
William menarik Alice ke belakang punggungnya. Dia mengeluarkan pistol dari balik kemeja yang ia kenakan dan mengarahkan pada mereka.
Langit malam menjadi saksi bisu bagi tragedi baru.
Sekuat apa pun William, satu pistol tak akan pernah bisa melawan puluhan pistol yang mengarah pada mereka. Upaya William hanya menjadi upaya sia-sia. Alice pun mengetahui kenyataan ini dan segera memejamkan mata, mengharapkan keajaiban baru.
Dalam hati, Alice bersyukur Axel tidak terjebak pada situasi ini. Setidaknya anak itu aman bersama Rachel. Jauh dari tempat tragedi.
Seorang wanita berusia enam puluhan berjalan maju di antara sekumpulan orang-orang berpakaian gelap. Sepertinya dia adalah penggerak utama. Sebelah tangannya melambai pelan, menyuruh para anak buahnya menurunkan senjata.
"Di mana Klayver?" tanyanya nyaring, memecah keheningan malam.
Alice masih berdiri di balik William. Dia bahkan tak berani menarik nafas dengan sembarangan. Aura di sini berubah seperti pembantaian.
"Siapa Anda?" tanya William. Suaranya mantap. Sama sekali tak terintimidasi oleh kondisi sulit.
"Orang-orang menyebutku The Queen." Dia berjalan maju, tak khawatir oleh pistol yang diarahkan William padanya.
Wanita itu memiliki kekuatan dan kepercayaan diri. Melihat sikapnya yang seperti ini, membuat Alice teringat pada Klayver. Mereka berdua seperti dua orang dengan banyak kesamaan.
"Anda tak bisa memasuki rumah orang lain dan mengancam dengan cara bar-bar seperti ini." William berkata dengan berani. Pistolnya masih ia genggam kuat, meskipun pihak lawan telah menurunkan senjata dari tadi.
"Aku bisa melakukan semua hal yang aku mau." The Queen berkata ringan, seolah-olah ia sedang berkunjung kepada kawan lama. Aura membunuh perlahan-lahan mulai samar. Tak lagi sekuat tadi.
"Aku menginginkan Klayver. Di mana dia?" tanya The Queen kembali. Dia mulai tak sabar. Ujung sepatu datarnya ia ketukkan beberapa kali di atas tanah halaman.
"Dia sedang keluar selama dua hari. Kami pun juga tidak tahu di mana keberadaannya sekarang." William menjawab secara diplomatis. Dia tak ingin menutupi fakta yang ada.
Entah karena The Queen bisa mencium kejujuran William, atau entah dia memilih percaya, dia mengangguk kecil dan menyuruh salah seorang bawahannya menggiring Alice ke dalam ruangan.
"Hidupkan lagi sistem listriknya!" titahnya pada yang lain.
Alice berjalan terseok-seok dalam kegelapan bersama William. Mereka diarahkan ke ruang tengah dengan sebuah senter kecil yang dibawa oleh salah satu anggota anak buah The Queen. Melihat jumlah mereka yang banyak, William mencoba bersikap realistis dan kembali menyimpan senjatanya.
Para pelayan diarahkan ke ruangan lain, terpisah dari mereka. Alice mendengar beberapa orang saling menjerit penuh ketakutan. Suasana benar-benar menegangkan.
The Queen. Alice ingat nama ini. Nama yang Daniel berikan padanya sebagai pihak yang menyewa Daniel untuk mencari identitas Klayver. Jadi ternyata wanita itu salah satu pemburu Klayver.
Apakah Klayver semenarik itu sehingga wanita tua sepertinya tertarik mencarinya? Ya Tuhan. Benar-benar kompleks.
Tak berapa lama, lampu ruangan kembali menyala. The Queen mendekati mereka dengan pandangan tajam. Matanya memiliki warna mata emas seperti milik Klayver. Wanita ini, jika diamati lebih jauh, jadi terasa tak terlalu asing. Siapa dia sebenarnya?
__ADS_1
"Apakah kau istrinya?" tanya The Queen. Tatapannya tajam, meneliti semua sudut wajah Alice.
"Ya. Apakah kau akan membunuhku juga?" tanya Alice berani. Ketakutannya sudah di ambang batas. Ada baiknya dia mengungkapkan kekhawatiran yang terpendam.
Bukannya menjawab, The Queen hanya tertawa lirih. Dia duduk santai bagaikan ratu di atas kursi di depan mereka. Jari-jarinya yang lentik mempermainkan pistol miliknya dengan anggun. Ujung-ujung kuku ia poles dengan warna semerah darah.
"Kau adalah pancingan untuk Klayver. Aku tak tertarik menghabisimu. Aku tak terlalu suka mayat. Jika tak terpaksa, aku tak akan membunuh. Tapi jika keadaan memaksa, aku tak punya pilihan lain," katanya jijik.
Membayangkan mayat yang berdarah-darah membuat wajah The Queen terlihat suram. Berurusan dengan jenazah selalu merepotkan. Dia tak terlalu antusias.
"Lantas, apa tujuanmu, Nyonya?" William bertanya dengan wibawa. Salah satu tanganyya siap mengambil pistol sewaktu-waktu.
"Bertemu dan membentuk kesepakatan dengan Klayver," ujarnya ringan. The Queen menatap Alice kembali penuh minat. Dia masih terkejut mendapati kenyataan bahwa wanita ini adalah istri Klayver. Kapan lelaki tersebut sanggup ditaklukkan?
Alice memiliki kecantikan mematikan. Siapa lelaki yang tahan dengan jenis wanita seperti ini? Kecantikan yang ia miliki bukan hanya kecantikan fisik. Sama sekali tak sederhana.
"Jika hanya membentuk kesepakatan, kenapa membawa banyak orang untuk mengintimidasi kami?" William bertanya dengan ragu. Wanita di hadapannya terlalu kompleks. Dia harus hati-hati mengimbanginya.
"Karena dia tak mudah untuk menerima kesepakatan. Apa yang aku minta adalah hal yang besar darinya. Jadi untuk membuatnya setuju, aku menggunakan nyawa kalian sebagai barter. Jika dia tak cukup cerdas untuk menerima, jangan salahkan aku atas kematian kalian."
Alice menggigit lidahnya diam-diam. Dia mulai memahami ke mana tujuan The Queen. Jadi, wanita itu sengaja memancing Alice keluar dan berharap bisa menahannya lebih dulu sebagai alat tukar dengan kesepakatan Klayver. Tetapi sayangnya Klayver tak berada di sini sehingga mau tak mau The Queen harus menunggu sosok itu kembali.
Alice dan William langsung menegak dari duduk mereka. Alice melirik William seolah ingin mengungkapkan kekhawatiran yang ia miliki tanpa suara. William pun tak lebih baik. Dia menggenggam tangan Alice dan mengangguk lemah, memberikan kekuatan.
The Queen segera berdiri, memahami bahwa mobil tersebut pasti pertanda kepulangan Klayver. Dia melirik anak buahnya dan mengeluarkan perintah.
"Katakan istri dan pengawalnya telah kutawan. Jika dia ingin bernegosiasi dengan damai, jangan sampai melukai satu orang pun dari organisasi kita. Dan kau, ambil senjata orang tua itu!"
The Queen menunjuk salah seorang bawahannya untuk mengambil alih pistol yang masih disimpan William. Sementara bawahan lain segera berlari menyambut kepulangan Klayver dan menyampaikan seperti apa yang dikehendaki The Queen.
"Serahkan!" perintah seorang lelaki berpakaian gelap. Tangan yang satu menodongkan senjata ke arah William, sedang tangan yang lain menunjuk ke bawah, memberi arahan agar William melemparkan senjatanya ke lantai.
William termenung untuk beberapa saat. Dia tak bersedia menyerahkan senjata miliknya. Bagaimana pun juga, hanya inilah satu-satunya pelindung bagi mereka saat ini. Menyerahkan, bukankah itu artinya sama saja memutus harapan hidup?
Alice yang memahami dilema William menepuk lengan William untuk menenangkan. Bagaimanapun, satu senjata tak akan pernah bisa membela diri dari puluhan senjata. Sejago-jagonya William peluru itu hanya sanggup membunuh beberapa orang.
Mereka tetap kalah jumlah. Akan lebih baik mereka mengikuti kemauan The Queen sejak dini. Dengan begini, mungkin mereka bisa diajak bekerja sama.
"Tidak apa-apa, Will," bujuk Alice lembut.
William memejamkan mata, merasa tak berdaya sebelum akhirnya melemparkan pistol tersebut ke lantai. Anak buah The Quenn segera mengamankan senjata itu dan mundur secara waspada. Kelihatannya orang-orang ini benar-benar terlatih.
__ADS_1
Suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekati mereka. Alice menajamkan penglihatan dan menoleh ke pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan sebelah.
Di sana, terlihat Klayver memasuki ruangan dengan dikawal banyak orang dari organisasi The Queen.
Saat ini, satu-satunya hal yang Alice lihat dari Klayver adalah sorot mata paling dingin sepanjang ia mengenal lelaki tersebut. Senyumnya melengkung indah, seperti tantangan tersembunyi untuk The Queen. Dia melirik ke arah Alice. Tatapannya sedikit melembut. Membuat hati Alice tersiram kesejukan baru.
Tatapan Klayver seperti menenangkan Alice dan menyampaikan tanpa kata bahwa segalanya akan baik-baik saja. Alice hanya bisa berpegang pada ekspresi Klayver untuk menjaga kewarasannya tetap hidup. Situasi ini benar-bebar telah menekan mentalnya.
"Kau terlalu licik. Menahan istri dan kepala pelayanku," kata Klayver dengan nada tajam.
The Queen terkekeh, tidak merasa bersalah sama sekali. Dia menatap Klayver dengan senyum kecil. Binar matanya menampakkan kebahagiaan saat ia melihat sosok Klayver.
Dari cara Klayver berinteraksi, sepertinya mereka saling mengenal. Alice berharap semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan membawa banyak dampak buruk. Klayver pasti terlalu cerdas. Dia pasti bisa menyelamatkan Alice dari situasi ini.
"Karena itu, turutilah kemauanku. Jika tidak, aku tak keberatan membuat mereka melambaikan tangan pada nafas kehidupan."
Kalimat The Queen disampaikan dengan ringan. Tetapi mengandung arti sangat dalam. Siapa pun di ruangan ini tahu bahwa kata-katanya bukan sekadar permainan. Ada arti yang dalam.
"Dari dulu, kau selalu menarikku untuk kembali ke sisimu. Aku sudah cukup bosan dengan semua cara yang kau gunakan. Sayangnya, aku suka bergerak sendiri. Jangan paksa aku kembali padamu. Di antara kita, sudah tak ada lagi hubungan apa-apa."
Alice hanya mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam. Dia tak berkutik sama sekali. Dari ucapan Klayver, menandakan bahwa mereka adalah kenalan lama. Jika Alice bisa menyimpulkan, The Queen berusaha menarik Klayver untuk kembali bersamanya tetapi ditolak oleh lelaki tersebut.
"Aku sudah mencarimu lama. Aku tak menyangka Klayver adalah nama alias yang akan kau gunakan. Berapa tahun kita tak bertemu, Tristan? Delapan tahun? Haruskan aku urai berapa lama itu delapan tahun? Banyak yang telah terjadi dalam kurun waktu itu?" The Queen menatap langit-langit ruangan.
Matanya seperti menatap samar, seolah-olah ia terjebak dalam nostalgia lama.
Alice termenung. Hubungan mereka sangat kompleks. Mungkinkah Tristan adalah nama sebenarnya Klayver?
Jika Klayver telah memutuskan kontak selama delapan tahun. Itu artinya hubungan mereka lebih lama dari yang Alice duga.
Alice menebak usia Klayver tiga puluhan. Delapan tahun tang lalu, Klayver masih berusia dua puluh dua tahun. Dari sana hubungan The Queen dan Klayver telah terbentuk. Siapa wanita itu sebenarnya?
"Jangan terlalu lama durhaka kepadaku. Kembalilah padaku dan mari kita buat hal-hal lain lebih baik. Aku sudah mencarimu sekian lama. Jika kau masih tetap bertahan meninggalkanku, akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri."
The Queen menodongkan pistol ke arah Alice. Kali ini tak ada nada santai dalam suaranya. Matanya dipenuhi kesungguhan. Niat membunuh terpancar jelas dari kedua netra emasnya.
Alice menelan ludah susah payah. Kokangan pistol sudah siap ditarik oleh jari-jemari The Queen.
"Sudah cukup ancamanmu, Mom. Bagaimana pun juga, dia adalah menantumu."
…
__ADS_1