Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
161 - SEASON 2


__ADS_3

Musim semi adalah musim yang terbaik untuk melahirkan. Beberapa bulan setelah kematian James, Alice dan Violin kini berhasil menata hidup dengan lebih baik. Klayver masih menemani Alice dengan insentif seperti yang pernah ia janjikan sebelumnya.


Saat tiba hari kelahiran anak mereka, Alice dibawa ke rumah sakit terdekat. Dia mengalami kontraksi dua minggu lebih awal dari perkiraan melahirkan. Klayver yang saat itu sedang sibuk mempersiapkan kamar anak mereka, ikut terkejut dan tak menyangka. Bahkan Helena dan Caterine jadi histeris sendiri. Bayangkan saja, Alice yang sedang sibuk meneliti laporan bulanan perusahaan, tiba-tiba berteriak kesakitan dan memanggil Klayver untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Suasana rumah jadi kalang kabut. Beruntung Axel sedang di sekolah. Anak itu bisa Alice titipkan dulu kepada Rachel setelah ia pulang nanti. Dengan begini, Alice merasa tidak mengabaikan Axel.


Seperti orang yang kesetanan, klayver mengendarai mobil menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia menoleh ke arah istrinya dan memastikan Alice baik-baik saja.


"Kau baik-baik saja?"


Di tengah kontraksinya, Alice ingin tertawa mendengar pertanyaan ini. Klayver sudah melemparkan pertanyaan ini sebelas kali dalam dua puluh menit terakhir.


"Aku hanya ingin melahirkan. Aaghhh!" Alice merasa kontraksinya semakin sering.


Sepertinya proses kontraksi anak ini lebih cepat dari pada Axel dulu. Mungkin karena ini bukan anak pertama, jadi kontraksinya lebih cepat dan berkembang dengan lancar.


"Kau berteriak. Kau kesakitan!" Klayver menatap istrinya dengan penuh rasa khawatir. Beberapa kali Kalyver hampir menabrak ujung mobil lainnya karena fokusnya sepenuhnya ia berikan pada Alice yang berada di sebelahnya.


"Memang beginilah prosesnya. Huh … Huh … Huh …." Alice mencoba mengatur nafas seperti yang pernah ia pelajari dalam kelas ibu hamil.


Alice perlu menenangkan diri. Segalanya akan baik-baik saja selama Alice bisa mengontrol keadaan. Anak ini sepertinya ingin segera keluar, menyambut dunia yang penuh warna.


"Ya Tuhan. Kau tak mengatakan padaku prosesnya akan sesakit itu!" Kalyver menekan klakson mobil, merasa kesal dengan mobil yang berjalan lambat di depannya. Dalam situasi seperti ini, kemarahan Klayver mudah sekali terpancing. Alice bersyukur saat ini hanya ada dirinya dan Klayver. Jika ada Helena atau William, bisa jadi kedua orang itu menjadi pelampiasan rasa kesal Klayver yang tak berdasar.


"Di mana-mana proses melahirkan itu sakit. Kau tak per—"


Alice menghentikan kalimatnya dan memejamkan mata dengan kuat. Kontraksinya datang lagi. Dia meremas jari-jenarinya sendiri dan menahan rasa sakit yang mulai datang kepadanya secara periodik.


"Ya Tuhan … Ya Tuhan … Jika aku tahu akan sesakit ini perjuanganmu dalam melahirkan, seharusnya aku membujukmu untuk mengambil proses caesar saja. Setidaknya kau tak perlu menanggung kesakitan sebesar ini." Tampak penyesalan di raut wajah Klayver. Dia menggeleng lemah, ingin menyalahkan diri sendiri.


"Klyaver … aahh … bisakah kau fokus menyetir saja dan berhenti … aaahh … mengasihaniku? Aku akan baik-baik saja!"


Alice meremas jok mobil yang ia duduki dan betingsut beberapa kali karena rasa tak nyaman yang ia rasakan. Dia tak ingin menambah kepanikan Klayver lebih besar lagi. Suaminya itu harus mulai menutup mulut dari sekarang jika tak mau Alice mulai merasa kesal sendiri.


Setengah mati Klayver berusaha menahan diri dan tidak mengeluarkan pertanyaan lagi. Tetapi wajahnya jadi terlihat semakin kacau. Dia menyugar rambutnya beberapa kali dan memukul kemudi mobil saat lalu lintas yang ia lalui semakin padat. Jarak ke rumah sakit yang biasanya dekat, entah kenapa saat ini terasa lama dan sulit. Benar-benar seperti sinetron. Setiap hal genting disorot dengan sangat akurat dan diberi efek slow motion.



Seorang bayi perempuan cantik lahir tiga setengah jam kemudian dengan mata cantik berwarna emas dan rambut merah seperti Alice.


Liiney Vaquez.


Itu adalah nama yang disematkan Klayver pada bayi cantik miliknya. Bayi itu tertidur nyaman di ruang anak yang tak jauh dari kamar rawat Alice.


Alice tersenyum kecil setiap kali mendengar suara bayinya menangis dengan suara keras. Bibirnya membentuk huruf O dan berkerut-kerut kesal setiap kali Alice terlambat menberinya ASI. Proses lahiran Alice kali ini lebih baik dari pada sebelumnya. ASI-nya langsung keluar tanpa harus menunggu berhari-hari lamanya. Dengan begitu, Alice tak perlu repot memberinya susu formula.


Klayver saat ini sedang mencoba menggendong Liiney dengan gerakan sedikit canggung. Dia baru saja mengambil bayi itu di ruang sebelah.


Senyum Klayver terukir dengan sempurna. Dia sangat memuja makhluk kecil pemarah yang saat ini didekap erat bersama selimut hangat berwarna pink.


Mata Klayver selalu menyipit tak suka setiap kali melihat selimut warna pink yang diberikan oleh salah seorang perawat rumah sakit untuk bayi mereka. Menurut Klayver, warna itu adalah warna yang sangat tidak cocok untuk keluarga mereka. Alice hanya terkekeh kecil menanggapi suaminya yang mulai bersikap tak masuk akal.


"Memangnya warna yang cocok untuk keluarga kita apa? Hitam?" tanya Alice tak mengerti dengan hal-hal remeh temeh yang coba Klayver suarakan.


"Tidak harus hitam. Biru, mungkin. Atau hijau. Setidaknya jangan pink. Ini benar-benar sangat tidak cocok." Klayver mengangkat bahu, merasa andai Liiney bisa berbicara, bayi ini pasti akan menyuarakan protes juga.


"Dasar lelaki!" Alice menggeleng kecil. Dia duduk dengan pelan dan memberi isyarat agar Klayver mendekat sehingga Alice bisa melihat bayinya.


"Alice!"

__ADS_1


Ruang rawat kamar Alice terbuka dengan tiba-tiba. Di baliknya, terlihat Rachel dan Maxen datang berkunjung dengan membawa sebuket bunga dan parcel buah-buahan.


"Hai, Rachel. Kemarilah!" Alice mengangguk, memberi ijin kepada dua orang tersebut untuk mendekat.


"Kudengar kau melahirkan. William mengabariku dua jam yang lalu. Oh, ini benar-benar mengejutkan. Kupikir bayi itu akan lahir dua mingu lagi dari sekarang!" Rachel menatap bayi mungil yang masih berbaring nyaman dalam pelukan Klayver. Bayi itu sekarang sedang membuka mata, memamerkan matanya yang berwarna emas. Wajahnya menunjukkan kecantikan murni. Tak diragukan lagi, jika besar nanti Liiney pasti akan menjadi wanita penakluk laki-laki. Rachel berani bertaruh ini.


"Wow! Menakjubkan." Rachel berkata kagum. Dia benar-benat jatuh cinta dengan bayi Alice. Sangat mempesona dan menunjukkan keistimewaan.


Baru saja Rachel memuji bayi itu, Liiney kemudian bergerak-gerak gelisah dan mencebik-cebikkan mulutnya dengan kesal. Dia seperti memuntut jatah ASI-nya lagi. Padahal, baru beberapa saat lalu Alice memberinya minum.


"Oh, dia benar-benar pemarah. Bayi yang memiliki karakter cukup unik, kurasa." Rachel berkomentar, merasa kagum oleh bayi milik Alice yang unik.


Klayver segera menyerahkan Liiney kepada Alice dan membiarkan Alice memberi apa yang Liiney inginkan. Kelihatannya bayi itu cukup serakah. Dia langsung mencari sumber makanannya dengan cepat dan menghisapnya keras. Seperti Liiney telah lama tidak mendapatkan ASI saja.


Maxen yang merasa tak nyaman memilih keluar dari kamar Alice dan menunggunya di luar. Hubungan Maxen dan Alice sudah semakin membaik. Tetapi meski begitu, ada rasa sungkan yang sering kali hadir di antara mereka setiap kali mereka bersama.


Rachel yang menyadari ini mencoba untuk tidak berkomentar. Hubungan mereka membaik dan tak saling memojokkan satu sama lain saja sudah merupakan perkembangan yang ia syukuri. Rachel tak bisa meminta hal lebih lagi. Kehidupan Rachel telah sempurna. Dia memiliki suami seluar biasa Maxen, teman baik seperti Alice, dan calon anaknya yang mungkin empat setengah bulan lagi akan hadir ke dunia ini. Benar-benar hidup yang sempurna. Tuhan telah memberikan karunia yang besar kepada Rachel. Dia tentu tak ingin menyia-nyiakan semua ini.


"Bagaimana kabarmu dan janinmu, Rachel? Kira-kira, kapan kau akan melahirkan?" tanya Alice menatap perut Rachel yang terlihat sangat membuncit.


"Kemungkinan di musim panas nanti. Bayiku kembar kata dokter, sepertinya ini merupakan kejutan yang cukup baik juga untuk aku dan Maxen." Rachel tersenyum kecil, mengingat reaksi pertama Maxen ketika tahu istrinya ternyata sedang mengandung bayi kembar.


"Wow! Itu hebat. Perkiraan dokter lelaki atau perempuan?" tanya Alice merasa sangat terkejut.


Pantas saja Rachel terlihat lebih berisi dengan perut yang membuncit di atas rata-rata kehamilan normal. Ternyata dia tengah mengandung bayi kembar. Alice ikut merasa senang mendengar kenyataan ini.


"Lelaki. Lelaki. Dan perempuan." Senyum Rachel semakin cerah.


"Apa? Kembar tiga? Yang benar saja kau?!" Alice bertanya dengan suara yang cukup lantang. Klayver yang berada tak jauh dari mereka berdaham beberapa kali, mengingatkan Alice agar memgontrol suaranya.


Dengan malu, Alice tersenyum kecil kepada Klayver, mengirimkan tatapan meminta maaf.


Kembar tiga adalah kasus yang langka. Alice memahami itu. Tak mudah untuk mengurus anak secara mandiri. Apalagi kembar tiga. Mereka pasti akan tumbuh menjadi makhluk mungil yang penuh rasa ingin tahu dan melakukan banyak hal-hal di luar kontrol. Satu-satunya cara untuk menahan dan mengendalikan sikap mereka adalah mencari pengasuh yang kompeten dan menjanjikan pengasuh itu pendapatan yang stabil.


Tetapi ketika mereka sudah besar nanti dan mudah diberi arahan dan masukan oleh lingkungan sekeliling, pasti akan lebih ringan dalam mengurusnya. Alice hanya berharap Rachel tidak mengalami stress sejak dini.


"Kau sungguh beruntung memiliki bayi kembar nantinya. Sebenarnya, membayangkan itu aku juga ingin." Alice tersenyum kecil. Alice adalah pribadi yang sangat suka dengan anak-anak. Membayangkan ia memiliki bayi-bayi mungil dalam waktu bersamaan membuatnya bahagia dan merasa senang. Bagi Alice, anak adalah penyemangat utama setelah suami.


"Kalau begitu, kau bisa mencoba untuk memiliki bayi lagi setelah putrimu ini nanti berusia dua atau tiga tahun. Atau kau bisa langsung mengikuti program jika mau, melalui dokter kandungan!" Rachel mencoba menyarankan.


Belum sempat Alice membalas apa yang disampaikan Rachel, suara Klayver sudah mendahuluinya. Nadanya terdengar tak suka dan tak ingin dibantah.


"Tidak akan ada anak lagi!" tolaknya keras kepala.


Baik Racel dan Alice menoleh ke arah lelaki itu dan menyipitkan mata tak mengerti.


"Kenapa?" tanya Alice dan Rachel bersamaan.


"Karena aku tak sanggup melihatmu kesakitan melahirkan lagi!"



Pagi ini Jasmine duduk di ruang makan di rumah Daniel yang berada di Washington. Setelah pernikahan mereka, Jasmine bertekad akan hidup di Washington. Dia ingin tinggal di daerah yang sudah lama ia tempati ini.


Sungguh mengejutkan Daniel menerima keputusan itu dengan baik. Sebagai seorang pasangan yang menikah karena terdesak keadaan, Daniel bersikap sangat lembut dan pengertian kepada Jasmine. Apalagi akhir-akhir ini saat kehamilan Jasmine kian membesar.


Bayinya sudah bergerak aktif di dalam perutnya dan menendang ke sana ke mari. Jasmine ingat, Daniel akan selalu memuja bayi ini kapan pun ia merasakan gerakan dan tendangan dari anak mereka. Lelaki itu ternyata memiliki sisi lain yang tak Jasmine ketahui sebelumnya. Satu demi satu karakter Daniel mulai tersingkap. Menunjukkan kebaikan-kebaikan yang lelaki tersebut miliki dan selama ini tertutupi oleh banyak hal.

__ADS_1


Mereka hidup dalam ikatan pernikahan ini dua bulan lamanya. Dua bulan yang terasa seperti telah bertahun-tahun Jasmine jalani. Terasa nyaman dan damai.


Setelah Jasmine melakukan tes DNA dan membuktikan bahwa anak ini benar-benar merupakan anak Daniel, mereka kemudian mengurus banyak hal lain untuk melengkapi syarat pernikahan. Tadinya Jasmine berpikir pernikahan ini tak akan berhasil. Tetapi semakin ke sini Jasmine semakin memikirkan ulang keraguannya sendiri.


Kehidupan Jasmine dan Daniel berajalan dengan sangat baik. Mereka saling melakukan penyesuaian-penyesuaian karakter dan membentuk kesepakatan tak terucapkan untuk menghargai satu sama lain.


Selain itu, kehidupan mereka di ranjang juga baik. Daniel selalu menyentuh Jasmine dengan lembut dan menghargai wanita itu setiap kali mereka bersama. Dengan kata lain, seharusnya Jasmine tak lagi memiliki daftar keluhan hidup.


Bisnis Jasmine masih berjalan. Tetapi ia sudah tidak menerjunkan diri sendiri dalam kesepakatan rendah. Entah kenapa, semenjak ia menikah dengan Daniel, ada sebuah hasrat darinya untuk memberikan seluruh raganya hanya pada Daniel. Semua itu berjalan begitu alami dan mengalir. Baik Daniel maupun Rachel, keduanya saling berkontribusi memberikan yang terbaik sesuai dengan apa yang mereka bisa.


Inilah pertama kalinya Jasmine merasa memiliki kehidupan normal. Pernikahnnya kali ini lebih baik puluhan kali lipat dari pada pernikahan Jasmine sebelumnya bersama Jack. Daniel bukanlah lelaki manipulatif seperti Jack. Lelaki itu cukup komitmen dengan apa yang ia katakan. Daniel ternyata juga bukan orang yang kejam. Dia tidak pernah mengasari Jasmine dalam bentuk fisik secara langsung.


"Jasmine!" Suara Daniel terdengar dari ruang tengah. Jasmine segera menghabiskan susu ibu hamilnya dan bergegas mendekat ke arah sumber suara.


"Kupikir kau sudah berangkat kerja, Daniel!" Jasmine berjalan mendekat ke arah Daniel yang saat ini berdiri di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan ruang makan.


Demi mengikuti kemauan Jasmine, Daniel memindahkan kantor utama tempatnya bekerja ke Washington. Daniel melakukan ini sehingga ia tak perlu menghabiskan banyak waktu setiap kali ingin bekerja mengurus perusahannya.


"Tadinya. Tetapi aku baru saja mendapat telepon dari Manhattan. William menghubungiku, mengatakan Alice kemarin telah melahirkan seorang putri." Daniel tersenyum krecil, menyampaikam kabar bahagia ini kepada istrinya.


"Oh. Melahirkan? Bukankah sebarusnya dua minggu lagi dari sekarang?" Jasmine terkejut. Dia berjalan mendekat ke arah suaminya dan menatap serius kedua manik mata Daniel.


"Bayi memiliki keinginannya sendiri untuk menentukan kapan ia ingin melihat dunia!" Daniel berkata dengan sabar. Dia berjalan dengan pelan kepada Jasmine dan mengusap lembut perut istrinya.


Ada getaran familier setiap kali mereka bersentuhan. Jasmine menatap Daniel dengan matanya yang membulat penuh dan menampakkan harapan.


"Anak kita pun juga sama. Mungkin saatnya nanti ia lahir, bisa jadi ia akan memilih waktunya sendiri." Daniel meraih kedua tangan Jasmine dengan lembut dan mengecup ujung-ujung jemarinya.


"Kapan kita akan ke Manhattan?" tanya Jasmine kemudian. Wanita itu menelan ludah mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya sendiri.


"Bagaimana jika besok?" Daniel menyarankan.


"Boleh. Aku sudah rindu dengan Alice." Jasmine mengangguk, menyetujui.


"Bagus. Aku akan mengurus perjalanan kita. Aku harus pergi bekerja. Kutinggal dulu, ya!" pamit Daniel kemudian.


Saat Daniel akan berbalik pergi, Jasmine memanggil suaminya itu kembali. Sinar mata Jasmine berpendar ragu. Jari-jemarinya saling bertaut satu sama lain. Tidak ada kata-kata yang berhasil keluar. Padahal sebelumnya sudah ia rencanakan dengan baik di dalam pikiran.


"Ada apa, Jasmine?" tanya Daniel dengan suara lembut. Suara yang akhir-akhir ini selalu menemani Jasmine di setiap malamnya.


"Aku … kupikir … aku …."


"Ada apa? Ada masalah? Kau mengalami sakit di bagian perutmu?" Daniel bertanya khawatir. Dia mengurungkan kepergiannya dan kembali mendekati istrinya.


"Tidak. Tidak. Aku hanya sekadar ingin tahu …."


"Ya?"


"Seberapa besar aku memiliki arti dalam hidupmu? Dan seberapa besar arti pernikahan ini untukmu?"


Pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal, kini terlepas juga dan bisa Jasmine utarakan. Wanita itu kemudian terdiam lama menatap Daniel, menunggu jawaban apa pun yang nantinya lelaki itu berikan. Jasmine sudah menyerah. Dia ingin kejujuran. Karena hatinya tanpa mau dikendalikan mulai berlabuh pada Daniel. Entah ini sebuah hal yang baik, atau buruk.


"Kau baru bertanya tentang hal ini sekarang, Jasmine? Tidakkah kau mengerti? Untuk apa aku bersikap baik padamu dalam pernikahan ini jika bukan untuk mengambil hatimu secara penuh. Apakah kau tak pernah melihat usahaku dalam hal ini?"


"Jadi …"


"Jadi, aku menyadari aku mulai tertawan olehmu, dan aku bertekad akan membuat hatimu juga tertawan padaku!"

__ADS_1



__ADS_2