Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
121 - SEASON 2


__ADS_3

Sore ini, Manhatan sedikit mengalami penurunan cuaca dari pada hari-hari sebelumnya. Musim dingin terasa menusuk kulit, sehingga baik Alice dan orang-orang yang ada di rumah ini terpaksa harus menambah baju hangat mereka untuk melindungi diri mereka sendiri.


Alis merasa sedikit lucu melihat Axel yang kini memakai baju hangat berlapis-lapis. Setiap ruangan telah diatur oleh William menggunakan penghangat ruangan otomatis. Tetapi meski begitu, mereka semua masih saja mengenakan baju hangat. Salju mulai turun dengan deras di luar.


Sebenarnya, Axel sangat ingin bermain di luar bersama William. Tetapi melihat cuaca yang sepertinya tidak menentu, Alice mencoba membujuk agar anak itu tidak keluar rumah pada saat seperti ini. Sebenarnya, Alice tidak hanya mengkhawatirkan tentang masalah cuaca. Dia khawatir tentang bahaya apa yang akan terjadi seandainya Alice dan Axel bersikap teledor dan keluar dari rumah tanpa pengawalan ketat. Saat ini, Alice semakin waspada terhadap segala sesuatu. Dia tak ingin melakukan hal-hal yang sekiranya akan membuatnya nanti menyesal. Bagaimanapun juga, Axel merupakan Putra satu-satunya yang ia miliki. Dia tak bisa mengambil resiko.


Bukankah lebih baik bersikap waspada daripada menanggulangi masalah? Lebih baik Axel dan Alice mempertahankan diri di tempat yang aman dari pada mereka bermain keluar tetapi ada bahaya yang siap mengintai mereka kapan saja.


William dan Jasmine pun bersikap hal yang sama. Mereka berdua sangat protektif terhadap Axel. Bahkan hanya untuk sekadar keluar dan sekolah, William membekali Axel dengan beberapa pengawalan yang ketat. Para pengawal tersebut tidak membiarkan Axel keluar dari ruang sekolah kecuali dalam keadaan terdesak dan ditemani oleh mereka semua.


Hingga sampai-sampai, Axel pun merasa bingung dengan keberadaan pengawal itu. Dia berkali-kali menggerutu kepada ibunya untuk melakukan protes terhadap pengawalan yang ekstra ketat itu. Bagi anak-anak seperti Axel, pengawalan ketat seperti itu merupakan sebuah hal yang sangat menyiksa dirinya. Dia telah mendapatkan banyak olok-olok dari teman-temannya gara-gara menggunakan pengawal cara berlebihan seperti itu. Tetapi baik Alice, Jasmine, dan William, mereka semua tidak ada yang menggubris semua protes Axel. Lebih baik anak itu protes dengan keras selama anak itu tetap aman dari pada melepaskan pengawalan tetapi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Akhirnya, dengan terpaksa, Axel pun melakukan banyak aktivitas di luar dengan ditemani banyak pengawalan. Alice hanya bisa memberikan pengertian kepada putranya. Saat ini keadaan sedang tidak aman dan sedikit berbahaya, sehingga anak itu harus diperhatikan secara ekstra.


Karena tindakan Alice yang ikut waspada, membuat William dan Jasmine ikut merasakan hal ini. Mereka berdua duduk di kursi ruang belakang rumah Alice dan membicarakan hal ini.


"William, apakah menurutmu Alice mengetahui bahwa ia sedang dalam kondisi bahaya?" tanya Jasmine di suatu sore.


"Ya. Alice sudah merasakan hal itu beberapa hari ini. Kemarin dia sempat bertanya kepadaku apakah sebenarnya ada bahaya yang mengancam dirinya dan mengancam Axel? Tetapi saat ini aku belum bisa berterus terang kepada Alice. Alice terus saja mengejarku dengan pertanyaan tersebut. Tetapi aku tetap tidak ingin membongkar rahasia ini lebih dahulu. Situasinya belum mendukung untuk Alice mengetahui semua ini. Aku hanya tidak ingin membuat Alice semakin khawatir dan semakin tertekan."


Jasmine mengangguk-anggukkan kepalanya dengan paham. Pantas, tadi malam Alice sempat berkata kepada Jasmine untuk berbicara tentang sesuatu. Tapi karena Jasmine tidur terlebih dahulu, Alice jadi mengurungkan niatnya. Mungkin tadi malam Alice memang berniat bertanya kepada Jasmine mengenai masalah itu. Sepertinya, apa yang dikatakan oleh William merupakan hal yang benar. Alice belum siap menghadapi kenyataan ini. Akan lebih baik Alice tidak mengetahui bahwa ia sedang diincar oleh anggota Black Hell, salah satu organisasi mafia paling kejam yang ia dengar.


"Tapi, sampai kapan kita akan menyembunyikan hal ini dari Alice?" Jasmine mulai sedikit ragu-ragu.


Jasmine memang tak ingin membuat Alice khawatir. Bagaimana pun juga, Alice merupakan orang yang bisa saja mudah stres dan mudah tertekan. Buktinya, beberapa waktu yang lalu sempat masuk rumah sakit karena mengalami flek ringan. Semenjak hal itu, Jasmine menjadi lebih berhati-hati dalam mengajak Alice untuk beraktivitas. Bahkan untuk aktivitas secara fisik pun, Jasmine mengurangi dan membatasi kegiatan yang Alice lakukan. Dia tak ingin hal-hal yang buruk terjadi pada Alice. Bagaimana pun juga, Klayver telah mempercayakan Alice kepadanya sehingga Jasmine tak ingin mengambil resiko apa pun.


Tetapi, pada akhirnya jika terjadi bahaya, Alice sendiri yang akan merasakannya dan Alice sendiri yang akan mengalaminya. Jika ia terlalu sering dilindungi dan tidak diberitahu tentang situasi dirinya sendiri, Jasmine khawatir Alice akan lebih terkejut nantinya.


Jasmine dan William tidak bisa menyembunyikan bahaya dan ancaman ini terlalu lama dari diri Alice. Pada akhirnya, Alice perlu juga diberi tahu tentang bahaya dan keadaan yang tengah mengancamnya. Dengan begitu, mungkin semuanya ada keterbukaan yang lebih baik. Jika Jasmine berada pada posisi Alice, dia pun pasti tak akan nyaman jika terus dianggap sebagai orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak terlibat apa apa, sementara sebaliknya, dia merupakan orang dan target utama dalam kasus ini.

__ADS_1


"Untuk saat ini, mungkin pendapatmu memang benar. Kita lebih baik menyembunyikan hal ini dari Alice. Tetapi hal ini tidak akan pernah bisa berlangsung lama, karena bagaimana pun juga, Alice adalah wanita dewasa yang siap dengan semua kondisi dan keadaan. Dia bukan anak kecil yang bisa kita lindungi begitu saja. Dia juga berhak tahu tentang situasi apa yang tengah mengancam dirinya." Jasmine mencoba membujuk william untuk melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda.


Jasmine memahami keputusan yang diambil William. Tetapi bagaimana pun juga, William harus melihat semuanya dari sudut pandang yang lain. Menjadi Alice tidaklah mudah. Menjadi orang yang tidak tahu apa-apa juga bukan sesuatu hal yang menyenangkan. Apalagi, pada dasarnya semua masalah ini akan bermuara pada Alice. Sudah selayaknya mereka semua memberitahu tentang masalah ini pada Alice.


" William, mungkin kita telah memilih keputusan yang salah. Bagaimana jika mulai saat ini, kita pelan-pelan memberitahu Alice tentang apa yang sebenarnya terjadi?"


William hanya diam, memilih untuk tidak membalas satu kata pun perkataan dari Jasmine. Dia sepertinya tengah mengalami dilematis. Apa yang ia pikir baik, sekarang tampak tak baik. Apa yang dia pikir hal itu untuk melindungi Alice, sekarang sepertinya hal itu tak lagi tepat. Apakah mungkin itu artinya Jasmine benar? Dan memang mereka semua harus memberitahu kepada Alice tentang apa yang terjadi? Semua itu masih menjadi tanda tanya besar bagi William saat ini.


"William, cobalah kau berpikir bagaimana rasanya jika menjadi Alice. Tidak tahu-menahu tentang apa yang tengah terjadi, tidak tahu bahaya apa yang telah mengancam, dan tidak menjadi orang yang dilibatkan dalam hal ini sementara ia menjadi target utama dalam masalah kali ini."


William kembali terpekur. Dia merasa apa yang tengah dikatakan oleh Jasmine adalah hal yang benar. Menjadi orang yang tidak tahu menahu pasti tidak menyenangkan. Bagaimanapun juga, William tugasnya adalah melindungi Alice dengan segenap kekuatan yang ia miliki. Termasuk bahkan jika nyawanya menjadi taruhan. Tetapi jika tindakannya justru membuat kondisi Alice semakin sulit dengan cara menyimpan semua hal dari Alice, sepertinya hal itu memang tidak tepat juga.


"Jadi, menurutmu, kita harus memberitahunya secara pelan-pelan?" Tanya William mulai memahami hal ini perlahan-lahan.


"Kita lihat nanti bagaimana situasinya. Jika kondisi memungkinkan, kita akan menjelaskannya secara pelan-pelan. Tetapi jika memang secara mental Alice sudah siap dengan semua ini, maka alangkah baiknya kita menjelaskan semuanya kepada Alice mulai dari sekarang."


Jasmine mengangkat bahunya dengan lemah. Semua itu tergantung nanti kondisinya seperti apa. Sepertinya dilihat dari kondisinya sekarang, Alice sudah cukup siap untuk mendengar semua fakta tersebut. Alice bukan orang bodoh. Dia sendiri juga sudah melengkapi dirinya dengan kewaspadaan tinggi. Sekarang, dia juga pasti menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua kondisi ini. Jadi, Kenapa mereka semua harus kucing-kucingan dan menyimpan semua itu sementara Alice sendiri sudah mulai curiga ada yang tak beres?


William kembali merenung. Sepertinya Jasmine telah memberikan jalan keluar yang baik. Semakin dipikir-pikir, apa yang dikatakan Jasmine merupakan sebuah kebenaran. Jadi, mereka harus memberitahu hal ini secepatnya kepada Alice. Berharap dengan demikian, baik mereka dan Alice bisa sama-sama mempersiapkan diri mereka masing-masing jika terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan. Bukankah persiapan merupakan hal yang paling tepat untuk mereka lakukan saat ini?


"Baiklah, Jasmine. Kapan kira-kira kita memberitahu hal ini kepada Alice?" Tanya William dengan nada yang cukup serius.


"Bagaimana jika malam ini? Bersamaan dengan makan malam?" Jasmine mengusulkan.


"Pada waktu makan malam?" William mengulangi kata-kata jasmine.


Jasmine mengangguk dengan cepat. "Mungkin, sekali-kali kau harus mengikuti makan malam. Bukankah selama ini kau sering makan malam sendirian tanpa kami? Saat ini, saatnya kau mulai membuka diri dengan makan malam bersama kami. Bukankah itu hal yang baik William?"


Jasmine bertanya dengan sedikit nada menggoda. Selama ini, William termasuk orang yang penyendiri. Dia jarang berbaur dengan pelayan saat makan malam atau pun saat momen-momen tertentu. Satu-satunya momen yang William lakukan bersama keluarga Alice, adalah saat-saat momen Ia bermain bersama Axel. Hanya itu.

__ADS_1


Waktu William habis digunakan untuk mengurus hal-hal penting, mengurus organisasi yang pernah Anson wariskan untuknya, dan mengurus banyak masalah-masalah rumah tangga lainnya. Hidup William terlalu serius. Jasmine bahkan sampai mengira lelaki itu tak pernah bisa bercanda sedikit pun. Terkadang, orang-orang seperti William butuh sesuatu untuk mereka lakukan hanya demi kesenangan sendiri. Sudah saatnya William mulai berbaur, mencari hal-hal yang bisa meningkatkan pergaulan sosial, dan mencari hal-hal lain untuk kepuasan diri.


Alice dan Jasmine sudah berkali-kali mendorong William melakukan hal ini. Mereka berharap, masa tua William dihabiskan dengan hal-hal yang positif. Tidak hanya melulu mengurusi hal-hal rumah tangga, urusan-urusan Alice dan mengabdi terus-menerus. Bahkan, Alice pernah menawari William dengan sebuah pondok kecil yang sedikit jauh dari tempat ini. Dia berharap dengan begitu, William bisa mendapatkan ketenangan dan bersantai, melakukan banyak hal, seperti liburan atau semacamnya untuk diri William sendiri.


William adalah orang yang sangat setia dan memiliki integritas tinggi dalam mengabdi kepada sebuah keluarga. Alice hanya ingin hidup William diwarnai dengan hal-hal indah di masa tuanya. Tetapi berapa kali pun Alice dan Jasmine mencoba untuk mendorong William melakukan semua itu, William tetap saja menolak. Baginya, hidup miliknya hanya untuk mengabdi kepada keluarga Mallory dan kepada Alice, juga Axel. Dia tak peduli berapa usianya, selama ia bisa memberikan kontribusi yang baik untuk Alice dan Axel, maka ia akan terus melakukan hal itu tak peduli sampai kapan.


"Sebagai orangtua, kau cukup kaku, William." Jasmine mengomentari William dengan jujur.


William hanya diam. Dia mengakui jika dirinya memang sedikit kaku mengenai masalah hal-hal seperti itu. Baginya, kehidupan William telah William wariskan kepada keluarga yang ia abdi. Sehingga melihat keluarga Mallory, terutama sekarang, Alice dan Axel bahagia, semua itu lebih dari cukup untuknya.


"Aku telah memilih jalanku sendiri, Jasmine. Seperti inilah hidupku. Mengabdi merupakan hal yang telah aku sumpahkan sebelumnya."


"Tidakkah kau ingin merasa bahagia, terlepas dari keluarga ini, dan memiliki kehidupan sendiri?" tanya Jasmine mulai penasaran.


Jarang di dunia ini ada orang yang melewati waktu hanya untuk melakukan perintah dan pengabdian tanpa batas kepada orang lain. Baklah, mungkin ada. Tapi pasti persentasenya kecil. Untuk kasus Jasmine, ia baru melihat hal itu sekali saja, yaitu William.


"Semua itu sudah lewat untukku, Jasmine. Aku sudah tidak lagi memikirkan hal ini. Bagiku, fokusku tidak untuk diriku sendiri. Melihat Axel bahagia, aku sudah bahagia. Anak itu seperti cucuku sendiri. Dulu, ayah Axel, Anson, dia juga sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku kepada mereka." William mencoba menjelaskan apa yang tengah ia rasakan. Memang begitulah adanya.


Masa depan William telah berada di ujung tombak. Dia bisa saja dipanggil oleh Tuhan sewaktu-waktu. William juga tak pernah tahu kapan kehidupan akan menyambutnya kembali ke dimensi lain yang lebih baik. Dia berharap, saat itu terjadi, dia meninggalkan Alice dan Axel dalam keadaan baik-baik saja. Itu adalah harapan terakhir miliknya. Alice sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Apapun yang bisa menyakiti Alice, pasti juga akan menyakiti hati William. Apa yang membuat Alice bahagia, juga akan membuat William bahagia.


Mimpi William adalah mimpi sederhana. Keinginan William juga keinginan yang sederhana. Kehidupan telah membuat William belajar banyak hal. Ambisi dan hasrat sudah tidak lagi menjadi miliknya.


Dengan cara ini, William melewati masa tua dengan hal-hal positif. Mungkin sebentar lagi dia akan bersahabat dengan tanah, tak lagi menatap mentari Manhattan. Tetapi semua itu bukanlah masalah besar baginya. William sudah siap dengan setiap kemungkinan yang ada. Dia sudah kenyang menjalani kehidupan, merasakan banyak pelangi, dan belajar banyak hal di dunia ini. Kematian bukan lagi sesuatu hal yang ia takutkan.


"Kau benar-benar luar biasa, William." Jasmine memuji prinsip William dengan tulus. Mereka saling menatap, memahami satu sama lain. Kemudian, tiba-tiba William bertanya sesuatu hal yang membuat Alice terkejut.


"Jadi, kapan kau mulai hamil, Jasmine?"


__ADS_1


__ADS_2