Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
084 - SEASON 2


__ADS_3

Liza menatap seorang wanita muda di depannya. Dia mengangsurkan uang dalam dollar yang segera diterima oleh wanita muda itu. Mereka kini tengah berada di restoran, di dalam ruangan VIP yang terjaga privasinya.


"Ingat, saat ini kau adalah informan dan mata-mataku. Sampaikan apa pun yang terjadi dalam kediaman Alice, walaupun itu merupakan sesuatu yang tak penting." Liza mengingatkan.


Wanita di depannya mengangguk, patuh dengan apa yang disampaikan oleh Liza.


Wajah Liza menekankan aura yang berbahaya saat ini. Wanita itu menatap jam tangan sekilas dan berdiri dengan terburu-buru. Sudah saatnya pertemuan selanjutnya terjadi. Liza harus mengejar waktu untuk tiba di tempat lain yang dijanjikan.


"Aku memiliki janji lain saat ini. Ingat ya, laporkan semua hal padaku." Liza mengulangi permintaannya dan pergi begitu saja. Meninggaljan seorang wanita yang kini duduk terpekur memikirkan kembali langkah yang telah ia ambil.


Mungkinkah ia salah mengambil langkah ini? Menfkhianati Alice sebegitu rupa?


Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tak bisa mundur lagi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengikuti semua intruksi Liza. Entah nanti akhirnya bagaimana. Dia telah menandatangani kesepakatan kotor. Untuk apa lagi penyesalan?


Wanita muda itu melirik amplop tebal yang Liza tinggalkan dan melihat jumlahnya. Sebuah senyum serakah tersungging di bibirnya. Wanita itu terlihat puas. Uang inilah yang ia cari.



Alice duduk di ruang tamu dan terlihat bingung menerima kedatangan Daniel. Bukankah tadi siang mereka baru saja bertemu bersama? Ada apa lagi dengan Daniel kali ini? Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sangat lucu membayangkan Daniel sengaja datang dari rumah hanya untuk mampir ke rumah Alice.


"Apa ada sesuatu yang penting?" Alice bertanya khawatir.


Klayver sedang dalam kondisi genting. Apa pun yang dilakukan orang di sekeliling Alice, selalu Alice kaitkan pada perkembangan berita Klayver. Dia menjadi terlalu sensitif dan penakut. Suatu emosi yang sebenarnya tak baik untuk Janin.


"Tidak. Aku hanya ingin mengunjungimu saja. Bagaimana kabarmu, Alice?"


Mendengar hal ini, Alice hampir tersedak air liurnya sendiri. Mengunjunginya dan menanyakan kabar tentangnya? Yang benar saja.


Tidak ada lelaki waras yang datang jauh-jauh hanya untuk menanyakan kabar wanita bersuami yang tengah hamil, sementara masih ada sebuah alat yang disebut sebagai telepon.


Daniel mulai gila. Itulah kesimpulan pertama yang Alice ambil. Melihat penampilan Daniel yang berantakan, Alice khawatir Daniel benar-benar mengidap syndrom yang langka.


"Daniel, kapan terakhir kau tidur?" tanya Alice melihat kantung mata yang besar di bawah kelopak mata Daniel.


"Beberapa hari yang lalu. Sebenarnya setiap hari aku tidur. Tetapi hanya sebentar."


Terakhir Daniel bisa menikmati tidur lumayan lama saat ia tengah menimpikan Jasmine. Setelah itu, tidurnya hanya sebentar dan sekilas saja.


"Kau perlu melakukan konsultasi pada psikolog. Siapa tahu gangguan tidurmu merupakan kelainan yang perlu kau tangani dari dini." Alice mencoba memberi saran. Dia mengamati penampilan Daniel secara keseluruhan dan mendesah simpati.


"Aku pernah menggunakan semacam obat tidur, tetapi tetrnyata berefek pada kepalaku. Kau pasti tak bisa membayangkan bangun tidur dengan kepala seperti dipukul godam ratusan kali. Setelah kejadian itu, aku membiasakan diriku tidur semauku sendiri." Daniel meringis kecil. Dia mengusap kepala bagian belakangnya, mengingat bagaimana dulu pernah menggunakan obat tidur tapi ternyata tubuhnya menolak.


"Jika kau datang ke psikolog, mungkin kau akan mendapat solusi yang pas, Daniel. Kau benar-benar butuh tangan profesional untuk membantumu."


Alice merasa bersimpati pada Daniel. Bagaimana lelaki sekuat Daniel bisa tumbang hanya gara-gara insomnia yang ia derita beberapa bulan terakhir ini.


Sebelumnya, Daniel memang memiliki insomnia bawaan. Tetapi dulu tidak separah ini. Setidaknya Daniel masih cukup beristirahat. Sekarang keadaan Daniel benar-benar mengenaskan.


Mata Daniel terlihat memerah, seperti mata seorang iblis. Tubuhnya juga terlihat letih. Dia bisa tumbang kapan saja jika tak segera diatasi.


Daniel terlihat melirik ke setiap sudut, mencari keberadaan seseorang. Alice jadi sedikit curiga. Sebenarnya siapa yang dicari Daniel?


"Aku tak melihat Jasmine. Biasanya dia membuntutimu ke mana pun kau pergi."


Sebuah senyum kecil berusaha Alice sembunyikan secara hati-hati. Alice menunduk dalam, mulai menangkap maksud tersirat Daniel.


Jadi dia ke sini karena Jasmine? Baguslah. Setidaknya Alice jadi mengetahui niat Daniel yang sebenarnya.

__ADS_1


"Dia sedang berada di ruang kerjanya mengurus sesuatu. Daniel. Aku sedikit lelah." Alice pura-pura menguap, menutup mulutnya dengan sopan. "Kelihatannya Jasmine telah selesai dengan urusannya. Aku akan menyuruhnya untuk menemanimu mengobrol. Maafkan aku, aku benar-benar lelah dan perlu istirahat demi bayiku."


Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, Alice berjalan ke dalam, mencari Jasmine di ruang kerja wanita itu.


Alice membuka pintu dan melihat Jasmine masih berkutat dengan laptop dan sambungan ponsel. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali atas kedatangan Alice yang tiba-tiba.


Sesibuk itukah bekerja sebagai mucikari? Alice menggelengkan kepalanya merasa heran.


"Hai. Kau masih sibuk?" Alice duduk di samping Jasmine, menatap wajah wanita itu yang kini serius.


"Hai, Alice. Ya. Aku masih sibuk." Jasmine tersenyum kecil, kembali tenggelam dalam laptopnya. Dia terlihat membuka email masuk.


"Aku tak menyangka menjadi mucikari akan sesibuk itu." Alice berkata lugu. Dia mengamati banyak pesan masuk dalam email Jasmine yang menunggu untuk dicek satu per satu.


"Hei, profesiku bukan hanya itu. Aku juga memiliki banyak club dan tempat hiburan lain. Kau pikir aku tak memeriksa setiap keuangan usaha-usahaku?" Jasmine menepuk paha Alice tak terima dengan suara yang lumayan keras.


Alice mengaduh, melihat bekas memerah yang Jasmine hasilkan untuk kulit putihnya. Wanita itu selalu bertindak bar-bar.


"Baiklah. Jasmine, bisakah kau hentikan kegiatanmu sebentar dan tolong aku?" Alice memundurkan laptop yang Jasmine gunakan dan menatap wanita itu dengan mimik muka serius


"Kenapa?" Jasmine meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Daniel masih mampir di rumahku dan aku sudah merasa lelah. Bisakah kau temani dia? Aku perlu tidur lebih awal. Kau pernah dengar ibu hamil harus menjaga kualitas tidur, bukan?" Alice berdiri merentangkan tangan dan menggerakkan sendi-sendinya yang lelah.


"Kapan dia mampir ke sini?" Jasmine menatap Alice bingung.


"Baru saja."


Bola mata Jasmine membulat penuh. Orang gila mana yang bertamu di jam malam seperti ini? Rumah Alice adalah rumah wanita normal, bukan rumah bordil papan atas yang dibuka pada jam malam.


"Aku tak bisa. Usir saja dia menggunakan pistol seperti kemarin saat aku mengajarkanmu. Kau masih ingat, bukan? Bidik persis di titik tengah keningnya, lepaskan kuncian pistol, dan tekan pelatuknya jika tetap tak mau pergi. Kujamin dia pasti pergi. Jika tidak orangnya, pasti nyawanya." Jasmine memberikan masukan dengan gaya santai. Dia mengambil gelas kristal di sudut meja dan menandaskan isinya dalam sekali tenggak.


Jasmine meratapi nasibnya. Dia menatap laptop dan ponselnya bergantian. Sepetinya malam ini dia harus menunda kembali pekerjaannya.


Dengan gontai, Jasmine berjalan tak semangat ke arah ruang depan. Jasmine sempat berpapasan dengan William yang menuju ruang belakang dan mereka sama-sama mengangguk sopan.


Rumah Alice telah sepi. Beberapa ruangan telah dimatikan lampunya. Pelayan juga sudah berada di kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Jasmine serasa menyusuri rumah berhantu dengan suasana menyeramkan. Bayangannya sendiri jadi semakin menjulang tinggi setiap kali melewati ruangan yang sebagian telah dimatikan lampunya.


Di ruang depan, Jasmine melihat Daniel duduk dengan selinting rokok. Asap mengepul pelan ke atas langit-langit ruangan. Membentuk bayangan samar keputih-putihan.


Jasmine berdaham kecil, menarik perhatian lelaki angkuh, Daniel.


"Kupikir otakmu masih sehat, rupanya kau cukup tak waras juga. Tak ada orang normal yang bertamu pada jam sepuluh malam pada orang lain."


Daniel menatap Jasmine datar dan memilih untuk tak menanggapi komentar wanita itu yang menyudutkan.


Jasmine menunjuk rokok di selipan jari Daniel dan mengulurkan tangannya perlahan, meminta tanpa kata.


"Wanita tak pantas untuk merokok. Tidakkah kau belajar sopan santun?".


Jasmine menjatuhkan diri di kursi yang berhadapan dengan Daniel. Dia terlekeh kecil, tak terganggu oleh kata-kata Daniel yang cukup tajam.


Memang ada jenis lelaki di dunia ini yang senang menghakimi dan mencerca kaum wanita sepertinya. Seolah-olah moral adalah hukum paten yang bisa dijadikan untuk menghukumi seseorang.


Jasmine sudah hafal dengan lelaki seperti ini dan tak tertarik untuk didekati oleh kaum seperti Daniel. Menjalin hubungan dengan mereka sama saja menghancurkan harga diri kita sendiri.


"Kau yang tidak cukup belajar sopan santun sehingga caramu dalam memilih waktu bertamu sangat tak masuk akal." Jasmine mengangkat salah satu tungkainya dan meletakkan diatas kaki lainnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Alice yang hanya memakai piyama katun, Jasmine cukup percaya diri memakai tanktop dengan bawahan jins celana yang cukup mini. Beginilah cara Jasmine tidur. Jika ia terpaksa menggunakan piyama, ia akan lebih memilih lingerie yang transparan.


"Apakah kau selalu menggoda kaum adam dengan pakaianmu yang seperti itu?" Daniel bertanya sinis. Kedua matanya menatap jelas pada cara Jasmine duduk.


"Kenapa? Kau tergoda? Lelaki santa sepertimu pasti tak mungkin tergoda oleh wanita kotor sepertiku." Nada bicara Jasmine mulai terdengar tak menyenangkan. Dia membusungkan tubuhnya ke depan, sengaja menantang Daniel secara terang-terangan.


Daniel mengambil minuman dari meja di depannya. Dia menyesapnya perlahan dan mengembalikan lagi camgkir tersebut di tatakannya.


Dari awal ia ke sini, Jasmine-lah alasan Daniel yang sebenarnya. Malam-malam yang ia lalui terasa kacau sejak bayangan Jasmine muncul dalam otaknya dan tak mau pergi. Semua itu gara-gara ciuman Jasmine yang mengawali semuanya.


Daniel mencoba mengabaikan. Dia ingin bersilap cuek. Tetapi pikirannya mulai gila menebak-nebak banyak hal yang tak pantas ia pikirkan.


Jadi, setelah melalui semua pertentangan batin yang ia miliki, Daniel mengambil kesimpulan bahwa dia perlu menurunkan hasratnya sedikit dengan mendatangi Jasmine.


Pesona wanita itu terlalu kuat. Daniel hanya korban sesaat dari tindakan Jasmine. Setelah ia mencecap rasa penasaran yang menggerogotinya, Daniel mungkin akhirnya bisa sedikit tenang dan tidak dihantui oleh pikiran-pikirannya tentang wanita itu lagi.


"Jasmine?" panggil Daniel serius.


Jasmine mendongakkan kepala, menatap keseriusan yang Daniel miliki. Netra cokelat itu menyembunyikan banyak hal saat ini. Caranya mengolok-olok Jasmine sedikit berkurang.


"Berapa tarif yang kau pasang jika aku menciummu?" tanya Daniel tak ada tanda-tanda bercanda sama sekali.


"Mencium?" Jasmine menunjukkan kebingungan.


"Ya. Mencium. Hanya mencium. Tak ada yang lain." Daniel menegaskan kembali permintaannya.


Baiklah. Mungkin Daniel gila. Mungkin Daniel tak waras. Tetapi dia sudah memantapkan diri melakukan ini. Hanya ciuman. Pasti tak akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi pikiran Daniel.


Jasmine asal mengucapkan nominal. Lidahnya sedikit kelu saat memahami ke arah mana pembicaraan ini terjadi.


Setelah menahan napas cukup lama, Daniel akhirnya menghembhskan napas lega. Dia mengambil dompetnya, menarik sejumlah uang sesuai yang disebutkan Jasmine dan meletakkannya di atas meja.


"Kemarilah, Jasmine. Aku sudah membayarmu untuk sebuah ciuman."


Jasmine berdiri dengan patuh. Dia seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Beruntung rumah ini sudah sepi. Tak ada penghuni yang berlalu lalang. Semuanya mulai terlelap dalam alam tidurnya sendiri-sendiri.


Jasmine berjalan perlahan menuju Daniel. Dadanya bertalu-talu tak karuan. Seperti ada genderang perang.


Jasmine menjilat bibirnya sendiri dan melembabkan diri. Ini hanya ciuman. Ya Tuhan. Tapi kenapa rasanya seperti malam pertama bagi Jasmine? Reaksinya mulai tidak normal.


Daniel mengulurkan tangan, meraih jari-jemari lentik wanita ini dan menariknya pelan ke atas pangkuannya.


Tangan Jasmine sedikit berkeringat. Dia memegang dada bidang Daniel dan menatap leher lelaki ini yang terlihat kuat. Ya Tuhan. Bagaimana bisa reaksinya sekuat ini?


Daniel mengusap lembut bibir Jasmine, menatapnya intens, dan menyusuri teksturnya yang lembut.


Perlahan, Daniel membimbing tengkuk wanita itu untuk mendekat ke arahnya. Ciuman itu mulai terjadi. Berawal dengan lembut, mendesak, dan saling mengeksplorasi satu sama lain.


Hingga nafas mereka berubah cepat dan suhu udara di sekitar terasa memanas. Daniel tak lagi menghitung waktu. Mungkin satu menit. Mungkin dua. Mungkin sepuluh. Entahlah. Waktu jadi semakin samar saat ciuman mereka bersatu dengan luwes.


Tanpa sadar, Daniel mulai menyentuh pinggang Jasmine dan masuk ke dalam tank topnya. Suara Jasmine yang merespon dengan sedikit keterkejutan membuat Daniel menyadari tindakanya. Dia menghentikan ciumannya dan menjauhkan mereka berdua.


Jasmine merasa hancur saat itu juga. Dia merasa tertolak dan tak berharga. Dia memejamkan mata sejenak, menjauh dari Klayver dan pergi berlalu dengan menyambar uang di atas meja dengan penuh kebencian.


Klayver memandang kepergian Jasmine dengan banyak emosi. Kedua tangannya terkepal erat. Dia menoleh ke sekitar dan baru menyadari di ruangan ini ada CVTV.


Bagus. Baik William, Alice, dan Klayver, kini bisa melihat semuanya.

__ADS_1


Daniel memgutuk dirinya sendiri karena telah sebodoh ini.



__ADS_2