Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
073 - SEASON 2


__ADS_3

Hari mulai menjelang siang saat Alice menghabiskan waktu di ruang tengah bersama Jasmine. Setelah mereka saling mengobrol panjang lebar, Alice memutuskan untuk mengurung diri di ruang kerja mengontrol laporan keuangan terbaru.


Untuk membunuh waktu di rumah, Jasmine juga meminta sebuah ruangan khusus untuk ia sulap menjadi ruang kerja sementara. Dia juga perlu mengontrol bisnisnya dari sini. Waktu terlalu berharga dibiarkan terbuang begitu saja. Kita harus tetap menjadi produktif.


Laporan bulan ini sama sekali tak ada masalah. Alice merasa lega dan melanjutkan memeriksa laporan lainnya.


Perusahaan Alice berjalan dengan baik. Perusahaan Anson yang diwariskan pada Alice juga berjalan lancar. Biasanya, Alice memiliki satu orang kepercayaan pada setiap perusahaan sebagai direktur utama yang berfungsi untuk mengontrol setiap kegiatan dalam organisasi perusahaan.


Tiap akhir bulan dan trimester, Alice mengadakan audit lapangan dan keuangan secara langsung menggunakan public accounting yang profesional. Sehingga kecurangan-kecurangan dalam perusahaan bisa terdeteksi sedini mungkin.


Beruntung, hingga detik ini perusahaan-perusahaan di bawah kendali Alice tak memilki kasus kecurangan yang berarti. Karyawannya sangatlah loyal dan setia sejauh menyangkut tentang pekerjaan.


Alice juga merupakan atasan yang cukup terbuka. Dia menerima setiap kritik dan saran yang membangun dan bersedia meningkatkan gaji mereka yang berkontribusi besar pada perusahaan. Tak heran, usahanya semakin berkembang. Karena setiap prestasi yang karyawannya hasilkan berimbas pada kesuksesan mereka sendiri.


Sementara Jasmine, dia sibuk mengontrol empat club malam yang ia miliki di New York. Usahanya berkembang dengan cepat. Selain club, Jasmine memiliki bisnis gelap tentang pelacuran. Dia memiliki koneksi dari orang-orang hebat dan memfasilitasi mereka dalam mencari setiap wanita sesuai selera.


Tak jarang Jasmine menerima permintaan selera mereka yang aneh dalam hal berhubungan badan. Dia mencoba menutup mata dalam menerima orderan. Toh selama ia bisa mendapatkan wanita yang sama-sama memiliki gaya yang mereka inginkan, Jasmine tetap akan memfasilitasi mereka. Selama uang tetap mengalir, Jasmine bersedia mengobral moralnya dengan banyaknya bisnis kotor.


Jasmine mengerutkan keningnya ketika ia mendapatkan panggilan baru. Nomor seorang senator. Dia menerimanya dalam sekali dering. Senator itu merupakan salah satu kliennya yang utama. Dia tak ingin kehilangan ikan segar.


"Halo, Mr. Brown. Ada yang bisa aku bantu? Kau membutuhkan wanita seperti apa kali ini?" Jasmine bertanya dengan nada yang menggoda. Dia menyelipkan ponsel di antara telinga dan bahu dengan gerakan sedikit canggung. Dihadapannya, ada seperangkat komputer yang Alice sediakan untuknya dalam menangani masalah bisnis selama ia di sini. Komputer ini telah tersambung koneksi internet sehingga memudahkan bagi Jasmine mengontrol emailnya secara berkala.


"Jasmine, kau benar-benar wanita yang mengetahui keinginan terpendamku. Kau sangat tahu aku sedang membutuhkan seorang wanita." Peter Brown terkekeh pelan, membuat Jasmine bergidik ngeri membayangkan sesosok tubuh gembul dengan wajah seperti babí. Peter telah dua kali menjabat sebagai anggota senat, tetapi kelakuannya tak lebih baik dari pada politisi-politisi lain.


Memang, tahta selalu membuat orang lupa daratan. Lelaki jika telah menyandang kedudukan dan kejayaan, mudah tergoda membeli banyak jenis kenikmatan terlarang.


Jas hanyalah hiasan murah yang melabeli seseorang. Di balik setelan army, banyak politisi negeri yang berpikiran bobrok. Otak mereka banyak terselipi hal-hal dangkal yanhg selama ini digembar-gemborkan untuk dilawan.


Berapa puluh politisi negara sesumbar untuk menutup pelacurán dan mengecam hiburan malam. Pada kenyataannya, sebagian besar dari mereka memakai jasa wanita malam hampir di setiap waktu. Ke mana saja prinsip yang diagung-agungkan? Lenyap tertekan oleh hasrat mereka sendiri.


Mungkin tidak semua politisi memiliki pikiran kotor seperti Peter. Tetapi Jasmine yakin banyak di antara mereka menjadi kaum lelaki seperti Peter.


Sebenarnya jika mau diakui, Jasmine menemukan banyak politisi baik yang jujur. Hanya saja, oknum-oknum lainnya banyak yang telah menodai kesucian dari politisi itu sendiri.


"Aku memang selalu tahu keinginanmu, Mr. Brown." Jasmine membalas secara otomatis.


Tentu saja Jasmine tahu. Dia adalah pelacúr sekaligus mucikari hebat. Untuk apa lagi lelaki menghubunginya jika tidak untuk membutuhkan pelayanan dalam bidang esek-esek?


Sangat lucu jika Peter menghubunginya hanya untuk membahas masalah rapat kenegaraan dengannya. Memikirkan hal itu membuat Jasmine tertawa sendiri.


"Wanita seperti apa yang kali ini kau inginkan, Mr. Brown?"


Sayangnya, orang gendut dengan sejuta lemak mengerikan itu adalah orang yang mengalirkan banyak dollar dari kantongnya yang tebal.


Dunia sangatlah tidak adil. Yang gendut seperti sapi perah justru hidup bergelimang harta. Yang serius mencari sesuap nasi dengan cara yang baik justru tetap kelaparan. Siklus yang sangat lucu.

__ADS_1


"Aku ingin wanita spesial kali ini. Wanita cantik yang bisa menari dengan kostum unggas. Aku ingin dia menampilkan tarian unggas yang seksi sebelum akhirnya aku memakainya. Bagaimana? Kau bisa menyediakannya, bukan?"


Jasmine nyaris tersedak mendengar permintaan tak masuk akal Peter Brown. Tarian uanggas? Yang benar saja. Lelaki itu ingin memesan wanita lácur atau pertunjukan taman kanak-kanak?


"Tarian unggas? Bisakah kau definisikan maksudmu? Sepertinya fokusku sedang tidak seratus persen saat ini. Aku butuh kau menjelaskannya lebih rinci."


Tarian unggas. Jika Peter tak mau menjelaskan detailnya, Jasmine tergoda mengirim Peter sepaket itik yang menggemaskan di dalam kardus. Ada baiknya itik itu ia cat warna-warni.


"Aku kemarin mengunjungi peternakan unggas dan sekilas, saat aku melihat cara mereka berjalan, aku menyadari bahwa unggas ternyata sangatlah seksi. Jadi aku ingin menerapkannya dalam bentuk wanita cantik. Dandani ia dengan kostum unggas, biar dia melenggak-lenggok menggoda dan bergoyang ke sana ke mari seperti itik lucu yang menggemaskan. Kau pasti paham maksudku." Peter sedikit tak sabar. Di menjelaskan secara garis besar kemauannya dan membiarkan Jasmine menarik detail sendiri.


Dengan lemah, Jasmine menopang kepalanya dan mulai merenung. Unggas. Yang benar saja. Kecenderungan seorang lelaki memang kadang tak bisa dinalar.


Semenjak Jasmine terjun dalam bisnis ini, dia menemui banyak permintaan serupa yang tak masuk akal. Bahkan tak jarang ia menemukan lelaki dengan penganut séks keras. Beruntung Jasmine memiliki anak buah yang beragam. Sehingga ia dengan mudah menemukan wanita sesuai orientasi para pelanggan.


Tetapi kali ini ia agak kesulitan mencarikan wanita yang tepat. Demi apa pun juga, membayangkan wanita dan unggas disatukan sangat berada di luar logika Jasmine. Terbuat dari apa otak Peter sehingga ia memiliki orientasi tak normal begini?


"Akan kuusahakan, Peter. Wanita berpenampilan unggas."


Entah ini lelucon atau pun bukan, Jasmine hanya bisa menyanggupi permintaan Peter tersebut. Biar nanti dia pikirkan caranya. Saat ini yang terpenting ia bisa membungkam Peter terlebih dulu.


"Ya. Ya. Wanita unggas. Aku akan menunggunya besok malam di kamar hotel seperti biasanya. Aku sangat menunggu hal itu, Jasmine. Besok akan aku transfer tarifnya seperti biasa." Peter berkata puas sebelum akhirnya mengakhiri panggilan di telepon dengan bunyi tut singkat.


Jasmine bersumpah serapah mengutuk selera Peter yang tak jelas. Dia mencari salah satu orang dalam daftar kontak ponselnya dan menghubunginya dengan menekan tombol panggil.


"Rose sayangku, bisakah kau melayani pelanggan besok dengan kostum unggas? Kostum unggas yang cantik dengan tarian sensual."


Rose adalah salah satu anak kesayangan Jasmine yang ia temukan di jalanan sejak dua tahun yang lalu.


Rose adalah nama pemberian dari Jasmine. Ia memberi Rose penawaran menarik dengan menjadikannya salah satu wanita ekslusif. Tentu saja Rose menerimanya. Gadis dua puluh tahun tersebut terlalu realistis dalam menghadapi kehidupan. Baginya, jika ia tak ingin mati kelaparan, ia harus menerima tawaran Jasmine sesegera mungkin. Apalagi saat itu adiknya sedang sakit. Jalan ini merupakan satu-satunya agar Rose bisa membiayai biaya pengobatan adiknya yang semakin membengkak setiap harinya.


"Pelanggan gila macam apa yang kau layani kali ini, Jasmine? Kostum unggas? Kau sedang membuat lelucon?" tanya Rose tak habis pikir.


"Pelanggan gila yang uangnya sangatlah besar. Kau tertarik atau tidak? Kujamin kau akan mendapatkan bagian yang fantastis jika menerima job ini."


Rose membisu lama. Jasmine memang selalu berhasil membujuknya dengan iming-iming yang sulit ditolak. Wanita itu memang sungguh persuasif. Pantas bisnisnya semakin berkembang setiap waktu.


"Baiklah aku akan mengambilnya. Lain kali, carikan aku pelanggan yang lebih waras lagi. Aku tak ingin tiba-tiba disuruh berdandan seperti ulat bulu dengan gumpalan-gumpalan cairan menjijikkan."


Jasmine tertawa kecil dan memutuskan sambungan. Dunianya memang unik. Segala macam jenis orang ia hadapi. Ada yang memiliki orientasi hubungan normal, ada yang memiliki orientasi aneh. Terkadang, Jasmine heran bagaimana bisa laki-laki bisa seunik itu.


Jasmine baru akan mengatur pertemuan lain lagi saat tiba-tiba Alice memasuki ruangan. Dia memberitahu ada dua temannya di lantai bawah bersama Axel.


"Kau ingin tetap di sini atau ikut aku ke bawah menemui teman-temanku?" Alice menawarkan.


"Aku akan ikut bersamamu." Rachel berdiri dan berjalan mendekati Alice. Pekerjaan ini masih bisa menunggu. Saat ini dia butuh merefreshingkan pikiran dengan bertemu orang baru dan berinteraksi dengan mereka.

__ADS_1



Kesan pertama Kellan saat melihat Jasmine adalah kesan paling buruk yang pernah ia rasakan. Wanita dengan rok span mini yang nyaris membuka semua asetnya, kemeja tanpa lengan dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, dan tato kalajengking yang menantang di antara kedua belahan dadanya.


Surai pirang sebahu dibiarkan tergerai membingkai wajah ayu Jasmine. Sebuah lisptik merah menyala memoles bibir ranum milik wanita tersebut. Setiap kali Jasmine berjalan, suara gemerincing gelang kaki mengiringi langkahnya.


Mata sewarna langit musim semi menatap Daniel dengan pandangan berani. Bola matanya setajam cahaya senja. Dengan semburat jelas yang disisakan mentari.


Kedua mata Daniel menyipit tak senang, merasa terganggu menerima fakta bahwa Alice memiliki teman seterbuka itu. Dari ujung kepala hingga kaki, tak ada kata "pantas" yang bisa disematkan oleh Daniel kepada Jasmine.


"Sepertinya kau memiliki teman baru, Alice," sindir Daniel dengan lirikan tajam ke arah Jasmine.


"Oh Daniel, hampir saja aku lupa memperkenalkan kalian. Dia Jasmine, teman Klayver yang mendapat tugas untuk menjagaku sementara waktu." Alice menggendong Axel yang baru saja berlari ke arahnya dan tak terlalu memperhatikan tanggapan Daniel atas perkenalan yang ia sampaikan untuk Jasmine.


"Kalian bisa saling mengobrol dulu, aku akan menghabiskan waktu sebentar bersama putraku." Tanpa rasa bersalah, Alice meninggalkan mereka bertiga di ruang utama dan berjalan santai membawa Axel menuju halaman belakang. Dia mengangkat tubuh gendut Axel dan melayangkannya beberapa kali ke arah udara, membuat anak itu berteriak senang.


"Halo Daniel, aku Jasmine." Wanita dengan netra biru cerah mengulurkan tangannya yang setiap ujung kukunya dicat merah merona. Daniel menatapnya dengan jijik secara terang-terangan.


"Aku tak menyangka Klayver akan memilih wanita sepertimu untuk menemani istrinya sendiri." Daniel berkata sinis, memandang tak suka kain minim yang membalut tubuh indah milik Jasmine.


Melihat rasa tak suka yang menyala-nyala di mata Daniel, Jasmine hanya tersenyum kecil, menanggapi dengan ringan.


"Memangnya kenapa dengan diriku? Tidak sesuai dengan seleramu? Apa kau pikir kau adalah malaikat yang berhak membatasi semua hal?" Jasmine berjalan santai, menatap netra cokelat Daniel yang masih dipenuhi rasa tak suka.


Gerakan Jasmine mantap, tak merasa tertekan sama sekali atas tatapan merendahkan yang dilayangkan Daniel.


Dunia malam telah mengajarinya banyak hal. Salah satunya adalah tetap mengangkat dagu disaat ada orang yang merendahkan kita.


Harga diri wanita terletak pada dirinya sendiri. Ribuan orang bisa menilai Jasmine rendah. Tetapi selama Jasmine tidak memedulikan hal itu, dia tak perlu merasa terluka.


"Kau jauh dari selera lelaki normal pada umumnya." Daniel tertawa mengejek, merasa lucu mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Oh aku tersanjung, Mr …."


"Daniel Stranger." Daniel melengkapi namanya sendiri.


"Mr. Stranger." Jasmine mengulangi.


Rachel merasa percikan api permusuhan mulai terbentuk di antara mereka. Dia menatap ke arah Jasmine dan Daniel secara bergantian. Kedua orang ini memiliki aura yang bertentangan satu sama lain.


Dengan bijaksana, Rachel mundur ke belakang dan berbalik pergi. Berada di samping mereka membuat Rachel merasa tak nyaman. Dua orang itu seperti dua anak kecil yang dipertemukan dalam waktu yang salah. Tidak ada keuntungannya bagi Rachel tetap berada di sana sebagai pelengkap.


"Kau mau ke mana, Rachel?" Tiba-tiba Daniel menyadari kepergian Rachel dan menahan wanita itu yang kini sudah hampir berhasil mencapai pintu keluar.


"Aku perlu mendinginkan kepalaku. Daniel, sepertinya Jasmine adalah wanita yang cocok untukmu. Aku akan mengirim kado paling istimewa dalam pernikahan kalian nantinya. Silakan lanjutkan obrolan manis kalian!"

__ADS_1



__ADS_2