
Klayver Vaquez
Nama itu dalam sekejap terpatri dalam benak Alice. Ia menatap sosok di belakangnya dan mengangguk kecil.
"Nama samaran yang cukup bagus."
"Itu nama yang sebenarnya. Aku tak pernah memakai nama palsu. Hanya orang-orang saja yang sering menyebutku sebagai Eyes Evil." Klayver melambaikan tanganya, menyuruh Alice untuk segera menyetir.
Alice menoleh dan merasa heran. Apakah itu artinya dia harus menjadi sopir lelaki tersebut?
"Kau memasuki mobilku tanpa ijin dan sekarang menyuruhku menjadi pememudimu?" Alice memprotes. Dia ingin mengungkapkan keberatanya lagi, tetapi ia urungkan saat melihat wajah datar Klayver yang mengintimidasi.
Alice mengemudikan mobilnya untuk keluar dari kawasan pemakaman. Dia menyusuri jalanan utama menuju sebuah tempat di pinggiran kota sesuai arahan Klayver.
Alice tak tahu apa alasan Klayver mengarahkanya ke tempat tersebut. Alice berharap semoga saja lelaki itu tak berniat untuk mencelakai hidupnya.
"Untuk apa kau menyuruhku mendatangi tempat ini?" Alice bertanya saat ia memasuki sebuah jalan sepi yang mulai jarang terlihat bangunan di sisi kanan dan kirinya.
Hanya pohon-pohon yang berjajar rapi. Sepertinya jalanan ini merupakan jalan alternatif yang sudah mulai jarang digunakan. Bahkan kendaraan umum pun juga jarang terlihat. Hanya beberapa kali truk bermuatan berat yang melewati jalanan ini.
"Membawamu ke salah satu kediamanku." Klayver menjawab santai. Dia memandang pepohonan di luar mobil dengan pandangan tertarik. Seolah-olah makhluk mati itu entah bagaimana membuat minatnya muncul.
"Untuk apa?" Alice semakin menciut nyalinya.
Tidak mudah untuk berurusan dengan pembunuh. Apalagi jika kau tiba-tiba dibawa ke rumahnya secara mendadak tanpa alasan jelas. Tebakan-tebakan buruk mulai berseliweran di kepala Alice. Ia hanya berharap bahwa tindakanya ini tak membawanya pada bencana baru.
"Untuk lebih saling mengenal." Klayver berkata santai. Dia memberikan arahan agar mengambil jalur kiri setelah pertigaan selanjutnya.
Alice mengikuti arahan Klayver. Jalan yang ia lalui ini semakin kecil dan berkelok-kelok. Keadaan semakin sepi. Ia hanya melihat beberapa bangunan semacam villa dan tempat peristirahata di sekitar mereka.
"Kenapa harus ke tempatmu? Bukankah tidak masalah jika membicarakan topik apa pun di tempatku?" Alice merasa tak nyaman. Dia sudah berjalan sekitar lima ratus meter tanpa ada bangunan rumah sama sekali.
"Karena tempatmu tak aman. Aku mencurigai salah satu orangmu menjadi informan bagi musuh Anson."
Alice membalikkan badan tak yakin. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan merasa syok mendengar informasi tersebut.
"Siapa? Dari mana kau tahu?"
"Bisa siapa saja. Pelayan, teman dekatmu, kolegamu atau siapapun yang memiliki hubungan denganmu dan Anson."
"Dari mana kau tahu?" cecar Alice.
Klayver membiakan peryanyaan Alice tanpa jawaban dan menyuruhnya berhenti di sebuah pondok kayu indah di sisi jalan.
Perlahan, Alice turun dari mobil dengan mata sedikit memicing. Matahari masih bersinar cukup terik. Pondok itu menghadap ke barat, berdiri megah dengan desain yang unik.
Pondok ini tidak seperti pondok kayu pada umumnya. Luasnya sekitar dua ratus meter persegi. Bangunan ini memiliki tiga tiang yang kokoh di depan. Langit-langitnya lumayan tinggi untuk seukuran pondok. Dua bohlam lampu berbentuk bundar menggantung indah.
Atapnya tinggi berbentuk miring ke kiri. Kayu-kayu yang menjadi penopangnya terlihat kuat dan mahal. Lantainya juga terbuat dari keramik kayu yang saling terkait.
Indah. Pondok ini jauh sekali dari pondok milik Aaron yang pernah Alice lihat. Jika pondok Aaron terkesan bobrok dan terbengkalai, pondok Klayver justru terkesan indah dan berarsitektur tinggi. Pondok ini salah satu bangunan yang bisa dijadikan sebagai sampel iklan dalam setiap pergantian musim.
Alice tak menyangka, Klayver, lelaki yang cenderung dingin dan menjaga jarak mampu memiliki selera setinggi ini di salah satu hunianya. Mungkinkah ini adalah pondok tempatnya berlibur dan menenangkan diri?
Klayver membuka pintu utama pondok dengan memasukkan sandi kode keamanan tertentu. Alice mengikuti di belakangnya dengan kagum. Bukan hanya desain pondok yang indah. Bahkan sistem pengamanan yang dipasang pun tak kalah canggih dengan yang Alice gunakan di rumahnya. Mungkin bahkan Klayver menerapkan sistem yang lebih canggih lagi dari miliknya, mengingat dia bukan hanya memasukkan kode kemananan, namun juga sistem suara.
Ruangan pondok ini terkesan luas dengan langit-langit tinggi menjulang. Di atasnya lampu-lampu berjejer mengeluarkan sinar jingganya yang redup. Mungkin jika malam tiba, lampu-lampu itu akan menyesuaikan keadaan dan berubah lebih terang. Alice berspekulasi pasti teknologi yang diterapkan di rumah ini tinggi.
Pondok ini berlantai dua dengan tangga kayu melingkar indah di ujung ruangan. Setiap sisi dindingnya dihiasi motif kain mahal yang diukir tangan. Alice pernah mendengar kain tersebut dinamakan batik. Kain penuh seni tersebut berasal dari Indonesia, salah satu negara di Asia.
__ADS_1
Alice duduk di atas kursi halus berwarna cokelat gelap. Dia menatap Klayver yang tengah membawakan sebotol sampanye untuk mereka. Lelaki itu meletakkan dua gelas bersih di atas meja dan menawari Alice tanpa suara.
"Tidak, terimakasih." Alice menolak dengan lembut.
Alice tak terlalu suka minuman yang mengandung alkohol. Dia biasanya akan cepat kehilangan kesadaran dan berbuat memalukan jika tetap memaksa meminumnya dalam jumlah yang lumayan banyak.
Selain itu, Alice pernah mendengar dari William bahwa Klayver terkenal sebagai ahli racun. Alice tak terlalu yakin untuk meminum apa pun yang disuguhkan olehnya. Bisa saja lelaki itu cukup ahli memanipulasi dirinya, bukan? Alice jelas tak ingin mengambil resiko tersebut.
"Pernahkah kau sadar, Alice? Orang sehebat Anson akan meninggal dalam kecelakaan?" tanya Klayver, mengambil tempat duduk tak jauh darinya. Ia mengambil sebatang rokok dari saku jins dan mulai menyesap benda tersebut. Asap rokok mulai mengepul secara perlahan, membumbung ke atas.
"Tadinya tidak, karena kupikir kecelakaan adalah suatu hal umum yang bisa terjadi karena kelalaian setiap orang. Tetapi, ada terlalu banyak kejanggalan."
Alice kembali mengingat-ingat kejadian tersebut. Ia menyampaikan pada Klayver bahwa sepuluh menit sebelum kematian Anson, lelaki itu sempat menghubunginya dengan sikap normal dan mengatakan ia tertahan untuk menghabiskan dua gelas wine karena bujukan salah satu rekan bisnisnya. Terlalu tak masuk akal jika hanya dalam sepuluh menit kondisi Anson berubah drastis.
Para dokter mengatakan bahwa Anson dianggap cukup mabuk untuk memegang kemudi.Tetapi Alice menyadari bahwa jika Anson mabuk, pasti ia telah mendeteksi dari percakapan mereka terakhir kali.
"Aku mencurigai, Anson telah diracuni." Klayver berkata ringan. Dia menuangkan segelas sampanye untuk dirinya sendiri dan menyesapnya perlahan.
"Racun? Kau yakin?" Ada jejak penasaran di kedua netra emasnya.
Klayver menyilangkan kedua tangan dengan santai. Jaket kulit yang ia kenakan semakin tampak maskulin di tubuhnya. Serasi dengan jins gelap yang ia kenakan.
Seandainya saja Alice tak tahu jika lelaki itu pembunuh bayaran paling berpengaruh, dia pasti berpikir postur tubuh dan gayanya tak jauh beda dengan aktor aksi kenamaan. Tidak. Dia lebih dari sekedar aktor. Aktor tak memiliki hawa membunuh yang kental di sekitarnya. Aktor juga tak memberikan aura gelap yang sangat dominan .
"Hanya hipotesaku. Aku belum menyelidikinya. Aku akan mengurus semuanya setelah surat pernikahan kita sah dan organisasi William berada di bawah kendaliku."
Alice merenung dalam. Dia telah memikirkan langkah ini masak-masak. Jika dia ingin melangkah ke dalam pernikahan dengan lelaki iblis seperti Klayvee, dia harus memastikan semua keadaan yang mungkin akan terjadi pada mereka nantinya.
"Mari kita bicarakan pengaturanya." Alice menyugar rambut merahnya dan menatap Klayver dengan pandangan serius.
Sebuah senyum iblis bertengger tak tahu malu di sudut bibir Klayver. Dia mengangguk kecil, mempersilakan Alice melanjutkan kalimatnya.
"Kita harus tinggal bersama meskipun pernikahan kita hanya sekedar validasi."
Selain mendapatkan organisasi William, Klayver juga perlu membantuk identitas baru yang kuat. Dia perlu memanfaatkan koneksi Alice secara langsung dan membentuk nama besar dalam lingkungan masyarakat kelas atas.
Untuk menghadapi musuh yang sedang gencar memburu, ia harus cerdas. Untuk menjadi cerdas, dia harus menjadi pengamat yang jeli. Untuk menjadi pengamat yang jeli, dia harus masuk ke dalam ruang lingkup musuhnya sendiri dan memahami mereka dengan identitas yang baru.
Klayver sudah mempertimbangkan langkah ini. Menikah dengan Alice bisa menutup banyak kecurigaan. Dia harus memanfaatkan situasi dengan baik sebelum musuh-musuhnya mengonfirmasi siapa dirinya sebenarnya.
Selama ini, tuduhan pada dirinya masih berupa kecurigaan mentah. Tidak ada yang bisa mengatakan secara pasti apakah benar eyes evil adalah Klayver. Selama situasi masih memungkinkan, dia harus membalikkan keadaan.
"Bisakah kita saling menghargai individu masing-masing selama kita tinggal bersama?"
Inilah yang Alice rakutkan. Membawa seorang pembunuh ahli ke dalam rumah dan satu atap dengan anaknya membuat mentalnya ciut.
Tidak masalah jika hanya Alice yang akan menghadapi Klayver seorang diri. Tapi dia memiliki Axel. Bagaimanapun, anak itu masih terlalu rentan untuk terpengaruh. Usianya juga masih lima tahun. Tidak mungkin dia mewanti-wanti anak kecil untuk tidak bergaul dengan lelaki yang akan ia perkenalkan sebagai Daddi baru untuknya.
Alice jadi pusing mengenai masalah ini. Dia tak terlalu yakin Axel sanggup menerima keberadaan Klayver.
"Aku memiliki seorang putra, Klayver. Bisakah kau berjanji tidak akan menyakiti kami dan mencoba sedikit bersandiwara di hadapan putraku? Dia masih kecil untuk memahami semua konflik yang kita miliki." Alice terlihat pasrah. Dia mendengus kecil dan memijat pelipisnya lembut.
Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan agar Axel memiliki jarak aman dari iblis ini? Alice jelas tak rela jika putranya nanti kenapa-napa.
"Baik. Selama organisasi itu memberi manfaat padaku, aku cukup puas dan tidak akan melukai kalian." Ucap Klayver tegas.
Klayver adalah orang yang tak suka mengumbar janji. Tetapi jika ia telah berjanji, ia akan menepati kata-katanya. Pantang baginya mengkkhianati ucapanya sendiri.
"Dan … dan uhh … mengenai masalah ranjang … kurasa … hemh, maksudku pernikahan kita hanya di atas kertas, bukan?" Alice sedikit tergagap.
__ADS_1
Klayver masih memandangi Alice dengan santai. Sorot matanya seperti laser yang menembus setiap permukaan kulit yang wanita itu miliki. Alice bergidik nyaman dengan tatapan lelaki itu.
"Wanita bukan hanya dirimu, Miss. Kecantikan juga bukan hanya milikmu. Di luar sana, ada banyak wanita yang sama cantiknya dengamu dan siap sedia membuka kakinya untukku setiap saat." Klayver menjentikkan jarinya, seolah apa yang ia inginkan hanya seringan menjentikkan jari.
"Baiklah. Aku tak keberatan kau melakukan hal tersebut."
Bukan hanya tak keberatan. Alice perlu bersyukur mengenai kenyataan ini. Dia tak harus terjebak dengan Klayver dan tak perlu phobia takut dibunuh sewaktu-waktu. Gossip bahwa Klayver membunuh setiap wanita yang menemani malamnya telah merasuk ke dalam alam bawah sadar Avery.
Avery bersandar ke belakang kursi dan mengamati Klayver dari sudut matanya. Dia mengusap-usap telapak tanganya dengan bimbang.
"Jadi, kau sudah mendengar kabar aku membunuh para wanita j*lang di atas tempat tidur?" Klayver tersenyum kecil. Senyumnya bagaikan senyum dewa kematian. Sangat angkuh dan mengancam.
Avery menatap lantai tak yakin. Dia sudah mendengarnya dari William dan diulang sebanyak enam kali oleh lelaki tersebut. William memperingatkanya untuk tak menikahinya, tetapi William juga tak bersedia memberikan organisasi tersebut kepada Klayver selama Klayver masih menjadi orang lain bagi Alice. Sialan William. Dia membuat Alice menjadi setengah gila atas tindakanya.
Kenapa William tidak mengalah saja dari awal dan merelakan organisasi keparat itu? Kenapa lelaki tua itu harus berdebat denganya dulu karena sumpah setia William yang tak masuk akal? Benar-benar tak berguna.
"Sudah kubilang aku mencurigai orang dalam yang kau miliki. Jika kau ingin aku menuntaskan kasusmu, kita butuh sandiwara untuk tidur bersama. Buat semua orang mempercayai pernikahan ini adalah pernikahan sesungguhnya."
Alice tentu saja terpaku tak percaya. Ya Tuhan, ada apa ini?
Mungkinkah memang ada orang dekat yang mengkhianati Alice dan menjual informasi tentang dirinya pada pihak lain? Siapa orang tersebut?
Alice diam-diam menyadari trik yang digunakan Klayver. Jika ia menginginkan orang dalam tersebut terekspos, dia harus mulai bersandiwara secara keseluruhan. Bahkan, termasuk dengan Rachel maupun Daniel.
Alice yakin dua orang itu tak akan pernah mengkhianatinya. Tetapi, dia perlu menunjukkan kebenaran palsu pada mereka. Jika pengkhianat itu cukup cerdas, dia pasti bisa menilai kebenaran pernikahan Alice dari reaksi sahabat-sahabatnya juga.
"Gosip itu tidak benar, bukan?" Alice bertanya memastikan. Dia kembali teringat tentang kematian mendadak para wanita yang menemani Klayver.
Suara Alice jadi lirih seperti mencicit. Dia berharap semua itu hanyalah gosip yang dilebih-lebihkan. Semakin tinggi nama seseorang, semakin besar suara-suara buruk yang menerpanya.
Klayver berdiri, memasukkan kedua tangan kokohnya ke saku jins di masing-masing sisi dan berjalan ke ruangan dalam.
"Sayangnya, gosip itu memang benar."
Jantung Alice seperti jatuh ke dasar lantai mendengarnya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata tak yakin. Bulu kuduk di tengkuknya meremang saat itu juga.
Klayver tak pernah berbohong. Jika ia mengucapkan benar, itu artinya benar. Alice menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menggeleng lemah seperti anak kecil. Kakinya semakin mengkerut bagaikan jeli yang mencair.
"Kenapa?" Sebuah pertanyaan itu kekuar dari bibir Alice.
Rasa penasaran yang ia miliki cukup tinggi, meskipun Alice dipenuhi ketakutan yang mulai menelan dirinya hidup-hidup.
Apakah lelaki yang berada satu ruangan dengan dirinya bukan hanya berprofesi sebagai pembunuh? Apakah diam-diam dia mengidap suatu jenis kelainan? Psikopat?
Alice tak bisa membayangkan harus hidup satu atap untuk beberapa tahun ke depan dengan seorang psikopat sejati. Otaknya lama-lama bisa mengikis karena semua kenyataan yang ia terima.
Klayver membuka pintu penghubung di sisi ruangan. Dia berjalan pelan menuju ruangan yang lebih mirip disebut ruang tengah. Alice menbuntuti di belakangnya dengan jarak aman. Dia tak berani untuk mendekat dalam jarak rengkuh lelaki tersebut. Tak ada yang tahu kapan lelaki ini kehilangan kontrol dan berniat membunuh. Alice harus siaga dari sekarang.
Ruangan tengah didesain dengan sangat luar biasa. Sebuah TV besar berdiri megah di sisi ruangan. Satu set sofa nyaman tampak menggoda untuk di nikmati dalam situasi santai. Karpet persia tebal digelar indah menenuhi ruangan.
"Kau ingin tahu kenapa aku membunuh mereka?" tanya Klayver berbalik menghadap Alice.
Wanita itu mundur secara tiba-tiba, terlalu takut melihat ekspresi yang terpancar dari mata Klayver.
"Karena mereka semua terlanjur melihat tato simbolisku. Jadi aku harus membungkam mereka." Klayver melepas jaket dan kaosnya secara persamaan. Dia membalikkan tubuh dan membiarkan Alice melihat punggung kokohnya.
Disana, sebuah simbol unik terlihat indah.
...
__ADS_1