenarya?


Jika apa yang Harry katakan adalah suatu kebenaran, itu artinya Maxen pasti cukup rumit untuk disanding. Dari awal lelaki itu sudah berhasil menarik kewaspadaanya. Tak disangka reaksi khusus dari lelaki dominan ini merupakan petunjuk tentang sesuatu yang lebih besar lagi.


"Maxen," panggil Rachel dengan bibir bergetar. Dia terdengar sangat hati-hati, seolah takut untuk menyinggung Maxen secara tidak sengaja.


"Ya? Ada masalah?"


Rachel tertunduk dalam. Dia mempermainkan jari jemarinya dengan wajah tertekan.


"Aku ingin cerai."


Bagaikan suara palu yang menyentak keras di atas permukaan meja. Gemanya memantul ke seluruh ruang. Membawa kekuatan penghancur yang besar.


Mata Maxen semakin menggelap. Kedua tanganya mencengkeram erat, menampakkan otot-otot kuat yang ia sembunyikan.


Ada amarah yang kuat dan menjalar cepat di sudut hati. Sebuah amarah yang membuatnya untuk segera bertindak. Dengan cepat, lelaki itu meraih tengkuk Rachel, menariknya agar menghadap ke atas dan mencium bibirnya dengan membabi buta.


Awalnya sentuhan Maxen didominasi oleh amarah. Hanya kekasaran yang ia berikan. Akan tetapi, perlahan-lahan gerakanya menjadi lebih lembut dan penuh perasaan.


Rachel mencoba menghindar. Tanganya ia jadikan penghalang di antara mereka. Kepalanya bergerak tak tentu arah mencoba menjauhi dominasi yang lelaki ini lakukan.


Namun, kekuatan perempuan tak pernah bisa dibandingkan dengan lelaki. Sebesar apa pun tenaga yang Rachel keluarkan tak cukup untuk menahan kemauan Maxen.

__ADS_1


Kedua lengan Maxen ia gunakan untuk menahan tangan Rachel. Tubuh Rachel terpenjara dalam kungkungan Maxen. Semua perlawananya ia lumpuhkan. Membuat Rachel mau tak mau menerima ciuman ini.


Setelah Maxen menyadari wanita dalam pelukanya semakin melemah, ia menjelajahi sudut mulut Rachel lebih dalam lagi. Dia mengabsen setiap geraham Avery dan membelit lidahnya dengan ahli.


Maxen jelas sangat pengalaman. Gerakanya bagaikan tarian alam yang menuntut untuk mendapatkan respon serupa. Dia membujuk, menggoda, dan meminta sehingga Rachel tanpa sadar menikmati ciuman ini.


Setelah beberapa saat berlalu, Maxen menghentikan tindakanya dan mengamati wajah Rachel yang dipenuhi dengan kebingungan.


Wanita ini sungguh indah. Matanya yang bundar menyorot pernohonan tanpa kata untuk ia kuasai secara penuh. Bibirnya yang bengkak seolah meminta untuk dicecap lagi. Sinar matanya menari-nari, seperti dewi yang ingin menggoda pasanganya.


"Jangan katakan tentang cerai lagi. Jika kudengar kau mengucapkanya, aku tidak hanya akan menciummu. Aku akan melakukan lebih. Saat itu, satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah menerimaku sepenuhnya."


Maxen menyingkingkirkan beberapa helai rambut pirang Rachel dan mengaitkanya di belakang telinga. Bibirnya ia tarik membentuk senyum kemenangan. Dia berdiri dan segera berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Rachel duduk dalam kebingungan total.


Kamar Rachel kembali hening. Tangan Rachel menyentuh ujung bibirnya yang telah membengkak. Dengan degup jantung yang masih tak teratur, ia kembali berbaring dan memejamkan mata.


Ciuman Maxen masih terasa jelas. Diam-diam ada sebuah rasa manis yang tersisa dari lelaki tersebut. Sesuatu yang mulai ia tentang mati-matian.


Di ruangan lain, Maxen memasuki kamar dan langsung menuju kamar mandi yang berdesain modern. Dia melepaskan semua pakaian yang melekat badan, memutar shower, dan mengguyur dirinya dengan air dingin.


Sialan Rachel.


Wanita itu membangunkan sisi dirinya yang telah lama terkubur. Sikap posesif mulai mencengkeram hatinya dengan kekuatan penuh. Emosinya selalu labil setiap kali berdekatan dengan wanita tersebut.


Ada apa ini?


Kenapa wanita yang awalnya hanya sekedar sebuah alat untuk meraih tujuan kini menjadi rumit? Sehingga yang ada hanyalah perasaan meluap-luap untuk menguasai dan mengklaim Rachel secara penuh.


Bayangan Rachel saat bersedia pasrah di bawahnya dan menjadi miliknya benar-benar membuat hatinya membumbung tinggi.


Maxen memukul-mukul jidatnya ke dinding kamar mandi dengan tempo teratur. Saat ini, ada sesuatu yang salah. Terlanjur berjalan salah dan ia biarkan tetap salah. Sesuatu yang berhubungan dengan hati. Jika ini tidak dibenahi, pasti akan membawa hidup Maxen pada kerumitan lain.

__ADS_1



nyicil dikit dulu, nanti insya Allah jika nggak ada halangan up lagi buat mengisi malam minggu kalian.❤❤


__ADS_2