
Alice berdiri tegang di lorong rumah sakit. Sudah dua jam Rachel berada di ruang operasi. Hari telah siang saat ini. Menjelang waktu makan siang.
Keadan Rachel kritis. Peluru yang Klayver tembakkan mengenai janin. Sehingga mau tak mau janinnya harus dikuret. Dokter tidak tahu apakah peluru tersebut merusak rahimnya secara parah atau tidak. Jika kerusakannya berat, kemungkinan rahimnya juga akan diangkat.
Alice berdiri lemah dan memejamkan mata. Semua rencana yang ia lakukan meleset dari perhitungan. Apa yang ia anggap mudah berubah menjadi semakin rumit.
Klayver benar. Dendam adalah lingkaran setan. Sering kali hal tersebut mengambil banyak hal dari orang yang tidak bersalah.
Rachel telah menjadi orang yang menanggung hal tersebut. Dia memutuskan berdiri di antara Alice dan Maxen. Memilih menerima konsekuensi buruk atas permusuhan mereka.
Alice menatap Maxen yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu terlihat lebih kacau sekarang. Matanya menunjukkan kepedihan yang sangat dalam. Tubuh besarnya siap luruh kapan saja. Wajahnya tampak seperti orang yang sekarat.
Setelah kejadian tadi, Alice membuat keputusan besar. Dia memilih melepaskan Maxen saat ini. Bagaimanapun juga, dia terlalu memikirkan Rachel. Temannya membutuhkan Maxen dalam situasi kritis. Alice harus membuat langkah mundur. Saat ini ada baiknya mereka melakukan gencatan senjata. Demi Rachel.
Klayver yang duduk di kursi lorong rumah sakit, menatap keadaan Alice yang memprihatinkan. Dia telah beberapa kali mencoba menghibur, tetapi keadaan Alice tak juga lebih baik.
Terkadang, ada saat-saat di mana lebih baik seorang wanita dibiarkan sendiri. Dilema bersama pikirannya.
Seorang dokter keluar dari ruang operasi. Alice dan Maxen berjalan secepat kilat ke arah beliau. Untuk sejenak mereka melupakan permusuhan lama.
"Bagaiamana, Dok?" tanya Maxen khawatir.
"Terjadi komplikasi saat kami melakukan proses kuret. Rahim Mrs. Millian terluka cukup parah karena tembakan. Kami perlu melakukan histerektomi total. Kami sarankan anda untuk menandatangani surat ijin pengangkatan rahim istri anda agar kondisinya bisa tertolong. Jika tidak, kami khawatir akan terjadi komplikasi yang lebih parah. Tetapi resiko dari langkah ini adalah istri anda tidak akan pernah bisa hamil lagi."
Alice merosot ke lantai. Perkataan dari dokter tersebut seperti putusan hakim yang amat berat. Dia terisak pilu, tak sanggup membayangkan konsekuensi ini.
Isakan Alice terdengar menyayat hati. Klayver segera menopang Alice dan menguatkan dirinya. Lelaki itu merengkuh Alice dalam pelukan yang hangat. Memberikan kelembutan yang tak lagi ditawarkan oleh dunia.
"Lakukan apa pun yang bisa menyelamatkan nyawanya, Dok. Aku akan mengurus prosedur administrasi." Maxen berkata tegas. Dia berjalan mengikuti seorang perawat ke sebuah ruangan untuk melengkapi prosedur rumah sakit.
"Klayver. Bawa aku pulang. Aku tak kuat berada di sini," pinta Alice lemah. Dia hampir tak memiliki usaha sama sekali saat ingin bergerak. Dengan lembut, Klayver menggendong istrinya keluar dari rumah sakit. Wajah Alice pucat pasi. Menyiratkan duka yang mendalam.
…
Sore ini senja tak lagi terasa indah. Semburat cahaya di ufuk barat yang menghias langit terlihat seperti noda darah yang mengerikan. Semua hal yang diciptakan oleh alam bagaikan olok-olok memalukan.
Alice terbaring di ujung ranjang. Wajahnya pucat pasi. Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Bayangan-bayangan saling melintas dalam memori ingatannya.
Rahim Tertembak. Kondisinya kritis, sementara rahimnya harus diangkat. Duka apa lagi yang sanggup dipikul oleh Alice. Dia merasa menjadi orang paling brengsèk sedunia.
Janin Rachel baru saja diambil. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki anak jika rahimnya ikut diangkat secara total.
Sebagai seorang wanita, Alice tahu bagaimana pentingnya sebuah rahim. Tanpanya, pernikahan semegah apa pun akan terasa hambar.
Alice telah sukses menjadi penghancur bagi sahabatnya sendiri. Tak akan mudah baginya bangkit dari trauma mental seperti ini.
Klayver memasuki kamar dan menatap prihatin kondisi Alice. Dia mengetahui dilema moral yang tengah istrinya alami.
Dendam adalah sebuah jalan iblis yang membutuhkan jalan panjang dan pengorbanan besar. Dari awal, Klayver sudah mengatakan dendam membutuhkan konsekuensi luar biasa. Tidak setiap orang mampu menoleransi akibatnya.
__ADS_1
Nyatanya, apa yang Klayver takutkan terjadi juga. Alice terguncang secara batin melihat efek dari dendam yang ia lakukan. Peluru yang seharusnya mereka arahkan kepada Maxen justu diterima oleh Rachel. Kondisi semakin pelik dengan keadaan Rachel yang kritis.
Rasa bersalah pasti tengah menggerogoti Alice dengan cara yang kejam. Hukuman sosial yang paling berat adalah rasa bersalah. Ia akan terus hadir dan menggerogoti nurani dalam waktu lama hingga batin kita lelah sendiri.
Dengan lembut, Klayver merengkuh tubuh istrinya yang masih saja gemetar. Jujur, melihat reaksi tubuh Alice yang seperti ini membuat Klayver ikut tertekan.
"Sudahlah, Alice. Bagaimanapun Rachel sekarang masih hidup. Aku baru saja menghubungi rumah sakit dan katanya kondisi temanmu mulai ada perkembangan." Klayver menepuk bahu Alice, menguatkan.
Alice tersenyum kecil. Berita yang Klayver sampaikan sedikit menenangkan hatinya yang gusar. Ia menyurukkan kepala ke dada suaminya dan mulai menangis sesenggukan.
"Apakah aku terlalu jahat, Klayver? Apakah aku keterlaluan? Demi dendam aku telah menembus semua rintangan yang ada," ucapnya pilu.
Terkadang, Alice merasa nuraninya telah lama tergadai karena keadaan. Dia merasa kehilangan arah dan pegangan hidup.
"Tidak ada orang yang terlalu jahat. Yang ada hanyalah orang yang melewati batas dari ketentuan yang kita punya. Alice, setiap orang memiliki standar nilai buruk yang berbeda. Apa yang menurutmu bajingàn belum tentu bajingàn juga bagiku. Dalam hal ini, kaulah yang telah memliki standar kebaikan tinggi sehingga apa yang kau lakukan dianggap sebagai dosa tak termaafkan. Lepaskan beban itu, Sweet Heart. Hidup akan terus berjalan dengan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Bersikaplah dewasa dan terima semua konsekuensi buruk. Memang begitulah kadang kehidupan berjalan."
Klayver membelai tengkuk Alice, tersenyum lembut. Dia mengalirkan kepercayaan baru. Mata Klayver menyorot hangat, membawa harapan yang dirindukan Alice.
"Tidakkah kau menyesal mengenalku, klayver?" tanya Alice lirih. Klayver pasti tertarik pada Alice karena kebaikan yang dimilikinya. Kini, setelah wanita tersebut menampilkan sisi gelap, mungkinkah Klayver akan menilainya buruk?
"Lihat aku!" Klayver menahan rahang bawah Alice dan membuatnya menghadap ke arah lelaki tersebut.
"Aku tahu, di balik ini," Klayver menunjuk dada Alice. "tersimpan ribuan kebaikan yang terpendam. Dan aku tahu di balik ini," Dia berganti menunjuk dadanya sendiri. "tersimpan kegelapan yang lebih besar." Klayver tersenyum getir.
"Dengan perbandingan tersebut, aku tetaplah lebih buruk darimu, Alice. Seharusnya kau yang berlari menjauh karena bertemu orang sebobrok diriku."
Alice mengusap rahang Klayver lembut dan mengecupnya perlahan. Klayver selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik. Kata-katanya tidak menggurui. Tetapi melaluinya Alice jadi memahami banyak hal yang tadinya terasa abu-abu.
Hati Klayver berbunga mendengarnya. Dia tak pernah mendapatkan pengakuan sedalam ini seumur hidup. Alice adalah wanita pertama yang memilih maju setelah tahu semua kebobrokan yang ia punya.
"Terkadang, cinta memang seperti itu. Membuat sebagian orang buta satu sama lain. Apa yang mereka lihat hanyalah kebaikannya saja. Penilaiannya menjadi bias." Klayver terkekeh kecil, merasa bangga akan sikap terus terang Alice dan memeluknya lebih erat.
Bahkan dalam setiap tragedi, akan selalu ada orang yang berdiri setia untuk kita. Memberikan tangan dan kekuatan tanpa batas untuk kita pinjam.
"Jadi, kau menilaiku sebagai wanita buta?" Alice protes, merasa tak terima. Klayver menanggapinya dengan kekehan kecil. Mereka berdua saling menggoda dengan cara masing-masing.
"Alice," kata Klayver tiba-tiba. Mimik mukanya kembali serius.
Alice menaikkan salah satu alisnya, bertanya tanpa suara.
"Kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan kedepannya kepada Maxen? Tak peduli meskipun kau bermaksud menghabisi seribu orang, aku akan terap berdiri membantumu."
Demi wanita ini, Klayver rela memberikan kesetiannya secara total. Dia tak akan lagi memiliki pendapat selama Alice menginginkan sesuatu. Baginya, Alice telah menjadi kiblat paling kuat.
Alice memejamkan mata, merasa teringat akan sesuatu. Berbulan-bulan yang lalu sebelum ia menikah dengan Klayver, ada sebuah kalimat penting yang permah disampaikan seseorang untuknya.
"Aku dulu pernah bertemu seorang wanita gipsi yang mengaku bisa meramal. Dia mengatakan padaku bahwa setelah aku mengenali musuhku, tidak selamanya dia akan menjadi musuhku. Dia menyarankanku untuk memiliki maaf yang besar agar hidupku tidak merana." Alice berhenti sejenak. Dia mulai berlikir mungkin wanita cenayang itu Benar. Maaf adalah kuncinya. Itulah satu-satunya cara memutus rantai kebencian.
"Aku akan melepaskan Maxen. Dia berhak memiliki kesempatan kedua. Jika aku menginginkan kedamaian, aku harus memaafkannya." Alice berkata mantap. Hari ini ia telah menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan dendam sanggup menghancurkan banyak hal baik. Alice tak ingin hari-harinya dipenuhi kebencian yang seperti itu. Terlalu menakutkan. Dia hanya akan terjun dalam jurang gelap jika terus membawa dendam.
__ADS_1
Klayver tersenyum. Dia menatap bibir sensual istrinya dan mulai menciumnya dengan lembut. Alice selalu sanggup menyuguhkan lebaikan-kebaikan baru. Dia orang yang sejatinya memiliki jiwa luas dan sanggup memberi kata maaf. Pasti tak mudah untuknya. Tetapi istrinya telah melakukan hal yang menurut Klayver paling baik.
"Kau mengagumkan. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu jika sikapmu semakin menyerupai malaikat setiap harinya?" Klayver tersenyum lembut, mengusap tengkuk Alice penuh arti.
Alice menunduk dalam. Dia teringat kembali kata-kata sang cenayang. Dia telah ditakdirkan akan melewati empat perkawinan. Jika ke empatnya ini gagal, Alice tak akan pernah menemui pernikahan lagi. Tetapi jika ia cukup cerdas, ia akan menjadikan yang ke empat adalah surga baginya.
Mungkinkah perkataan tersebut merupakan sebuah kebenaran? Jika ya, maka Alice harus berusaha mempertahankan pernikahan ini. Tak peduli apa pun yang terjadi.
"Ada apa, Alice?" tanya Klayver khawatir.
"Tidak. Aku hanya … merasa beruntung menemukanmu," sahut Alice jujur. Mereka saling bertatapan penuh arti. Klayver menyentuh pinggang Alice lembut, mulai menyusuri kulitnya yang sehalus beludru.
"Aku lebih beruntung lagi."
"Aku serius, Klayver. Jangan menggodaku dulu." Alice memukul sebelah tangan Klayver yang mulai merangkak naik dari pinggang Alice. Klayver tertawa kecil dan mulai menampilkan wajahnya yang serius.
"Ngomong-ngomong, besok Mom dan Dad akan berkunjung kemari. Katanya mereka memiliki bisnis di Manhattan jadi memutuskan untuk menginap di sini selama dua hari."
Alice tak bisa berkata apa-apa. Dia melingo tak percaya dan membuka mulutnya seperti orang bodoh. Siapa yang tidak syok mendengar berita seperti ini.
Mertua Alice adalah mertua yang unik. Terutama Violin. Alice tak yakin sanggup menyambut mereka dengan baik. Banyak kekhawatiran mulai terbentuk di kepalanya.
"Jangan syok seperti itu, Alice. Mom berjanji akan bersikap baik. Terutama di depan Axel. Oh kau belum tahu ya. Hubunganku dengan Axel menjadi lebih baik akhir-akhir ini. Tahukah kau kemarin kami bermain game online bersama?"Klayver menyampaikan sesuatu. Alice dibuat syok berkali-kali dengan pengakuan suaminya.
Alice mulai membayangakn Klayver duduk diam menghadap sebuah ponsel dengan putranya di samping Klayver. Mereka melakukan permainan game seperti orang normal pada umumnya. Semua itu sedikit … tidak biasa.
"Game apa yang kalian mainkan?" tanya Alice penasaran.
"Membunuh musuh dalam perang dengan metode-metode unik. Misal, Axel memakai senjata tumpul atau bahkan batu ukuran kecil. Tapi dia cukup hebat menyerang di titik vital."
Alice menelan ludah dengan susah payah. Seharusnya dia sudah bisa menebak selera Klayver. Proses pendekatan suami dan putranya justru membuat Alice tambah khawatir saja.
"Klayver, carilah game yang normal. Misal tentang kelinci lucu, atau sebagainya. Bagaimana pun juga, Axel masih berusia lima tahun."
Lima tahun, Ya Tuhan. Dan Klayver telah memperkenalkan putranya dengan game membunuh orang. Yang benar saja.
"Baikah. Besok aku akan mencari game tentang cara-cara menghabisi binatang dengan tangan kosong."
Alice memutar bola matanya, semakin tak mengerti. Dia memukul bahu Klayver dan membentak, "Jangan racuni pikiran anakku dengan metode pembunuhan, Klayver! Carikan saja permainan lain yang lebih aman."
"Memangnya kau ingin anakmu bermain gaun dan rumah-rumahan? Aku tak keberatan membelikannya boneka barbie jika ia mau." Klayver kembali menggoda Alice. Melihat tawa dan keceriannya, telah membuat Klayver merasa lega. Setidaknya, wanita tersebut tidak terlalu tenggelam dalam kepedihan yang panjang.
"Klayver, jadilah lelaki normal di depan putraku!" pinta Alice setengah putus asa. Klayver terkekeh geli, semakin menyukai sisi Alice yang mudah tergoda.
…
nb:
Tentang teori rahim yang diangkat dalam dunia medis karena penambakan, itu murni imajinasiku saja ya, Kawan. Jadi jika itu bertentangan dengan teori medis yang ada, saya minta maaf sebesar-besarnya.
__ADS_1
Salam sahur bagi yang menjalankan ibadah puasa 😘😘😘