Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
061 - SEASON 2


__ADS_3

Alice kembali dengan emosi yang tidak terkontrol. Pertemuannya dengan Maxen membuat tekanan darahnya naik. Dia harus pintar-pintar menahan diri agar emosinya tak keluar dari kendali. Beruntung siang tadi ia tak menampar Maxen karena kata-katanya. Alice harus mengucapkan selamat kepada dirinya sendiri karena berhasil bertindak 'penuh etika' dalam menghadapi Maxen.


Sekembalinya Alice ke rumah, seorang pelayan bernama Sila, juru masak baru sekaligus orang yang ia percayai menyambut kedatangannya.


"Nyonya, setengah jam yang lalu Mrs. Liecester menelpon untuk menyambungkan panggilan Axel dengan anda, tetapi saya urungkan karena anda belum pulang. Dia berpesan jika anda telah pulang, anda diminta untuk menghubunginya!" Sila menyampaikan Violin dengan sopan.


Pelayan itu sikapnya sedikit formal, jauh berbeda dengan Susan dan Helena.


Mengingat Susan membuat Alice kembali meradang. Dia tak ingin mengingat-ingat sosok itu kembali. Apalagi setelah ia bertemu dengan Maxen yang membawa banyak kesialan hari ini. Suasana hatinya benar-benar buruk jika harus disisipi tentang mereka berdua.


"Baiklah. Aku akan menelpon Violin kembali."


"Baik, Miss." Pelayan itu berbalik pergi dengan langkah-langkah cepat.


Sila adalah pelayan yang masih cukup muda. Dua puluh lima tahun. Tetapi ia sudah mengabdi pada keluarga Anson selama lebih dari tujuh tahun lamanya. Waktu yang tidak sebentar. Dia juga sudah hafal dengan sistem yang berlaku di keluarga Mallory sehingga Alice memutuskan ia pantas menjadi pengganti Susan. Juru masak sekaligus kepala pelayan khusus wanita.


Sila merupakan gadis yang manis. Dia gadis asli Texas dan tumbuh di Manhattan sejak usianya sepuluh tahun. Keadaan finansiallah yang menbuatnya memilih menjadi pelayan.


Sosok Sila cukup luwes dengan pembawaan tenang. Tingginya tak lebih dari seratus enam puluh centi dengan bentuk tubuh yang ideal. Rambutnya berwarna merah tembaga, sedikit mirip seperti Alice. Cara berbicaranya sopan dengan etika sopan santun yang sempurna. Kerjanya juga cekatan. Membuat Alice merasa Sila adalah aset yang berharga. Jika kinerja wanita itu memuaskan, Alice akan mempertimbangkan untuk menaikkan gajinya akhir bulan ini.


Alice meraih telepon duduk di ruang tengah dan menekan beberapa tombol. Dia terdiam sejenak mendengarkan suara sambungan di telepon yang mulai terdengar.


"Halo?" Suara dingin Violin menyapa indera pendengaran Alice.


Alice merasa suasana hatinya semakin buruk. Tadi ia berurusan dengan Maxen, sekarang Violin. Tidak bisakah hari ini lebih buruk lagi?


"Violin. Ini Alice. Kudengar dari pelayan tadi kau menelpon kemari." Alice menyentuh salah satu pelipisnya, memijatnya perlahan. Wajahnya menampakkan kelelahan.


"Ya. Axel ingin berbicara denganmu. Axeelll sayaanng, kemarilah! Ini Mom!" Teriakan Violin yang tengah memanggil cucunya terdengar nyaring di telinga Alice. Seketika Alice menjauhkan gagang telepon dari telinganya dan memejamkan mata. Wanita kutup ini ternyara bisa berteriak juga.

__ADS_1


"Halo Mommy? Hallo Mom? Kau ada di sana, Mom?" Suara seorang anak yang sangat familiar menyapa Alice dengan nada yang sangat antusias.


Sudut bibir Alice merekah, membentuk sebuah senyum yang sangat menawan. Putranya, akhirnya ingat juga untuk menyapanya. Kerinduan Alice sudah sangat besar. Dia butuh anak ini untuk mencurahkan kasih sayang yang dimilikinya.


"Sayang, kau rindu Mom?" Alice tertawa kecil, merasa bahagia.


"Aku sangat merindukan Mom. Sangat! Sangat!" Axel menjawab cepat dengan nada khas anak-anak.


"Apa saja yang kau lakukan di rumah Grandma? Kau besikap baik di sana, bukan?" tanya Alice mencoba mengingatkan.


Axel tertawa dengan renyah sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibunya. Alice bisa membayangkan wajah Axel yang gembil dengan mata berbinar senang. Lesung pipinya muncul setiap kali Axel tertawa bahagia. Mengingatkan Alice dengan sosok Anson.


"Grandma mengajakku bermain di time zone, membawaku makan di testoran bagus, membelikanku mainan hebat dan super. Aku memiliki robot-robotan yang bisa dikendalikan remote paling canggih. Aku juga memiliki pesawat mainan besar yang bisa terbang tinggi hanya dengan pengendali otomatis. Pesawat itu akan meliuk di udara seperti sungguhan, Mom. Warnanya gabungan putih, merah, dan hitam. Dan kau tahu, Mom? lelaki dan wanita yang katanya adalah uncle dan aunty, memberikanku banyak mainan canggih lainnya. Aku akan mengirim videonya padamu nanti. Tunggu saja, Mom!" Axel terengah-engah kehabisan nafas setelah selesai menceritakan apa yang ia dapatkan. Anak itu tertawa dan menarik nafas secara bersamaan, membuatnya tersedak dan batuk-batuk.


Bagus. Keluarga Liecester memanjakan Axel dengan cara berlebihan seperti yang Alice khawatirkan sebelumnya. Bukannya Alice keberatan jika anaknya diberi kasih sayang, hanya saja jika ia terlalu dimanja dan diberikan semua hal yang ia minta, itu pasti akan mempengaruhi pribadinya kelak.


Namun, agaknya Violin terlalu tergila-gila apada Axel sehingga ia bahkan sudi menawarkan surga kecil untuk putranya.


"Axel, dengarkan Mom!" Violin mengatur nada bicaranya agar terdengar serius. Hal ini sepertinya cukup berhasil terbukti dengan tawa Klayver yang tak lagi terdengar.


"Ada apa, Mom?" tanya Axel merasa was-was. Entah kenapa, anak itu menangkap ada nada tidak beres dari ibunya. Mungkinkah Axel melakukan kesalahan?


"Mom tak melarangmu untuk menerima mainan dari Grandma, Uncle, ataupun aunty. Hanya saja, tolong jangan terlalu berlebihan. Kau ingat apa yang pernah Mom sampaikan padamu? Sesuatu yang dibeli terlalu banyak tidak akan membawa manfaat. Kita hanya boleh meminta sesuai dengan kebutuhan saja. Kau dengar Mom, Sayang? Lain kali jika Grandma ingin membelikanmu sesuatu, belilah satu atau dua mainan saja, oke?"


Dengan sabar, Alice menjelaskan hal ini pada putranya. Terdengar desahan pelan dari Axel, seolah ia enggan mengikuti apa yang Alice anjurkan.


Memang tidak mudah untuk membentuk karakter anak dengan baik sesuai yang kita inginkan. Semuanya perlu perjuangan. Tetapi Alice tak akan pernah menyerah. Ia mencoba memberi tahu putranya pelan-pelan agar tidak melakukan pemborosan di kemudian hari.


Meskipun saat ini Alice lebih dari mampu membelikan banyak hal untul Axel, tetapi ia berprinsip bahwa semua hal harus ada porsinya sendiri. Begitulah kehidupan terbentuk.

__ADS_1


"Mom, lantas bagaimana dengan semua permainan yang telah aku dapatkan di sini? Kau tidak menyuruhku untuk membuangnya, bukan?" Axel bertanya dengan khawatir. Membayangkan pesawat canggih dan robot hebat miliknya dibuang adalah hal paling mengerikan yang bisa dibayangkan anak sekecil itu.


"Tidak! Kau tidak harus membuangnya. Kau bisa bawa pulang semuanya ke sini. Besok, kita akan memilih sebagian untuk kita sumbangkan ke lembaga amal, bagaimana?" Sebuah ide muncul di kepala Alice. Sepertinya mengenalkan Axel pada kemanuasiaan sejak dini merupakan langkah yang bagus. Ia bisa belajar menghargai kehidupan dan memunculkan sisi kepeduliannya.


"Lembaga amal?" Axel membeo heran. Dia belum pernah mendengar ini sebelumnya.


"Ya. Kita akan memberikannya pada panti asuhan di mana banyak anak-anak sepertimu tak memiliki mainan. Mereka tak cukup beruntung seperti kita." Alice dengan sabar menjelaskan pada putranya. Dia tersenyum kecil, membayangkan wajah bingung Axel yang pastinya terlihat menggemaskan.


"Oh, baiklah. Aku akan mengingat kata-katamu, Mom!" Axel menyerah kalah dan mengikuti saran ibunya. Lagi pula, dia juga cukup penasaran dengan panti asuhan yang dijelaskan oleh ibunya.


"Bagus. Kau memang anak Mom yang paling hebat!" puji Alice bangga. "Bersikaplah baik kepada Grandma. Besok Mom akan menelponmu lagi." Alice mengirim ciuman jauh dan menutup panggilan.


Suasana hati Alice sedikit membaik setelah berbicara dengan putranya. Dia berjalan gontai menuju kamar dan bermaksud merebahkan tubuhnya sebentar sebelum ia memeriksa laporan keuangan lagi dari beberapa perusahaannya. Tadi pagi sekretarisnya sempat mengabari ada beberapa tempat strategis yang akan dijual dan perlu peninjauan langsung dari dirinya. Nanti setelah ia tidur, akan ia hubungi lagi sekretarisnya untuk membahas hal ini. Mungkin besik ia harus melakukan peninjauan lokasi.


Klayver masih belum pulang juga. Entah apa yang tengah dilakukan lelaki tersebut. Semoga saja urusan yang ditangani suaminya berjalan dengan lancar. Entah kenapa, akhir-akhir ini Alice sering merasa khawatir terhadap Klayver tanpa alasan jelas. Semoga saja itu hanya paranoid sesaat.


Alice sudah akan memejamkan mata saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Ia melihat nama Daniel muncul di layar utama. Dengan cepat, Alice menyambar ponsel tersebut dan menerimanya. Alice berharap ia mendapat kabar baik.


"Ya, Daniel?" Alice membuka percakapan.


"Alice, aku sudah tiba di Manhattan. Aku sudah lama tak bertemu denganmu. Bisakah kita mimum teh bersama di suatu tempat? Aku perlu berbicara langsung mengenai situasiku sekarang seputar Klayver. Aku harus tahu apakah aku benar-benar aman atau tidak. Sulit mempercayainya jika kau tak menjelaskan hal ini secara langsung!"


Daniel sedikit ragu-ragu. Dia merasa tak yakin. Saat ini, hanya Alice-lah genggaman yang ia punya. Alice adalah orang yang bisa membuatnya mengerti bagaimana situasi Daniel sebenarnya. Berurusan dengan Klayver memang tak mudah. Selalu ada banyak resiko yang tak pernah kita sadari.


"Baiklah, Daniel. Di mana kita akan bertemu?" Alice menyanggupi permintaannya. Saat ini jam sudah cukup sore. Dia harus segera menemui Daniel segera sebelum malam. Sudah lama juga ia tak bertemu dengan Daniel. Apa salahnya melakukan janji temu dengan teman lama?


Daniel menyebutkan nama caffee tak jauh dari kediaman Alice. Alice menyanggupinya dan segera bersiap untuk ke sana. Dengan cepat, ia berganti baju. Sebuah dress santai berbahan muslin ia kenakan. Potongannya yang mengembang membuat penampilan Alice lebih muda bebetapa tahun. Warnanya yang pink pucat, membuat kulitnya yang putih tampak semakin menonjol.


__ADS_1


__ADS_2