Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
082 - SEASON 2


__ADS_3

Liza duduk di sebuah mobil tak jauh dari rumah


Alice. Tadi malam dia mendapat informasi akurat mengenai istri Kalyver, Alice Vaquez. Tentang teman, pelayan, tetangga, dan banyak hal lainnya.


Liza merasa puas dengan kinerja informan yang ia miliki. Tak rugi dia mengeluarkan banyak uang jika hasilnya sepadan.


Dengan sabar, Liza menatap rumah besar itu dari jarak aman. Dia harus cukup berhati-hati. Dia tak ingin langkahnya kali ini gagal. Luiz pasti tak akan memaafkannya jika ia gagal. Lelaki itu sering kali bersikap sangat kejam, bahkan untuk bawahannnya sendiri.


Setelah menunggu selama lebih dari dua puluh menit, dia melihat seorang wanita mengambil sebuah paket dari kurir pengantar barang. Wanita itu berusia sekitar petengahan duà puluhan, berambut pirang sebahu dengan pakaian yang cukup seksi.


Liza kembali membuka dokumen informsi yang ia dapatkan dari koneksinya. Sepertinya wanita yang sekarang dilihatnya belum masuk daftar sang informan. Tidak ada data yang menyebut Alice memiliki teman berambut pirang pendek, bertato, dan berpakain seperti wanita murahan.


Ada satu temannya yang berambut pirang panjang. Namanya Rachel. Tetapi jelas orang itu bukan Rachel. Foto yang ia dapat sangat jauh berbeda.


Dengan kesal, Liza menghubungi sang informan dan bermaksud melakukan protes karena merasa informasi yang ia dapatkan tidak cukup akurat.


"Halo, Jeff. Kau bilang informasi yang kau kirimkan sudah akurat. Nyatanya aku melihat wanita muda berambut pirang sebahu yang cukup menggoda yang tidak ada dalam informasimu. Siapa dia?" Liza bertanya langsung. Dia adalah wanita yang sangat perfeksionis. Jika ada sesuatu yang mengganjal, akan ia cari tahu dulu hingga pasti kebenarannya.


Jeffrico yang berada di seberang terdiam lama, mengingat-ingat sesuatu.


"Aku pikir informasi yang aku berikan kepadamu sudah lengkap. Sebentar. Tunggu. Tunggu." Jeffrico terdengar membalik-balikkan kertas untuk menemukam sesuatu. Setelah beberapa saat berlalu, dia melanjutkan sambungan teleponnya.


"Wanita pirang pendek dengn tato kalajengking kecil dan gelang kaki?" tanya Jeffrico memastikan.


"Ya." Liza membenarkan dengan nada tak suka. Informasi seperti itu lepas dari genggaman Jerrrico. Entah dia ceroboh atau bodoh. Mungkin dua-duanya


"Dia sebenarnya bukan tamu tetap. Tak ada kunjungnnya sebelum ini, jadi tadinya kupikir


kau tak butuh informasi mengenai wanita itu." Jeffrico mencoba membela diri. Saat ia menyelidiki, dia tak menemukan apa pun yang mengindikasikan hubungan wanita itu dengan Alice. Jadi Dia berpikir mungkin hanya teman jauh yang kebetulan berkunjung. Siapa sangka Liza malah menganggapnya penting.


"Sudah kukatakan aku butuh informasi semuanya. Semuanya! Itu artinya bahkan yang tidak penting sama sekali."


"Baiklah. Baiklah. Aku mengaku salah kali ini." Jeffrico berkata pasrah, menyerah dengan Liza yang kelihatan mulai marah.


"Siapa dia?" ulang Liza.


"Dia adalah … sebentar."


"Jeffrico!" Liza kembali menekan nada suaranya, menandakan dia sungguh-sungguh marah dengan cara kerja Jeffrico.


"Bisakah kau jangan terlalu marah-marah? Pantas saja kau belum menikah. Melihatmu seperti singa betina begini siapa yang mau." Jeffrico mulai menggerutu. Dia sebenarnya jarang menggoda Liza, temperamen wanita itu cukup menakutkan. Tetapi kali ini karena ia didesak hanya karena kesalahan kecil, jiwa humorisnya mulai keluar.


Liza menanggapi dengan sebuah geraman rendah. Dia tergoda akan mengambil informan lain jika cara kerja Jeffrico seperti ini.


"Dia adalah Jasmine Brox, memiliki banyak club malam di New York, bisnis pelacúran, melayani orderan message khusus laki-laki, membuka tempat hiburan prostítusi khusus kaum jenset, memiliki—"


"Jeffrico, aku menginginkan identitas siapa dia bagi Alice. Bukan riwayat usahanya yang kau himpun dari wikipedia." Liza mulai murung. Dia mengetuk-ngetukkan ujung jemari di atas dashboard dan ingin menendang tulang kering milik Jeffrico saat ini juga.


"Baiklah, Nyonya Perfeksionis. Aku tak tahu hubungan apa yang Jasmine miliki pada Alice maupun Klayver. Sumberku hanya sampai di situ saja. Tidak ada keterangan komunikasi apa pun di antara mereka semua. Karena itulah aku sebelumnya berpikir bahwa Jasmine tidak terlalu penting bagi Alice. Kesimpulanku, jika memang Jasmine memiliki hubungan dekat dengan Alice atau Klayver, mereka pasti menjaganya cukup rapat. Itu artinya, Jasmine bukanlah orang sembarangan."


"Aku memghubungimu dan kau hanya memberiku omong kosong saja." Liza memutuskan hubungan, merasa semakin marah atas kerja Jeffrico yang tidak kompeten.


Jeffrico biasanya adalah orang yang cukup bisa diandalkan. Melakukam satu kesalahan informasi seperti ini mungkin masih bisa dimaklumi. Jika dua kali ia melakukan kesalahan yang sama, Liza tak akan pernah lagi menggunakan jasa orang tersebut selamanya.


Liza melihat Jasmine mulai berbalik pergi ke dalam rumah dengan membawa bungkusan paket. Liza segera keluar dari mobil, berlari tanpa suara dan memanggil Jasmine dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


"Jasmine! Jasmine!" Liza menatap ujung bangunan rumah Alice yang terpasang CCTV. Beruntung dia menggunakan topi hitam untuk menghalangi sorotan kamera langsung ke wajahnya. Dia tak bisa mengambil resiko terlalu besar saat ini.


"Ya? Apakah aku mengenalmu?" Jasmine berjalan keluar gerbang utama.


Dia menatap Liza, mencoba mengingat-ingat dan mendapati sesuatu yang janggal.


Jasmine tidak mengenal wanita ini. Dia tidak pernah memiliki anak buah wanita sepertinya atau karyawan yang mirip dengannya. Sangat aneh jika wanita itu mampu mengenalnya.


Jasmine terbiasa mengamati suatu objek secara seksama. Dari cara berjalan wanita itu, caranya bergerak, hingga caranya memandang sesuatu, menyiratkan dia wanita yang cukup terlatih dalam mengasah inderanya.


Pasti tujuannya ke sini memiliki maksud tersembunyi.


"Siapa kau?" Jasmine mulai curiga.


"Aku Liza, aku memiliki sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kau ikut ke mobilku sebentar?" tanya Liza langsung. Dia menunjuk mobil SUV yang ia parkir tak jauh di bahu jalan.


Jasmine terdiam untuk sesaat. Pikirannya mulai bekerja dengan cepat. Dengan mantap, dia mengangguk kecil, mengikuti Liza ke dalam mobilnya yang hanya berjarak dua puluh meter.


Di dalam mobil, Liza duduk di jok kemudi, sementara Liza di sisinya. Wanita itu membuka topi hitamnya dan membiarkan wajah cantik latinyya terlihat jelas.


Wow. wanita yang jika dimasukkan dalam daftar wanita miliknya, pasti akan membuat Jasmine meraup keuntungan besar. Fantastis.


Otak licik Jasmine mulai memikirkan beberapa cara untuk menarik Liza ke dalam bisnisnya. Dia membasahi bibirnya dengam ujung lidah, seperti buaya yang menemukan mangsa.


"Liza, kau terlihat sangat sempurna. Aku yakin kau memiliki banyak penggemar di luar sana. Bagaimana jika aku tawarkan bisnis untukmu? Bisnis yang penuh dengan kesenangan dan memiliki keuntungan besar?" tawar Jasmine tak tahu malu. Dia tersenyum penuh arti, mulai bersikap persuasif.


"Berapa harga yang kau tawarkan?" Liza bertanya terus terang.


Jasmine terkekeh sebentar, berteriak penuh kemenangan karena rupanya Liza adalah orang yang memiliki jiwa bisnis seperti dirinya.


Liza tersenyum kecil, kemudian menjawab mantap.


"Aku akan membayarmu empat kali lipat dari yang bisa kau tawarkan padaku jika kau bersedia bekerja sama denganku." Kali ini Liza membuat Jasmine terkejut. Rupanya wanita inilah yang mengajaknya berbisnis, bukan sebaliknya.


Jasmine yang terbiasa ditawari uang dan menjalani banyak transaksi kotor, mau tak mau merasa penasaran atas tawaran yang disampaikan Liza. Mulutnya ia tarik membentuk senyum kecil, menatap Liza penuh arti.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


"Jadilah orangku. Aku tahu kau berhubungan dengan Alice. Jadilah mata-mata yang mengirimkan setiap perkembangan Alice padaku dan aku akan membayarmu sangat besar."


Jasmine mengernyitkan mata. "Memangnya siapa kau sebenarnya?" tanyanya serius. Tidak ada lagi ekspresi humor di wajahnya.


"Aku adalah orang dari organisasi Black Hell. Bagaimana? Kau bersedia?"



Alice keluar dari ruang kerja dengan wajah yang tampak lelah. Ada beberapa masalah yang perlu ia tangani secara langsung. Orang dalam perusahannya terduga melakukan kecurangan. Dia baru saja berbicara dengan pihak personalia perusahannya dan Alice diminta untuk datang langsung ke perusahaan keesokan harinya.


Alice merasa bingung. Dia selalu menggaji bawahannya dengan cukup baik. Bagaimana bisa ada bocoran dana yang digelapkan seperti ini? Apakah selama ini ia kurang baik dalam menjaga karyawannya?


Alice berjalan sembari memikirkan masalah ini hingga tanpa sadar dia hampir bertabrakan dengan Jasmine di ruang depan.


"Oh Ya Tuhan, Jasmine. Dari mana saja kau?" Alice terkejut menatap temannya yang kini membawa sebuah paket khusus.


"Aku dari gerbang utama. Aku memesan sesuatu dan baru saja dihubungi oleh kurir yang mengantar." Jasmine menunjuk kotak kecil yang ia jinjing dan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Memangnya kau memesan apa?"


"Rahasia. Kau pasti tak ingin tahu." Jasmine mengedipkan salah satu matanya dan terburu-buru pergi melewati Alice yang masih bertanya-tanya.


Jasmine terlihat aneh saat ini. Alice membatin sebentar sebelum akhirnya meneruskan langkah hingga tiba di halaman depan.


Di sana, Alice diduk tenang di kursi kayu yang terletak dekat dengan kolam. Alice merasa lebih nyaman berada di alam terbuka dan menghirup udara bebas saat ia mengalami banyak masalah.


William berjalan mendekati Alice dan ikut duduk di sampingnya. Akhir-akhir ini majikannya terlihat semakin tertekan setiap waktu. Sebagai salah satu orang yang ingin menjaga Alice, William cukup terbawa sedih juga.


"Apa semuanya baik-baik saja, Nyonya?" tanya William tulus.


"William. Huh," Alice mendengus lirih. "Baik-baik saja, hanya ada sedikit masalah tentang uang perusahaan yang sepertinya digelapkan oleh salah satu karyawan lama. Orang ini dulu merupakan karyawan Anson yang paling setia sehingga aku menempatkan posisinya sebagai accounting. Siapa sangka dia justru melakukan hal kotor begini?"Alice menggelengkan kepala, merasa heran dan tak mengerti akan kemauan seseorang.


"Apakah nominal yang digelapkan banyak, Nyonya?" tanya William sedikit terkejut.


"Ya. Lumayan."


"Jika begitu, biarkan saja pengacara yang mengurusnya."


"Mungkin aku akan membiarkan hukum yang berbicara. Tetapi besok aku diminta oleh direktur utama untuk rapat intern dulu sebelum menyerahkan kasus ini pada polisi."


William mengangguk, menyetujui rencana yang telah dibuat Alice.


Sebagai wanita, Alice cukup pintar dalam mengendalikan bisnis. Dia memiliki insting yang kuat terhadap selera pasar dan memiliki jiwa sebagai pemimpin yang kuat. Tak heran jika usahanya berjalan lancar sepeninggal Anson.


"William." Alice tiba-tiba menatap orang tua ini dengan penuh perhatian.


"Ya, Nyonya?"


"Kau sudah mulai memasuki usia tua. Berapa usiamu? Tujuh puluh tahun? Tujuh puluh lima tahun? Bukankah sudah saatnya menjalani kehidupan tenang dan bahagia, William? Apa yang kau inginkan? Rumah? Vila? Mansion? Carilah apa yang kau mau dalam usia tuamu dan aku akan mencoba menfasilitasimu. Bagaimanapun juga, kau sudah mengabdi lama dan memberikan banyak kebaikan untukku dan untuk Anson."


Alice menatap wajah William yang dipenuhi gurat-gurat usia. Matanya kian sayu seiring waktu berjalan, cara berjalannya meskipun masih tegak tetapi tak sekuat dulu lagi.


Alice sudah menganggap William sebagai keluarga. Dia ingin kehidupan William terjamin, menjalani masa tua dengan bahagia seperti yang diidamkan oleh banyak orang.


Alice merengkuh tangan keriput William, mengusapnya beberapa kali, dan tersenyum hangat.


"Apa yang kau inginkan, William? Katakan!" pinta Alice lembut.


"Kau tahu hal yang paling menyakitkan, Nyonya?" William tersenyum, tetapi matanya menyiratkan kedukaan.


"Apa?" tanya Alice tak mengerti.


"Mengabdi pada keluarga begitu lama, hingga semua hal telah diberikan, termasuk masa muda dan kesenangan. Saat tiba saatnya menua, keluarga itu mengusir dengan alasan terlalu iba untuk tetap mempertahankannya."


Alice tercekat. Dia mencengkeram tangan William lebih erat, tertampar oleh kata-kata lelaki tersebut barusan.


"Aku tak bermaksud mengusirmu, William. Demi Tuhan. Kau jangan salah paham." Alice menangkup kedua tangan William, merasakan kehangatan dari lelaki yang setia menemani keluarga Anson dalam masa-masa sulit.


"Jika begitu, ijinkan aku tetap tinggal di sini hingga akhir hayat. Aku ingin melihat pertumbuhan Axel selama yang aku mampu. Meskipun kemampuanku menurun, tetapi jangan pernah membuangku." William menunjukkan keseriusan. Mata tuanya penuh pengharapan. Membuat Alice merasa kian terharu.


"Selama kau menginginkannya, William. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau. Hanya saja, jika kau merasa sakit atau memiliki keluhan lain, jujurlah padaku. Kau sudah seperti keluarga bagiku. Aku tak ingin kau di sini sebagai pekerja. Aku ingin kau di sini sebagai wali Axel." Alice tersenyum lembut, mengerti akan jalan pikiran William.


Benar kata William. Lelaki itu telah mengorbankan semuanya demi keluarga Mallory. Sebagai balasannya, Alice akan memberikan apa pun yang William mau.

__ADS_1



__ADS_2