Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
009 - SEASON 2


__ADS_3

Alice bergeming. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya tak mengerti. Sepertinya ia baru saja mendengar definisi seorang psikopat dari cara William menjabarkan tentang Eyes Evil.


"Uh, apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan?"


William mengangguk mantap. "Itulah kenapa orang-orang selalu mendeteksi keberadaan Eyes Evil dari setiap tempat yang memiliki kasus kematian wanita cantik yang meninggal tanpa sebab yang jelas setelah melakukan hubungan biologis."


William berdiri dan menyilangkan kedua tanganya.


"Tidak pernah ada yang tahu siapa yang menyebarkan kabar ini, tetapi dulu ada seorang wanita yang mengatakan bahwa Eyes Evil adalah seorang lelaki yang memiliki tato tiga simbol yin dan yang dengan pola naga di antaranya. Simbol-simbol tersebut sangat unik dan terletak di bagian tubuh yang cukup tertutup."


William menatap lantai seperti menekuri sesuatu. Dia kemudian melanjutkan lagi penjelasanya. Wajah tuanya terlihat semakin menua ketika ia mengangkat topik ini.


"Semenjak itu, para musuh-musuh Eyes Evil menyebarkan banyak sekali wanita cantik untuk merayu siapa pun yang dicurigai sebagai Eyes Evil. Mereka memiliki tugas menginformasikan di mana tanda tato itu berada. Saat itulah mulai muncul kabar kematian mendadak para wanita yang menemani malam seorang lelaki dengan ciri-ciri Eyes Evil."


Alice memijat kepalanya saat ia kembali mencerna kabar ini. Jadi untuk membungkam keberadaan dirinya, Eyes Evil membunuh mereka semua? Tetapi bukankah itu tindakan yang cukup bodoh juga? Membiarkan kabar kematian para wanita hanya menjadikan musuh-musuhnya semakin mencurigai dirinya dan menandai keberadaanya.


"Lama-lama, kejadian itu menjadi sebuah kebiasaan yang ia bawa. Siapa pun wanita acak yang mendekatinya akan ia bunuh. Entah dia dikirim oleh musuh atau tidak. Karena itulah para musuh semakin mudah mengincar dirinya. Dan delapan hari yang lalu, terjadi kabar kematian wanita cantik tanpa sebab yang jelas di Manhattan ini. Wanita yang masih terbaring di ranjang dalam keadaan polos tanpa busana."


Alice terhenyak. Dia mulai merinding mendengar penjelasan tersebut. Siapa sebenarnya Eyes Evil? Kenapa ia membawa banyak teka-teki bagi banyak orang?


Saat Alice masih belum sadar mengolah informasi yang diberikan oleh William, ponsel baru dalam saku belakang jinsnya bergetar. Ada sebuah panggilan dari Leon. Alice terbelalak lebar. Panggilan ini benar-benar dari Leon.


Dua belas hari lalu saat mereka bertemu, Leon memberi Alice sebuah ponsel khusus. Katanya, ponsel tersebut sudah disetting dengan pengamanan tinggi sehingga tidak bisa dibajak oleh siapa pun. Alice menerimanya dan berpikir mungkin memang sudah seharusnya ia memiliki alat infornasi yang terjamin keamananya. Leon juga memberikan sim card baru untuknya.


"Halo." Alice membuka percakapan.


"Halo Alice, aku sudah menyampaikan maksudmu. Eyes Evil membuat janji temu denganmu besok jam tujuh pagi di sebuah restoran. Aku akan mengirim tempat itu lebih detail lagi nanti." Leon berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, "dia ingin kau datang seorang diri."


Saat itulah Alice merasa tersentak dan takut pada saat yang bersamaan.



Alice berdiri mematung di sisi jendela kamar. Pikiranya tengah sibuk mencerna banyak hal. Dia sedang memilih-milih skala prioritas dalam waktu sekejap.


Eyes Evil telah bersedia bertemu denganya. Sesuatu yang tak pernah ia duga akan terjadi. Emosi Alice jadi berubah-ubah tak menentu. Dia membutuhkan lelaki itu, tetapi ketakutan yang ia miliki juga besar terhadapanya. Ia tak yakin bisa menghadapi lelaki tersebut mengingat betapa banyaknya kabar buruk mengenai karakternya.


Alice sebenarnya bermaksud mengajak William. Tetapi ia diminta untuk pergi seorang diri. Dia tak bisa mengambil resiko menyalahi ketentuan dan bisa berakhir buruk. Tetapi ia juga cukup tertekan membayangkan ia akan bertemu dengan seorang pembunuh kelas kakap tanpa pendamping sama sekali.


William berinisiatif untuk mengikuti Alice diam-diam. Mungkin Alice akan mengijinkan lelaki tersebut melakukan hal tersebut untuk memperkuat keamananya. Dia butuh diawasi secara langsung.


Tetapi Alice sedikit merasa bimbang. Besok adalah resepsi pernikaham bagi Rachel. Mungkinkah ia tega melewati momen penting tersebut, mengingat Rachel sudah banyak berkorban untuknya.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Alice mendengus frustasi sembari memukul-mukul ujung jendela. Tuhan, kenapa jadi rumit seperti ini.


Alice menguatkan tekat saat ia mulai memutuskan apa yang akan ia lakukan. Dia menyambar ponsel baru pemberian dari Leon dan menghubungi Rachel. Dia harus menjelaskan semua ini.


"Halo? Maaf siapa?" kata Rachel dengan nada datar.


"Hei, Rachel. Ini aku."

__ADS_1


"Alice, kau ganti nomor lagi?"


Rachel bertanya bingung. Suaranya sedikit lelah. Pasti tenaga Rachel terkuras banyak untuk menyambut hari pernikahanya. Seharusnya ia sekarang sedang berbaring nyaman menikmati perawatan spa untuk besok. Alice duga Rachel pasti tak melakukan semua itu.


"Ya, begitulah. Rachel, aku ingin menyampaikan sesuatu." Suara Alice berubah serius.


"Ada apa, Alice? Apakah ada masalah lagi?" Rachel mulai terdengar khawatir.


Alice semakin merasa bersalah pada temanya. Kepedulian yang Rachel berikan sangat tinggi untuknya. Tetapi Alice masih saja belum bisa membalas hal tersebut.


"Aku memiliki koneksi seseorang yang bisa membantuku menyelesaikan kasus kematian suami dan anak-anakku. Tetapi dia ingin aku menemuinya besok secara pribadi. Apakah kau baik-baik saja jika aku tak mendatangi pesta pernikahanmu?" Alice bertanya gamang. Dia tak bisa menebak respon apa yang akan Rachel berikan untuknya. Mungkinkah ia teman yang sangat keterlaluan?


"Maaf aku sangat tak adil, Rachel, maaf aku--"


"Hei, berhentilah merasa bersalah, Alice. Aku tahu pertemuan itu pasti sangat penting bagi kasusmu. Lakukanlah apa yang terbaik untukmu saat ini. Aku akan selalu mendukungmu."


Rachel berbicara dengan lembut. Dia memahami semua situasi sulit yang Alice alami. Dia cukup baik sehingga tidak menghakimi tindakan apa pun yang diambil oleh temanya.


"Rachel, terimakasih." Suara Alice sedikit tersendat. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia sangat tersentuh mendengar kepedulian yang dilimpahkan oleh sahabatnya.


"Kau selalu menjadi teman terbaikku, kau tahu? Aku tak akan marah hanya karena kau tak menghadiri acara pernikahanku. Lakukan apa yang penting untukmu saat ini dan kabari aku perkembanganya, oke?"


Air mata telah mengalir perlahan di kedua pipi Alice. Dia terisak sedikit dan mengungkapkan betapa bahagianya memiliki teman sebaik Rachel. Mereka telah dekat begitu lama, saling memahami dan menguatkan satu sama lain.


Alice berjanji jika kasus ini telah usai, dia akan memberi kejutan besar untuk Rachel. Mungkin, mereka harus melakukan pelayaran mengelilingi benua. Pemikiran itu benar-benar membuat Alice bahagia.



Rachel mengusap cincin pertunangan miliknya. Di dalamya ada nama Harry terukir indah. Dia merasa bahagia akhirnya hubungan mereka berlabuh dalam pernikahan.


Setelah banyak kesulitan yang mereka lalui, setelah lama ia tak mendapat restu dari keluarga besar Harry, akhirnya kebahagiaan itu terjadi juga.


Ya. Hubungan Rachel dan Harry sulit mendapat restu dari keluarag besar Harry. Terutama kakak tirinya, Maxen Millian.


Awalnya Rachel tak mengerti kenapa ia tak mendapat restu. Tetapi, setelah ia mengetahui latar belakang keluarha Harry yang hebat dan penuh kuasa, ia akhirnya menyadari Rachel jauh dari pantas untuk Harry.


Rachel bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pelayan restoran yang terlalu beruntung untuk bisa mengenal Harry. Latar belakangnya bukan latar belakang hebat yang setara dengan keluarga besar calon suaminya. Tetapi ia memiliki ketulusan dan kejujuran. Ia bukan wanita gila harta yang akan menghalalkan segala cara untuk kemewahan. Tidak. Rachel bukan wanita yang seperti itu.


Rachel pernah menebak, mungkinkah alasan Harry menyembunykikan hubungan mereka adalah untuk melindungi dirinya dari keluarga besar Harry yang sering menghakimi? Rachel yakin Harry pasti melakukan itu untuk kebaikanya.


Sekarang, mau tak mau keluarga Harry mengijinkan juga pernikahan ini. Hubungan mereka telah berlangsung tahunan, ke mana lagi akan mereka bawa kalau bukan ke jenjang pernikahan?


Rachel menatap jam tangan miliknya. Sepuluh menit lagi acara pernikahan dimulai. Senyum indah tersimpul di sudut bibirnya. Apa yang ia nantikan akan terwujud juga.


Tetapi ada sebuah kejanggalan terjadi. Rachel menunggu selama setengah jam lebih dan tidak ada perkembangan situasi. Banyak orang-orang, terutama keluarga Harry terdengar saling berbisik dan tergopoh-gopoh. Para perias pun sama. Mereka terlihat bingung berjalan ke sana ke mari.


Rachel mencoba bertanya pada salah seorang wedding organizer dan tidak mendapat jawaban. Dia mulai berjalan tak tentu arah. Rachel memutuskan untuk keluar dan mencari tahu sendiri. Tetapi baru saja ia melangkah keluar ruangan, ia dikejutkan oleh kedatangan Maxen Millian.


"Apakah ada yang tidak beres?" tanya Rachel bingung.

__ADS_1


Setiap kali ia bertatap muka dengan kakak tiri Harry, Rachel selalu merasa terintimidasi. Dia memiliki aura dingin dan dominan. Sangat berbeda dengan adiknya yang ramah dan mudah bergaul.


Harry pernah mengatakan bahwa setelah Dad meninggal sepuluh tahun yang lalu, Maxen mewarisi semua bisnis keluarga. Ia menjadi tulang punggung bagi Mom dan adiknya. Ia adalah penggerak yang hebat dalam bisnis.


Mungkin karena itulah karakternya berbeda jauh dari adiknya. Mereka satu ayah namun berbeda ibu. Sifat-sifat mereka bagai bumi dan laut.


Maxen menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan tangan milik Harry. Rachel mulai membuka dengan gemetar. Dia merasa sesuatu yang buruk baru saja terjadi.


Keluarga besar Harry mulai mendekati mereka satu per satu. Alena, ibu Harry dan tiga orang sepupu Harry berusia tak jauh dari Rachel berdiri mendekat ke arahnya. Wajah mereka pucat pasi. Dua orang tante Harry juga menampakkan ekspresi tegang. Hanya Maxen saja yang masih bersikap datar.


Sebuah kertas putih tertulis denga tinta hitam secara manual. Terukir rapi oleh tangan Harry disertai keterangan namanya. Kalimat dalam kertas itu tertulis.


Maaf Rachel untuk semuanya. Kupikir aku tak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku merasa ragu dan tak tahu harus bagaimana. Biarkan aku menenangkan diri dan jangan cari aku untuk sementara ini.


Kekasihmu yang pengecut,


Harry Millian.


Saat itulah Rachel merasa dunia luruh di hadapanya. Ia memegang dadanya yang terasa semakin sesak. Otaknya menolak mencerna fakta yang baru saja ia baca. Semua jari-jari Rachel mulai terasa dingin. Lututnya goyah dan siap jatuh kapan saja.


Apakah ini benar terjadi? Dari semua waktu yang ada, Harry memilih saat ini untuk memberinya kenyataan pahit. Kenapa lelaki itu tidak membicarakan semua ini baik-baik? Bukahkah semua masalah seharusnya ada jalan keluar?


Rachel merasa dikhianati. Wajahnya pucat pasi. Gaun putih pengantinya terasa mengolok-olok dirinya. Beberapa tamu yang penasaran dengan kejadian ini mulai mendekati mereka, namun dihalangi oleh ketiga sepupu lelaki Harry.


Meskipun mereka semua awalnya kurang menyetujui hubungan ini, tetapi keluarga Harry adalah keluarga yang sportif. Jika mereka sudah memutuskan untuk menerima, mereka akan menganggap Rachel menjadi bagian dari keluarga ini. Solidaritas keluarga ini sangat tinggi sehingga Rachel kagum dengan sikap mereka.


"Apa dia serius melakukan semua ini?" tanya Rachel dengan nada yang tercekat. Anna, yang menyaksikan semua kejadian hanya bisa menangis pilu. Tragedi apa yang dilalui kakaknya kali ini? Kenapa pernikahan yang Rachel idam-idamkan berakhir bahkan sebelum ikatan itu terjadi.


Para tamu telah banyak yang berdatangan. Meskipun pesta ini dianggap acara sederhana, tetapi bagi Rachel tetap terasa besar. Dia memiliki standar yang berbeda dengan keluarga Harry.


Pesta pernikahan dengan tamu enam ratus orang adalah acara yang mewah bagi Rachel. Bagaimana mungkin ia akan menghadapi semua ini? Bagaimana ia menghadapi wajah-wajah para tamu? Bagaimana ia bisa menegakkan wajah dan menahan urat malu? Dan bagaimana ia bisa mengatasi rasa sakit ini?


"Dia serius. Dia pergi pagi ini dengan mobilnya. Kami semua mengira tadinya ia hanya pergi ke tempat terdekat untuk mengurus sesuatu. Tetapi ia tak kembali sudah lebih dari tiga jam. Ponselnya juga tidak aktif." Alena menjelaskan dengan mata berlinang air mata. Dia menggenggam lengan Rachel untuk menguatkan.


Alena merasa berasah. Sebelumnya ia terlalu picik untuk menolak wanita baik hati ini. Sekarang saat ia mulai menerima, Harry justru melakukan hal gila dengan meninggalkan pengantinya seorang diri. Dia sudah menyuruh banyak orang untuk mencari putranya, tetapi keberadaan Harry masih menjadi sebuah teka teki yang rumit.


"Bagaimana bisa ia melakukan semua ini?" Rachel meratap pilu. Ia semakin kuat menyentuh dadanya dengan penuh keputusasaan.


Apakah di mata Harry Rachel adalah sebuah permainan? Apakah di mata harry ia tak berharga sama sekali? Serendah itukah nilainya?


Bagaimana bisa Harry mempermainkan acara pernikahan ini. Kepada siapa lagi Rachel akan mengadu. Kehidupanya seperti berubah menjadi kisah buruk hanya dalam hitungan jam.


Rachel kecewa. Enam tahun dia telah memberikan segalanya. Enam tahun dia menunggu Harry dalam diam. Enam tahun dia mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Enam tahun ia memendam semua keluh kesah.


Kini berakhir mengenaskan. Akhir bahagia masih jauh dari anganya. Kehidupan hanya menawarkan kehampaan total dalam hidupnya. Rachel merasa terperosok semakin dalam. Sangat dalam.


Rachel menatap mereka satu per satu dan mengangguk kecil. Dia memahami kondisi ini. Dia ingin bersikap dewasa dan menghadapi dengan berani. Rachel mulai mengumpulkan kekuatan yang masih ia miliki untuk tetap tegar dan kuat. Tetapi Maxen tiba-tiba mengusulkan sesuatu.


"Pernikahan ini sudah di depan mata. Kita tak bisa membatalkan semua ini di detik-detik terakhir. Bagaimana jika aku yang menggantikan posisi Harry. Biarkan aku menikahimu untuk menyelamatkan situasi. Setahun setelah gosip ini reda, mari kita urus perceraian masing-masing."

__ADS_1



__ADS_2