
Daniel menatap telepon di genggamannya dan merasa bahagia. Akhirnya, Jasmine menerima dirinya. Entah alasan apa yang telah dipikirkan wanita itu, yang terpenting hasilnya cukup memuaskan. Daniel tersenyum kecil dan bersiul senang.
Beginilah yang dikatakan oleh pepatah bahwa dunia milik sendiri. Kebahagiaan menbuat seseorang mengkklaim apa yang tidak ia punyai. Kebahagiaan adalah sebuah respon normal.
Daniel mendaoat sebuah telepon dari kantor dan menerimanya dengan cepat. "Ya? Ada apa?" tanya Daniel pada asisten pribadinya.
"Daniel, ada rapat besok jam—"
"Jangan bicarakan masalah pekerjaan dulu. Sepertinya besok aku tak bisa ke kantor. Delegasikan saja pada sekretarisku." Daniel menutup sambungan telepon dan tersenyum cerah.
Daniel sedang tak ingin menikirkan pekerjaan yang menggunung. Biar saja untuk sesaat pikirannya bernafas lega. Dia butuh oksigen. Jiwanya juga butuh oksigen. Saat ini, Jasmine terasa cocok menjadi oksigen baginya. Memikirkan pekerjaan, menbuat Daniel kesal kembali.
Dengan langkah ringan, Daniel berjalan keluar ruangan dan menuju halaman belakang untuk menikmati malam. Dia senang. Sangat senang. Beginilah seharusnya hiduo dijalani hinhga akhir hayat.
...
Luiz menatap seorang wanita yang baru saja menemani malamnya. Dia menatap wanita berambut gelap yang tertidur nyenyak di samping dirinya. Luiz berdiri pelan, mengambil sebatang rokok, dan menyesap sari tembakau di depan jendela.
Dia kemabali melirik ke arah sang wanita yang terlihat menggiurkan. Tetapibbukannya tersenyum, Luiz justru berdecih tak senang.
Akhir-alhir ini, para wanita terasa kehilangan nilainya di depan mata Luiz. Hambar. Hanya membuatnya lelah saja.
Ini tak realistis. Luiz sudah sering kali menikmati wanita. Mungkinkah dia mengalami titik kejenuhan dalam sebuah hubungan? Mungkinkah dia perlu cara lain? Atau sesuatu yang tidak biasa?
Entahlah. Luiz sendiri tak bisa meraba perasaannya. Yang ia bisa sadari hanyalah wanita semakin memperumit hidupnya. Perlahan, Luiz mengambil sebuah pistol dari laci meja dan mengarahkan moncongnya pada sang wanita yang berbaring nyenyak.
Doooorrrr
Suara pistol terdengar menggelegar. Luiz selalu menyukai pistol yang tak berperedam sehingga menimbulkan suara yang cukup heboh ketika digunakan. Tapi justru itulah intinya. Dia membutuhkan deklarasi tentang kekuatan dan posisinya. Untuk apa memiliki kekuasaan jika tak bisa melakukan apa pun dengan terang-terangan?
Beruntung mansion Luiz termasuk terlindungi di wilayahnya. Jika hanya pembunuhan kecil dengan pistol, tak akan menarik perhatian dari orang luar karena posisi mansion yang cukup aman.
Beberapa orang yang berjaga di sekitar Luiz masuk ke dalam kamar setelah mendapat panggilan langsung dari Luiz.
Mereka menatap ranjang yang telah bernoda adarah dengan jasad seorang wanita cantik tanpa pakaian.
"Shenor?" tanya salah seorang pelayan setia.
"Bersihkan mayatnya. Aku benci bau anyir. Selama kalian bekerja, aku akan pindah ke kamar sayap kiri!" titah Luiz tegas.
Ke empat laki-laki yang baru masuk hanya bisa mengangguk mantap. Mereka sudah sering melihat bagaimana temperamen Luiz menghadapi sesuatu. Bahkan terkadang, tanpa alasan, selama Luiz mau, ia bisa saja menghabisi bawahannya sendiri.
Entah Luiz yang terlalu kejam, atau mereka yang terlalu bodoh menjadi anak buah Luiz. Selama mereka terlanjur maduk dalam lingkaran itu, sulit bagi seseorang untuk bisa keluar begitu saja. Luiz seperti parit curam. Siapa pun yang terjatuh, dia akan terjebak selamanya dalam tempat itu.
Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk membereskan kekacauan yang ada. Kamar itu kembali bersih, seprai diganti, lantai dipel, dan udara disemprot parfum. Tak ada lagi jejak-jejak wanita yang satu jam lalu tengah terbaring nyenyak di sini.
Sementara itu, Luiz tengah asyik duduk di kursi besar di dalam kamar sayap kiri. Brazil adalah begara tropis. Bahkan saat malam pun udara masih terasa panas.
"Shenor, kamar anda sudah kembali seperti semula." Seorang pelayan menyampaikan berita.
Luiz mengangguk kecil, merasa seolah tak peduli. Dia tetap menyesap rokok kesukaaanya dengan aroma yang khas. Sebelah tangannya bertopang dagu, seolah selalu acuh tak acuh pada lingkungan sekitar.
"Kau, ambilkan dokumen berwarna putih di atas meja ruang kerjaku." Tiba-tiba Luiz meminta sesuatu. Anak buah tersebut bergegas melaksankan perintah tersebut dengan rasa takut. Dia masih tak ingin mati hanya karena terlambat memberikan sesuatu yang diinginkan majikannya.
Berbeda dengan yang lain, di mansion ini, jika kita melakukan kesalahan maka hukumannya adalah kenatian. Terjadang kesalahan kecil bisa besar dan berakibat fatal.
Tak lebih dari dua menit, anak buah Luiz menyerahkan map yang ia inginkan. Anak buah tersebut langsung pergi dengan kecepatan luar biasa. Bersandingan secara langsung dengan Luiz membuat orang normal mana pun mengkerut.
Luiz membuka halaman demi halaman map yang ada di tangannya dan mengamati perlahan tekstur wajah orang yang ia lihat dalam map.
Map ini berisi kumpulan informasi tambahan mengenai istri Eyes Evil, alias Alice. Lembar demi lembar Luiz amati. Lama-lama, wajah Alice terpatri dalam ingatan Luiz secara otomatis.
Jika mau dilihat lebih detail lagi, Alice memiliki kecantikan yang unik. Bentuk tulang mukanya juga indah. Kulitnya seputih porselen, sedangkan rambutnya berwarna merah menyala sedikit gelap.
__ADS_1
Wanita ini menarik juga. Dengan tulang pipi tinggi, khas arsiktokrat, rambut merah, tubuh ideal. Bagus. Eyes Evil memiliki selera yang cukup bagus dalam memilih wanita. Setidaknya, Luiz mengakui bahkan selera dirinya lebih rendah dari Klayver.
Dengan lembut, Luiz mengusap salah satu foto Alice dan menaruh kembali map tersebut di meja terdekat.
Nanti. Luiz akan buat rencama indah untuk Alice dan dirinya. Rencana yang sempurna tentunya.
…
"Alice, aku menerima tawaran Daniel. Kami melakukan kesepakatan untuk melakukan transaksi satu malam." Jasmine mengabarkan hal ini pada Alice di suatu pagi setelah sarapan bersama.
Jasmine harus menunggu Axel pergi ke sekolah lebih dulu untuk membahas masalah ini secara aman dengan Alice.
Alice meletakkan cangkir teh di tatakannya dan menatap Jasmine penuh makna. Mereka kini tengah berada di balkon kamar Alice di lantai atas. Sinar mentari pagi terasa hangat menyentuh lengan telanjang Alice.
"Kau menyetujui?" Alice bertanya lirih.
"Ya. Bukankah sudah kubilang aku adalah wanita yang cukup realistis dalam berbisnis? Tentu aku menyetujui hal itu. Untuk apa aku menolaknya?" Jasmine berkata ringan seolah-olah ia memang tak keberatan sama sekali.
Tetapi Alice tahu semua itu tak semudah yang Jasmine sampaikan. Ada beban tersendiri yang bisa Alice tangkap dari nada bicara Jasmine. Beban moral yang entah kenapa terasa berat.
"Baiklah. Itu semua keputusanmu. Aku tak akan mencampuri sesuatu yang menjadi wilayahmu sendiri. Kau kan sudah dewasa. Ambil hal-hal yang menurutmu perlu kau ambil. Hanya saja, lakukan semua itu dengan pertimbangan yang serius." Alice mengangguk kecil, memilih untuk tidak menghakimi Jasmine dan semua tindakan yang telah wanita itu putuskan.
Semua orang memiliki hak untuk mengambil setiap hal yang ia inginkan. Entah itu baik atau tidak, masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri. Jadi, dari pada menghakimi, Alice lebih memilih berperan sebagai teman dan menerima keluh kesah orang lain.
Hidup merupakan sebuah pelajaran. Ada yang salah kemudian dibenarkan. Ada yang tak bisa kemudian diajarkan. Secara alami, seseorang akan menemukam jalannya sendiri. Begitu juga dengan Jasmine.
Nurani setiap orang akan selalu ada. Dia hidup dan tak pernah mati. Hanya saja, karena keadaan-keadaan tertentu, ada yang menulikan telinga sehingga nurani kita terpendam jauh disisihkan karena keadaan.
Mungkin, Jasmine seperti itu. Dia masih memiliki nurani. Hanya saja, keadaan telah membuatnya berubah. Dan jika Jasmine beruntung, dia pasti akan menemukan jalannya kembali. Entah melalui hal apa.
"Lakukan apa pun yang kau mau, Jasmine. Aku tak melarangmu." Alice mempertegas kata-katanya. Dia tak ingin menciptakan keraguan pada Jasmine.
"Tetapi aku harus menjagamu."
Alice kemudian berjalan masuk ke kamar diikuti Jasmine dari belakang. Alice menekan tombol on pada sound system, membiarkan lagu lithium dari Evanescene mengalun lembut.
Lagu ini merupakan lagu kenangan yang pernah ia nikmati bersama Anson dulu. Alice tersenyum kecil, merasa melayang menikmati nostalgia.
Jasmine yang berdiri tak jauh dari Alice hanya bisa menatap wanita itu pasrah. Pembicaraan mereka masih belum selesai dan Alice sudah mengalihkan pada hal lainnya.
"Alice!" Jasmine mencoba mengingatkan Alice. Wanita itu masih tersenyum kecil sembari memejamkan mata. Mulutnya mengikuti lirik dari lagu yang sekarang diputar.
"Alice, kita belum selesai dengan topik mengenai diriku, andai kau lupa." Jasmine akhirnya menyerah. Dia menekan tombol off di sound dan membuat lagu yang sedang mengalun lembut itu berhenti tiba-tiba.
"Kau menggangguku, Jasmine."
"Aku belum selesai dengan pembicaraan tadi." Jasmine tak mau kalah. Dia diduk di ranjang Alice, menikmati kelembutan kain sprei dari kulaitas tinggi.
"Jasmine, kau bukan tahanan di rumah ini. Walaupun kau berfungsi untuk menjagaku, tapi pada kenyataannya, kau lebih seperti teman. Jadi, sekali-kali keluar malam tidak akan masalah bagiku. Lagi pula di sini ada William. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Alice meyakinkan.
Alice tahu Jasmine adalah orang yang memiliki tanggung jawab besar terhadap sesuatu yang sudah dipercayakan oleh orang lain sebelumnya. Hanya saja, terkadang beban tanggung jawab yabg dipikul Jasmine terlalu besar sehingga memberatkan dirinya sendiri.
"Jasmine, yakinlah padaku. Pergilah nanti malam. Aku akan baik-baik saja. Jika kau tidak yakin, kau bisa menghubungiku setiap sepuluh menit sekali untuk memastikannya. Kau bisa melakukan itu jika kau pikir itu tak akan mengganggu aktifitasmu nantinya." Alice tertawa kecil, mencoba menggoda Jasmine.
Jasmine masih terlihat tak yakin. Dia menatap Alice bimbang dan mencoba untuk berpikir ulang.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Kau akan cepat tua nanti." Alice menyenggol bahu Jasmine sedikit keras, semakin tertawa lebar.
"Demi Tuhan. Berbentilah mengkhawatirkanku secara berlebihan. Aku tak akan kenapa-napa hanya karena ditinggal semalam olehmu."
"Kau yakin?"
"Sangat."
__ADS_1
"Tapi—"
"Berhentilah mendebatku. Kau hanya perlu fokus untuk nanti malam. Mau kupinjami baju?" tawar Alice baik hati.
Bukannya menanggapi, Jasmine malah tertawa lebar. Sebuah kesalahan meminjam baju dari Alice. Selera mereka tak pernah sama. Jasmine yakin meskipun dia mengobrak-abrik lemari Alice, dia tak akan pernah menemukan baju yang ia inginkan.
"Jangan membuat lelucon, Alice. Bajumu tak ada yang sesuai denganku."
"Oh baiklah, aku mengerti. Cari saja baju lain yang kau anggap sesuai."
"Baju yang paling sesuai denganku adalah yang ada di lemariku sendiri. Pakaian yang kau miliki berbeda jaman denganku."
"Berbeda jaman? Yang benat saja? Memangnya kau lahir seribu tahun sebelum masehi?: Alice terkejeh kecil sembari merebahkan badan. Karena merasa lelah, dia memejamkan mata sejenak dan tak sengaja tertidur tanpa ia sadari.
Melihat Alice yang terpejam dengan damai, Jasmine jadi teringat dengan masa lalunya. Dulu, ia adalah gadis yang lugu. Keadaan telah membuatnya berubah luar dalam. Tak ada lagi kepolosan yang tersisa dari dirinya.
Jasmine menagmbil selimut, menyelimuti Alice yang tertidur nyenyak dan meninggalkan kamar Alice hati-hati. Dia menutup pintu perlahan agar tak membagunkan Alice.
Jasmine berjalan memyusuri lorong, dan melalui tangga utama. Tak sengaja di tangga ia berpapasan dengan Sila. Wanita itu terlihat terburu-buru. Wajahnya menampakkan ekspresi yang cukup aneh.
"Sila?" tanya Jasmine mencoba menyapa
"Eh, Jasmine." Sila menunduk dalam, kembali berbalik ke lantai satu dan mengurungkan niatnya untuk naik ke atas.
"Kenapa tidak jadi? Kau mau ke mana, Sila? Bertenu dengan Alice?" tanya Jasmine menahan wanita itu.
Sila berbalik lagi dan menatap Jasmine dengan sedikit bingung. "Tidak. Tidak. Aku ingin mengambil beberapa kotoran di lantai atas, tetapi sepertinya tadi telah dibawa turun oleh Helena, jadi aku urungkan." Sila tersenyum tulus.
Jasmine yang mendengar alibi Sila hanya bisa tersenyum kecil. Kedua mata Jasmine berkilat tajam, memberi peringatan secara langsung. Jika Sila sampai membohongi Jasmine, awas saja nanti. Jasmine tidak akan pernah memaafkannya.
…
Jasmine menatap gaun hitam yang ia kenakan. Sebuah gaun berbahan sutra dengan potongan panjang hingga menyentuh lantai. Gaun ini berbentuk kemben sehingga bagian bahu dan lehernya terekspos. Rambut pirangnya Jasmine biarkan tergerai. Sebuah hiasan berbentuk bunga sakura dari tembaga ia sematkan di dadanya.
Jasmine memulas bibirnya dengan lipstik merah merona. Dia menatap cermin sesaat, mendapatkan pemandangan wanita yang terkesan nakal dan menggoda. Merasa puas dengan hasilnya, Jasmine tersenyum kecil dan mencari stiletto miliknya untuk ia kenakan.
Jasmine dan Daniel telah sepakat akan melakukan di rumah lelaki tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Jasmine keluar dari rumah Alice.
Malam ini supir Daniel menjemput Jasmine dengan sikap formal. Mereka berdua melewati jalanan Manhattan dalam diam selama dua pukuh menit sampai akahirnya tiba di rumah yang diinginkan.
Jasmine keluar dari mobil dengan tangan mengepal kuat. Keringat dingin mulai membajir deras. Kedua telapak tangannya basah oleh keringat. Jasmine menggelengkan kepala pelan, merasa bingung dengan reaksi dirinya sendiri.
Seiring langkahnya mendekati pintu utama kediaman Daniel, jantung Jasmine bertalu-talu tak menentu. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya.
Jasmine adalah prifesional sejati. Kenapa ia sekarang bisa separah ini hanya untuk menjalankan kesepakatan kecil.
Ratusan kesepakatan telah ia lalui. Ratusan sentuhan telah iadapatkan. Ratusan rayuan telah ia dengar.
Tetapi, moment seperti ini baru ia rasakan sekarang. Mungkinkah ia gugup karena akan melayani orang yang sering mengolok-oloknya? Itukah alasannya?
Jasmine tiba di pintu utama. Seorang pelayan wanita menyambut kedatangannya dan langsung mengarahkan Jasmine menuju ruang tengah.
Rumah Daniel cukup besar. Tetapi jumlah pelayannya tak cukup banyak. Hanya ada sopir dan satu pelayan wanita saja yang bisa Jasmine lihat sejauh ini. Rumah ini khas sekali sebagai rumah bujangan.
"Jasmine." Sebuah suara yang familier menyapanya.
Jasmine nyaris mematung di tempat saat ia melihat penampilan Daniel. Matanya semakin membiru sewarna langit musim semi menatap sosok lelaki di depannya.
Ini seperti dalam sinetron ketika pertemuan terjadi dan diberi efek slow motion oleh sutradara. Semua latar belakang lenyap hanya menyisakan mereka berdua dalam kuncian pandangan penuh arti.
Daniel bak dewa. Dia seperti dipahat sempurna oleh pengrajin dan memiliki aura yang cukup kuat. Ada magnet besar yang saling menarik dengan daya yang cukup besar antara mereka berdua.
Daya itu adalah perasaan ketertarikan murni. Masing-masing orang ditakdirkan mengalami hal tersebut. Mulut Jasmine kelu, hanya bisa berherak dengan kaku tanpa bebas sepenuhnya.
__ADS_1
…