Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
080 - SEASON 2


__ADS_3

Daniel diantar oleh William ke ruang keluarga. Dia melihat dua orang wanita dengan penampilan berantakan seperti buronan yang baru saja dikejar polisi.


Alice dan Jasmine penuh keringat, memakai tank top dan celana pendek yang melekat erat di tubuh bak kulit kedua.


Penampilan Jasmine lebih baik. Dia tidak sekacau Alice. Wanita itu cukup tenang, menyeruput air putih dari gelas kristal besar di depannya. Nafasnya juga cukup teratur. Kelihatannya Jasmine terbiasa melakukan olah fisik sebelumnya.


Yang paling mengenaskan adalah Alice. William yang melihatnya hanya bisa mengernyit kecil dan berlalu pergi.


Alice seperti korban perang. Nafasnya kembang kempis seperti orang sekarat, wajahnya sedikit pucat penuh keringat dan rambutnya sama berantakannya dengan Daniel. Mata Alice memerah dan menatap Daniel dengan pandangan lucu.


"Kau baru saja melarikan diri dari malaikat maut?" Daniel bertanya ringan dan menjatuhkan diri di sisi Alice, berhadap-hadapan dengan Jasmine secara langsung. Mereka saling melirik sejenak sebelum akhirnya sama-sama membuang muka.


"Aku ... huh … baru saja …. hah …. melakukan … latihan fisik." Alice menyambar remote AC di depannya dan mengatur suhu sedemikian rupa sehingga ruangan terasa lebih sejuk.


"Latihan fisik? Kudengar dari William kau juga latihan menembak? Kau yakin, Alice? Aku ingat dulu bahkan memasukkan bola basket ke ring saja kau tak bisa." Daniel bertanya heran. Merupakan sebuah musibah jika Alice bisa menembak tetapi tidak bisa memfokuskan target. Sekali praktik, yang ada dia hanya akan mengorbankan orang lain.


"Aku tidak seburuk itu. Kau terlalu … huh … meremehkanku."Alice merasa tak terima. Diam-diam dia melirik ke arah Jasmine yang sedang menahan tawa.


Jasmine, orang yang paling tahu bagaimana kacaunya Alice dalam membidik sesuatu. Jika targetnya berada persis di depannya, Alice bisa membidik orang yang jauh di belakang punggungnya sendiri. Entah dari mana dia mewarisi keahlian menembak yang sangat kacau.


"Oh ya? Jika begitu, boleh aku melihatmu latihan menembak? Aki juga bisa menembak, ngomong-ngomong. Mungkin kita bisa berdiskusi bersama." Daniel menawarkan diri.


Alice melotot tak percaya. "Jangan!"


"Kenapa?" Daniel tertawa terbahak-bahak, dia bisa membayangkan betapa kacaunya Alice dalam membidik sasaran.


"Tak sopan melihat wanita menembak. Kau tak tahu moral, ya?" Alice masih melotot, merasa tak terima ditertawakan.


"Bilang saja keahlianmu memang sangat kacau, Alice. Hahaha." Daniel mengusap wajahnya, menghetikan reaksinya yang berlebihan.


Alice memilih berdiri tiba-tiba dan mencoba beranjak pergi. Semakin lama ia di sini, semakin Daniel akan memperolok-oloknya. Alice tak mau itu terjadi.


Baiklah. Dia memang tak bisa membidik dengan tepat. Memangnya apa salahnya? Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semuanya memiliki sisi lain dan kelemahannya sendiri.


Lagi pula, jika lama-lama berlatih, Alice yakin dia pasti tak akan seburuk itu. Selalu ada peningkatan dalam setiap hal, bukan? Daniel benar-benar keterlaluan.


"Kau mau ke mana? Aku belum mengobrol lama denganmu." Daniel berteriak untuk menghentikan kepergian Alice. Wanita itu hanya menoleh sebentar dan menjawabnya singkat.


"Mandi. Aku akan turun lagi setelah ini."


Kini, ia dan Jasmine ditinggalkan berdua. Tak ada siapa pun lagi di ruangan ini selain mereka.


Tiba-tiba suasana jadi hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Suasana yang tadinya semarak jadi terasa canggung. Daniel menatap Jasmine sekilas dan menangkap dengan sudut mata, wanita itu memakai tank top hitam dengan belahan dada mengundang dan celana training hitam yang menbalut pinggul rampingnya yang indah. Keringat membuat bahan tipis itu kian tercetak jelas di tubuh Jasmine.


Tato kalajengking di atas dadanya terlihat semakin menggoda. Kulit Jasmine sedikit berkilat karena keringat. Rambut pirangnya yang pendek dikuncir tunggal membentuk ekor kuda. Leher jenjangnya jadi semakin terekspos.


Daniel menahan napas. Dia ke sini dengan tujuan utama untuk melihat Jasmine dan ingin menbuktikan bahwa Jasmine tak lebih baik dari pada bayangan dan angan-angannya.


Namun, kenapa detak jantungnya justru semakin meningkat setiap kali melihat wanita itu berada dalam jarak jangkauan? Mungkinkah benar dugaannya, otak Daniel mulai tak beres?


"Ada apa denganmu? Kau ingin memojokkanku lagi?" Jasmine bertanya sarkatis melihat raut muka Daniel yang tak menyenangkan.


Setelah kepergian Alice dari mereka, Daniel terlihat membisu dan sibuk berpikir sesuatu. Jasmine sebenarnya tak peduli, tetapi melihat lirikan Daniel yang penuh penghakiman padanya membuat Jasmine bereaksi juga.


Padahal jika dipikir-pikir, selama ini Jasmine selalu tidak bereaksi setiap kali ada lelaki yang memandangnya rendah. Entah kenapa kali ini reaksi itu muncul secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Untuk apa? Tanpa kupojokkan pun kau sudah cukup terpojok. Aku tak tertarik berkomentar jauh tentangmu." Daniel mencoba mengelak. Dia mengambil kudapan yang ada di meja ruang tengah dan menghabiskannya dalam beberapa kali gigitan.


"Biasanya lelaki adalah orang yang cukup munafik. Mereka berkata rendah pada jenis wanita tertentu, tetapi nyatanya saat mereka ditawari secara langsung, tetap saja menikmatinya." Kata-kata Jasmine cukup tajam juga. Nadanya penuh penghakiman.


Jasmine sudah terbiasa melihat jenis lelaki yang seperti itu. Di media, mereka sesumbar akan melawan pelacúran dan banyak tempat hiburan malam yang menawarkan kebobrokan moral.


Nyatanya, saat disediakan wanita seperti itu secara cuma-cuma, toh mereka menerimanya juga. Mulut mereka hanya sesumbar di depan, tetapi tak pernah konsisten dengan apa yang mereka katakan.


Jasmine sudah tidak heran lagi. Banyak orang yang sok susi dalam menegakkan aturan masyarakat kemudian ditentang dan dilanggar oleh dirinya sendiri secara senbunyi-senbunyi.


Kenikmatan duniawi memang menggoda. Jarang lelaki bisa kuat menghadapinya. Yang ada, mereka hanya kucing-kucingan dalam memainkan permainan seperti ini.


"Kau pikir, aku jenis lelaki yang seperti itu?" Daniel bertanya dengan sinis. Dia tak terlalu suka dibandingkan dengan lelaki dangkal seperti itu, meskipun jika mau diakui lebih dalam dia memiliki reaksi asing tersendiri saat melihat Jasmine.


Namun, sebesar apa pun reaksi tersebut, mustahil bagi Daniel untuk mengakuinya secara langsung. Mana mau lelaki seperti dia tunduk pada wanita seperti Jasmine? Sangat lucu.


"Memangnya, kau sendiri jenis wanita seperti apa? Kudengar dari Alice kau tak tertarik dengan wanita sampai sekarang. Mungkin, kau perlu mencoba hal yang baru, Daniel. Mencoba jenis wanita dari kalangan lain. Siapa tahu seleramu mengalami pergeseran." Jasmine berkata sinis, tak peduli jika kata-katanya akan menyinggung


Daniel secara telak.


Mata Daniel terlihat menyala-nyala, menunjukkan rasa tak suka secara nyata. Apa yang dikatakan Jasmine merupakan sindiran secara langsung.


Wajah Daniel menggelap secepat kilat. Wajahnya yang kuyu karena kurang istirahat, ditambah kemarahan yang dipancing Jasmine, membuatnya tampak menakutkan.


"Mulutmu terlalu licin dalam berbicara, Jasmine." Daniel menanggapi dengan dingin.


Jasmine seolah tak peduli. Dia mengambil rokok dari atas meja dan menghidupkannya secara perlahan.


Rokok adalah kesukaannya. Benda laknat ini selalu bisa membuat Jasmine berpikir lebih jernih saat ia menyesapnya.


"Apa kau tersinggung dengan kata-kataku? Kupikir lelaki sepertimu sudah sering mendapat kata-kata kotor seperti tadi." Jasmine mengangkat kedua bahunya dengan ringan, tak ingin mengambil pusing atas tanggapan tajam dari Daniel.


"Aku jadi khawatir kau membawa pengaruh buruk bagi Alice." Daniel bersandar ke belakang, bertopang dagu dan menatap Jasmine penuh penialian.


"Sudah terlambat untuk mengkhawatirkan hal yang telah berjalan, Daniel. Lagi pula, Alice susah dewasa. Dia akan bisa memilah-milah sendiri setiap hal yang ada di sekitarnya. Selain itu, Klayver telah mempercayakam Alice padaku. Jadi, dia pasti tahu semua manfaat dan resikonya."


Jasmine mengungkapkan pikirannya. Klayver sendiri yang datang padanya secara suka rela, membayarnya, dan menempatkannya bersama Alice.


Lebih dari Daniel, Klayver adalah lelaki yang telah mengetahui semua seluk beluk tentang Jasmine secara luar dalam. Jika ia memang meminta Jasmine berada di dekat Alice, artinya dengan semua pertimbangan yang ada, Klayver telah siap pada semua resiko.


Bahaya yang mengancam Alice lebih besar dari pada sekadar moralitas Jasmine yang dikhawatirkan bisa mengontaminasi Alice.


Daniel terdiam lama. Dalam hati, dia membenarkan juga penjelasan dari Jasmine. Klayver merupakan orang yang sangat cermat. Mustahil dia mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan semua sisi.


Jasmine merasa gerah dan beranjak berdiri dari duduknya. Alice telah mandi sejak seperempat jam yang lalu. Mungkin ada baiknya jika Jasmine mengikuti tindakan Alice juga. Tubuhnya perlu guyuran air segar untuk mengurangi rasa lelahnya setelah seharian berolah fisik.


Melihat kepergian Jasmine, Daniel merasa terganggu. Dia menatap punggung wanita itu dan ikut berdiri.


"Kau mau ke mana?" tanyanya otomatis.


"Mandi." Jasmine menjawab tanpa menoleh sama sekali.


Entah apa yang telah mendorong Daniel bertindak, dia menyusul Jasmine dalam langkah-langkah lebar hingga persis berada di belakang wanita itu.


Insting Jasmine yang tinggi sanggup merasakan gerakan tiba-tiba di belakangnya. Dia membalikkan badan secepat kilat dan membulatkan mata terkejut melihat ekspresi Daniel.

__ADS_1


Belum sempat hilang keterkejutan yang Jasmine rasakan, Daniel telah menutup semua pertanyaan tanpa kata yang belum sempat Jasmine lontarkan dengan sebuah ciuman hangat di bibirnya.


Tangan Daniel menahan tengkuk Jasmine dengan cukup kuat, membuat Jasmine tertahan cukup lama. Tangan satunya lagi Daniel gunakan untuk mendongakkan wajah Jasmine menghadap ke arahnya.


Ciuman itu awalnya hanya sekadar coba-coba. Sebuah tindakan asal yang Daniel niatkan untuk mengetes seberapa besar reaksi tubuhnya sendiri terhadap sentuhan wanita itu.


Sesuatu yang diniatkan coba-coba menjadi sesuatu yang lebih besar lagi. Tanpa diduga, bibir Jasmine merekah bak kuntum mawar, memilih menanggapi dengan manis secara otomatis. Seperti mendapat jalan, Daniel menyusupkan bibirnya lebih dalam untuk menyapa setiap sisi mulut Jasmine sejauh yang diijinkan wanita itu.


Daniel memejamkan matanya, merasakan api yang selama ini ia bayangkan dalam pikirannya setiap kali teringat Jasmine, kini semakin membesar dengan kecepatan yang luar biasa.


Seperti kayu kering yang terkena api. Hasrat itu lebih kuat dari apa pun juga. Lebih kuat dari saat ia menyentuh wanita lain selama ini.


Ini sedikit tak masuk akal. Tetapi Daniel tak akan memikirkan semua itu sekarang. Nanti, akan ada waktunya sendiri untuk merenungkan semua itu. Yang jelas saat ini ia hanya ingin mengambil apa yang bisa ia ambil. Merasakan apa yang bisa ia rasakan. Mencecap apa yang ingin ia cecap. Menikmati apa yang bisa ia nikmati.


Tangan kekar Daniel merengkuh pinggul Jasmine, menarik wanita itu semakin mendekat. Jasmine melakukan apa yang diharapkan Daniel. Dia semakin mendongak dan menerima lebih dari Daniel.


Tangan Daniel yang kiri naik ke atas, mengusap lembut leher wanita yang kini berada dalam rengkuhannya. Jasmine mendesah kecil, merasa lemah dan siap jatuh kapan saja. Saat Daniel akan mengeksplorasi lebih, sesuatu menghalanginya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Suara Alice yang sangat familier tiba-tiba menghentikan momen yang mereka miliki.


Daniel dan Jasmine saling melepaskan diri. Mereka saling bertatapan untuk sejenak kemudian menoleh ke arah Alice secara bersamaan.


"Bukan apa-apa," jawab mereka serentak.


Alice mengamati mereka secara bergantian dan menatap tak percaya. Alice telah berganti baju mengenakan piyama katun lembut tanpa motif. Rambutnya terlihat masih basah dengan titik-titik air yang menetes berjatuhan ke lantai.


"Bibir bertemu dengan bibir antara dua orang dewasa itu bukan sesuatu yang bukan apa-apa. Tidak ada kesengajaan seperti itu." Alice melirik penuh arti pada mereka, merasa memiliki kesempatan untuk menggoda.


"Alice, bukan itu yang terjadi." Daniel mencoba mengelak.


"Memangnya ciuman harus memiliki arti ya. Ngomong-ngomong, kau harus membayarku dengan tarif tinggi karena menyentuhku secara tiba-tiba." Jasmine berkata sinis, menatap ke arah Daniel secara terang-terangan. Tidak ada sandiwara lagi di antara mereka di hadapan Alice.


Daniel menyipitkan matanya untuk sejenak. Dia mendengus kecil, merendahkan Jasmine yang berkata seterus terang itu.


"Berapa yang kau mau?"


"Berapa yang sanggup kau bayar?" Jasmine berbalik menyerang dengan pertanyaan serupa.


"Kau suka mempermainkan laki-laki."


"Bukan aku yang mempermainkan. Kau dulu yang menyerangku dan mengambil sesuatu dariku. Karena aku adalah pebisnis sejati, jadi kau tidak bisa mengambil sesuatu tanpa membayar."


Dengan amarah yang meluap-luap, Daniel mengambil dompet dari saku belakang celana dan mengambil berlembar-lembar uang ratusan dollar. Dia menyerahkannya pada Jasmine tanpa kata yang segera diterima dengan cepat.


"Lain kali, Mr. Stranger, kau harus mendiskusikan dulu tarifnya baru memakai."


Jasmine berlalu pergi meninggalkan Alice yang terbelalak tak percaya. Dia menatap Daniel dengan tatapan bertanya yang terlihat jelas.


"Bisa kau jelaskan ada apa ini?"


"Alice, kau hidup satu rumah dengan pelacúr."


Daniel berlalu pergi meninggalkan Alice seorang diri. Sepeninggal mereka berdua, Alice terduduk di kursi ruang tengah dengan wajah kebingungan.


Drama apa lagi ini?

__ADS_1



__ADS_2