Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
113 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini, Alice dan para wali murid lain mengadakan kunjungan ke panti asuhan yang terkena dampak dari musim dingin. Cuaca hari ini sedikit bersahabat. Salju turun sedikit di pagi hari dan udara juga tak terlalu ekstrem. Pihak sekolah telah sepakat untuk membawa murid-murid mengunjungi panti asuhan sebagai pendidikan kemanusiaan secara langsung.


Kawasan yang dikunjungi Alice dan putranya merupakan kawasan yang sedikit jauh dan berada di pinggiran kota. Ia dan wali murid lainnya menggunakna bus sendiri, terpisah dari bus yang dikhususkan untuk anak-anak.


Perjalanan berlangsung selama satu jam, dengan banyak pemberhentian karena beberapa jalan sedang dilakukan pembersihan salju oleh petugas patroli.


Setelah tiba di tempat yang diinginkan, Alice menatap bangunan pondok yang luasnya hampir enam ratus meter dengan halaman utama sekitar sepertiganya. Pondok ini dibangun dengan model letter L. Masing-masing sisi bangunan memiliki dua lantai dengan banyak kamar untuk anak-anak. Selain menampung anak yatim, panti ini juga menampung anak jalanan yang ditemukan terlantar. Pemiliknya adalah pengusaha pabrik besi lokal yang telah lama pensiun. Setelah masa pensiunnya, dia bekerja sama dengan pemerintah dan menggalang dana dari banyak pihak.


Panti ini merupakan panti sederhana di mana bangunannya terbuat dari gabungan tembok beton dan kayu eek. Ada perapian di masing-masing bangunan yang menghangatkan para penghuninya di saat musim dingin. Suasana kekeluargaan dan keakraban jelas terlihat dari panti ini. Buktinya, saat bus rombongan Alice berhenti, mereka semua disuguhi dengan keramian anak-anak kecil yang sibuk bermain di halaman utama panti.


Terdapat banyak aneka mainan. Dari perosotan, ayunan, tangga-tangga buatan khusus anak, dan banyak hal lainnya.


Senyum anak-anak ini merekah dengan sempurna. Beberapa permaianan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Mungkin faktor dana, mungkin faktor keadaan sehingga terabaikan. Tetapi mereka tetap saja penuh tawa bersama teman-temannya.


Axel segera mencari keberadaan Alice dan menyeret ibunya untuk mendekat ke arah penghuni panti. Ada seorang guru yang menjadi mediator. Dia menyerahkan sumbangan utama dalam bentuk selimut, makanan, dan beberapa perlengkapan dasar seperti sabun mandi dan semacamnya pada perwakilan panti.


Setelah acara serah terima bantuan selesai, suasana tak lagi terkesan kaku. Banyak anak-anak sekolah Axel diijinkan bermain bersama para penghuni pantai untuk saling mengenal.


Entah pengurus pantai yang pintar dalam mengarahkan atau memang anak-anak panti yang mudah berbaur, mereka semua menerima setiap kehadiran anak-anak sekolah Axel dengan sikap hangat.


"Mom? Apakah mereka semua tidak memiliki orang tua seperti aku memiliki Mommy?" tanya Axel dengan polos.


Alice mengusap puncak kepala putranya dan memberikan penjelasan singkat


"Beberapa dari mereka ada yang tidak memiliki orang tua. Beberapa dari mereka ada yang tidak diperhatikan sehingga akan lebih baik berada di sini dari pada bersama keluarganya."


"Oh, adakah keluarga yang tidak memperhatikan? Kupikir keluarga itu harus saling menberi kasih sayang. Bukankah itu yang selalu Mom jelaskan padaku selama ini, Mom?" tanya Axel bingung. Wajah kekanak-kananakannya membuatnya terlihat semakin lucu.


Dengan sabar, Alice mendudukkan Axel di salah satu ayunan dan mulai mendorong putranya lembut. Axel masih belum mengerti tentang kehidupan. Anak ini terlalu lugu dan polos. Keluarga di mata Axel adalah sosok orang-orang yang saling mencintai dan menerima dengan setiap keadaan dan kondisi. Bahkan yang menyemangatinya dalam keadaan terdesak sekali pun.


Axel tidak tahu di luar sana ada banyak keluarga yang tak sempurna. Di mana setiap hari yang disuguhkan hanya pemandangan menyesakkan tentang kekerasan dan rasa sakit. Keluarga seperti ini tidaklah sehat. Mereka memberikan pengaruh buruk untuk anak-anak dan membuat pribadi dan karakternya cacat. Karena itu, wajar saja terjadi kasus kriminal yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Karena mereka sejatinya meniru dari setiap tontonan yang tercipta keluarga mereka sendiri.


Jika hal itu terjadi, siapa lagi yang berhak disalahkan? Orang tua tak peduli pada anak. Ligkungan mendesak anak-anak menjadi aset jalanan yang hanya mengedepankan kekerasan fisik. Mereka tumbuh di tempat yang salah dan berkembang dengan cara yang tak tepat. Saat akhirnya pemerintah mulai menyadari keberadaan mereka dan memberikan kepedulian, sering kali hal tersebut sudah terlambat.


Karakter yang terlanjur terbentuk dan mendarah daging akan sulit untuk dihilangkan. Mereka sudah hidup dengan hal itu sejak lama. Sekali pun direhabilitasi, kemungkinannya untuk kembali lagi pada kejahatan dan kebiasaan buruk tetap saja besar. Hal ini menjadi momok sosial yang sulit dipecahkan. Semua itu semata-mata karena kesalahan dalam pola didik anak sejak awal.


"Ada beberapa keluarga yang tidak seperti keluarga kita. Mereka yang tidak saling sayang, tidak saling peduli, bahkan saling menyakiti satu sama lain." Alice menjelaskan dengan sabar.


Axel sepertinya cukup terkejut dengan hal ini. Dia menoleh kepada Alice dan menatap ibunya tak percaya. "Ada keluarga yang seperti itu, Mom?" tanyanya polos.


"Ada. Dunia ini sangatlah luas dan beraneka ragam, Axel. Karena itu Mom pernah mengajarimu untuk selalu bersyukur, bukan? Di luar sana ada banyak anak yang tidak seberuntung Axel. Ada yang bahkan untuk memiliki mainan saja harus menunggu diberi oleh orang lain."


Axel menatap ibunya lama. Dia mengangguk kecil, menampakkan kesedihan dan berbalik menatap satu per satu anak panti yang berdiri di sekitarnya. Mata Axel memancarkan simpati murni. Merasa ikut sedih dengan keadaan mereka yang dikirim ke tempat ini dengan berbagai alasan.

__ADS_1


"Betapa kasihan mereka, Mom. Andai aku tahu, aku pasti akan membawa mainanku ke sini dan membaginya dengan mereka. Bagaimana menurutmu? Apakah itu bisa membahagiakan mereka?" tanya Axel lirih. Suaranya dipenuhi harapan, seolah ingin membagi kebahagiaan bersama mereka.


Alice bersyukur putranya memiliki rasa simpati yang tinggi. Dia beraharap untuk ke depan, Axel bisa menjadi pelopor bagi kegiatan kemanusiaan dan mengedepankan moralitas. Dia ingin putranya menjadi contoh yang baik dan bisa ditiru oleh adik-adiknya kelak.


"Tentu, sayang. Itu sangat membuat mereka bahagia. Besok jika ada kesempatan, kau bisa mengunjungi tempat ini lagi dengan membawa sebagian mainanmu. Bagaimana?" tanya Alice menawarkan jalan keluar.


Axel mengangguk dengan gembira. Diam-diam, dalam hati Alice berniat akan memberikan tambahan uang untuk panti ini agar kebidupan penghuninya lebih terjamin. Saat ini, finansial Alice sangatlah terjamin. Perusahannya berkembang pesat asetnya bertambah, keuntungan per tahun juga berlipat-lipat. Jika dia tak menggunakan sebagian dari kekayaannya untuk kemanusiaan, mau ia buat apa lagi? Toh uang dan kekayaan jika telah tersisa banyak hanya akan menjadi status tanpa arti.


Semua hal di dunia ini diciptakan dengan suatu kondisi dan tujuan berbeda. Tidak semuanya hanya untuk kepuasan secara pribadi saja. Setiap orang pasti akan memiliki fungsi tersendiri bagi masyarakat. Dia yang pintar, akan berkontribusi dengan ilmu. Dia yang duduk di kursi pejabat, akan berkontribusi dengan peraturan yang ia buat. Dia yang kaya, akan berkontribusi dengan uang. Jika semua itu tak digunakan sebagaimana mestinya, Tuhan bisa jadi akan kembali menarik miliknya lagi.


Seseorang yang sungguh-sungguh bersyukur, akan membuat semua yang Tuhan berikan untuknya bisa bermanfaat bagi kemanusiaan. Memang begitulah sejatinya manusia. Saling membantu demi kebaikan sesama. Kebahagiaan sejati berasal dari hal-hal yang kita bagi untuk orang lain. Senyum mereka akan menjadi kebahagiaan bagi kita. Jangan pernah bosan untuk memberi, karena sejatinya menberi tidak akan membuat kita kekurangan. Justru orang yang berani memfasilitasi orang lain, akan difasilitasi oleh Tuhan juga untuk diberi tambahan berkah dan kemuliaan.


"Sayang." Alice berlutut dan menatap putranya serius. "Perhatian dan simpati yang paling utama ada di sini." Alice menunjuk dada putranya dengan pelan.


"Karena itu, milikilah hati yang baik, niscaya apa yang kau miliki juga akan berguna dalam kebaikan juga. Kau paham maksudku, bukan?" tanya Alice menatap wajah lugu putranya.


Axel terdiam sejenak dan mengangguk kecil. "Aku harus memiliki hati yang baik jika ingin menjadi orang baik. Begitu, kan, Mom?" tanyanya lugu.


Alice mengangguk membenarkan. Axel adalah anak yang cerdas. Dia mudah memahami banyak hal dan cepat menerapkan segala sesuatu.


"Kau putra Mom yang hebat. Mom bangga memilikimu." Alice mengecup puncak kepala putranya dan mengelusnya penuh rasa sayang.


Axel adalah titipan Tuhan dan menjadi hartanya yang paling berharga. Dia menjadi kekayaan Alice yang sesungguhnya. Sebagai orang tua, Alice bersyukur dia meniliki putra seluar biasa ini.


Anak perempuan itu adalah anak salah satu panti. Dia memakai celana panjang dengan jaket kulit sederhana untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya udara. Kepalanya mengenakan topi rajut yang tak terlalu tebal.


Wajah anak ini sangat manis. Wajah setengah Asia dengan pipi tembem dan kulit seputih susu. Dia menatap Alice dan Axel takut-takut. Matanya msngerjap bimbang sebelum akhirnya berniat untuk berbalik karena merasa diperhatikan oleh mereka.


"Hei, siapa namamu, Sayang?" tanya Alice menahan kepergian anak perempuan itu.


Anak perempuan itu mengurungkan kepergiannya dan menatap Alice dengan keraguan. Dia baru saja tiba di panti ini selama tiga hari. Suasana panti masih terlalu asing baginya. Ada ketakutan sendiri ketika melihat orang asing.


"Tidak apa-apa, mendekatlah! Aku hanya ingin tahu namamu. Siapa namamu, Manis?" Alice memahami ketakutan yang jelas terpancar di kedua mata anak itu dan mencoba perlahan untuk mendekatinya.


Anak itu langsung mengambil langkah mundur saat Alice mendekat. Dia terlihat tertekan melihat usaha Alice melakukan keramahan padanya.


"Hei, aku Axel. Jangan takut. Aku tidak nakal, kok. Ngomong-ngomong, kau siapa?" Axel berjalan antusias menuju anak itu.


Axel masih kecil. Dia tak terlalu memahami rasa takut yang anak itu miliki terhadap orang asing. Yang ia tahu hanyalah dia merasa simpati melihat anak perempuan pendiam dan ingin mendekatinya.


Bukannya mendekat, anak itu justru berbalik dan lari meninggalkan mereka. Axel yang melihat kepergian anak itu jadi bingung sendiri. Dia menatap Alice, mencoba bertanya tanpa kata.


"Mom tidak tahu kenapa dia lari. Mungkin dia kaget dengan kehadiran kita." Hanya itu jawaban yang mampu Alice berikan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Misel memang pendiam. Dia mengalami sedikit trauma dengan keluarganya sehingga pribadinya tertutup," kata seorang wanita dengan baju pengurus panti. Dia memiliki tubuh bulat dan wajah ramah yang menyenangkan. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun, atau lebih.


Rupanya wanita ini melihat interaksi mereka bertiga sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut campur karena menangkap kebingungan dari reaksi Alice dan Axel.


"Oh, Miss." Alice mengangguk kecil.


"Aku Rana, salah satu penngurus panti di sini." Wanita itu mengulurkan tangan dan segera disambut dengan uluran tangan serupa oleh Alice.


"Alice," katanya memperkenalkan diri dengan ramah. Alice menyebutkan nama depannya seperti Rana.


"Anak itu, Misel, baru kami temukan tiga hari yang lalu di kawasan kumuh. Dia merupakan anak dari wanita malam tanpa ayah yang terlantar dan tak terurus. Ibunya sering kali meninggalkannya untuk melakukan job dengan lelaki lain. Sungguh sangat disayangkan. Dia ditemukan dalam keadaan lapar, tanpa makanan sama sekali dan disertai demam tinggi. Sekarang keadannya lebih baik, tetapi sepertinya ia memiliki ketakutan pada orang asing. Entah dia memiliki pengalaman apa. Dengan pengurus panti pun dia juga menjaga jarak." Rana menjelaskan panjang lebar. Alice yang mendengarnya hanya bisa tersenyum miris.


Kehidupan seperti itu memang benar-benar ada. Alice telah mendengar dari banyak orang, di luar sana terkadang dunia tak terlalu ramah.


Anak yang menjadi korban keteledoran orang tua sangatlah banyak. Mereka yang terpaksa mendapatkan perlakukan buruk karena perbuatan orang tua yang semena-mena. Mereka yang tidak mendapatkan jaminan keamanan dan terpaksa terlunta-lunta.


Banyak orang yang direhabilitasi setiap tahun, terutama wanita-wanita malam, untuk diberi pengarahan tentang bahayanya pergaulan yang mereka miliki dan apa efeknya untuk anak mereka. Tetapi toh nyatanya hal itu tetap saja percuma. Mereka kembali lagi dalam masyarakat, tetap melakukan tindakan seperti biasanya, memiliki anak, dan menelantarkan darah daging mereka sendiri.


Banyak dari mereka yang kekurangan kasih sayang. Seandainya pun ibu mereka menyayangi, tetap saja hal itu memiliki keterbatasan. Seperti pendidikan yang sulit anak-anak itu raih, jaminan yang tak didapat untuk berada di lingkungan sehat yang mendukung tumbuh kembang mereka, dan banyak hal lainnya.


"Aku ikut simpati mendengarnya. Anak seperti itu seharusnya masih dalam tahap dimanja dan dilindungi. Akan sangat menyedihkan jika terlantar begitu saja." Alice menampakkan wajah prihatin. Axel yang berada di sisi Alice hanya mengerutkan dahi bingung, karena tak terlalu paham dengan percakapan orang dewasa ini.


"Begitulah, Alice. Memang ada kehidupan yang seperti itu. Terkadang, kami bahkan menemukan hal yang lebih parah lagi. Ada anak-anak yang terbiasa mendapatkan kekerasan fisik sehingga ketika berhasil kami bawa ke mari, dia mengalami ketakutan penuh pada lingkungan sekitar," jelas Rana dengan pandangan melayang.


Bertugas di panti selama bertahun-tahun telah membuat Rana mengetahui seluk beluk anak-anak di sini. Dia memiliki hati yang lembut. Sering kali jika ditemukan anak-anak terlantar yang kurang beruntung, dia menangis diam-diam. Menyesali nasib mereka yang naas.


"Kehidupan anak-anak di sini ada yang sekeras itu. Kuharap kedepannya mereka semua yang ada di sini bisa lebih terjamin hidupnya. Memiliki potensi yang bisa dikembangkan, dan menjadi bagian dari masyarakat yang baik. Mereka berhak mendapat kesempatan yang luas." Alice tersenyum kecil. Dia semakin yakin akan memberikan sumbangan lain yang lebih besar untuk panti ini. Panti ini membutuhkan sokongan yang banyak dari orang-orang untuk tetap menjaga fungsinya dengan baik.


"Memang begitulah. Kehidupan tidak selamanya menyenangkan untuk sebagian orang. Tetapi aku yakin selalu asa harapan untuk mereka. Tuhan menyertakan pelangi di setiap hujan yang turun." Rana berfilosofis. Dia menepuk bahu Alice lembut dan menatap Axel dengan penuh minat.


"Ngomong-ngomong, siapa anak lelaki tampan ini?" tanyanya menyentuh bahu Axel dengan sedikit menunduk.


"Aku Axel Mallory. Kau bisa memanggilku Axel, madam." Axel menegakkan tubuhnya khas anak kecil dan berkata penuh kebanggaan.


"Axel. Nama yang sempurna. Kau ingin main denganku? Aku bisa membawamu ke dalam bertemu dengan penghuni panti lainnya. Sebagian dari merema sedang belajar mandiri di sini." Rana menawarkan dengan wajah ramahnya. Segera saja seperti dugaan Alice, anak itu mengikuti Rana dengan langkah-langkah kecilnya. Alice yang melihat kepergian mereka hanya bisa tersenyum kecil. Begitulah putranya. Selalu tertarik pada hal-hal baru.


Setelah kepergian mereka, Alice jadi merenung seorang diri. Dia sangat beruntung memiliki keluarga yang baik dulunya. Mom dan Dad adalah contoh orang tua yang sempurna. Saling membantu sama lain, perhatian, dan mengajari Alice banyak hal. Sehingga ketika ia menjadi ibu, Alice bisa meniru langkah mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan penuh perhatian, Alice kembali mengamati kondisi panti ini. Anak-anak kecil bermain bersama dengan wajah ceria. Yang lebih besar lagi, ada di ruangan lain untuk belajar. Dan yang berusia delapan tahun ke atas mereka bersokolah tak jauh dari sini. Panti ini telah banyak memfasilitasi anak-anak. Mengembalikan kehidupan mereka yang telah banyak terampas sebelumnya.


Alice duduk di belakang ayunan dan mengusap perutnya dengan penuh rasa sayang. Dia sebentar lagi akan memiliki anak. Alice akan menjadi ibu yang hebat untuknya, mengajari anak ini banyak hal positif dan memperkenalkannya pada dunia. Akan ia jadikan anak ini menjadi anak yang penuh simpati, mengerti, dan memahami keadaan sekelilingnya dengan baik. Alice yakin. Dia dan Klayver akan bisa mempersembahkan hal-hal baik pada anak ini kelak ke depan.


__ADS_1


__ADS_2